
“Anu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”
Ada selang waktu dari ucapan Haori.
“Ada apa?”
Yang pertama kali sadar adalah Yoki, disusul dengan candaan mereka bertiga yang berhenti. Sedari tadi, Haori juga sebenarnya ikut masuk dalam candaan mereka, tapi hanya sedikit terlihat karena dia menahan tawa.
“Begini …,” lagi-lagi ucapannya dijeda, seperti susah untuk diungkapkan, “Aku ingin mengajak kalian pergi ke taman hiburan Beppu.”
“Heh?”
Mungkin tepat bila Yoki bertanya dengan nada terkejut. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja seorang murid baru yang baru sehari mereka kenal langsung menawarkan pergi ke taman hiburan bersama mereka. Kenapa tidak dengan keluarga atau teman-temannya yang lain? Kenapa harus mereka?
Yang pasti, mereka hanya bisa menunggu jawabannya.
“Ahh … jangan beranggapan yang aneh-aneh, aku hanya ingin ini menjadi acara perkenalan kita. Kalian tahu, selama SMP aku tidak punya teman karena mempunyai hobi yang aneh.”
Haori membuang pandangan ke arah mangkuk ramen yang sudah kosong. Haori seperti mau mendalami ucapan selanjutnya.
“Aku hanya ingin jalan-jalan bersama kalian. Lagipula aku punya uang yang banyak, jadi aku ingin memakainya untuk bersenang-senang bersama kalian.”
Bukan tidak mau sih, ekspresi mereka bertiga lebih ke arah tidak enak. Mereka mempertimbangkan biaya tiket masuk yang akan Haori tanggung nanti. Apalagi mereka baru kenal dengan Haori, bukankah itu terlalu dini?
“Haaah … bukan tidak mau sih, tapi apa kamu tidak apa-apa menanggung biaya tiket masuk untuk kami? Kan kalau gak salah harganya lumayan besar.”
“Gak apa-apa, bahkan aku juga akan membiayai makanan kalian kalau mau.”
Ekspresi polos dan lugu terlihat saat Haori menjawab pertanyaan Kenichi. Apalagi nada bicara yang cepat dan antusiasme itu, sepertinya ada sebuah harapan yang Haori masukkan di dalamnya.
“Gak usah sampai segitunya juga. Uhm, kalau masalah mau atau ngaknya ….”
“Kalau misalkan kamu memaksa, aku akan ikut. Tapi kalau soal makanan, aku ingin bayar sendiri.”
Yoki menyerobot di saat Kenichi sedang berpikir. Nada bicara Yoki juga terdengar tidak enak, tapi dia tidak bisa berkata 'tidak' untuk raut wajah Haori yang menaruh jawaban 'ya' padanya.
“Aku juga sama dengan Yoki deh.”
“Hoo … baiklah, kalau sudah dua suara maka aku juga akan ikut.”
Jawaban Kenichi sudah menyimpulkan hasilnya. Kegembiraan terpancar dari senyuman Haori, harapan dan permohonannya diterima baik oleh mereka.
Melihatnya juga membuat Yoki, Gaia, dan Kenichi tersenyum lebar. Mereka tidak mau melihat raut sedih dari siswi baru itu, yang penting permohonannya dapat mereka sanggupi.
“Oh, uhm … emang kapan kamu mau mengajak kami?”
“Besok.”
“Heh! Mendadak sekali.”
Lagi-lagi mereka bertiga berhasil dibuat terkejut oleh Haori, bukan hanya karena ajakan Haori bahkan waktunya juga berlangsung dengan sangat cepat.
“Gimana yah, aku hanya pingin cepat saja. Atau, ada ide lain?”
Yoki, Gaia, dan Kenichi berpikir sejenak, mereka hendak memikirkan ajakan Hoari matang-matang.
“Haori, kalau gak salah besok ada rapat guru yang sangat penting dan ….”
“Ahh betul itu Kenichi, kita pulang cepatkan besok.”
__ADS_1
“Yup.”
Tiba-tiba saja Haori menyerobot perkataan Kenichi, itu semua karena dia telah menemukan kunci dari masalah ini.
“Yosh, kalau gitu sudah diputuskan kita akan pergi ke taman hiburan besok.”
Saking semangatnya, Yoki bahkan rela membuat keributan di kedai dengan berdiri dan berteriak. Benar-benar membuat malu saja, namun Gaia dan Kenichi hanya bisa menghela nafas.
Bagi Yoki sih, jika dia semangat maka itu juga akan membuat Haori menjadi senang. Argumen yang benar, karena senyuman Haori semakin lebar. Membayangkan hal-hal yang bisa mereka lakukan besok, sungguh menyenangkan.
“CIKH, dasar Yoki. Orang yang hanya mau gratisan.”
Yoki tidak tersinggung dengan perkataan Gaia, dia malah menekuk kedua tangannya di kedua sisi pinggang.
“Hehe, Gaia kau memang mengerti aku.”
“Heleh, jangan cengengesan. Aku tadi hanya membayar satu porsi per orang, jadi sisanya … ditanggung pemenang!”
“Kabur!!!”
Tiba-tiba mereka bertiga berdiri dan kabur meninggalkan Yoki. Jadi sekarang, dia harus terjebak di kandang singa. Sepertinya ada solusi lain untuk menyelesaikan masalah Yoki, solusi itu sudah berdiri di belakangnya.
“Eto, lebih baik aku kabur sekarang ….”
“Oy, tunggu.”
“Heh!”
Sudah tidak ada jalan keluar lagi, Yoki sudah sadar saat dia berbalik dan melihat seorang pria tinggi berotot dengan kumis sebagai tambahan. Mungkin dengan otot-otot itu, bisa menghempaskan Yoki hingga remuk. Benar-benar gambaran yang mengerikan, tapi itu adalah yang sebenarnya.
“Bayar dulu, baru pergi.”
“Apa? Kau nambah tiga porsi dan tidak ada uang.”
“I-iya.”
“Hmmm, aku rasa aku punya solusi terbaik untukmu.”
Tatapan yang mencurigakan, benar-benar mengerikan jika dilihat dari keringat dingin yang mengucur keluar dari kepala Yoki. Sekarang entah apa yang akan dia perbuat untuk membuat Yoki membayar semua ini.
Malam hari, di rumah Gaia .…
Gaia sedang menikmati malam ini dengan berbaring di kamar. Sepertinya, ia sangat kelelahan hari ini. Bisa dibilang, yang dikerjakan di sekolah sangatlah banyak. Yah, kegiatan klub yang rutin dilaksanakan pada hari ini memang sangat melelahkan.
Gaia berbaring dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuh. Tapi berbeda dengan penampilan di sekolah, Gaia menaikkan baju seragam ke atas hingga perut langsingnya nampak.
Bergumam lelah dengan kaki yang sudah berdenyut pegal. Perlahan-lahan mata Gaia menutup. Pertama samar saat melihat langit kamar, lalu gelap saat matanya sudah tertutup sempurna.
Perjalanan tidur Gaia bukan hanya sebuah kegelapan disusul dengan kesadaran setelah bangun. Tapi, dia harus terlebih dulu melewati alam mimpi.
Pengalaman di alam mimpi tentu sangat tidak nyata, seperti kebanyakan mimpi yang lainnya. Di sini dia sedang berjalan, permukaan yang ia tapaki seperti awan. Samping kanan dan kirinya juga seperti itu.
Tapi, saat ia sedang berjalan damai di mimpi, tiba-tiba dari balik awan-awan itu muncul bermacam-macam topeng. Topeng dengan bentuk yang berbeda-beda, seperti topeng pesta menurut Gaia. Pertama topeng-topeng itu hanya menjadi penghias dari perjalanan Gaia, namun tiba-tiba .…
“Siapa namamu? Siapa namamu? Siapa namamu? .…”
Pertanyaan itu bukan hanya tiga kali, namun sangat sering. Terlalu sering, hingga hanya sepersekian senti Gaia berjalan, datang lagi pertanyaan dengan kalimat yang sama.
Diberikan pertanyaan seperti ini tentu sangat membuat Gaia stress. Dia berusaha menghindar dengan menutup kedua telinganya. Tapi sayang, itu tidak berhasil. Suara itu seperti langsung dikirim ke otaknya. Membuat Gaia berlutut dengan kepala yang mulai kesakitan.
__ADS_1
“Diam! Namaku Gaia … namaku Gaia … namaku Gaia .…”
Dia terus menyebutkan namanya, tapi semua topeng tetap tidak berhenti bertanya. Alhasil, suara di kedua belah pihak terus bersahutan.
“Tolong hentikan, namaku Gaia … namaku Gaia!”
Saat dia berteriak, latar tiba-tiba berganti. Transisinya benar-benar mirip seperti sebuah pertunjukan teater.
“K-kalian siapa?”
Seorang pria dan seorang wanita paruh baya sedang berdiri membelakangi Gaia. Sedangkan Gaia masih tersungkur di bawah karena kejadian tadi.
Ketika mendengar pertanyaan Gaia, mereka berdua berbalik secara perlahan. Saat sudah berbalik sepenuhnya, Gaia langsung tersentak. Matanya melotot tajam, wujud yang dia lihat benar-benar mengerikan namun sangat ia kenal. Mereka yang dilihat Gaia adalah .…
“Ayah, ibu. Ta-tapi, muka siapa yang ada di sebelah muka kalian?”
“Kamu siapa?”
Pertanyaan yang diberikan oleh sosok itu sungguh membuat Gaia terkejut semakin menjadi. Suara kedua sosok itu bercampur, seperti terdengar suara dari empat orang berbeda yang kompak. Dua suara pria dan dua suara perempuan dewasa.
“Apa maksud kalian? Aku Gaia, anak kalian.”
Gaia berusaha untuk memberi tahu mereka dengan tangisan air mata. Sungguh sangat deras air mata dan kebingungan yang melandanya saat ini. Walaupun cuma mimpi, tapi Gaia ikut terbawa masuk ke dalamnya.
“Siapa namamu?”
“A .…”
Saat Gaia ingin mengulangi jawaban, tiba-tiba sebuah pintu muncul dan perlahan menutup. Memisahkannya dari kedua sosok itu. Kini dia tinggal sendirian di ruangan yang tiba-tiba menjadi gelap dan kesadaran datang menjemput dari alam bawah sadarnya. Berbentuk seperti tangan yang menariknya keluar.
“AYAH … IBU!!!”
Teriakan yang panjang terdengar, memekikkan seisi ruangan. Sumber suara berasal dari seorang gadis yang lolos dari jeratan mimpi di tidurnya. Yah, dia adalah Gaia yang terbangun dari bunga tidur yang mengerikan.
Gaia terbangun dengan tubuh yang langsung terduduk dari posisi. Sekarang dia duduk terlentang di kasur dengan sejuta keheranan dan kebingungan yang menerpa. Ditemani pakaian sekolah yang masih melekat.
Jika melihat ke luar jendela, langit cerah telah menjadi pertanda bergantinya hari. Peran bulan baru saja digantikan matahari, atau bisa dibilang sudah pagi.
“Apa itu tadi? Haa … haa … tenang Gaia, tenang. Itu hanya sebuah mimpi.”
Setelah sepenuhnya sadar, nafas Gaia malah terengah seperti habis berolahraga. Padahal tubuhnya hanya terdiam di atas kasur, tapi mimpi tadi telah menghabiskan energi Gaia. Sungguh cuplikan singkat yang menakutkan.
“Aku butuh minum.”
Dengan keadaan yang baru bangun, ditambah lagi dengan tidurnya yang tidak nyaman telah membuat fokus Gaia hampir hilang.
Kepalanya masih tertunduk ke bawah, sementara satu tangannya masih sibuk mencari gelas. Yap, dapat. Tapi dengan semua kejadian tadi telah membuat tangannya bertindak berlebihan, tangan Gaia mendorong gelas di meja dengan keras hingga terjatuh ke lantai.
Suara pecahan kaca yang khas turut mengembalikan fokus Gaia sepenuhnya. Dia menoleh, dengan pandangan wajah yang mengungkapkan rasa penyesalan atas kecerobohannya.
“Payah! Sudah berapa kali aku memecahkan gelas.”
Meracau pun sudah terlambat, Gaia sadar dan mengambil langkah pertama untuk membersihkan kesalahan tersebut.
“Sebenarnya apa arti dari mimpiku? Siapa aku? Apa maksud dari semua pertanyaan itu, aku benar-benar tidak mengerti.”
Gaia bergumam sembari melanjutkan pekerjaan. Dia melanjutkannya dengan tangisan yang tak kunjung surut.
“Jika mimpi itu bukan hanya sekedar bunga tidur saja …,” Gaia berdiri, sekarang pecahan gelas tadi sudah bersih, “Sebenarnya, aku itu siapa?”
__ADS_1
Hanya sebuah firasat sesaat dan itu tidak akan berlangsung lama. Pada akhirnya nanti, dia akan melupakan mimpi tadi. Sampai … dia akan diingatkan lagi.