RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~MENCARI KEBENARAN~


__ADS_3

Liburan musim panas telah usai, kini mereka akan menjalani lagi kegiatan pembelajaran di sekolah. Liburan itu meninggalkan banyak kesan, apalagi saat mereka berlibur ke pulau yang ditawari Takao.


*****


Dua murid sedang berjalan di trotoar jalan. Berbeda gender, yang berjalan di sebelah kanan adalah laki-laki dan yang berjalan di sebelah kiri adalah perempuan. Mereka berjalan dengan tujuan yang sangat jelas, jika dilihat dari seragam sekolah yang mereka kenakan.


“Hahaha, aku tertawa saat melihat ekspresi para penculik itu. Kebanyakan murid langsung memberikan kesan yang mengerikan sebelum mereka berlima dibawa ke pihak berwenang.”


Siswa itu adalah Yoki dan yang menjadi teman bicaranya adalah Gaia. Yoki tetap berbicara sambil berjalan, dengan tawaan yang dia buat. Sedangkan Gaia, mengarahkan pandangan untuk melihat Yoki yang ada di sampingnya.


“Aaa, ya. Aku rasa mereka akan kapok sekarang. Apalagi hukuman yang kita berikan benar-benar menyiksa mereka.”


Gaia membalas ucapan Yoki sambil memalingkan pandangan ke depan.


“Daripada menganggapnya sebagai sebuah hukuman aku lebih menyebutnya sebagai sebuah kejahilan.”


“Iya juga sih, gelitikan, memasukan kepala mereka ke lubang toilet, haaah agak kurang manusiawi sih menurutku.”


Mendengarnya, telah membuat Yoki langsung berpaling menatapnya.


“Tapi aku tidak terlibat, kan yang melakukan itu semua adalah teman-teman Terasaka serta Kenichi.”


“Mana ada, sebagai penonton kita juga terlibat.”


“Haaah, baiklah baiklah. Gaia, busnya sudah ada.”


Mereka berdua pun menaiki bus agar sampai di tempat tujuan mereka selanjutnya.


Saat Yoki dan Gaia masih ada di perjalanan, Kenichi sudah ada di sekolah lebih awal. Ini sudah merupakan hal yang biasa terjadi setiap harinya, entah karena kebiasaan atau urusan mendadak, Kenichi selalu datang ke sekolah lebih awal.


Di lorong sekolah, Kenichi berjalan. Menyisir jalan, melewati kerumunan, hendak pergi ke tempat yang dia ingin pergi. Apalagi waktu sekarang belum menjadi kekangannya, karena jam pelajaran sekolah belum dimulai.


“Kurasa aku harus mengembalikan buku ini sebelum tenggat. Haaah kalau nggak bisa gawat, bisa-bisa aku kena hukuman denda atau disuruh membersihkan salah satu tempat di sekolah ini.”


Kenichi masih melaju dengan kecepatan berjalan, namun tanpa dia sadari seseorang sedang datang menghampirinya dari belakang.


“Kenichi, apa aku boleh bicara denganmu sebentar?”


Sesosok tak terduga, menurutnya. Sosok itu benar-benar membuatnya tersentak kagum, bukan populer atau alasan yang lainnya. Tapi, karena sosok itu dikenal tidak dekat dengannya selama ini.


“Apa yang kamu mau Terasaka?”


“Ehmm, kalau bisa kita bicara di tempat lain.”


“Baiklah.”


Kenichi sudah setuju. Tanpa pikir panjang Terasaka menuntunnya ke sebuah ruangan, dengan memimpin perjalanan melewati beberapa ruangan.


“Sebenarnya apa niatmu?”


Kenichi bertanya sembari berjalan.


“Sebenarnya, masih rahasia.”


“Kenapa kau tidak bersama temanmu yang lain. Mereka tidak masuk sekolah kah?”


“Tidak, mereka masuk sekolah. Aku berjalan bersamamu, karena ingin memberitahu sesuatu. Yah, setidaknya kamu akan mengerti perasaanku.”


Kenichi tidak mau bertanya lagi, dia memilih untuk mengikuti alur yang sedang dirancang Terasaka. Makanya, suasana di antara mereka berdua menjadi diam. Hanya suara derap kaki saja yang terdengar.


Memakan waktu yang sedikit, mengambil kelokan, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah ruangan. Ruangan yang menyimpan berbagai dokumen sekolah, dokumen siswa, dan surat-surat yang lainnya.


Ketika masuk, rak-rak sudah berbaris rapi, hendak menunjukkan jati diri dari ruangan ini. Kertas-kertas bahkan terkadang berceceran di lantai. Tidak mau memandang lama suasana di dalamnya, Kenichi dan Terasaka segera pergi ke meja dari penjaga ruangan ini. Dekat, meja itu sudah ada di kanan dekat pintu masuk.


“BU! Apa aku boleh meminjam lagi dokumenku dan bu Mariko?”


“Astaga, ngomongnya jangan ngegas dong. Telinga ibu jadi budek.”


“Kumohon bu, kumohon.”


Suaranya benar-benar menganggu telinga ibu tua tersebut. Agar ibu tidak menjadi tuli, dia segera mengambil dokumen yang Terasaka minta. Yah, dengan kursi putar yang dibawa ke laci penyimpanan.


Sedangkan Kenichi, hanya diam memperhatikan gerak-gerik dari ibu tua tersebut.


“Nih.”


Ibu tua itu segera memberikan dokumen itu, dengan membawa kursi bersamanya. Dia memakan waktu yang lumayan lama untuk mengambil dokumen tersebut, maklum faktor umur memang tak terbantahkan.


Sebenarnya, dokumen itu bersifat privasi. Tapi, sepertinya ibu itu hanya membiarkan mereka berdua meminjam dokumen tersebut. Hanya saja, dokumen itu tidak boleh dibawa pulang. Ini bukan perpustakaan yang bisa meminjamkan buku kapanpun dia mau.


Setelah diserahkan, ibu itu pergi ke ruangan lain. Dia tidak perlu takut, karena CCTV selalu siap mengawasi segala pergerakan yang ada di ruangan ini.


Terasaka mengambil dokumen miliknya dulu. Lalu menunjukkannya pada Kenichi. Dengan seksama Kenichi memperhatikan dokumen tersebut. Dia belum tahu maksud dari Terasaka. Ingin menunjukkan prestasi, Kenichi membuang gumaman itu setelah membolak-balik lembar demi lembar yang putih bersih tanpa tulisan di atasnya.


“Heee, maksudmu apa sih? Orang kosong melompong begini. Hanya berisi biodata tentangmu saja.”

__ADS_1


Kenichi masih memegang dokumen yang terbuka itu, digantikan dengan tatapan mata malas yang beralih ke Terasaka.


“Kalau begitu lihat dokumen milik bu Mariko.”


Kenichi menaruh dokumen milik Terasaka dan mengambil dokumen milik bu Mariko. Dia kembali harus membolak-balikkan halaman, hingga selembar kertas terjatuh ke lantai ruangan. Tidak mau ketinggalan, Kenichi juga mengambil kertas tersebut.


Hanya sedikit yang dibaca dan Kenichi seperti sudah tahu maksud dari Terasaka. Walau begitu, itu masih sebuah gumaman, belum menjadi sebuah kesimpulan yang akan diucapkannya.


“Ini adalah kertas yang pernah memberitahu tentang pencurian bu Mariko kan?”


“Iya, coba kamu balik.”


“Ahh, waktu itu dia tidak mau menunjukkan isi dari balik sisi kertas ini. Sekarang, mungkin kejanggalan ku pada waktu itu akan terbayarkan.”


Kenichi bergumam sembari membalik kertasnya. Saat sudah dibaca tulisan yang ada di kertas itu, Kenichi langsung tersentak kaget.


“Kamu .…”


“Yah, tulisan itu adalah isi dari jati diriku yang sebenarnya. Itu benar-benar memberikanku harapan untuk hidup lebih baik lagi.”


“Jadi, apa yang kamu lakukan setelah mengetahui ini?”


“Pertama .…”


Flashback*


Setelah pulang dari liburan di pulau buatan, Terasaka langsung bergegas pergi ke sekolah. Dia ingin mencari sesuatu dan bisa dilihat dari ekspresinya yang terburu-buru.


Saat sudah sampai di depan sekolah, Terasaka datang menghampiri pos satpam yang terletak persis di sebelah kiri dari gerbang masuk sekolah. Untung di situ ada orang, jadi Terasaka langsung menghampiri pos satpam tersebut. Jika tidak, mungkin usaha Terasaka akan sia-sia.


Terasaka mendesak agar diperbolehkan masuk ke dalam ruang arsip yang terletak di dalam sekolah. Pertama satpam penjaga sekolah ini melarang, ini masih hari libur jadi tidak mungkin dia mengizinkan siapa pun masuk semudah itu.


“Apa yang harus aku lakukan?”


Terasaka berpikir keras dalam gumamannya, setelah beberapa menit berlalu barulah dia tahu alasan yang bisa dia gunakan untuk masuk.


“Pak maaf banget pak, aku cuma sebentar ke ruang arsip.”


“Buat apa?”


“Aku ingin melihat dokumenku sebentar. Kalau bapak mau, bapak bisa menemaniku.”


Pak satpam itu sedikit menyetujui sarannya. Dia bisa mengawasi pergerakan Terasaka, jadi dia bisa melakukan tugasnya dan Terasaka juga tidak kecewa setelah datang ke sekolah ini. Apalagi ini masih hari libur.


“Baiklah.”


Mulai dari sini, pak satpam lah yang akan menjadi penuntun Terasaka pergi ke ruang arsip. Sepanjang perjalanan, suasana sekolah benar-benar sepi. Tidak ada orang, tidak ada riuh kegaduhan yang menandakan kehidupan di sekolah.


Setelah sampai di pintu ruang arsip dan membuka pintunya, barulah pak satpam mempersilahkan Terasaka masuk, sedangkan dia hanya menunggu di luar ruangan.


“Kalau begitu, aku ingin melihat biodata bu Mariko dan aku.”


Terasaka bergumam sembari melaksanakan rencananya. Dia berjalan kesana kemari, mencari dokumen yang terletak di antara ratusan bahkan ribuan kertas yang ada di sini. Awalnya dia masih bingung memulai pencariannya, sampai dia menemukan tulisan yang ada di salah satu rak kecil, Tulisan itu berisi nama kelasnya.


Dia membuka rak buku tersebut, lalu memeriksa satu persatu dokumen secara rapi dan teliti. Lagipula nama yang ada di atas kiri dari dokumen-dokumen tersebut, telah sangat membantu Terasaka.


“Nah ini.”


Terasaka mengeluarkan dokumen yang bertuliskan namanya. Itu adalah hal pertama yang ia cari, selanjutnya dia ingin mencari dokumen tentang bu Mariko. Tetap dengan tatapan teliti, Terasaka memulainya dengan mencari rak yang berisikan dokumen-dokumen guru di sekolah ini.


Yah, walaupun agak lama tapi akhirnya ketemu juga. Tanpa basa-basi lagi dia segera membuka dan mencari dokumen milik bu Mariko. Setelah dapat, barulah dia memeriksa kedua dokumen tersebut. Mendapatkan hasil yang sempurna, Terasaka menemukan fakta-fakta yang mengejutkan.


“Apa aku ini anaknya? Tidak, aku harus tuntaskan masalah ini. Ini harus segera berakhir, aku sudah tidak tahan untuk mengungkapkan kebahagianku.”


“Hei bocah, udah belum urusannya?”


Disaat Terasaka sedang berpikir, pak satpam malah memotongnya. Sebenarnya dia tidak salah, dia hanya menjalankan tugasnya. Jadi, Terasaka memaklumi perkataan pak satpam tersebut.


Terasaka menaruh kedua dokumen itu kembali ke tempatnya, lalu pergi meninggalkan ruang arsip dan sekolahnya.


Usahanya masih belum terhenti, dia ingin pergi ke sebuah tempat. Sebuah tempat yang tertera di biodata bu Mariko tadi, itu adalah tempat asal bu Mariko. Tempat yang terletak di Kota Oita, sepulau dengan Kota Beppu.


Dia tidak ingin berhenti dulu, beristirahat atau pulang. Dia masih ingin meneruskan perjalanannya, hingga mendapatkan jawabannya.


“Kalau gitu, mumpung masih siang. Aku ingin ke sana menggunakan bus.”


Itu adalah keputusannya. Setelah memakan waktu perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya Terasaka sampai juga di Kota Oita.


Setelah turun, Terasaka ingin langsung pergi ke alamat yang tertera di biodata bu Mariko. Memakai kaki di sepanjang perjalanan, akhirnya Terasaka sampai juga ke tempat yang ingin dituju.


Itu adalah rumah bu Mariko dulu, rumah tempat naungannya saat kecil. Bentuk dari rumah tersebut sangat sederhana. Terbuat dari kayu dengan pintu geser sebagai ciri khasnya. Bisa dibilang, rumah itu mirip dengan rumah-rumah di Jepang pada umumnya. Begitu pun dengan rumah di samping kiri dan kanannya.


“Permisi bu, apakah ini adalah rumah dari keluarga bu Mariko?”


“Anda siapa yah?”

__ADS_1


“Saya temannya bu Mariko, saya datang ke sini untuk menanyakan beberapa hal.”


“Uhm, baiklah.”


Yang berbicara dengan Terasaka adalah seorang ibu tua. Ibu itu mempersilahkan Terasaka masuk ke dalam rumahnya, dia memerintahkan Terasaka untuk duduk di kursi sofa yang terletak di ruang tamu.


Setelah Terasaka duduk, wanita tua itu izin terlebih dulu untuk membuatkan teh hangat pada Terasaka.


Hanya sebentar, ibu tua itu sudah kembali dengan secangkir teh hangat yang sudah siap untuk dinikmati.


“Jadi kenapa kamu datang ke sini?”


Tanyanya sembari mendudukkan bagian bawah secara perlahan. Maklum, dia sudah tua jadi gerakannya sedikit kaku. Sedangkan tatapan, ia kuncikan pada wajah Terasaka.


“Aku ingin bertanya tentang seorang wanita bernama Mariko Mai.”


Ibu tua tersebut mengangguk perlahan, sembari mengubah arah tatapannya ke bawah.


“Aku ingin bertanya tentang anak darinya.”


“Dia sudah mati.”


Jawaban itu membuat Terasaka tersentak. Begitu ketus, walau itu hanya keluar dari bibirnya yang sudah keriput.


“Maksudnya?”


“Enam belas tahun yang lalu, Mai dikabarkan hamil muda.”


Hanya dengan sebuah kalimat sesederhana itu, jantung Terasaka sudah berdegup kencang. Di satu sisi dia begitu terkejut dengan kehamilan bu Mariko yang terbilang masih sangat muda. Jika dihitung, maka bu Mariko hamil di usia sekitar 13 tahun.


Namun di sisi lain, Terasaka begitu senang saat mendengarnya. Alasannya, jika 29 tahun dikurang dengan 14 tahun maka itu sama dengan umur Terasaka saat ini.


Yah, kehamilan sudah memakan waktu sekitar sembilan bulan soalnya, Jadi Terasaka menyimpulkan kalau bu Mariko melahirkan satu tahun setelahnya. Apalagi, dia lahir di bulan september.


“Itu benar-benar membuat seluruh keluarga sangat marah. Apalagi abangnya, Takashi yang sangat tidak menerima kehamilan adik perempuannya. Singkat cerita, abangnya ini merencanakan pembunuhan pada laki-laki yang sudah menghamili adiknya. Itu terjadi ketika Mai sudah melahirkan anaknya. Awalnya semua berjalan lancar, tapi Mai mengetahui rencana abangnya. Tapi untung, rencana ini tetap berhasil. Walaupun … abangnya harus mendekam lama di penjara.”


“La-lu bagaimana de-ngan anaknya?”


Nada pertanyaan yang gagap ini bukan karena kekagetan atau kebingungan yang Terasaka alami. Tapi, ini karena ia sedang mengendalikan amarahnya. Jangan sampai tinjunya melayang ke wajah tua wanita itu, pikir Terasaka di setiap ucapannya.


Giginya bergemeretak, tapi tidak terdengar ke telinga lawan bicaranya. Lagipula ibu tua tersebut sedang tidak menatapnya, hanya menatap lurus ke depan.


“Anaknya dibuang oleh pamannya ke jalanan. Jadi aku tidak tahu nasibnya sekarang.”


“Dia diambil dan hidup di panti asuhan.”


Wanita tua itu tersentak, dibalik wajahnya yang sudah renta. Kini dia langsung menatap wajah Terasaka. Dia langsung mengetahui kemarahan Terasaka yang tergambar jelas dari pola wajahnya.


“Kenapa kamu tahu?”


Pertanyaan itu belum dijawab, tapi Terasaka sudah berdiri dan pergi keluar dari rumah itu. Wanita tua itu tetap mengikutinya karena pertanyaan yang belum terjawab.


“Karena akulah anaknya.”


Saat Terasaka sudah ada di depan pintu, barulah dia menjawab pertanyaan darinya.


“Tunggu … tunggu dulu ….”


Ibu tua itu memaksakan langkah dan berlari menghampiri Terasaka. Namun semua sudah terlambat, sebelum sempat dia menyusul Terasaka, Terasaka sudah menggeser pintu rumahnya dengan sangat keras.


Karena itu, dia langsung terduduk dengan badan yang menghantam lantai dengan sangat keras. Dia tidak menunjukkan ekspresi kemarahan, hanya ekspresi kesedihan yang tergurat dari wajahnya.


Flashback off*


“Ja-jadi seperti itu.”


“Makanya aku hanya ingin curhat kepadamu. Lagipula, kalau ada waktu aku ingin pergi lagi untuk menuntaskan urusanku. Setelah semuanya selesai … barulah aku akan menghampiri bu Mariko dan memeluknya. Ahh tidak, mungkin aku harus memanggilnya dengan sebutan ibu.”


Kenichi masih menatap Terasaka, ia ingin membuat kesimpulan. Namun informasinya masih ada yang kurang.


“Kapan kamu melakukannya?”


“Saat festival sekolah nanti sih, tapi aku gak tahu juga kalau bisa lebih dari itu.”


Kenichi memalingkan pandangan ke arah lain, seperti hendak mencari pertanyaan lain.


“Nanti absenmu bagaimana?”


“Haaah, biarkan saja yang penting aku bisa mendapatkan ibuku kembali.”


Bersamaan dengan akhir dari ucapannya, bel sekolah sudah terdengar. Itu menandakan kalau waktu pembelajaran akan segera dimulai.


“Kenichi, jangan beritahu siapa-siapa yah dan tolong, jaga ibuku untukku.”


“Yah, aku berjanji.”

__ADS_1


__ADS_2