RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~KE SANA LAGI!~


__ADS_3

Sepulang sekolah, Kenichi berjalan di sepanjang lorong. Suasana di situ terlihat sepi, mungkin para penghuni sedang ingin pulang cepat.


“Sebenarnya apa maksud dari semua perbuatan Haori selama ini. Perilakunya? Kebaikannya? Apa itu semua hanyalah topeng belaka?”


Kenichi masih memikirkan kejadian tadi, namun kemarahannya sudah mereda.


“Terus, kenapa dari tadi Haori tidak kembali ke kelas lagi? Masa ke toilet lama sekali.”


Kenichi melewati toilet yang dia bicarakan tadi. Sejenak ia berhenti, memperhatikan toilet yang pintunya tertutup rapat.


“Apa aku harus memeriksanya, yah?”


Walaupun dia berpikir lebih jauh, tetap saja reflek dan firasat Kenichi telah membawanya masuk ke dalam. Sepi, hanya sarang laba-laba di pojokan. Sisanya, hanya pemandangan toilet seperti biasa.


Bilik-bilik yang tertutup rapat, apa mungkin ada orang di dalam? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Yah, dia hanya bisa menerka-nerka kalau tidak diselidiki.


Tapi, mana mungkin Kenichi mau melakukan itu. Apalagi dia masih akan bersekolah selama dua tahun di sekolah ini. Masa selama masa SMA dia akan dijuluki lelaki mesum oleh seluruh penghuni sekolah.


Pikiran itu dia buang dulu. Memang mata Kenichi masih berkeliaran, tapi sekarang dia fokus pada tujuan. Beberapa menit terbuang, akhirnya dia menemukan sesuatu. Ada sebuah tulisan yang terpampang di salah satu bilik wc, Kenichi mendekat dan memperhatikannya sekilas.


Tulisan itu terukir di selembar kertas yang ditempel di pintu.


“Toilet ini tidak bisa digunakan.”


Kenichi berpikir sejenak. Bagi sebagian orang mungkin itu adalah hal yang lumrah, tapi tidak dengan Kenichi. Mungkin kalau diibaratkan, akan cocok dengan peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Sesuatu yang kecil baginya, bisa menimbulkan masalah jika dibiarkan.


“Coba aku intip dulu.”


Keputusan yang tepat, lebih baik menyelidiki daripada menyimpulkan sendiri. Tanpa ragu-ragu Kenichi mengintip toilet itu dari bawah. Hasilnya, terlihat sepucuk kertas yang tergeletak di situ. Ternyata tulisan itu hanya kebohongan, agar orang-orang tidak memasukinya.


Tangan Kenichi berusaha masuk dan menggapai kertas itu. Setelah dapat, barulah dia menarik kembali tangannya. Ada tulisan yang tersembunyi di balik lipatan kertas, setelah dibuka barulah terlihat sebuah pesan yang ditulis tinta hitam.


Isinya adalah ….


Jika kau memang berhasil mendapatkan pesan ini, berarti benar dugaanku tadi. Yah, sejak aku melihat aksimu tadi, aku terpikat. Kepintaranmu sungguh luar biasa. Tapi, apa itu akan mengalahkan keajaiban. Hahaha … yah kita lihat saja, ngomong-ngomong ada yang ingin bertemu denganmu di Taman Hidomiya. Dia tidak sabar ingin bertemu denganmu.


Kenichi sudah selesai membaca, terakhir dia langsung melipat dan meremas-remas kertas itu. Gerakan tangannya terbalut amarah dan kebencian yang muncul. Sudah tidak perlu diragukan lagi, memang sedari awal Haori adalah orang yang jahat.


Setelah selesai melampiaskan kemarahan pada kertas tak bersalah itu, Kenichi langsung melemparnya ke tempat sampah. Dibarengi dengan tubuh yang berbalik.


“Awas kau, BR*NGS*EK!!!” dia keluar dari toilet, “Aku akan membuat perhitungan denganmu!”


Sekarang dia akan menyelesaikan masalahnya dengan Haori, entah apa yang akan menunggu di sana. Yang pasti, masalah ini harus segera dituntaskan.


Sementara itu, saat ini Gaia sedang beristirahat di taman. Dia meminum soda yang dibeli dari mesin minuman, sambil menikmati suasana taman yang sedang ramai. Anak-anak yang bermain, para orang tua yang sedang mengobrol dan yah, suasana sore yang damai.


“Apa yang harus aku lakukan dengan mimpiku? Mimpi itu, tidak pernah berhenti dari pikiranku.”


Gaia menghadapkan kepalanya ke atas.


“Kenapa sih aku tidak bisa tenang. Semasa SD dan SMP aku selalu jadi bahan bullying dan ketika SMA, saat aku sudah menemukan sebuah harapan, tiba-tiba kejadian-kejadian aneh mendatangiku.”


Gaia masuk semakin dalam, hingga dia memproyeksikan kembali ingatannya.


“Onsen itu …,” tiba-tiba dia tersentak dengan pemikiran sendiri. Tidak, ada sesuatu yang tertinggal di situ, “Semua ini berawal dari onsen itu.”


“Kejadian, mahkluk aneh, bahkan diriku yang tiba-tiba aneh berawal setelah kami pulang dari onsen.”


“Apa yang tertinggal, apa yang tertinggal yah?”

__ADS_1


Gaia terus memegangi kepala dengan kedua tangan, seperti berharap akan ada jawaban yang keluar dengan cara seperti itu.


“Gaun … gaun itu! Pasti ada jawaban di sana.”


Bukan berarti cara tadilah yang memicu ingatannya yah, ingatan itu tiba-tiba datang melintas ke pikiran. Untuk menemukannya, Gaia bahkan perlu waktu 5 menit.


“Setelah melihatnya aku tiba-tiba mual dan pingsan, dan saat aku terjatuh di depanku samar-samar ada sesosok bayangan seorang gadis kecil.”


“Pasti itu juga akan mengungkapkan kenapa aku tidak punya foto waktu aku masih balita dan mungkin di situ … aku akan menemukan jati diriku yang sebenarnya.”


Jawaban sudah didapat, keputusan sudah diambil. Sekarang dengan tekad Gaia berdiri dan berjalan ke tempat yang menjadi tujuan berikutnya.


*****


“Yui, apa kamu tahu?”


“Tahu apa?”


“Lihat ini.”


Di restoran yang ada di pinggir jalan, seorang lelaki sedang mengeluarkan dua lembar kertas art paper kepada pasangannya. Itu adalah sebuah tiket dan di halaman depan tertulis ....


“Onsen Keluarga Natsuki!”


“Yap benar, khusus untuk kali ini aku ingin mengajakmu ke sana.”


“Apa tidak apa-apa?”


“Hehe, apa sih yang aku gak bisa.”


Mereka berdua saling bercanda tawa, tak lupa diselingi mulut yang menyantap makanan. Begitu romantis, mungkin akan ada orang yang iri saat melihatnya.


“Aku juga.”


Keduanya beranjak berdiri, mesra-mesraan tadi harus mereka jeda terlebih dulu. Kalau berlebihan, mungkin akan jadi pusat perhatian di restoran itu.


“Eh, kenapa kamu bawa tas?”


“Supaya aman, soalnya banyak orang jahat.”


“Udah tenang aja, di sini aman kok. Aku aja yang sering ninggalin barang berharga di sini, gak pernah hilang.”


“Udahlah Rei, aku tetap mau bawa.”


Merasa kalah, pria itu berbalik dan kembali berjalan ke sebuah mesin minuman.


“Aku cuma takut kalau nanti bahumu sakit karena itu.”


“Apa sih! Godainnya gak berkelas.”


Pria itu langsung merangkul bahu pasangannya, ternyata gombalan itu menjadi alat yang mendekatkan mereka berdua. Dampaknya saja, membuat suasana yang tadinya romantis menjadi penuh dengan gelak tawa.


Yah, semua baik-baik saja sampai mereka kembali ke meja mereka.


“Yui, kamu lihat tiketku gak yah?”


“Tiket, tiket onsen maksudmu?”


Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Timbul kegelisahan di antara mereka berdua, baik si pria yang kehilangan tiketnya maupun si wanita yang ikut panik.

__ADS_1


“Iya.”


“Astaga, makanya jangan tinggalkan barang di tempat umum.”


Pria itu sedikit malu, karena ucapannya tadi malah berbanding terbalik. Dia tidak ingin menepis teguran wanita itu, juga tidak ingin melawan.


Sebagai ganti, dia hanya sibuk untuk mencari tiketnya, sementara telinganya mendengar ceramah yang dilemparkan pasangannya.


*****


“Akhirnya, sekarang kalian tidak punya alasan lagi untuk melarangku masuk. Aku sudah punya tiketnya.”


Gaia baru sampai, setelah tadi melakukan sedikit tindakan kriminal. Tapi berbeda dengan kedatangannya yang kedua kali, kali ini dia datang dengan sebuah benda yang akan membawanya masuk. Yap, sebuah tiket.


Jangan kira tiket masuk onsen ini murah, kalau murah sih dari dulu Gaia sudah bisa masuk ke dalam. Mendapatkannya saja sudah keajaiban. Yang dimaksud bukan karena harga yah, tapi kuota yang diperbolehkan pihak pengurus penginapan ini. Hanya sedikit dan banyak yang berebut ingin masuk.


“Baiklah.”


Saat hendak melangkahkan kaki untuk menaiki tangga, suara dering ponsel berbunyi. Itu ponsel milik Gaia, yang sumber getarannya terasa di tas.


Gaia mengambil ponsel dan ternyata ada panggilan dari Kenichi.


“Halo Kenichi.”


“Gaia, kamu ada di mana?”


“Uhm, di rumah sih.”


“Begitu yah. Oh yah, tolong dengarkan aku Gaia. Jika ada sesuatu yang mencurigakan mendekati, atau ada di sekitar rumahmu kamu langsung lari saja ke sungai yang ada di belakang rumahmu. Oke?”


Kenichi memastikan, suasananya menjadi hening. Belum ada balasan, karena Gaia sedang berpikir.


“Emang ada apa?”


“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya Gaia, tolong yah.”


“Ba-baiklah.”


Seketika itu juga panggilan langsung diputus Kenichi. Walau memang timbul kebingungan di pikiran Gaia, tapi tujuannya untuk datang ke tempat ini tidak boleh disia-siakan.


“Maaf Kenichi, maaf harus berbohong padamu.”


Dia berjalan menaiki tangga dan sampai di depan dua boneka yang pernah disukai Yoki, yang dia anggap loli.


Saat sampai, seorang gadis remaja menampakkan diri lewat tirai pintu masuk. Hanya kepala, selain itu tersimpan rapi di balik tirai. Mungkin kisaran 20 tahun, dengan rambut panjang yang diikat ke belakang.


“Ada yang bisa saya bantu?”


“Permisi, maaf … kemana bapak-bapak yang selalu menyambut pengunjung itu.”


Benar juga, bapak yang mengakui kalau dialah pemilik penginapan ini memang selalu menyambut pengunjungnya. Bisa dibilang, bapak ini merangkap dua pekerjaan. Yang satu sebagai pemilik dan yang satu lagi sebagai pemandu.


“Ehm, apa kamu punya tiketnya?”


“Oh, iya.”


Gaia membuka tas dan menyerahkan tiket yang sudah dia temukan.


“Baiklah, silahkan masuk.”

__ADS_1


Gaia masuk, bagian dalamnya tidak jauh berbeda dengan yang dikunjungi Gaia untuk pertama kali. Hanya tempatnya saja, sedangkan suasana … benar-benar berbeda.


__ADS_2