RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~KETAKUTAN DAN KEANEHAN~


__ADS_3

“Itu kan buku penerimaan pengunjung.”


“Heh!”


Sepertinya Gaia mulai menyesal karena mulutnya yang nakal. Sekarang dia sudah memberikan Ino umpan untuk terpancing ke arahnya. Dengan waktu yang sangat cepat, Ino mendekatkan wajah lagi dengan Gaia. Sama seperti tadi, namun dia membawa serta buku itu ke hadapan Gaia. Reaksi yang diberikan, sudah pasti kaget.


“Dulu buku ini memanglah buku penerimaan tamu biasa,” Ino membuka buku itu dan membolak-balik halamannya, “Tapi semenjak diberi petunjuk oleh mahkluk atau yang kami sebut tuan itu, buku ini menjadi petunjuk bagi kami untuk menemukan seseorang.”


Sekarang giliran buku itu yang hampir menyentuh wajah Gaia. Membuat kepala Gaia mundur ke belakang.


“Begitu yah.”


Ino berdiri dan kembali meneruskan pencarian. Gaia hanya menjadi penonton bisu, dia terpaku di tempat ini. Tidak bisa kemana-mana dan dia sangat ketakutan.


Sedangkan Ino, dia mencari dengan muka yang aneh, apa-apaan senyum lebar dan mata melotot itu. Kebanyakan orang akan berkata dia gila, atau mungkin antusias.


“Anu .…”


Kepala Ino melirik Gaia dengan cepat.


“Aku mau nanya, seperti apa wujud dari sosok itu?”


Untung kali ini Gaia selamat dari perlakuan aneh yang Ino lakukan. Dia hanya menoleh kembali ke buku dan meneruskan pencarian.


“Sosok itu berwarna hitam dan tidak berwujud.”


Lagi-lagi sebuah informasi yang sangat berharga bagi Gaia. Cuma dia hanya tidak bisa menemukan kuncinya. Semua masih terasa seperti potongan puzzle yang acak.


“Sosok yang berwarna hitam pekat?” sekarang Gaia kembali mendalami informasi itu, “Apa jangan-jangan ….”


“Ahh ini dia!”


Dia hampir menemukan jawaban, sampai diganggu lagi oleh Ino. Sejujurnya Gaia merasa kesal dan ingin rasanya kabur dari tempat ini, namun apalah daya Gaia masih kalah dengan ketakutannya.


Lagipula, tidak buruk juga mengambil keputusan ini. Karena dia bisa mendapatkan informasi, walaupun dia harus berkali-kali mendapatkan perlakuan yang aneh.


“Gaia Yashashi,” ucapan yang membuat Gaia melirik ke arah Ino, dia merasa dipanggil. mata Ino terus menyusuri kata per kata di halaman tersebut, “Kau … yang datang bersama Yoki dan Kenichi?”


Ketika selesai, dia langsung melayangkan pertanyaan dengan mata yang menatap Gaia.


“I-iya.”


Sepertinya ada sesuatu di jawaban itu. Mata Ino tiba-tiba melotot, kalau yang ini artinya dia sedang tersentak. Ino menutup buku yang dia sebut kitab dan berjalan mendekati Gaia dengan perlahan. Matanya terus menyusuri tubuh Gaia, hingga Gaia merasa jijik.


“Kamu … yang teriak itu yah?”


Sekarang Gaia juga tersentak. Firasatnya berkata buruk, hingga membuat Gaia sampai menenguk air ludahnya sendiri. Dalam gugup otaknya terus berputar, ternyata waktu dia, Yoki, dan Kenichi yang pernah datang ke onsen ini.


Dengan sedikit ragu dia menganggukkan kepala, nampak jelas kalau wajahnya bergetar hebat. Sekarang jawaban telah didapat dan Ino langsung tertawa terkikik-kikik, sangat menyeramkan bukan. Membuat siapa pun berpikir untuk tidak menjawab pertanyaan darinya.


“Te-tenang Gaia, ini adalah satu-satunya kesempatan untuk memperoleh jawaban yang selama ini kau cari.”


Gaia berusaha berbicara pada dirinya sendiri, dia hendak menenangkan batinnya agar melawan rasa takut yang ia punya. Memang agak susah, tapi pada akhirnya batin Gaia pun perlahan tenang.


“Kau adalah yang kucari … harta tuanku … harta tuanku … harta tuanku ….”


Perilakunya semakin gila saja, dia terus-menerus mengulangi kalimat itu. Kaki Ino berjalan kesana-kemari dan mata Gaia fokus pada gerakannya, ya dia harus waspada pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena, ketidakwarasan Ino semakin jadi.


Ino terus mengelilingi ruangan. Sudah puluhan kali dia mengucapkan kalimat yang sama dan sudah belasan menit, Gaia menonton tayangan yang tidak jelas itu.

__ADS_1


“Harta tuanku!!!”


Tiba-tiba gadis itu melompat dan menghadapkan wajah dengan Gaia. Sama seperti tadi, hampir saling bersentuhan. Kedua bibir mereka, seperti hendak saling berciuman.


Kabar baiknya sih, kata-kata tadi menjadi yang terakhir dari mulut Ino. Tapi sayang, kabar baik sama sekali tidak menutupi kabar yang buruk. Ekspresi Ino tidak mengenakan bagi Gaia. Apalagi, bola mata Ino … gerakan bola matanya menjadi aneh.


Bola mata Ino berputar-putar tak tentu arah. Kadang bola mata yang kanan berputar searah jarum jam, kadang bola mata yang kiri berlawanan arah jarum jam. Dan semua itu, dia berikan langsung pada mata Gaia yang kini saling berpapasan.


Betapa takut Gaia melihatnya, sekarang ancaman yang nyata sedang berdiri tepat di hadapannya. Senyum itu, mata itu, wajah itu, entah apalagi elemen kejutan yang akan diberikan.


“Kau … adalah … harta dan milik tuanku ….”


“Ba-baiklah, ta-tapi apa aku boleh mengajukan satu pertanyaan?”


Ino menegakkan badan dengan kedua tangan yang ditaruh di kedua sisi pinggang. Senyum dan matanya masih sama anehnya seperti tadi.


“Hahaha … kenapa seorang hamba sepertiku harus menolak keinginan harta milik tuanku. Tentu saja boleh.”


“Aku ingin bertanya, apa di rumah ini mempunyai … gaun dengan motif kelopak bunga?”


“Kelopak … ahh, hahaha benda itu ternyata.”


“Ehm.”


“Benda itulah yang menyebabkan malapetaka dan berkah di sini.”


“Malapetaka dan berkah?”


“Yap, dialah penyebab adanya tuanku dan karena benda itulah aku tercerahkan olehnya.”


Sudah pasti reaksi Gaia adalah … aneh. Bagaimana bisa seorang manusia normal tetap tenang saat membicarakan benda yang sudah menimpakan malapetaka padanya.


Bahkan senyuman dan mata itu, nampaknya gadis itu juga sudah tidak peduli pada kematian keluarganya, atau mungkin tidak waras karena kematian mereka.


“Salah satu dari teman tuanmu?”


Entah kenapa pertanyaan itu memicu reaksi aneh lainnya. Seusai pertanyaan itu diberikan, tiba-tiba saja mata Ino menatap Gaia dengan tajam. Untung kepalanya sudah menjauh.


“Yah … dan kejadian itu terjadi di hari yang sama dengan kedatangan kamu ke onsen ini.”


Mata Gaia hanya bergidik heran.


“Apa maksudnya, perasaan waktu itu …,” ada jeda dalam gumaman Gaia, “Apa reaksi mereka berdua yang gugup itu ….”


“Haaaa …,” perilaku Ino semakin gila, sekarang dia menggaruk-garukkan tangannya ke wajah. Membuat Gaia tidak fokus pada gumamannya, “Kalau tidak salah, aku pernah melihat seseorang di kamarku. Dia … berambut hitam pendek dan sepertinya habis dari onsen.”


“Heh, apa yang dia maksud itu Yoki?”


Gaia hanya bertanya dalam gumaman.


“Apa kamu tahu tentang orang itu?”


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Gaia. Yang ada hanya wajah yang membatu karena kaget. Reaksi yang seperti itu sudah membuat Ino menaruh curiga pada Gaia.


“Ehm, sepertinya kamu tahu tentang dia … kan?”


Ino mendekati Gaia lagi.


“Bahaya … bahaya … bahaya … kalau dia tahu tentang Yoki ini bisa gawat. Bisa-bisa Yoki akan menjadi target dia selanjutnya. Tapi kalau aku tidak jawab … aku bakal berada dalam bahaya.”

__ADS_1


“Heh!”


Gaia hanya bergumam, tapi Ino tidak memberikan lebih banyak kesempatan padanya. Apa yang akan dia putuskan dalam jeda waktu yang sesingkat ini? Bisa jadi lebih baik atau bahkan semakin memperburuk keadaan Gaia.


“Be-begini saja, gimana kalau aku ajukan satu pertanyaan dan kamu juga begitu?”


Pemikiran yang cepat, namun isinya cukup baik. Alhasil, membuat Ino berpikir kembali.


“Baiklah, kau yang bertanya pertama.”


Akhirnya disetujui, untung Ino masih bisa diajak berkomunikasi.


“Aku ingin bertanya, di mana gaun itu disimpan?”


“Hoo … gaun itu sekarang ada di rumah seorang paranormal. ”


Gaia langsung tersentak. Tentu saja itu aneh, bagaimana bisa barang itu ada di rumah seorang paranormal. Apalagi di onsen itu terpasang police line, yang terlibat pastilah pihak polisi.


“Kenapa tidak di kantor polisi?”


“Itu karena … sang paranormal sendiri yang memintanya pada polisi.”


Sekarang Gaia mengerti. Dia mengangguk sebagai tandanya.


“Ahh iya … ini, alamat si paranormalnya.”


Ino mengeluarkan selembar kertas dari sakunya.


“Terima kasih.”


Saat Gaia menyentuh kertas kecil putih itu, tiba-tiba saja kepala Ino didekatkan lagi. Dengan tatapan yang masih sama dan kekagetan Gaia yang masih sama juga.


“Jadi, apa aku boleh bertanya?”


Gaia langsung mengambil dan menyimpannya terlebih dulu. Barulah setelah itu, dia berani menatap gadis itu.


“Baiklah.”


“Oke, aku akan ulang pertanyaannya. Apa kau mengenal anak dengan ciri-ciri yang kusebutkan?”


“Oke, pertama izinkan aku berdiri terlebih dulu.”


Gaia tidak menunggu Ino menjawab, dia langsung berdiri dan berjalan mengeliligi ruangan. Yah, boleh dibilang dia sedang menirukan gerakan Ino.


Sedangkan Ino, untung saja tidak menunjukkan reaksi aneh atau reaksi menyerang lainnya. Dia tidak tersinggung apalagi marah atas gerakan tiruan yang dilakukan Gaia.


Ino hanya diam membatu, dengan mata yang mengamati Gaia.


“Waktu itu aku datang bersama tiga orang dan … cari tahu saja sendiri.”


Gaia melemparkan tirai yang persis ada di sebelahnya, ukuran tirai itu sangat besar hingga menutupi pandangan Ino dan keberadaan Gaia. Yap, itu adalah pemikiran cepat yang jenius. 


Sedari tadi, alasan dia mengelilingi ruangan adalah untuk mencari barang yang mungkin akan membantunya melarikan diri dan yang terpilih adalah tirai. Seteleh melempar tirai, Gaia langsung berlari keluar dari gudang.


“Kenapa … kenapa … kenapa … kenapa … kenapa harta tuanku mengkhianati pengikutnya? Ahh!!!”


Teriakan yang begitu memekikkan, hingga terdengar hampir di setiap sudut tempat.


“Untung saja, untung saja aku bisa lari,” Gaia mengalihkan pandangannya lagi ke depan, “Sekarang waktunya aku menemui orang ini.”

__ADS_1


Gaia tidak berhenti berlari, dia tidak mau menyia-nyiakan waktu yang dimiliki. Hingga dia berhasil keluar dari onsen yang mengerikan, barulah dia bisa menghela nafas lega.


Tapi bukan untuk waktu yang lama, dia masih punya tujuan yang lain. Apalagi, dia tidak tahu dengan apa yang akan dilakukan Ino yang sampai sekarang masih terus berteriak.


__ADS_2