
“Ya … ya … ya …,” Kenichi berdiri dari posisinya, bahkan sekilas terlihat kalau dia tidak apa-apa, “Usaha yang bagus.”
“Kau!!!”
“Tunggu.”
Di saat mereka hendak maju bersamaan, sebuah perintah datang dari Terasaka. Dia membuat mereka mengerem langkahnya, sekaligus menjadi pusat perhatian mereka. Di antara mereka semua, hanya Terasakalah yang tenang. Sepertinya dia tahu dengan lawan yang ia hadapi.
“Kenichi, apa kamu tahu dimana Yoki dan Gaia saat ini?”
“Apa maksudmu?”
“Ya sudah, kalau tidak mau jawab juga gak apa-apa. Tapi, yang pasti mereka berdua berada di dalam … bahaya.”
Kenichi mengernyitkan mata. Jika yang disinggung adalah kedua temannya sih, Kenichi akan menganggapnya serius.
“Apa maksudmu sebenarnya?” Kenichi menjeda sejenak, ada yang terlintas di pikirannya, “Jangan-jangan, gadis itu yah.”
Ucapan Kenichi menjadi pemicu tawa untuk Terasaka. Suasana di tempat itu menjadi sedikit membingungkan. Sekarang suasana hati Kenichi menjadi tidak tenang, dia takut kalau hal buruk akan segera terjadi atau mungkin … sedang terjadi.
Sedangkan untuk semua anak buah Terasaka, ternyata api kemarahannya masih membara. Tangan-tangan itu sudah siap menghajar orang yang telah menghina mereka.
“Ternyata dia sudah membuka kedoknya selama ini yah, jadi bagaimana jalan-jalan kalian bersamanya.”
“Yah, seperti hamburger lezat yang terbuat dari daging busuk.”
Walaupun itu sebuah sindiran. Namun terlihat jelas kalau saat ini Kenichi sedang marah. Tangannya yang bergemetar dan matanya yang menatap tajam penuh dendam, sudah menjadi bukti.
“Begitu ternyata, hahaha ….”
“Aku punya satu pertanyaan untukmu, siapa sebenarnya gadis itu?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu darimana dan siapa dia sebenarnya. Sekitar dua minggu lalu, dia datang ke salah satu markas dari kelompok mafia Topi Hitam. Kau tahu kan mereka, mereka adalah kelompok mafia yang dipimpin Bonzo.”
Kenichi mengangguk, dia tidak pernah melupakan nama itu. Karena, kelompok itulah yang membuat hidupnya menjadi seperti ini.
“Dia memberikan bantuan secara sukarela, tanpa meminta imbalan apapun.”
Kenichi sedikit tersentak. Dia kebingungan dengan motif gadis itu, yang pasti dia menolak kalau gadis itu melakukan ini semua karena uang. Mungkin dendam, atau mungkin yang lain.
“Kenapa dia memintanya secara sukarela dan kenapa kalian menerima bantuannya dengan begitu mudah?”
Kenichi mengajukan pertanyaan secara terang-terangan. Di hadapan orang-orang itu, pertanyaan ini agak bersifat pribadi karena menyangkut masalah terdalam organisasi mereka.
“Aku tidak tahu, yang pasti ini bersangkutan dengan urusan organisasi mereka. Lagipula, aku baru bergabung dengan mereka beberapa hari yang lalu.”
Pada akhirnya masih belum terjawab, Kenichi harus menanyakannya pada orang dengan jabatan yang lebih tinggi. Atau yang mempunyai hubungan penting dengan urusan hutang piutang keluarganya.
__ADS_1
“Jadi, kita sudahi dulu percakapannya. Kau tahu, aku juga mau menghadiri undangan acara pemakaman teman-temanmu.”
Kenichi baru ingat dan dia langsung memasang wajah tegang. Walaupun fisiknya di sini, tapi pikirannya pergi entah kemana. Yang dia pikirkan saat ini adalah keadaan Yoki dan Gaia. Tapi sayang, dia harus menghadapi mereka semua terlebih dulu.
Yah, Kenichi hanya tahu kalau Yoki sedang dipanggil guru dan Gaia sedang ada di rumahnya. Tapi, itu juga tidak mungkin menutup kemungkinan akan ada bahaya yang menghampiri mereka.
“Kalau gitu, akan aku paksa kau mengajakku juga … Terasaka!”
Kenichi mengeluarkan emosi, satu-satunya jalan yang dia pilih adalah bertanya langsung pada Terasaka. Tapi untuk itu, dia harus menerobos barisan pertahanan Terasaka seperti tadi.
Kesempatannya mungkin kecil, tapi mau sekecil apapun, kesempatan adalah kesempatan. Yang menentukan adalah orang yang memiliki kesempatan.
“Hahaha, silahkan saja aku dengan senang hati akan meladenimu.”
Terasaka kembali duduk di sebuah kursi. Dia hendak menikmati pertunjukan yang akan dimainkan Kenichi.
“Kete ….”
Tiba-tiba satu pukulan langsung mengarah ke wajah Kenichi, padahal dia belum sempat mengeluarkan jurus andalannya. Ya mau bagaimana lagi, alhasil dia hanya mengikuti alur dan menghindari serangan itu.
“Hahaha … sudah kubilangkan, kau tidak bisa mengalahkanku dengan strategi yang sama.”
“CIKH … kurang ajar, habislah kau Terasaka.”
Dalam hindaran tadi langkah Kenichi sedikit mundur, tapi sekarang dia menghentakan kaki untuk maju dan berlari ke arah Terasaka.
Kenichi memang sedang terbawa emosi oleh kata-kata Terasaka. Dia diingatkan kembali setelah menyadari jika semua orang yang mengelilinginya sedang melancarkan serangan bersama.
“CIKH … payah!”
Satu per satu mulai melancarkan serangan secara bergantian. Perpindahan gilirannya pun sangat cepat. Apalagi gerakan yang dikeluarkan beragam.
Ada yang menendang, ada yang meninju. Walaupun dominan menggunakan kedua gerakan ini, tapi arah, kekuatan, dan penyampaiannya berbeda-beda.
Masing-masing memiliki ciri khasnya tersendiri dan itulah yang membuat Kenichi bingung. Matanya terlalu sibuk untuk memperhatikan gerakan acak mereka. Sedangkan tangan dan kakinya, secara reflek dan cepat mengerjakan perintah otak untuk bertahan.
Dengan serangan yang secepat itu, mana mungkin Kenichi memiliki kesempatan untuk menyerang balik.
“Bocah, kau memiliki tekad baja juga yah.”
Sekarang telinganya ikut mendengar.
“Tapi, walau sekeras apapun dirimu kami akan tetap menghancurkanmu.”
“Kenapa kalian punya dendam mendalam padaku?”
“Kenapa … itu karena perbuatanmu yang membuat kami menderita.”
__ADS_1
Saat ini Kenichi sedang berbicara dengan salah satu dari mereka. Tapi bukan berarti berhenti, malahan dia mengobrol sembari meladeni serangan yang datang. Yah, yang dia ajak ngobrol sih menurunkan intensitas serangannya. Tapi itu kan tidak berlaku pada yang lain.
“Menderita?”
“Dulu kau pernah menculik seorang gadis, bukan. Itu adalah putri bos besar kami dan hanya karena putrinya saja kehidupan kami sampai dihancurkan olehnya. Kau tahu berapa nyawa keluarga kami yang direngut oleh bos kami.”
Kenichi sama sekali tidak merasa iba ataupun sedih. Dia malah kebingungan dengan semua penjelasan itu.
“Kenapa kalian masih mengikutinya? Bodoh.”
Sekarang giliran orang itu, terlebih dulu dia memukul Kenichi.
“CIKH, anak kecil yang tidak tahu apa-apa lebih baik diam saja.”
“Haaah, ya sudah. Aku juga tidak peduli.”
Orang itu hanya tersenyum kecut.
“Tidak peduli, kalau gitu kami akan membuatmu peduli.”
Kenichi tidak peduli dengan ucapan itu, sampai … dia merasakan sesuatu di belakangnya. Sesuatu yang membuat firasatnya menjadi buruk.
“Halo bocah, bagaimana obrolannya?”
Suara itu berasal dari belakang. Sekarang Kenichi menjadi hampa. Dari tadi memang ruang kaburnya sudah diperkecil, namun untuk yang sekarang, mungkin dia tidak punya ruang untuk kabur lagi.
Untuk apa mengatur ulang strategi jika sudah seperti ini. Tidak ada waktu untuk berpikir dan bertindak, karena kakinya sudah ditendang dari belakang. Dia tidak bisa kabur lagi, mungkin ini saatnya menerima semua serangan mereka.
“Jadi, tadi aku terkena jebakan … yah.”
Badan Kenichi akan menghantam tanah dengan posisi terlentang, tapi sayang mereka semua tidak akan membiarkannya.
Belum sampai Kenichi menyentuh tanah, sebuah tendangan sudah dilayangkan padanya. Mereka benar-benar tidak mau membuat celah, sampai memojok Kenichi seperti ini.
“Humphh … lumayan untuk sampah seperti kalian.”
Walaupun begitu, Kenichi masih punya tekad dan kemauan, mana mungkin dia mau kalah di tempat ini. Jika memang tidak ada celah, buat saja sendiri. Mau dalam posisi apapun, dia harus melawan, dia tidak mau tekad dan kemauannya mati di sini.
Langkah pertama yang diambil adalah menahan tendangan itu. Kenichi yang tubuhnya masih malayang terjatuh ke arah lain. Tendangan yang lumayan kuat, itu juga dibantu dengan faktor yang lain.
Kenichi tidak sedang dalam posisi siap untuk menyerang maupun bertahan, tubuhnya saja bisa dihempas sekali tendang.
Tapi tenang, Kenichi tidak kehabisan akal. Dia langsung backflip ke belakang dan mendarat dengan kuda-kuda yang sudah siap.
Sempurna, tapi itu belum selesai. Mereka benar-benar tidak ingin memberikan celah bagi Kenichi untuk bernafas. Yah, bisa jadi di situlah kelemahan fatal yang dimiliki ketika melawan musuh yang banyak.
Kenichi sudah sangat lelah, apalagi dia juga berusaha untuk menghilangkan rasa sakitnya tadi. Alhasil, di saat fokus Kenichi melengah, di situlah saat yang terbaik untuk melancarkan serangan mereka. Salah satu dari mereka maju. Kenichi melihatnya, dia juga sudah bersiap untuk meladeninya dengan pukulan.
__ADS_1
Tapi, Kenichi kembali tersadar. Strategi yang sama, ada salah satu dari mereka yang sudah berjaga di belakang Kenichi. Dia hendak membuat Kenichi terjatuh seperti tadi. Lalu, apakah Kenichi akan terjatuh untuk yang kedua kalinya?