RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~TULISAN YANG MENGUNGKAPKAN SEGALANYA~


__ADS_3

Yah, ekspresi yang sesuai dengan ekspektasi Eiji. Gaia langsung tersentak, tidak menyangka kalau isinya sangat mengerikan. Dia menutup kedua mulut sebagai tanda. Sedangkan Eiji, dia juga diselimuti hawa kegelisahan. Belum lagi datang penonton yang tak diundang ke rumah.


“Tidak … tidak … tidak … apa artinya itu? Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Orang yang diceritakan di kertas itu sangat keji dan sadis. Tidak, itu tidak mungkin aku.”


Gaia hanya bergumam. Setelah selesai, dia melihat kertas yang tadi ia tulis. Dia menatap jijik kertas itu, alhasil dia langsung membuangnya. Mungkin memang tidak cocok untuk dilihat Gaia, karena tulisan yang begitu mengerikan.


Tapi, tindakan Gaia langsung direfleksikan oleh Eiji. Dia tidak mengerti kenapa Gaia sampai membuang kertas itu. Karena tulisan yang terlalu mengerikan? Yah, itu akan jadi salah satu argumen Eiji.


“Kenapa dia membuang kertas itu? Ehm, dia juga meminta izin untuk menulis nama-nama itu. Kira-kira, kenapa dia sampai seperti itu yah? Bahkan mahkluk-mahkluk ini datang karena kehadirannya.”


“Anu, pak Eiji bisa kita lanjutkan?”


“Ahh iya-iya.”


Gaia mengganggu Eiji yang belum selesai bergumam. Sebelum dia berbalik hendak memeriksa kalimat yang lain, sekilas dia melihat raut wajah Gaia. Gemetaran dan keringat dinginlah yang dia sorot.


“Oke, kita lanjut ke bait ketiga. Uhm, kurasa cuma tersisa tiga baris. Baris terakhir sepertinya sebuah kesimpulan kalau ini semua adalah kisah perjalanan hidup seseorang.”


“Begitu.”


Nada bicara Gaia menjadi lemas. Kalimat di bait kedua tadi terus menempel di pikirannya. Pikiran Gaia ingin membuang itu semua, tapi hatinya ingin terus mendalami kaliamat itu.


“Pak Eiji, aku ingin berbicara mengenai baris kedua bait ketiga ini.”


Eiji mengangguk. Gaia bercerita tentang pengalamannya, saat tadi datang ke onsen keluarga Natsuki. Mulai dari bertemu seorang gadis aneh, hingga isi percakapan yang mereka berdua bicarakan. Dari sini Eiji menggaris bawahi beberapa kata yang mungkin akan jadi kunci.


“Ngomong-ngomong, soal Natsuki Ino. Dia adalah sepupuku.”


“Oh, ma-maaf.”


“Ahh, tidak apa-apa kita kembali ke persoalan. Di sebutkan dalam baris pertama kalau tanggalan kembali terulang. Mungkin maksudnya ulang tahun, terus di baris kedua ada tulisan malam itu merah darah.”


Gaia memperhatikan Eiji lebih dalam.


“Itu sama dengan yang Ino katakan. Artinya, bencana yang menimpa keluargaku terjadi saat gadis yang ada di tulisan ini berulang tahun.”


Sedikit demi sedikit, satu persatu kepingan puzzle mulai menyatu. Mereka akan segera membentuk informasi yang valid. Gaia dan Eiji sadar kalau mereka sedang ada di jalan yang benar. Tinggal didalami sedikit lagi, mereka akan menemukan jawaban.


“Pak Eiji, jika mereka mati saat gadis itu berulang tahun berarti ….”


“Ya, pertama gadis itu berulang tahun pada tanggal 20 september. Kedua, entah kenapa firasatku tidak enak, tapi ada seseorang yang diincar mahkluk itu. Mahkluk yang menulis tulisan ini.”


Perlahan Eiji berpaling untuk meminta pendapat Gaia. Tapi, keputusan Eiji sepertinya salah. Dia melihat pemandangan yang sangat menyeramkan. Ada selubung hitam yang menyelimuti Gaia. Jika suasananya sudah semencekam ini, apalagi biang keroknya.


Mata Gaia yang tadinya lembut dan manis. Berubah penuh dengan kesan horor, ditandai dengan kedua mata putih mencolok. Teriakan, ekspresi, Gaia telah menjadi individu yang berbeda.


Sedangkan Eiji, ketakutan Eiji telah membekukan kedua kaki. Sehingga dia tidak dapat berkutik, hanya diam di tempat. Senyuman mengerikan Gaia bisa membuat semua orang ketakutan, bahkan atmosfirnya lebih besar dan dominan dibandingkan dengan mahkluk-mahkluk yang datang ke rumah Eiji.


“Hahaha … Aku akan kembali dan akan mengukuhkan tahtaku!”


Tiba-tiba saja Gaia fasih dalam berbahasa yunani (Yah, soalnya kalau langsung bahasa yunani nanti pada ngak ngerti). Eiji sampai bingung dibuatnya, dia tidak tahu lagi sosok yang bersamanya sedari tadi. Apakah dia Gaia atau yang lain?

__ADS_1


Di sekolah ….


“Ahhh, dia … dia ahhh akhirnya.”


“Ee pak, ada apa pak?”


Saat ini Yoki dan pak Thomas sedang berada di kelas. Pak Thomas sedang membicarakan nilai-nilai Yoki selama ini. Mulai dari sikap sampai nilai akademis yang sudah Yoki capai di kelas 10. Tapi di sela-sela obrolan, tiba-tiba terjadi perubahan sikap yang aneh dari pak Thomas.


“Tidak apa-apa, bapak tadi habis melamun. Kita lanjutkan.”


Yoki mengangguk. Dia sebenarnya bingung dengan perilaku aneh yang ditampilkan pak Thomas. Firasat Yoki juga sedari tadi sedang negatif. Tentu dia tahan, tapi terasa sakit dan tidak mengenakan. Padahal, apa yang dikatakan firasatnya sangatlah benar.


“Akhhh, aku … harus … sa-dar!”


Kesadaran Gaia masih ada. Dia masih melawan sesuatu yang memberontak dari dalam. Rasanya, dia sudah sadar dengan isi dari bait kedua.


Entah kegelisahannya benar atau tidak, dia tetap ingin menjadi sosok yang sekarang. Baik dan ramah, penuh dengan cahaya yang hangat. Tidak seperti sosok gelap dan keji yang ada di tulisan itu.


“Pak Eiji, tolong … ambilkan pisau.”


Nadanya saja sudah terdengar seperti seseorang yang tercekik. Tapi tidak apa-apa, yang penting Eiji mengerti dengan ucapan Gaia. Walaupun dia masih bingung dengan semua ini, tapi dia tetap berusaha memenuhi permintaan Gaia.


Langkahnya tergopoh-gopoh. Dia penuh dengan kebimbangan. Bagaimana tidak, dia juga sedang menahan rasa takut. Dengan tangan yang sudah mengambil pisau di meja, Eiji kembali dan memberikannya pada Gaia. Namun kejadian aneh terjadi, sehingga tangan Gaia tertahan saat mengambil pisau itu.


Terasa seperti ada dua sosok yang saling bertentangan, padahal yang terlihat hanyalah sosok Gaia saja. Eiji mengartikan kondisi ini sebagai kerasukan.


“Kau! Apa yang kau lakukan?”


Kepala Gaia bertambah satu. Bentuk wajahnya memang sama seperti Gaia. Tapi terbuat dari api yang membara. Dia berbicara dalam bahasa yunani dengan nada dan ciri khas yang sama dengan suara Gaia.


Sedangkan wujud Gaia yang asli, tidak mengerti sama sekali dengan omongan wujud lainnya itu. Jadi, dia hanya bisa meracau dan menyuruh wujud itu untuk pergi.


“Diam kau, dasar kepribadian sialan!”


“Di-dia membalas. Apa dia mengerti dengan apa yang aku ucapkan?”


Gaia tidak punya waktu untuk berpikir. Dirinya seperti terkekang kekuatan yang besar, yang membara dan membakar walau itu hanya sebuah kiasan.


“Gaia, cepat ambil pisaunya!”


Eiji melemparkan pisau ke arah Gaia. Gaia dengan cekatan langsung menangkapnya, menggunakan pisau itu untuk hal yang tak terduga. Dia menggores leher dengan pisau. Bekas berupa darah yang terukir secara horizontal pun terlihat. Bahkan, mengeluarkan cairan merah kental sebagai bekas.


Usahanya bisa dibilang sangat berhasil. Walaupun aksi ini hanya dilakukan berdasarkan insting dan nekat, tapi hasilnya sudah luar biasa. Kepala yang ada di samping kiri Gaia menghilang.


Walaupun, darah yang dia buat belum berhenti mengalir. Begitu juga dengan selubung hitam yang menyelimuti Gaia. Kalau masalah penonton yang tak diundang? Tenang, mereka masih tetap setia menonton ini sampai selesai.


“Akhhh .…”


Gaia kesakitan. Dia berusaha untuk menghentikan pendarahan. Kalau hanya dengan tangan sih sia-sia, tapi mau bagaimana lagi dia tidak mempunyai solusi.


“Gaia bertahanlah, aku akan segera mengambil ….”

__ADS_1


Dia berhenti bicara, saat dia berbalik ke belakang. Bahkan gerakannya pun terhenti, dengan mata melotot yang memperhatikan sesuatu.


“Me-mereka ….”


“Ada apa pak Eiji?”


Panggilan itu telah menyadarkan Eiji. Perlahan dia melirik Gaia dengan tubuh yang bergemetar hebat. Ekspresi itulah yang membuat Gaia heran, sehingga dia bertanya-tanya.


“Mereka … semakin mengincarmu. Sejak wujud itu muncul, mereka semakin dekat denganmu.”


“Sebenarnya, siapa sih mereka?”


“Mereka adalah keluargaku yang mati itu.”


Gaia tersentak. Ternyata dia tidak sepenuhnya lolos. Keluarga Natsukilah yang sedari tadi menontonnya.


Gaia menjadi terkekang. Dia sudah dikurung dengan mimpi aneh, kejadian-kejadian tidak masuk akal, mahkluk aneh, dan bahkan arwah gentayangan yang mengawasinya.


Mau bagaimana lagi, dia juga tidak mengerti dengan semua ini, sama halnya dengan biang kerok yang tidak bisa dia tebak.


“Pak Eiji, bapak tetap di sini. Aku akan memancing mereka menjauh dari tempat ini.”


“Tidak mungkin, itu berbahaya.”


Gaia hanya tersenyum, dibarengi kepala yang menggeleng. Dia sudah tidak memikirkan kondisi lehernya lagi.


“Tidak. Mau aku di sini atau di tempat lain, aku akan terus dikejar mereka. Setidaknya, aku tidak ingin ada korban tambahan lagi. Biarlah ini menjadi pertarunganku, aku tidak ingin melarikan diri atau mengorbankan orang lain.”


“Apa kamu yakin?”


Kepala Gaia yang mengangguk sudah tidak diragukan Eiji. Dia benar, Eiji juga pasti sadar. Mau berlari ke mana pun, mau bersembunyi di mana pun … mereka akan terus mengikutinya sampai dapat. Hanya satu yang bisa dilakukan, Gaia harus melawan mereka.


“CIKH, baiklah. Jaga dirimu dan pastikan kamu kembali dengan selamat.”


“Baik, terima kasih pak Eiji.”


Gaia memang masih bingung dengan motif dibalik perbuatan mahkluk-mahkluk itu. Tapi, tujuannya sudah ditetapkan. Dia akan memancing mahkluk-mahkluk itu ke tempat yang jauh dari perkotaan. Gaia sudah siap, dia langsung keluar dari ruangan.


Untung di sepanjang perjalanan tadi, Gaia masih ingat jalan keluar dari rumah ini. Yah, juga sedikit dibantu dengan benda-benda aneh yang dipajang di dalam rumah Eiji.


“Kau … kau tidak akan kami biarkan kabur lagi!”


Eiji masih diam di tempat. Dia menjadi saksi racauan dan kehadiran dari mahkluk-mahkluk itu. Di sisi lain, dia terkejut karena mahkluk-mahkluk itu bisa bicara.


Tapi justru itulah yang menyakitkan hati Eiji. Suara yang mahkluk-mahkluk itu keluarkan adalah suara dari setiap anggota keluar Natsuki yang mati. Semua bercampur aduk, menjadi suara yang membuat hati Eiji menderita.


“Kau, akan kami serahkan padanya.”


Mahkluk-mahkluk itu berkumpul menjadi satu. Awalnya sih hanya gumpalan berwarna hitam pekat, namun lama kelamaan gumpalan itu menunjukkan geliat yang aneh. Semua ini berlangsung sampai gumpalan itu membentuk sebuah wujud. Yang pasti, wujud yang menyeramkan.


Badan berwarna hitam dan berbentuk seperti laba-laba dengan tiga pasang kaki. Sedangkan kepalanya, mungkin tidak tepat kalau mahkluk ini hanya disebut sebagai individu. Kepalanya saja ada sepuluh, mereka seperti individu-individu yang berbagi satu badan. Sedangkan ukuran, boleh dibilang besar. Tinggi 4 meter dan panjang 5 meter.

__ADS_1


Eiji menangis melihat itu. Walaupun menyeramkan dan menjijikan, tapi mereka semua berharga di mata Eiji. Mereka semua adalah keluarganya. Walaupun memang dia tidak diakui, tapi itu semua tidak mempengaruhi pikiran Eiji.


Dia tetap merasa sedih dan iba melihat kematian seluruh keluarganya, yang boleh dibilang mengenaskan. Sudah mati, arwah mereka malah menjadi boneka yang seenaknya dipermainkan orang lain.


__ADS_2