RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~DIHUKUM~


__ADS_3

“Hai Yoki, Gaia.”


Seorang siswi sedang menghampiri Yoki dan Gaia yang berdiri bersebelahan di depan kelas.


“Owh, Aiha ada apa?”


“Uhm, gak papa sih. Cuma memuji keputusan kalian ikut keluar kelas.”


Cara berdiri mantap, dengan senyum lebar yang terhias. Dari gerak-gerik, kemungkinan besar dia adalah seorang gadis yang periang dan mudah bergaul dengan siapa saja.


Contohnya Yoki dan Gaia, padahal mereka berdua dengan Kenichi adalah sekelompok murid yang menyendiri dari kelasnya. Pantas saja di antara murid-murid sekelas Yoki, dialah yang mempunyai teman paling banyak.


“Gak juga sih, sebenarnya aku di luar karena lupa kalau buku tugasku ketinggalan di tempat kerja.”


“Oh, jalur murni. Kalau Gaia?”


Jawaban yang ia inginkan membutuhkan jeda waktu. Karena sedari tadi, Gaia terus merunduk dan terdiam.


Matanya sih tertutup oleh tirai-tirai rambut, sehingga Yoki dan Aiha tidak tahu apa yang ada di balik tirai itu.


“Siapa kamu?”


“Siapa kamu?”


“Siapa kamu?”


Ternyata kesadaran Gaia sedang tidak berada di dunia nyata, sekarang dia sedang berada lagi di dalam mimpi. Kondisi ini, suasana ini, dan suara-suara yang sedari tadi menyahutinya. Yap, kondisi yang sama seperti yang dia alami kemarin.


Betapa tidak beruntungnya dia, dia sama sekali tidak menemukan petunjuk untuk memuaskan berbagai pertanyaan yang datang. Beberapa hari ini dia stress karena mimpi yang tidak jelas itu, bahkan sampai dia jatuh sakit kemarin.


Oh yah, pertanyaan-pertanyaan itu bukan lagi keluar dari satu sosok secara bertahap. Namun dari berbagai sosok yang secara bergantian menampilkan wujudnya dan bertanya pertanyaan yang sama. Transisinya terlalu cepat, terlalu banyak jenis suara yang ia dengar.


Mereka semua bukan hanya sosok-sosok yang Gaia lihat kemarin, tapi juga ada Yoki, Kenichi serta beberapa orang yang Gaia kenal. Bahkan sampai penjaga toko buku yang ia sering datangi pun turut ambil andil dalam satu pertanyaan yang sama.


Bisa dibayangkan bagaimana stressnya dia mendengar gaungan suara dari berbagai topeng yang mengelilingi.


“Gaia … Gaia ….”


“Hah!”


Akhirnya Gaia berhasil keluar dari tempat menyeramkan itu, penyelamatnya adalah Yoki yang menggunakan tepukan tangan di pundak.


Setengah sadar, Gaia langsung memalingkan wajah untuk mengetahui siapakah penyelamatnya. Dipalingkan ke kiri dan dia mendapati Yoki yang sedang menutupi kedua telinganya.


Bisa dibayangkan kenapa Yoki melakukan itu, itu karena suara yang dihasilkan begitu besar dan bisa memekikkan telinga. Bahkan bukan hanya Yoki, tapi semua murid yang ada di luar kelas juga mendengarnya.


“Woi jangan berisik woy, dasar pemalas! Udah gak ngerjain tugas, masih bisa santai lagi.”


Pak Thomas muncul lagi, dengan suara benturan pintu kelas yang dia geser terlalu kasar. Dia muncul sambil marah-marah dan membentak Gaia.


Sebenarnya kemarahan itu juga menghasilkan suara yang mengimbangi teriakan Gaia, cuma dia gak sadar dan main marah-marah saja.


“E ... maaf, maaf pak guru. Saya tidak akan mengulanginya lagi.”


Gaia meminta maaf sembari menundukan kepala.


“Dasar.”


Pak guru kembali masuk ke dalam kelas dan lagi-lagi, dia membanting pintu dengan suara yang mengimbangi teriakan Gaia. Bahkan, mungkin lebih.


“Maaf yah, aku tadi benar-benar ….”

__ADS_1


“Ahh, harusnya aku yang minta maaf. Maaf sekali, tadi … tadi aku hanya berniat bertanya padamu.”


Keduanya merasa bersalah, sehingga suasana di situ menjadi agak canggung.


“Ya-ya udah, aku pergi dulu yah. Ngomong-ngomong, niat juga Kenichi sampai dia rela ngerjain test di dalam kelas.”


Sebelum pergi, Aiha menghentikan langkah. Dia ingin sedikit menyinggung Kenichi.


“Hahaha … mana ada, dia begitu karena terlanjur mengeluarkan buku tugasnya lebih dulu dan … jadi deh dia harus ngerjain tugas bersama Haori di dalam.”


Lelucon Yoki ditanggapi dengan baik oleh Aiha, keduanya tertawa terbahak-bahak tanpa ada satupun murid yang memperdulikan mereka. Murid-murid yang lain sudah cukup dengan jump scare dua kali yang dilakukan Gaia dan Pak Thomas.


“Ya udah, ternyata seru juga mengobrol dengan kalian.”


“Yo.”


Dengan begitu, obrolannya dengan Aiha pun berakhir. Digantikan dengan tatapan Yoki yang difokuskan ke arah Gaia.


“Tumben kamu tidak mengerjakan tugas.”


Yoki menyadari sesuatu.


“Oh iya kemarin kamu sakit, maaf yah … maaf.”


“Tidak apa-apa sih Yoki, niatnya juga aku pingin ngerjain. Tapi, kemarin aku sempat mimpi buruk.”


“Termasuk … yang tadi?”


Yoki menatap Gaia di sebelah kiri, dengan tatapan yang menyelidik. Mata kirinya diangkat ke atas dan yang lain dikerutkan, sedangkan bibirnya sedikit dimajukan.


“Iya, apa aku meracau saat malamun tadi?”


“Ehmm, tidak kok. Cuma aku dan Aiha kuatir saja. Soalnya tadi kamu diam mematung.”


Menggunakan kedua tangan untuk membuka tirai rambut yang menutupi keningnya. Sekaligus, mendorong kepala untuk menatap ke atas. Ke langit-langit lorong sekolah.


“Emang apa isi mimpimu kalau aku boleh tahu?”


Pertanyaan Yoki memancing Gaia menurunkan kepalanya dan menatap Yoki. Tinggi mereka seimbang, jadi tidak ada dari mereka yang merasa tak nyaman saat saling bertatapan.


“Hanya satu pertanyaan, siapa diriku yang sebenarnya.”


Jawaban yang aneh bagi Yoki. Dia, seluruh sekolah, bahkan orang yang mengalami mimpi itu pun sudah tahu jawabannya.


“Bukannya kamu Gaia.”


“Entahlah, yang kutahu pasti … namaku Gaia atau, bukan yah?”


Pertanyaan itu ditujukan pada dirinya, untuk introspeksi diri, untuk mencari siapa jati diri Gaia yang sebenarnya.


“Hahaha, mungkin kamu kebanyakan bergadang deh. Jadinya khayalanmu bocor kemana-mana.”


Lain Aiha, lain juga Gaia. Lelucon itu tidak tepat di saat yang seperti ini, karena Gaia sedang dilanda masalah yang membuatnya tidak punya waktu untuk menanggapi candaan Yoki.


Dengan cepat Yoki sadar, dia tahu kalau ada beban pikiran yang dipikul Gaia. Mau itu khayalan atau tidak, dia harus mengerti perasaan Gaia sebagai seorang teman.


“Kalau kata aku sih, mau nama apapun itu tidak penting. Yang penting adalah harapan yang ditaruh di dalamnya.”


“Harapan?”


“Yah, maksudku seperti ini … nama yang diberikan orang tua padaku adalah Yoki.”

__ADS_1


Sekarang Gaia memperhatikan Yoki dengan seksama, dia sudah memendam masalah tadi.


“Suatu hari aku pernah iseng-iseng membuka internet, di situ aku ingin mencari tahu arti namaku yang sebenarnya.”


Yoki agak menunduk, masa lalunya kembali terngiang. Sebenarnya dia tidak mau membuka lembaran itu, terlalu menyakitkan dan baginya, itu bersifat privasi. Tapi kalau berbicara dengan Gaia, Yoki seperti tidak sanggup untuk mengekangnya.


“Dulu aku tidak punya handphone atau perangkat elektronik. Aku meminjamnya pada teman saat masih SMP.”


“Saat aku cari, menurut numerologi … sifat dan kepribadian nama ‘Yoki’ adalah bertanggung jawab, melindungi, merawat, bermasyarakat, seimbang, dan simpatik. Sedangkan nama itu melambangkan kemandirian dan kebebasan.”


Sekarang Yoki menatap Gaia. Dia sudah selesai dengan ingatannya.


“Yah, bukan kepribadian yang sebenarnya sih, karena kepribadian yang sebenarnya akan bertumbuh beriringan dengan usia. Tapi tetap saja, itu adalah harapan yang orang tuaku berikan.”


Gaia merespon dengan mengangguk, tangannya memegang dagu untuk berpikir. Yoki memperhatikan keseriusan Gaia saat mendengar penjelasannya.


“Tapi kalau dipikir-pikir, arti nama ‘Yoki’ itu benar-benar terjadi dalam diriku. Tidak semuanya sih, apalagi yang bermasyarakat.”


Saat Yoki masih asik memikirkannya, tiba-tiba sebuah pelukan datang. Pelakunya adalah Gaia, bukan main malunya Yoki. Udah dipeluk terang-terangan, yang memeluk juga adalah teman dekat.


“Heh! Heh! Ga-Gaia, jangan bercanda … Gaia, lepasin … lepasin.”


Yoki tidak sanggup menghadapi ini, dia belum siap untuk memeluk wanita. Apalagi dia sudah trauma dengan wanita yang tidak sengaja ia pegang dadanya. Lihat saja muka semerah tomat itu, membuat orang berpikir kalau Yoki payah dalam menghadapi lawan jenis.


“Terima kasih … terima kasih …. terima kasih ….”


“Ya-ya sudah … lepasin … lepasin .…”


Ternyata berlangsung lama, Yoki hanya bisa pasrah sambil meminta Gaia melepaskan pelukannya.


“Uhukk … uhukk, ada yang lagi pacaran nih.”


Ada aja yang menjadi komentator. Di mana ada hubungan lawan jenis, di situ pasti ada pihak ketiga yang mengganggu. Yang tersembunyi saja kadang selalu ketahuan, apalagi yang secara terbuka. Memang gatal mulut-mulut itu, apalagi yang mengomentari mereka adalah cewe.


“Tidak, bukan begitu. Bukan.”


Bahan perbincangan yang sudah ada, tidak mungkin akan disia-siakan. Gadis itu hanya tersenyum, mungkin bahan itu akan menjadi isu yang menarik.


“Ahh, masa?”


“Iya, benar. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan ….”


“Hey Yoki, tidak kusangka ternyata kamu juga punya pasangan.”


Tambah lagi, kali ini datang dari pihak laki-laki. Baru saja datang, laki-laki berambut pirang itu sudah asal menyimpulkan.


“Bukan seperti itu!”


“Tomo, ada sesuatu yang janggal di sini.”


Gadis tadi mendekati Tomo. Dia hendak memanas-manasi suasana. Berlagak sedang berbisik, padahal suara yang dikeluarkan terdengar keras.


“Apa itu?”


“Bukannya mereka selalu bertiga. Kan ada kemungkinan kalau Kenichi juga suka sama Gaia.”


Yoki hanya menjadi batu saja, percuma dia terlibat. Gadis yang memeluknya saja tidak mendengar pembicaraan Yoki dengan kedua murid itu, dia terlihat mendalami pelukannya bersama Yoki. Lebih tepatnya, bersyukur atas jawaban yang tidak sengaja dikeluarkan Yoki.


“Begitu …,” sedangkan yang satu lagi berpura-pura sedang berpikir, dengan tangan yang memegangi dagu, “Ahh aku tahu, pasti cinta segitiga.”


“Bu-kan … begitu.”

__ADS_1


Nada Yoki lemas, hampir-hampir tidak terdengar. Dia sudah pasrah, sekarang terserah kreatifitas mereka berdua untuk membuat isu yang panas.


Tentu akan menghasilkan isu yang menarik di sela-sela hukuman. Mungkin tidak bagi Yoki, tapi iya bagi kedua murid itu.


__ADS_2