RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~PERTANDINGAN DUA TEMAN~


__ADS_3

Di hari sama, mereka bertiga menjalani pelajaran olahraga. Materi kali ini adalah bulu tangkis dan seluruh murid di kelas sudah siap di lapangan.


Jika berbicara tentang bulu tangkis, itu adalah olahraga yang disukai Gaia. Bisa dibilang, dia adalah pemain yang sangat ahli. Ini sudah terbukti catatan main yang tidak pernah kalah, baik melawan pria maupun wanita.


Semua murid masih teracak di lapangan, ada yang duduk, ada yang berlatih, dan ada juga yang mengobrol. Untuk Yoki, dia saat ini sedang bersama Haori dan memperhatikan Gaia yang sedang melakukan pemanasan.


Oh yah, yang satu lagi adalah Kenichi, tapi batang hidungnya tidak nampak di lapangan. Entah pergi kemana dia.


“Wah, Gaia sepertinya sangat bersemangat banget main olahraga ini.”


“Hehe, kau tahu Haori … Gaia adalah ahlinya di bulu tangkis.”


Tiba-tiba Yoki datang menghampiri Haori dan berdiri sejajar dengannya. Dia langsung menaruh kedua tangan di kedua sisi pinggang saat membalas ucapan Haori, seperti penjelasan itu adalah sebuah kebanggaan tersendiri.


“Wah, hebat banget. Aku aja gak bisa main bulu tangkis.”


“Iyakah?”


“Iya betul, aku tidak mendapatkan pelajaran tentang bulu tangkis di sekolah lamaku.”


“Wah, berarti kamu tidak tahu aturan dan teknik dasarnya yah?”


Sebagai sebuah jawaban, Haori menganggukkan kepala. Yoki sudah mengerti, tapi tiba-tiba dia beralih fokus ke arah Gaia yang sedang mendekati mereka. Sepertinya, pemanasan dan persiapan Gaia tadi sudah selesai.


“Wah, wah, apa nona sudah siap bertanding hari ini?”


“Apaan sih, aku cuma mau tampil terbaik saja di olahraga yang paling aku suka.”


“Hehe.”


Dari nada cengengesan Yoki saja sudah terlihat kalau dia tadi hanya bercanda.


“Oh yah, dimana Kenichi?”


Yoki memaling-malingkan kepala ke berbagai arah, dia hendak melacak keberadaan siswa yang ditanyakan Gaia. Tapi, hasilnya tetap sama saja. Nihil.


“Entahlah.”


Tak berapa lama kemudian, orang yang paling dinanti datang. Siapa lagi kalau bukan guru olahraga, yang berjalan ke lapangan sambil membawa serta seorang siswa di belakang.


Ternyata itu Kenichi, berarti sedari tadi dia bersama dengan pak guru. Yah mau bagaimana lagi, Kenichi tidak ngomong dulu sama Yoki dan Gaia. Jadinya mereka berdua tidak tahu sama sekali.


“Apa semua sudah siap?”


“Siap!!!”


“Anu ….”


Jawaban serempak murid-murid sekelas diganggu oleh suara seorang murid yang menyerobot. Dia adalah Haori yang sekarang telah menjadi pusat perhatian.


“Apa aku boleh izin ke toilet?”


“Haaah, terserahlah. Tapi yang cepet yah.”


“Baik!”


Setelah Haori pergi, pak guru memberikan penjelasan tentang kegiatan yang akan mereka lakukan hari ini.

__ADS_1


Ternyata intinya adalah, murid-murid sekelas akan bertanding tunggal dengan sesama murid yang pasangannya akan ditentukan oleh pak guru.


“Yeah, aku dengan Kenichi.”


“Aku … dengan Haori.”


Saat mendengar nama pasangan Gaia, Yoki langsung memalingkan kepala dan menatapnya.


“Berarti kamu tidak bisa mendapatkan lawan terbaik hari ini.”


“Dan kamu akan aku libas kali ini hahaha ….”


Orang yang sedari tadi hilang dari pandangan, tiba-tiba datang dan menghampiri Yoki. Keberadaannya saja sudah membuat mulut Yoki dimanyunkan.


Apalagi datang dengan membawa kata-kata yang begitu mengintimidasi. Yah, lengkap sudah alasan kekesalan Yoki terhadap Kenichi.


“Kita lihat saja, Kenichi. Aku tidak akan kalah karena kemarin aku sudah latihan.”


Tapi tenang, Yoki sudah punya bekal untuk melawan intimidasi itu.


“Hoo, latihan apa yang kau jalani Yoki?”


“Hahaha ….”


Tiba-tiba Yoki tertawa terbahak-bahak, kedua tangannya ditekuk dan ditaruh di kedua sisi pinggang. Sekilas nampak, kalau Yoki juga mempunyai aura yang mengintimidasi.


“Aku berlatih badminton di gamenya.”


“Mana nyambung!”


Hancur sudah aura itu, kirain isinya akan sama dengan gayanya. Itu benar-benar perkataan yang konyol, karena itu Kenichi langsung menjitak kepala Yoki untuk menyadarkannya.


“Ya gak usah dijitak juga.”


Walau bagaimana pun, kejadian itu juga menimbulkan gelak tawa dari Gaia. Buktinya saja, sedari tadi Gaia sebenarnya menahan tawa dibalik tangannya. Hanya kecil, jadi tidak terdengar. Lagipula, perdebatan itu hanya untuk memeriahkan suasana.


“Kalian, sekarang giliran Yoki dan Kenichi yang bertanding.”


“Oke.”


Yoki dan Kenichi memasuki lapangan badminton. Sebelum mereka benar-benar terpisah oleh net, Yoki memalingkan mata menatap Kenichi ….


“Mari kita lihat, siapa yang lebih unggul.”


“Hoo, kau terlalu banyak bermimpi Yoki. Ini dunia nyata, bukan dunia game hahaha ….”


Sekarang keduanya benar-benar dipisahkan oleh net. Tapi ini adalah bagian dari pertandingan. Itu artinya, pertandingan ini sudah bisa dimulai.


“Baiklah, bermain satu ronde dengan skor maksimal 21.”


Barulah pertandingan ini benar-benar dimulai, setelah wasit menentukan siapa di antara mereka yang memulai servis terlebih dulu.


Yang mendapatkan kesempatan servis terlebih dulu adalah Kenichi. Nampaknya ada sebuah kelicikan dalam senyum yang dia berikan.


Matanya menatap tajam Yoki sebagai lawan. Walaupun pertandingan ini bukan pertandingan formal, hanya sekedar bagian dalam pembelajaran saja.


Yah, mereka berdua tetap serius dengan ucapan. Hawa obrolan boleh dibawa santai, tapi tidak dengan tujuan yang mereka tetapkan di awal. Tujuan itu adalah menentukan pemenang dari pertandingan ini. Boleh dibilang, mereka menganggapnya sebagai kompetisi.

__ADS_1


“Mulai.”


Dengan ini, Kenichi sudah resmi bisa memukul bola servis. Sebenarnya servis bukanlah ancaman, tapi itu tidak boleh disepelekan. Ada sebuah trik yang bisa dilakukan di dalamnya, misalnya saja untuk memancing lawan.


Kalau Kenichi, dia ingin mengendalikan tempo permainan. Yoki mau tidak mau harus menerima servis itu, kalau tidak yah pasti poin untuk lawan.


“Apa yang mau Kenichi lakukan sekarang?”


Yoki masih bertanya, sesaat setelah menerima servis yang boleh dibilang pendek. Sekarang bola sudah kembali ke pemukul pertama.


“Hehe, mari kita lihat Yoki.”


Kenichi memukul pelan dan bola jatuh di dekat net, teknik ini bisa dibilang sebagai netting. Apakah Yoki akan bisa menghalau bola itu? Tidak ada yang tahu, tapi Yoki akan mencoba.


Dia dengan sigap meluncur ke arah bola dan memukulnya kembali ke area lawan. Sudut yang seperti itu memang susah, karena ketika pemain berhasil mengembalikan bola maka sudut pengembalian yang diberikan terlalu enak bagi lawan.


Setidaknya, itulah rencana Kenichi. Ketika dia melihat sebuah kok sedang memasuki wilayahnya, Kenichi langsung mengambil ancang-ancang dan memukul bola kok itu dengan keras. Pukulan ini dinamakan smash.


Senyum Kenichi menyebutkan, bola yang akan jatuh ditepi area servis kanan itu adalah kesengajaannya. Tempat itu menjadi tempat yang sangat sulit bagi Yoki untuk mengembalikan bola.


Bisa dibilang kesempatannya kecil, apalagi dengan ditambahkan beberapa faktor. Seperti jarak Yoki dengan bola yang jauh, letak bola yang jatuh persis di dekat garis out, dan kecepatan smash yang kencang. Wah, mungkin akan lebih tepat untuk menyebutnya mustahil.


“Satu poin untuk Kenichi.”


Wasit sudah mengesahkan keberhasilan Kenichi. Itu adalah skor pertama yang muncul di pertandingan ini.


“Payah.”


Yoki meracau, karena bola kok yang menghasilkan poin bagi lawan. Sedangkan untuk Kenichi, dia hanya tersenyum dan seperti menyimpan sesuatu. Entah taktik apalagi yang akan diberikan, yang pasti dia serius walaupun Yoki adalah temannya.


“Dengan aku yang memulai lebih dulu, maka alur permainan bisa aku kendalikan. Apalagi Yoki bukan tipe pemain yang kayaknya berpikir panjang, dan dia juga bukan orang yang bisa membalikkan keadaan. jadi ini akan semakin mudah saja hahaha ….”


Jadi seperti itu isi gumaman Kenichi, dia sedang merancang sebuah strategi. Lebih tepatnya, melanjutkan rencananya.


“Baiklah Kenichi, untuk selanjutnya aku tidak akan kalah darimu.”


Baiklah, untuk selanjutnya, yah kenyataan sangat bertolak belakang dengan harapan Yoki. Kenichi terlalu mendominasi alur permainan, poinnya terus bertambah tanpa pernah memberikan Yoki sebuah kesempatan.


“Dan kita lihat anak-anak, sepuluh untuk Kenichi dan kosong untuk Yoki.”


Kira-kira sampai di situ, permainan agak berjeda karena Yoki yang kehabisan tenaga. Sedari tadi dia terus dipermainkan Kenichi, dia harus berlari depan, belakang, kanan, kiri hingga pada akhirnya semua itu hanya untuk menambah poin Kenichi.


“Haha Yoki, masih bisa berkata seperti itu lagi.”


Yoki masih diam menatap Kenichi, dia sangat lelah dengan semua ini. Sekarang saja, tubuhnya tengah tertunduk lesu dan kakinya terkulai lemas.


Dia meringkuk di areanya, sembari mengunci fokus pada Kenichi yang sedang tersenyum.


“Haaah … aku seperti boneka yang dikendalikannya. Kayaknya dari tadi, aku hanya bergerak sesuai kemauan Kenichi. Payah, apa yang harus aku lakukan? Kalau begini terus, aku tidak akan bisa membalikkan keadaan.”


Sebuah racauan dalam gumaman, Yoki hampir mendekati kata menyerah sampai dia menemukan secercah harapan.


“Kalau diibaratkan, aku seperti anjing yang bermain tulang dengan majikanku. Majikanku pasti melempar tulang sesuai dengan keinginannya dan aku pasti akan menurut. Uhm, bagaimana yah kalau aku malah membelot saat mengambil tulang untuk majikanku? Maksudku, dengan ditambahkan sedikit serangan saat mengembalikannya mungkin.”


Entah datang darimana pemikiran itu. Tapi tidak usah diragukan, itu adalah kiasan yang brilian. Anjing dan majikan, wah ada sebuah kesimpulan yang bisa ditarik dari situ.


“Hee, tunggu dulu ….”

__ADS_1


Ya kan, sekarang Yoki sudah mengerti dengan apa yang harus dilakukan. Gumaman Yoki sudah selesai, karena dia sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan.


__ADS_2