RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~BERLIBUR~


__ADS_3

Liburan yang mereka dambakan akan datang satu bulan lagi. Itu pasti terasa lama, apalagi di akhir-akhir penantian mereka, mereka harus dihadapkan dengan ujian akhir semester.


Ujian akhir semester adalah saat dimana seluruh badan fokus, tertuju hanya pada secarik kertas di hadapannya. Begitu juga dengan Yoki, baginya ujian itu adalah neraka. Bahkan, pendapat ini juga sepemikiran dengan beberapa murid di kelasnya. Dalam julukan yang berbeda-beda.


Main game yang termasuk ke dalam daftar kegiatannya pun dihapuskan. Sepulang sekolah, seluruh tubuh Yoki hanya tertempel di kursinya. Menatap buku yang akan menjadi pemandangannya selama beberapa hari.


Dia tidak mau menyia-nyiakan waktunya, hanya untuk beristirahat dan bermain. Walaupun Yoki bukan anak yang pintar, setidaknya ia mau berusaha untuk menentukan masa depan.


“Baiklah, anak-anak ujiannya sudah selesai.”


Seluruh murid di setiap kelas dapat bernafas lega, mereka langsung bersandar di sandaran kursi mereka. Kata-kata itu menjadi penyelamat mereka dari jurang perjuangan selama beberapa hari.


Karena ini akhir semester, maka yang menanti adalah liburan. Yah, liburan beberapa minggu mungkin sudah membuat seluruh murid tergiur. Rencana demi rencana telah dirancang untuk menikmati liburannya.


Begitu pun dengan kelas Yoki. Murid-murid di kelas itu mendapatkan hadiah dari seorang anak orang kaya untuk berlibur di sebuah pulau. Tentu itu semua tak luput dari kemenangan Kenichi. Walaupun terkesan tak adil, karena semua mendapatkan fasilitas yang sama. Yah, Kenichi tidak mau ribet dengan urusan itu sih.


Dua minggu berlangsung cepat, dan hari ini adalah hari yang dinantikan oleh seluruh murid di kelas Yoki.


“Haaah, akhirnya.”


Yoki bergumam saat sampai di sekolahnya. Ia datang lebih awal dengan tas sekolah yang digendong. Tas itu nampak penuh sekali dengan berbagai barang, sehingga mengembang. Ia tidak membeli koper atau tas yang lebih besar, karena biayanya yang mahal.


“Yo, Yoki.”


Kenichi menyapa dari belakang, Ia datang setelah Yoki.


“Hee … kau terlihat sangat bersemangat sekali.”


“Hahaha, liburan dengan kalian tentu saja membuatku senang.”


Mereka berdua saling mengobrol hingga semua murid sudah datang ke sekolah. Bus mereka sudah diparkir di dekat sekolah, guru pendamping mereka juga sudah datang.


Setelah melakukan berbagai persiapan, barulah mereka pergi dengan bus yang disediakan. Hanya satu jumlah busnya, karena sudah bisa menampung jumlah murid sekelas.


Selama perjalanan, semua berjalan lancar. Malahan, mereka semua terlelap dalam tidurnya. Namun, kegaduhan tiba-tiba terdengar dari supir bus.


Mata Yoki yang terbangun, menatap samar kejadian ini. Supir bus sedang ribut dengan guru laki-laki yang duduk di sebelah kanannya. Sedangkan bu Mariko yang duduk di sebelah kanan guru itu, hanya diam menjadi penonton saja. Lama-kelamaan, kegaduhan itu memencar di seluruh penumpang. Semuanya bangun dan bertanya-tanya.


“Apa yang terjadi?”


Salah satu siswa maju ke depan. Supir itu memalingkan kepala ke belakang seraya menjawab, “Tidak ada apa-apa kok.”


“Eee, baiklah .…”


“Tunggu dulu.”


Suara lain terdengar, berasal dari kursi di belakang Yoki.


“Jika tidak ada apa-apa, kenapa kalian membuat keributan yang mengganggu?”


Siswa itu berdiri, dia adalah Kenichi. Kenichi berjalan melewati para penumpang dan siswa yang bertanya tadi. Sedangkan siswa itu duduk kembali, tidak mau terlibat urusan ini lebih jauh.


“Eee, gi-gini. Kami ….”


“Kami sedang mencari tempat untuk kalian buang air.”


Pak guru yang tadi ribut dengan pak supir menyerobot perkataan pak supir. Tapi tetap saja jawaban ini tidak memuaskan Kenichi. Jawaban yang tidak masuk akal menurutnya. Yah, bisa terlihat dari perbedaan kelancaran menjawab pak supir dan pak guru.


“Hmmm, kan gak ada yang minta buang air. Lagipula kami semua sedang tidur,” Kenichi mendekatkan lagi kepalanya dengan kepala gurunya, membuat kepala pak guru sedikit mundur, “Jawab dengan jujur, karena semua ini kalian dapatkan dari kemenanganku.”


Tatapan Kenichi tajam, membuat pak guru ketakutan. Saat wajah Kenichi menjauh, pak guru menghela nafas, untuk memperlancar jawabannya. Kepalanya juga maju kembali, pertanda siap untuk menjawab.


“Remnya blong.”

__ADS_1


Jawaban itu terdengar sampai ke barisan yang paling belakang. Walaupun nadanya tidak keras, tapi isi dari ucapannya langsung menarik perhatian murid-murid yang rata-rata masih setengah tidur, itu bukan sekedar satu kata biasa. Semua murid memasang ekspresi terkejut, yang setengah tidur langsung bangun dan kegaduhan menjadi kelanjutannya.


“CIKH, kenapa ini bisa terjadi?”


“Kami tidak tahu, kami sudah mengeceknya kemarin sore. Bahkan sampai di sini pun baik-baik saja. Kalau kamu mau tahu, kami menuruni bukit untuk sampai ke sekolah kalian. Setelah sampai, barulah kami tinggalkan bus ini di dekat sekolah.”


Tidak ada waktu berpikir bagi Kenichi. Sekarang mereka sedang melewati turunan, dan itu bisa berbahaya sekali jika mereka tidak menggunakan rem.


“Kalau begitu turunkan kecepatannya secara bertahap.”


“Eee … Kenichi, tunggu dulu.”


Pak guru yang ada di samping pak supir menghentikan arahan Kenichi. Saat Kenichi berpaling ke arahnya, pak guru langsung tertunduk sejenak dan memiringkan kepalanya ke samping kiri.


Dengan kedua telunjuk yang disentuh-sentuhkan, ia mulai berbicara.


“Ja-jadi, kalau kita memperlambat kecepatannya … kita akan terlambat naik kapal.”


Kenichi mengedut-ngedutkan mata kirinya, kesal pada perkataan dari guru berkacamata itu. Begitu pun dengan bu Mariko yang duduk di samping kanannya. Bu Mariko tidak tahu, karena yang tahu urutan acaranya adalah pak guru tersebut.


Apa yang dikatakan pak guru tidak salah, di samping kanan mereka sudah terlihat dermaga yang akan menjadi penghubung mereka dengan pulau yang menjadi tujuan mereka. Sedangkan kapal mereka, sebentar lagi akan berangkat ke pulau itu. Namun, yang membuat Kenichi kesal bukan itu.


“Jadi, kau sebagai guru pendamping lah yang ….”


Satu tangan Kenichi digenggam dan dilontarkan ke atas, seperti menguppercut udara. Wajahnya juga merah padam karena kekesalannya.


“Datang terlambat!”


Saat mendengar bentakan Kenichi, pak guru menambah gerakan berupa siulan. Gengsi mungkin alasannya, apalagi jabatannya sebagai seorang guru. Mau bagaimana lagi, dimarahi muridnya merupakan hal yang memalukan bagi setiap guru.


“Hadeeeh ... pak supir, aku yang akan pegang kendali.”


Pak supir sedikit terkejut. Awalnya dia tidak percaya, namun karena desakan Kenichi dan kondisi yang semakin memburuk, akhirnya Kenichi diperbolehkan untuk mengambil alih kemudi bus.


Tidak ada tolakan, baik dari pak guru maupun bu Mariko. Pak guru masih diam karena bentakan muridnya, sedangkan bu Mariko percaya sepenuhnya pada Kenichi.


Karena ini keadaan mendesak, semuanya menurut. Tas, orang, dan beban yang lainnya di taruh di sebelah kanan bus. Tidak peduli mau pria atau wanita, semuanya saling berdempetan. Bahkan, beberapa orang sampai kesal karena itu.


“Woi, woi, kenapa harus cewe yang mendempetku?”


“Sudah diam aja, ini kondisi darurat. Eee ….”


Siswi yang mendempet Yoki terkesiap, ia melihat ke bawah dan tak sengaja menemukan telapak tangan yang menempel di dadanya.


“Kyaaaa … mesum!”


“Bukan … bukan … aku hanya ingin memberi jarak,” wajah Yoki memaling ke jendela bus seraya bergumam, “CIKH, kenapa tanganku jadi jahil sih?”


Yah, kurang lebih begitu keributannya. Tidak ada waktu untuk memilih pasangan, karena alasan perintah dari Kenichi akan direalisasikan sekarang.


“Baiklah, semua sudah siap.”


Kenichi banting setir ke arah kanan, kecepatan bus memang belum menurun secara drastis, tapi masih bisa di kendalikan Kenichi. Bus juga sedikit oleng ke kiri, tapi karena semua beban bertumpu di kanan akhirnya bus itu kembali pada posisinya semula.


Semua selamat, selanjutnya Kenichi ingin mengejar keterlambatan mereka. Bus itu digasnya, padahal remnya sudah blong. Itu tentu memicu pertentangan di pihak pak guru dan pak supir, mereka memarahi dan menasehati Kenichi. Tapi, sama sekali tidak berpengaruh padanya.


“Yosh.”


Kecepatan bus dinaikkan, membuat para guru dan supir tegang. Para murid tidak melihat itu, karena semua sedang berdempetan. Yah, mereka masih menurut padahal perintah itu sudah tidak diperlukan lagi.


Saat semuanya merasakan dentuman yang kuat dari bawah mobil, mereka memberanikan diri untuk menatap ke luar jendela bus.


“Heee, ki-kita ada di ….”

__ADS_1


“Semuanya, kita sudah sampai.”


Mereka semua tidak menunjukkan ekspresi bahagia, lebih ke arah heran. Itu semua tidak aneh, karena mereka sudah ada di atas kapal pengangkut kendaraan dengan kondisi selamat.


Suasana ini juga sampai keluar bus, semua orang yang ikut kapal juga ternganga. Melihat bus yang terbang untuk sampai ke kapal ini.


“Ki-kita sudah ada di atas kapal?”


Kenichi menghela nafas pada pertanyaan yang dilayangkan oleh salah satu siswa.


“Ya-ya sudah, semuanya turun dari kapal dan untuk Kenichi ….”


Pak guru, bu Mariko, dan pak supir membungkuk, menunjukkan rasa terima kasih mereka pada Kenichi.


“Tidak perlu seperti itu, untuk lain kali sebaiknya Anda tidak terlambat yah.”


“E-hehe ….”


Lagi-lagi gengsi menyerangnya, ia menggaruk-garuk kepala seperti tidak merasa bersalah pada kejadian ini. Ditambah juga dengan rasa malu tentunya.


Satu persatu turun dan ketika sampai di bawah pun mereka sedikit tersentak saat melihat mulut menganga para penumpang kapal yang lainnya.


“Kenapa dengan mereka?”


Salah satu siswa bertanya, sembari melihat ke arah mata semua orang yang memandang.


“Apa ?!”


Dia sangat kaget saat melihat kondisi bawah bus yang lumayan hancur. Benar-benar tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Di saat yang sama pula, Kenichi turun dan melihat ekspresi siswa itu.


“Kenichi, kenapa bisa begini?”


Sontak, nada yang keras itu mempengaruhi para murid. Mereka semua juga melihat ke arah siswa itu memandang. Ekspresi yang ditunjukkan kurang lebih sama, beberapa bahkan ada yang sampai menangis.


“Kita tadi memakai itu untuk sampai ke sini.”


Tangan Kenichi menunjuk ke tebing yang ada di belakang kapal, mata mereka semua sontak mengikut dan melihat tebing tersebut, terkesan rendah untuk sebuah tebing.


“Untung tidak terlalu tinggi, jadi kita bisa sampai deh.”


“Bukannya ini berarti ilegal, kita kan tidak pakai pintu masuk dermaga.”


“Tidak, nanti aku akan jelaskan kepada para pekerja yang ada di sini.”


Satu suara lagi ikut dalam pembicaraan. Pak supir yang keluar paling akhir, menjawab keraguan siswa tersebut.


*****


Walau masih banyak keanehan, semua akhirnya bisa merasa lega. Melihat pemandangan laut yang indah, membuat masalah tadi menyingkir dari pikirannya.


Ada yang berfoto, ada yang membeli jajanan di kapal, dan ada juga yang melanjutkan tidurnya, yang tidur mungkin bergadang semalam.


Kapal itu menemukan tujuan akhir. Para penumpang turun dari kapal, tapi agak sedikit kesusahan. Pasalnya, kapal dari kelas Yoki menghalangi pintu keluar.


“Apa kita harus berjalan kaki?”


“Betul sekali.”


Pak guru menjawab dengan bangga, merasa tak bersalah. Bahkan, dia sudah mengambil lebih dari sepuluh foto di atas kapal tadi. Benar-benar narsis, pikir murid-muridnya.


“Betul, betul, apa bapak tidak merasa bersalah?”

__ADS_1


Lagi-lagi, pak guru itu hanya bersiul dan memalingkan kepala ke arah lain. Masih geram, semuanya turun dari kapal.


Untuk bus, sementara ditinggalkan. Mereka tidak mungkin akan menggendong bus yang rodanya sudah hancur. Jadi, urusan bus akan diambil alih oleh sang supir.


__ADS_2