
Festival sekolah diadakan pada hari jumat. Jadi untuk sabtu dan minggunya, bisa dibilang semua pihak sedang diuntungkan. Pihak sekolah mempunyai waktu untuk membereskan kekacauan karena festival tersebut.
Sedangkan untuk semua anak didiknya, mereka semua bisa beristirahat dari kesibukkan yang mereka dapat saat festival. Belum lagi bagi pihak yang kalah, mereka mungkin butuh istirahat ekstra untuk mengembalikan moodnya.
Malam hari di rumah Yoki, hari ini adalah hari minggu yang artinya merupakan hari akhir yang akan menyongsong awal kegiatan sekolahnya besok.
Untuk menghabiskan hari terakhir dari minggu ini, Yoki berada di atas karpet sambil menonton televisi. Kakinya di selonjorkan dengan badan yang tertidur ke samping. Mata dan arah tidurnya berhadapan dengan televisi di depannya. Sekilas, tersirat rasa kantuk yang mulai menguasai dirinya.
Sebuah televisi ukuran 24 inchi yang ditaruh di atas sebuah lemari kecil. Bagi Yoki, bisa menonton acara-acara yang tersedia di dalamnya, itu sudah luar biasa.
Satu tangan Yoki membentuk sudut siku-siku untuk menopang kepalanya. Satu tangan lagi terlihat memain-mainkan remote televisi, menggonta-ganti channel agar menemukan channel menarik sebelum dia beranjak tidur.
Pencetan jarinya berakhir di sebuah channel berita. Sekilas Yoki menatap judul berita di bawahnya, lalu memfokus pandangan ke presenter berita yang sedang berbicara.
Berita yang dibicarakan adalah berita yang memilukan. Kejadian itu terjadi di hutan sekitar Kota Beppu. Ditemukan sembilan bangkai rusa yang tergeletak di sekitar hutan. Jarak satu bangkai dengan yang lain cukup dekat, berkisar antara 2,5 meter sampai 4 meter. Bisa disimpulkan, mereka rusa yang berkelompok.
Kondisi bangkai-bangkai ini benar-benar aneh, sepertinya bukan efek racun karena asap berwarna hitam muncul dari balik bangkainya. Wajah para korban kematian yang aneh masih terlihat biasa dengan kepulan asap hitam yang keluar dari dalamnya.
Sekilas bulu kuduk Yoki bergidik, hanya sebentar. Karena dia tidak mau ditemani tidur dengan ketakutannya.
“Ini kejadian yang kedua, yah,” Yoki menaruh satu tangannya di dagu dengan remote yang ditaruhnya di karpet, “Dan lagi-lagi terjadi di pulau Kyushu. Yang pertama ada di Kota Tachibana dan sekarang terjadi di Beppu.”
Posisi Yoki berubah, ia telah berdiri dengan tangan yang mematikan televisi menggunakan remote. Sesaat dia menaruh remote televisi, lalu beranjak pergi ke kamar tidur. Meninggalkan ruangan yang setengah berantakan.
Keesokan harinya, di dalam kelas .…
Suasana di dalam kelas semula berjalan lancar, guru menerangkan materi dan para murid mendengarkan dengan tanggapan yang berbeda-beda. Ada yang memperhatikan dengan serius, ada yang membaca buku, dan juga ada yang sengaja tidur, karena bosan dengan materi yang diterangkan.
Hingga tiba-tiba, sebuah kilat muncul dan petir menyambar persis di halaman depan sekolah. Kejadian itu memang berlangsung cepat, namun getarannya terasa sampai ke seluruh gedung yang ada di sekolah Yoki.
Reaksi yang ditunjukkan adalah kaget. Bagaimana tidak, di cuaca yang secerah itu dengan suasana yang masih dingin karena masih pagi, sebuah kilat menyambar cepat dan meninggalkan jejak berupa kepulan kabut di sekitarnya.
“Aku … seperti kenal aura ini.”
Ungkapan itu berasal seorang siswi yang duduk di depan bangku meja Yoki, tidak lain dia adalah Gaia. Wajahnya ditundukkan, berbeda dengan murid lain yang langsung panik dan bertanya-tanya dengan keras, topiknya tidak lain adalah sambaran kilat dan petir yang terdengar sangat keras tadi. Mata Gaia sedikit dipalingkan ke luar jendela yang menghadap gedung sekolah yang lainnya.
Hati Gaia terus berdecak ketakutan, reaksi ini bukan datang dari keinginannya sendiri. Namun seperti otomatis keluar begitu saja.
“Pertanda lagi … kah?”
******
Sedangkan di dalam pintu masuk gedung sekolah, dua orang siswa sedang bersiap untuk pergi ke kelasnya. Mereka berdua mendengar suara guntur petir, namun mereka lebih takut pada amarah guru yang menggelegar. Saat mereka hendak menaikkan satu kakinya di lantai yang lebih tinggi setingkat.
“AKHH ….”
Sebuah suara erangan kesakitan. Pertama nadanya keras, lalu melemah dan berhenti. Bersamaan dengan itu, pintu masuk yang terbuat dari kaca terpental ke dalam. Pintu itu ditabrak oleh sesuatu, tekanan dari objek yang menabrak itu begitu kuat hingga kedua siswa tadi terpental dan menempel dengan sempurna di dinding.
Kepulan asap menutupi objek. Namun saat debu-debu mulai menyingkir, objek itu menampakkan wujudnya. Seekor rusa bertanduk besar, sekilas jenisnya tidak terlalu asing namun ciri yang lain membuatnya tampak asing. Tubuh coklatnya seperti diselimuti oleh aura hitam yang pekat, matanya merah dengan semburan asap hitam yang keluar dari mulutnya.
Sesaat dia menoleh-noleh ke segala arah, seperti sedang mencari sesuatu. Hidung mengendus sampai dia menemukan target yang dicari.
“Ada sesuatu yang terjadi di pintu depan.”
Seorang siswa mendengar keganjilan yang terjadi. hantaman itu bisa didengar, setidaknya oleh enam sampai tujuh kelas yang berada di dekat pintu masuk sekolah.
“Pertama petir, kedua suara yang begitu keras. Sebenarnya, apa yang terjadi?”
Pertanyaan dilayangkan oleh seorang siswi yang meringkuk di mejanya, wajahnya begitu ketakutan pada kejadian-kejadian aneh yang terjadi pada hari ini.
__ADS_1
Sebenarnya, ketakutan ini juga telah menyebar ke seluruh ruangan, hingga beberapa kelas menghentikan pelajaran sejenak. Menunggu pemberitahuan dari pihak sekolah, melalui speaker yang terpasang di kelas.
“Aku akan memeriksanya.”
Seorang siswa memberanikan diri untuk pergi ke pintu kelas yang bertipe geser. Baru sebentar dia menggeser pintu tersebut, seseorang memegangi pundaknya.
“Shiba, apa kamu yakin?”
“Ahh … kalian terlalu takut, mungkin itu hanyalah sebuah kecelakaan kecil saja.”
“Hmmm … mungkin kamu benar.”
Temannya membenarkan argumen Shiba. Sebuah alasan yang cukup masuk akal, karena area depan pintu sekolah juga sedang direnovasi.
Temannya melepaskan tangannya dari pundak Shiba. Lalu berjalan mundur untuk melihat temannya. Saat Shiba sudah membuka setengah pintu kelas, dia menoleh keluar. Namun ….
“Ahhhhhhhh ….”
Teriakkan dilontarkan oleh semua murid di kelas itu, tidak terkecuali dengan pak guru mereka. Kepala Shiba menghitam dan mengeluarkan asap hitam, saat sebuah objek berkecepatan tinggi melewatinya. Dia sudah mati, mati dalam keadaan berdiri dengan pikiran yang tidak tahu apa yang sudah menimpa hidupnya.
Sedangkan, pak guru mengambil langkah sigap untuk menelpon pihak sekolah agar jangan ada satu pun murid yang beranjak keluar kelas. sehelai rambut pun. Juga, dia mengatakan agar seluruh ruangan yang ada pintunya segera ditutup. Tentu ruangan yang ada orang di dalamnya.
Mendengar laporan itu, pihak sekolah segera memberitahukannya melalui speaker yang terpasang di seluruh kelas, kantin, dan tempat-tempat vital yang ada di dalam sekolah.
“Eh tunggu dulu. Kenapa aku tiba-tiba berusaha untuk berdiri. Ada apa ini?”
Gaia bergumam lagi, namun pikirannya berjalan cepat saat dia mendengar pengumuman itu.
“Ahhh iya, jika aku diam saja maka semua orang yang ada di kelas ini akan mati. Mahkluk itu hanya mengincarku, aku tidak boleh mengorbankan nyawa orang-orang yang tak bersalah ini.”
Sungguh, itu semua bukan karena kehendaknya sendiri. Tapi entah kenapa, dia setuju untuk mengikuti instingnya. Atau bisa jadi, itu bukanlah Gaia yang seperti biasanya.
Mereka semua hanya bisa menerka siapa lawannya. Bisa jadi *******, penjahat, bom bunuh diri, penyanderaan sekolah, dan lain-lain.
“Ada apa Gaia?”
“Aku ingin keluar kelas bu. Ma-mau pergi ke toilet.”
“Tolong tahan yah nak. Sekarang bukan waktu yang tepat, ada sesuatu yang berbahaya di sekolah ini. Ibu mohon tolong tunggu yah.”
Permintaan bu guru tidak digubris Gaia. Karena, cepat atau lambat kelas ini akan diporak-porandakan oleh monster yang mengincar Gaia.
Pikir Gaia ini tidak bisa dibiarkan. Lebih baik dia mati tanpa mengorbankan orang lain, daripada mati dengan membawa perasaan bersalah karena kegagalannya untuk melindungi semua orang.
Tanpa berlama-lama lagi, dengan segala persiapan yang bahkan belum matang. Langkah kaki Gaia spontan berlari ke arah pintu kelas, Yoki dan Kencihi juga mengikutinya. Bu guru yang melihat itu ingin menghentikan perbuatan Gaia, namun tidak bisa.
Apalagi seluruh kelas sedang bisu sekarang, ketakutan terpancar dari mata murid-murid yang ada di dalam kelas. Hingga mereka seperti menempel erat di kursinya masing-masing.
“Gaia, apa yang kau lakukan?”
“Kenapa kalian juga ikut?”
Pertanyaan Yoki dibalas lagi dengan sebuah pertanyaan. Sekarang mereka sudah berada di luar kelas dan bahaya yang mengincar sudah semakin dekat.
“Jika kamu berada dalam bahaya, begitu juga denganku dan Kenichi. Tapi, yang aku mau tahu kenapa kamu keluar kelas? Kan kamu sudah mendengar pengumuman sekolah.”
“Mo-monster itu mengincarku.”
Jawaban singkat namun penuh kerancuan. Yoki sebenarnya ingin bertanya lebih jelas lagi, namun bahaya itu sudah bersiap untuk menyambut mereka. Tepat di kelokan lorong lantai satu, muncul seekor mahkluk beraura hitam pekat telah bersiap dengan kedua tanduk yang diarahkan segaris dengan mereka bertiga.
__ADS_1
“CIKH … dia sudah ada di sini.”
Perlahan mereka bertiga bergerak mundur, agar mahkluk itu tidak mengeluarkan gerakan yang tiba-tiba. Boleh dibilang ini juga tidak berguna, karena itu hasil dari reflek pribadi masing-masing.
“HUFFFF ….”
Rusa itu menghembuskan nafas kuat, asap hitam kembali muncul bersamaan dengan hembusan nafas yang keluar. Rusa itu mengambil ancang-ancang dengan satu kaki yang diketuk-ketukkan ke lantai. Sesaat setelahnya, tanduknya dihunuskan dan mulailah rusa itu berlari mengejar mereka, lebih tepatnya Gaia.
“Kecepatannya luar biasa.”
Kenichi berucap dengan badan yang dibalikkan. Begitu pun dengan kedua temannya, namun kecepatan mereka bertiga masih kalah dengan kecepatan rusa tersebut.
Itu bisa dilihat dari rusa yang semakin lama, semakin mendekati mereka. Saat mereka bertiga sudah berada dalam jangkauan tandukkan rusa, tiba-tiba terdengar suara darah yang berterbangan, muncrat ke segala arah. Darah-darah itu menempel sebagai bercak di dinding lorong di depan kelas.
Apakah mereka mati? Tidak, mereka bertiga masih selamat. Namun ….
“Bu Mariko ….”
Ucapan spontan keluar dari mulut Kenichi. Rasa takut dan sedih seketika mulai tercampur aduk. Guru wali kelas mereka dengan rela mengorbankan nyawanya.
“Maaf yah Kenichi, waktu itu ibu memilih untuk mengganti rugi kesalahan Terasaka. Bagaimana pun juga ibu merasa bersalah, dan sebagai tanda maaf ibu … ibu ingin memberikan hadiah perpisahan yang terakhir.”
“Aku tidak pernah memin ….”
Sebenarnya Kenichi sudah sadar akan hal itu. Dia tidak pernah lagi kesal setelah mengetahui faktanya. Tapi yang membuatnya sangat sedih adalah kepercayaan yang Terasaka berikan kepadanya.
“Biarkan kamu mengetahuinya seiring waktu, sekarang cepat pergi atau pengorbanan ibu akan sia-sia. Dan juga, tolong lebih semangat lagi yah Yoki. Ibu yakin kamu pasti bisa meraih cita-citamu suatu saat nanti. Begitu dengan Gaia dan Kenichi. Nah, karena sudah selesai ... pelajaran kita tutup untuk hari ini.”
Ucapan itu begitu menyedihkan, karena berbarengan dengan bel tanda pergantian mata pelajaran. Apalagi dia berucap, sambil memberikan senyuman indah, mungkin itu adalah senyuman terakhirnya.
“Setidaknya, ibu ingin berhasil sebagai seorang guru.”
Kenichi masih membatu, seketika dia teringat akan masa lalunya. Dia tidak dapat melindungi orang-orang di sekitarnya … lagi.
Setidaknya itulah pikiran yang menghantuinya, hingga membuat tubuhnya membatu.
Hal yang sama juga dirasakan Yoki dan Gaia yang berhenti bergerak, karena hal yang tidak terduga itu. Air mata bercucuran, tapi itu tidak berguna untuk saat ini.
Yoki dan Gaia sadar akan hal itu. Walaupun mereka menangisi kematian gurunya, tapi akan lebih menyakitkan kalau mereka tidak memenuhi permintaan terakhirnya.
Akhirnya mereka berdua memaksa untuk menarik tangan Kenichi, agar kesadarannya kembali pulih.
Dengan memanggil-manggil namanya dengan keras, Kenichi segera pulih dari lamunannya. Dia berbalik ke belakang, melihat kedua temannya yang menarik-narik tangannya.
“Maaf, ayo kita lanjut ….”
Akhirnya Kenichi sudah memliki niat untuk melanjutkan langkahnya. Yoki dan Gaia pun lega dengan melepas pegangan mereka.
Sesaat Kenichi menoleh ke belakang, melihat rusa yang mengayun-ayunkan tubuh bu Mariko ke segala arah dengan tanduknya. Sebenarnya tanduk rusa itu lumayan tidak tajam, namun yang membuat bu Mariko terluka adalah aura gelap yang menyelimuti tubuh si rusa.
Bu Mariko sudah tidak bernyawa, namun rusa itu terus menyiksa tubuhnya. Berusaha melepaskan tubuh bu Mariko yang menempel di tanduknya. Hingga, terdengar suara daging terkoyak dan tulang-tulang yang remuk dari mayat bu Mariko.
Menempel sempurna di dinding untuk menggambarkan kebengisan dari rusa tersebut.
Sementara itu Yoki, Gaia, dan Kenichi sudah keluar melalui pintu belakang sekolah. Mereka terus berlari tanpa henti hingga mencapai gerbang sekolah. Dari situ, tanpa berehat sejenak, mereka langsung pergi menuju ke suatu tempat.
Mau menelpon polisi pun percuma. Karena jika mereka hanya menunggu polisi datang, tentu mereka sudah menjadi mayat dari rusa tersebut.
Untuk mahkluk itu, tentu saja ia tidak akan melepas target buruannya dengan mudah. Mahkluk itu kembali berlari sambil melacak keberadaan buruannya dengan indra penciuman.
__ADS_1