
“Kami tertabrak apa yah? Kok di tubuhku gak ada luka. Udah gitu seragamku juga nampak baik-baik saja.”
“So-soal itu.”
Mata Gaia langsung kebingungan, keduanya terus bolak-balik dari kiri ke kanan dan juga sebaliknya. Dia masih belum bisa menemukan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Yoki. Apa dia akan memberitahu Yoki kalau ini semua terjadi karenanya? Tidak, dia tidak mau memasukkan pilihan itu.
Masalah ini tidak boleh sampai diungkit-ungkit lagi, kalau Gaia ingin melupakan kenangan pahit yang telah terjadi. Lagipula, tidak ada yang tahu jika apa yang hilang dari ingatan Yoki dikembalikan padanya. Bisa jadi buruk, baik, atau tidak terjadi apa-apa.
“Eee … anu, kalian … kalian syok saat mau ditabrak. Jadi saat mobil itu berhenti mendadak, kalian sudah mati dalam keadaan syok di tempat.”
“Oh begitu,” kata syok mengingatkan Yoki akan sesuatu, “Kalau gak salah di anime juga ada yang meninggal karena syok. Ahh … masuk akal juga, tapi itu berarti aku mati konyol dong!”
“Ya … begitulah.”
Sebentar kepala Yoki dibuang untuk menikmati pemandangan yang tersaji di luar bus.
“Sebenarnya, apa yang kamu sembunyikan … Gaia?”
Yah, dia juga sedang merenungi perilaku Gaia. Bisa dibilang, Yoki tidak mau hal ini menjadi beban pikiran yang akan menyerang Gaia. Jadi itulah alasan kenapa dia bisa dengan mudah mempercayai alasan yang aneh itu.
“Ya sudah, terima kasih yah Gaia … kamu memang pahlawan kami berdua.”
Ucapan itu membuat Gaia langsung menghindar dari tatapan Yoki. Dia sedikit gugup, dari tundukannya, dia mengutuki segala yang dia katakan tadi.
“Sebenarnya kamulah pahlawan yang telah menyelamatkanku … sedangkan aku, sedangkan aku hanyalah penjahat yang berusaha mengkhianati semua orang. CIKH ….”
“Ga-Gaia.”
Lamunan Gaia terhenti, dengan ekspresi tersentak, dia langsung membanting tatapan kepada Yoki. Jelas, Yoki juga ikut tersentak karena tatapan Gaia. Kepalanya saja sampai terhempas ke belakang.
“Ma-maaf, aku hanya sedang mengantuk tadi.”
“Ya sudahlah, tidur saja. Nanti juga bakal ada yang bangunin kok kalau sudah sampai.”
Gaia menyetujui Yoki. Karena kantuk dan segala beban pikiran, Gaia dapat tertidur lelap hanya dalam hitungan detik. Begitu pun dengan Yoki yang tidur setelahnya.
*****
“Aakkkhhhhh!!!”
Setelah sampai di tujuan, terjadi kekagetan di dalam bus. Ada suara teriakan yang melingking dari kursi di baris terdepan. Itu adalah kursi tempat duduk Yoki dan Gaia.
Karena perilaku manusia yang terlalu penasaran, akhirnya seluruh penghuni bus yang seharusnya turun disini, teralihkan untuk melihat ke sumber teriakan.
“Sakit … sakit … Ga-Gaia … kamu, akhh … kenapa?”
Ternyata ada insiden yang menyebabkan teriakan itu. Yoki, yang duduk dikursi dekat jendela, sedang menderita karena bahunya sedang digigit oleh Gaia. Para penumpang yang melihatnya langsung menutup mulut karena ngeri.
Bagaimana tidak? Gigitan Gaia sangat lekat pada bahu Yoki, bahkan sekarang bahu Yoki sudah berdarah karena gigitan itu. Bukan tanpa langkah pencegahan, tapi semua usaha Yoki bisa dibilang sia-sia.
“Daging … daging … daging … ahh, enaknya. Harum daging ini sangat menggodaku, haaah … sepertinya aku kenal dengan bau ini.”
Mau menganggap Gaia bersalah? Yoki tidak mau mengambil keputusan itu dengan cepat. Apalagi Gaia melakukannya dengan mata tertutup, yang berarti dia menggigit Yoki secara tidak sadar.
__ADS_1
Karena itupun, Yoki tidak tega untuk memukul atau melakukan aksi yang akan berujung pada kekerasan. Apalagi saat ini mereka sedang menjadi tontonan bagi banyak orang.
“Oy … oy … oy … gadis kanibalkah? Kok dia bisa mengigit bocah itu dengan sangat lahap.”
“Woy cepat dihentikan, lihat bahu anak itu berdarah-darah.”
Ada sekitar dua orang pria paruh baya yang mengajukan diri untuk memberikan bantuan. Mau bagaimana lagi, bagian dalam bus sempit, jadi semua orang tidak bisa bahu membahu dalam mengatasi permasalahan Yoki. Mereka juga berpikir kalau dua orang saja cukup.
Tebakan yang salah, bahkan dengan tenaga dua orang itupun mereka juga tidak bisa melepas cengkeram mulut Gaia dari bahu Yoki. Malahan, Yoki makin kesakitan karena bahunya yang tertarik.
“Sudah, sudah. Kalian malah membuatnya menderita.”
“CIKH ….”
Kedua pria itu sudah menyerah, mereka melepaskan tangan Gaia yang tadi mereka tarik. Tapi ketika dilepas, salah seorang pria yang tadi malah bertindak di luar dugaan. Dia maju lagi dan mangarahkan tinju ke wajah Gaia. Bukan main-main, tinju itu dilancarkan dengan cepat dan bertenaga.
“Dasar monster!”
“Heee … jangan!”
Sudah terlambat, pukulan itu sudah mendarat di wajah Gaia. Awalnya sih tidak terjadi apa-apa, tapi mereka melihat adanya reaksi dari mulut Gaia.
Mulut Gaia menjadi tidak nyaman untuk mengigit bahu Yoki. Gigi-gigi itu bergemetar, layaknya seekor anjing yang marah pada orang yang telah mengganggu santap paginya.
“Siapa yang berani mengganggu … makan pagiku!?”
Benar saja perilakunya seperti anjing. Dia berbalik dan langsung menopang tubuh dengan kedua tangan dan kedua kaki di permukaan bus. Giginya terus mengerang, tapi matanya masih tetap tertutup.
Ya, saat ini tubuh Gaia masih terdiam di tempat. Namun perlahan tapi pasti, kedua bola mata itu mulai terbuka dan saat kesadaran Gaia telah pulih sepenuhnya ….
“Heh .…”
Mata Gaia melirik ke sekeliling, dia melihat sekumpulan orang yang berdiri mengitari tubuhnya. Hanya berjarak sekitar 60 centimeter dari barisan terdepan. Sebenarnya mereka ingin mundur lebih jauh, tapi karena sempit, terpaksa mereka harus berdekatan dengan gadis yang sekarang mereka takuti.
“A-ada apa ini? Kenapa kalian mengelilingiku?”
Gaia melihat tatapan orang-orang yang masih membisu. Dia berasumsi kalau mereka semua sedang menatap tubuhnya. Saat diperiksa, ternyata dia telah melakukan gerakan yang aneh. Yang seperti anjing tadi.
“Ke-kenapa aku berperilaku seperti ini? Tadi perasaan …,” Gaia ingat sesuatu, dia pun segera berbalik dan menoleh ke arah Yoki, “A-ada apa dengan bahumu?”
Dengan tubuh yang bergemetar, diiringi juga oleh perasaan canggung karena ditonton banyak orang, Gaia dengan perlahan maju dan memeriksa luka di bahu Yoki.
Yoki masih diam saja, dia tidak berkomentar sedikit pun karena rasa sakit yang diderita. Mata Yoki saja dibuang ke luar jendela, dia tidak mau menatap Gaia dengan tatapan seperti ini. Takutnya, Gaia malah jadi merasa sangat bersalah.
“I-ini .…”
Cuma dari sentuhan jari Gaia sudah tahu dengan apa yang terjadi. Luka itu, perilaku yang seperti binatang tadi, serta tatapan orang-orang pada dirinya.
Gaia sadar dan langsung menutup mulut dengan satu tangan. Matanya sendiri menggambarkan kekagetan, sedangkan hatinya terus-menerus menekan dirinya.
Dia tidak kuat menahan semua rasa bersalah akibat tindakannya, Gaia pun mundur beberapa langkah dan langsung berbalik keluar dari bus. Dengan meninggalkan tatapan orang-orang yang mengikutinya.
“Ga-Gaia ….”
__ADS_1
Yoki juga tidak dapat berbuat apa-apa, bahunya yang menjerit kesakitan telah menghentikan langkah Yoki. Sedangkan orang-orang yang ada di dalam bus, terheran.
Namun sesaat kemudian, mereka ingat kalau mereka juga punya agenda penting hari ini. Alhasil, satu persatu meninggalkan Yoki yang masih duduk diam di tempat.
“Nak, ini untuk biaya pengobatanmu yah.”
“Terima kasih bu.”
Untung saja ada satu orang yang baik, tidak seperti yang lain, yang hanya terlibat lalu pergi begitu saja.
“Oke, hati-hati yah.”
Yoki mengangguk lalu berdiri dengan rasa sakit yang masih ditopang. Dia mengikuti ibu itu untuk turun dari bus. Setelah di bawah, barulah mereka berdua berpisah.
“Gaia … kenapa yah? Ahh tunggu dulu, aku obati lukaku dulu. Kalau kayak gini aku gak bakal bisa ikut pelajaran.”
Yoki beranjak pergi dari halte tempat pemberhentiannya. Bahkan untuk berjalan pun, satu tangannya harus senantiasa selalu memegangi lengan kanan Yoki.
*****
“Ueegghhh … ueeggghhh ….”
Sedangkan saat ini, di toilet sekolah, Gaia sedang memuntahkan sesuatu dari tubuhnya. Sesuatu itu berupa cairan kental berwarna merah, yang berarti itu adalah darah milik Yoki.
“Kenapa? Kenapa? Dosa itu tidak hilang dariku, kenapa?”
Setelah memuntahkan semuanya dan mencuci mulut, Gaia dengan perasaan yang sangat sedih langsung terduduk di lantai toilet. Ekspresinya merujuk pada rasa frustasi yang amat besar. Yang menyebabkan itu semua adalah perilaku Gaia yang tidak terduga pagi ini.
“Dosa ini … aaahhhh ….”
Apa yang terjadi tadi telah memicu kenangan Gaia di masa lampau. Kenangan-kenangan yang begitu familiar dengan darah dan pembunuhan. Memang itu sangat indah di mata Gaia yang lain, tapi sangat mengerikan di mata Gaia yang satu ini.
Setiap tontonan itu memberikan serangan tersendiri bagi Gaia, secara mental. Setelah melewati mimpi-mimpi yang aneh, sekarang dia juga harus membopong dosa dan kenangan penuh darah di masa lalunya. Untuk Gaia saat ini, dia masih terlalu rapuh saat dihadapkan dengan perbuatan-perbuatan keji itu.
“Hentikan … maaf … maaf … hentikan … tolong ampuni aku … maaf … tolong henti ….”
“Ayo Elysia, terima aku. Aku adalah panutanmu, terima aku … aku adalah pendahulumu. Kau sepertinya sang-at la-par. Ayo Gaia, kita makan sekarang. Ada begitu banyak hidangan yang tersaji di sekolah ini.”
Memang untuk sesaat, Gaia masih terus berusaha melindungi diri dari semua godaan serta teriakan-teriakan orang yang telah dia bunuh.
Kalian tahu, teriakan itu berasal dari semua orang yang menjadi santapannya. Mereka berteriak-teriak dari api neraka yang membara dan jumlah teriakannya … ada beribu-ribu.
Tujuan dari teriakan dan godaan yang datang, ditujukan untuk memberikan serangan mental bagi Gaia. Mereka berhasil, perlahan demi perlahan, mental Gaia mulai hancur. Tenggelam, ditelan oleh kelamnya kenangan yang dia miliki.
Lihatlah, tangan-tangan dari jiwa yang telah membara sudah semakin dekat dengan tubuh Gaia. Hingga saat berada dalam jangkauan, tangan-tangan itu menariknya untuk semakin tenggelam.
“Berhenti … aku tidak mau jadi seperti dulu lagi. Kumohon, aku ….”
“Sudahlah Gaia. Ini bukan dirimu yang asli, kamu tidak bisa meninggalkan dosamu di masa lampau. Semua ini akan berbekas dan bekas itu akan selalu menerormu.”
“Kumo ….”
Sudah terlambat, tubuh Gaia sudah tenggelam sepenuhnya. Dia lenyap ditelan jiwa-jiwa yang sedari tadi meronta-ronta. Sedangkan suara yang tiba-tiba muncul, berubah menjadi sebuah wujud yang mengerikan. Monster, mungkin bisa disandangnya karena bentuk tubuh yang dimiliki.
__ADS_1