RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~INI MASALAHKU 5~


__ADS_3

Demi bisa sampai duluan ke rumahnya, Kenichi terpaksa berlari dengan sangat kencang. Dia mengabaikan rasa lelah dan keadaan sekitar.


“Kerja sama dagang yah.”


Kepalanya menunduk, tapi fokusnya masih tetap ada.


“Lalu, kenapa dia segitunya saat tahu tentang anak yang pernah kutanya waktu itu? Ohh, biar aku tebak …,” kepalanya diangkat lagi, sesaat terlintas sebuah senyum di wajah, “Kayaknya mereka mendapat masalah dari Bonzo, karena beberapa hadiah yang aku berikan kepada anak itu.”


Kenichi masih terus berlari. Begitu pun dengan waktu yang terus berjalan. Sekarang hari sudah semakin malam dan gelap pun sudah menampakkan jati dirinya.


Sementara itu, di tempat di mana Genki sedang berada ….


“Genki, apa kamu tidak apa-apa?”


Tubuh Genki dikelilingi oleh enam orang dengan busana yang seragam. Mereka berenam menjadikan Genki sebagai pusat perhatian, apalagi dengan bekas luka sayatan pisau yang membentang secara diagonal.


“Anak itu, anak itu adalah penyebab kemalangan kita.”


Nada bicara yang kacau sekali. Bagi mereka berenam, itu lebih nampak sebagai sebuah racauan yang tidak jelas.


“Apa maksudmu?”


“Dialah, dialah orang yang pernah menghajar anak dari tuan Bonzo.”


Jawaban yang cukup membuat para pendengar menjadi bergidik ketakutan. Itu sangat jelas, alis mata dan raut wajah yang bergetar sebagai buktinya.


“Apa? Jadi dialah penyebab kematian beberapa rekan kita.”


“Pe-nyebab kematian?”


Di antara mereka berenam, masih ada satu orang yang memasang raut keheranan. Sepertinya, dia tidak pernah melihat atau mendengar kejadian tersebut.


“Ahh Shou, kamu orang baru kan. Jadi ….”


“Tunggu dulu, kita harus rawat luka Genki terlebih dahulu. Takutnya makin parah.”


Salah seorang yang lain memotong, membuat orang yang berucap tadi menoleh ke arahnya.


“Apa kalian berempat bisa mengobatinya?”


Yang ditanya mengangguk semua. Berarti, jawabannya adalah ya.


“Kalau gitu, cepat obatin dia. Kotak P3K dan yang lain ada di bagasi mobil.”


Di antara mereka berenam, ada seseorang yang mengambil inisiatif untuk mengambil barang-barang yang dimaksud. Sedangkan tiga orang yang lain, menunggu sembari menjaga Genki yang masih terbaring di tanah.


Setelah semua dirasa beres, pria yang dipotong ucapannya tadi berbalik kembali ke arah Shou yang menjadi pendengar.


“Jadi, ada beberapa temanku yang ditugaskan untuk menjaga anak dari bos kita. Untuk pergi ke sekolah atau makan dan hal-hal yang menyangkut kehidupan di luar rumahnya.”


Shou masih terlihat serius untuk memperhatikan setiap ucapannya. Mereka berdua mengabaikan empat orang yang sedang mengobati Genki. Yah, tidak masalah sih bagi Genki dan orang-orang yang mengobatinya.


“Orang-orang yang ditugaskan ini menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Tapi kalau berhubungan dengan kegiatan privasi wanita, itulah yang menjadi celah dan kelemahan mereka. Nah, begitu pun dengan kejadian ini. Hari itu ketika dia sedang ke toilet … oh yah, sebelum itu ada yang mau aku jelaskan padamu. Mereka semua menjaga di luar toilet, itu karena semua pengawalnya adalah pria. Takutnya, kamu tidak mengerti saja.”


Nampaknya dia sudah seperti peramal saja, bahkan isi hati pendengarnya pun dia tahu. Yah, Shou sudah mengerti sekarang. Jadi, dia tidak perlu bertanya lagi.


“Kecurigaan mereka berawal saat gadis itu tidak keluar toilet selama lebih dari 10 menit. Awalnya mereka ingin menunggu lebih lama, tapi sudah 5 menit waktu toleransinya. Dari situ mereka semua masuk.”


Shou memasang ekspresi serius, bahkan yang bercerita pun juga ikut serius. Dia menghayatinya, sembari memberikan peragaan yang sedikit membantu penjelasan cerita.


“Setelah dicari di segala penjuru toilet, barulah mereka memperoleh kesimpulan ….”


“Apa itu?”


Dia memang sengaja untuk membuat jeda dalam ucapannya. Mungkin dia ingin lebih mendramatisir, padahal itu juga tidak akan berguna.

__ADS_1


“Gadis itu hilang.”


“Oh, terus.”


Itu adalah tanggapan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Setidaknya, dia ingin ada ekspresi takut dan penasaran dari si pendengar. Padahal, rasa penasaran Shou pada awalnya meningkat.


Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa memaksa. Yah, hanya sebuah garukan kepala sebagai tanda pasrahnya.


“La-lalu, setelah dicari kesana dan kemari, mereka pun menemukan gadis itu sudah berada dalam keadaan babak belur dan tubuhnya ditemukan di bawah pohon. Lokasinya sih lumayan jauh dari tempat kami kehilangan dia.”


“Begitu.”


Kurang lebih dia sudah mengerti dengan garis besarnya. Tapi masalah kematian itu, masih menjadi pertanyaan jauh di dalam lubuk hatinya.


“Awalnya mereka ingin membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat. Tapi keadaan yang tidak diinginkan datang tiba-tiba.”


Cerita kembali dilanjutkan, walaupun tidak disuruh oleh si pendengar. Tapi, Shou tetap mau mengikuti ceritanya.


“Bos kita yang bernama Bonzo datang untuk mengunjungi putrinya dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?”


Shou mengangguk, tapi dia sebenarnya tidak mengerti. Itu hanyalah sebuah tanda partisipasinya saja.


“Yah, mereka semua dihukum karena ketidak becusan mereka dalam menjaga gadisnya. Mereka memang bersalah dan layak dihukum, tapi ….”


Seketika, penjedaan itu telah mengambil fokus semua orang yang ada di situ. Bahkan pengobatan luka yang hampir selesai saja, ditunda demi mendengarnya.


“Kenapa mereka harus sampai dihukum mati?”


Kata-kata itu berhasil menggugah rasa penasaran dari Shou yang dari awal menjadi pendengar. Bahkan, sekilas nampak ketakutan yang tersirat dalam wajah Shou.


“Kenapa mereka sampai dihukum mati?”


“Entahlah, Bonzo adalah orang yang tidak tanggung-tanggung. Bahkan, siksaan berat pun akan dia lakukan. Apalagi, jika menyangkut tentang sesuatu yang berharga baginya.”


Tiba-tiba Genki ikut campur dalam pembicaraan mereka, dia sekarang sudah tenang. Nampaknya, dia tidak mau meneruskan amukan tadi.


“Tidak ada yang berani melawannya. Dia adalah salah satu orang yang paling berpengaruh di beberapa wilayah di Jepang dan kamu tahu, salah satu dari orang yang dibunuh itu adalah saudaraku.”


Dengan menunjukkan raut wajah yang dikerutkan, Shou berusaha untuk bersimpati kepada Genki.


“Kenapa tidak kabur saja dari bos besar?”


Walaupun Shou berniat untuk membantu, tapi bantuan itu seperti tidak berpengaruh apa-apa terhadap mereka.


Bukan jalan keluar yang tepat, itulah yang berusaha disampaikan oleh orang yang mendengar pertanyaan Shou.


“Haaah, apa kamu tahu syarat masuk kelompok mafia ini?”


Yang mengambil inisiatif adalah Genki.


“Melakukan tindak kejahatan.”


“Tepat sekali dan itu sewaktu-waktu, akan menjadi ranjau yang bisa menjeratmu.”


Setelah merenung sejenak, barulah Shou sadar akan maksudnya. Dari situ badannya bergemetar, dia ketakutan setengah mati.


Sebuah kebenaran sudah terungkap dan kebenaran itu, tentu sangat menyakitkan hatinya.


“Apa? Payah, aku dimasukan oleh pamanku. Apa … apa aku sudah terjebak di situ selamanya?”


Genki dan yang lain mengangguk, sepertinya mereka paham kondisi Shou dan dari situ juga bisa terlihat, kalau mereka semua sudah sangat lama melayani Bonzo.


“Yah, begitulah. Mungkin pamanmu melakukan ini karena Bonzo mengancamnya.”


Shou memalingkan kembali pandangannya. Dia ingin mendengar penjelasan dari perkataannya itu.

__ADS_1


“Istilahnya, semua anak buahnya sudah menjadi boneka yang bisa dia kendalikan sesuka hati. Dia merekrut bawahannya melalui cara yang seperti ini. Orang kaya dan berkuasa akan mendapatkan segalanya dan ingat ini ….”


Genki memajukan kepala, menatap Shou dengan tubuh yang masih terbaring di tanah. Ini adalah informasi penting dan inti dari perkataannya.


“Syarat masuk itu akan dilaporkan Bonzo, kalau kamu berani macam-macam dengannya. Apalagi, dengan semua tugas yang dia berikan … haaah, aku rasa kita semua telah menjadi sampah masyarakat.”


Shou membuang tatapan, racauan dari tadi terus dia gumamkan. Dia benar-benar tidak menyangka akan hal ini. Dalam waktu yang lama atau mungkin selamanya, dia tidak akan bisa lolos dari tangan Bonzo.


Sementara itu, Genki sudah merasa puas, dia lega kalau bisa memberitahu beberapa informasi penting kepada Shou.


Pandangan yang tadi diberikan pada Shou dia buang, digantikan dengan memandang bulan di atas. Sedangkan sekarang, tubuhnya sudah selesai diobati oleh rekan-rekannya.


“Apa bos sudah ada di dekat sini?”


Itu adalah pertanyaan untuk memastikan, karena terdengar sebuah suara mobil yang datang ke arah mereka.


“Yah, kamu benar. Itu adalah mobil jeep milik bos. Bos pemegang wilayah ini.”


Jawaban yang tepat, sekarang sebuah mobil jeep berwarna hitam sedang memasuki jalanan tempat mereka semua berada.


Mobil itu berhenti di belakang mobil mereka. Dari sana, keluarlah seorang pria bertubuh gendut dan supirnya. Seketika semua mata memandang ke arahnya, tidak terkecuali dengan Genki yang masih berbaring di jalan.


Topi yang dipakai berbeda dari yang mereka semua pakai, termasuk berbeda dari topi yang dipakai supirnya. Jika mereka memakai bowler hat, pria gendut itu mengenakan top hat dengan warna hitam.


“Apa yang terjadi di sini?”


“Anu bos, Genki terluka karena anak kecil yang selama ini dia amati.”


Bukannya bersimpati, pria itu malah memasang raut geram dengan badan yang dibungkukkan. Kedua tangannya ditekuk di pinggang, sedangkan kedua kumisnya bergetar.


“Lawan anak kecil saja tidak becus, apa yang yang seperti ini akan mencerminkan anak buah dari bos besar kita.”


Kemarahannya dilampiaskan pada Genki yang masih terbaring di jalan. Membuat Genki menjadi kesal. Bagaimana bisa perkataan yang begitu ketus, keluar dari mulut seorang pria gendut seperti dia.


“Maaf tuan, tapi aku ada informasi penting. Anak itu adalah orang yang telah membuat putri bos besar babak belur.”


Ternyata informasi itu tidak mendapatkan ketertarikan dari pria gendut tersebut. Dia mengangkat kembali tubuhnya, sembari memainkan kedua kumis miliknya.


“Itu kan salah mereka juga, bodoh dan tidak becus. Pantas saja mereka semua dibunuh, mereka tidak ada yang layak.”


Malah tanggapan yang menyakitkan hati, Genki sangat kesal dan ingin sekali menghajar pria tersebut. Tapi, kesadaran dan nalarnya mengatakan tidak. Dia rasa, dia perlu mengambil sebuah keputusan yang tepat.


Apalagi, yang berdiri di depannya adalah salah satu saudara dari bos besar mereka.


“Sekarang, apa kamu tahu kemana anak itu pergi?”


“Saya yakin ke rumahnya bos.”


Jawaban yang diberikan itu, tidak sepenuhnya dipercaya oleh pria gendut tersebut. Dia masih berpikir, mungkin dengan memainkan kumis adalah ciri-cirinya.


“Darimana kamu bisa yakin?”


“Da-dari melihat arah perginya.”


Jawaban yang diberikan sudah cukup, pria gendut kembali berbalik dan menghampiri Genki. Dia berjongkok dan menatap Genki dengan senyum yang tertutup kumis.


“Begini saja, jika kamu salah maka lukamu ini akan bertambah.”


“AKHHHH ….”


Tindakan kejam diperlihatkan, dia menekan luka di perut Genki dengan sangat keras. Hal itu tentu saja menimbulkan erangan kesakitan dari Genki. Hanya pria itu saja yang terlihat bersenang-senang, sedangkan yang lain hanya diam membisu.


Setelah bersenang-senang dalam waktu yang singkat, pria gendut itu kembali berdiri dan pergi meninggalkan Genki. Dia ingin menunggu di mobil, karena yang tahu jalannya adalah Genki.


Sedangkan untuk Genki, dia harus sabar. Dia tidak mau mempermasalahkan hal ini dengan bosnya. Walaupun luka di tubuhnya terbilang cukup parah, tapi dia menyanggupi kaki untuk dapat berdiri kembali.

__ADS_1


__ADS_2