
“Sejak saat itu, aku mulai memahami apa yang dinamakan perasaan. Orang tua itu, adalah orang pertama yang malah menganggapku sebagai seorang gadis biasa yang tak berdaya. Lalu orang keduanya adalah ….”
Mata Beelzebub sedikit melirik Gaia, ternyata Gaia juga sedang menikmati langit. Sekilas, dapat terlihat kalau wajah dingin kepunyaan Gaia perlahan pudar di telan langit. Wajah Beelzebub yang buruk rupa sih tidak akan mengerti perasaan itu. Tapi dia tahu, aura Gaia menjadi lebih tenang, setenang kenyamanan di tempat mereka berada.
“Anak itu. Anak yang bodoh dan naif itu, haaah … entah apa yang menimpa takdirku. Mungkin pangeran tampan dan pandai yang menjadi pahlawan itu tidak ada, atau mungkin pangeran penyelamatku datang dari seorang rakyat jelata biasa.”
Sekarang dia malah jadi terpesona pada sosok yang dibayangkan. Beelzebub yang melihat wajah Gaia saja sampai diam tak berkutik. Dia terpana. Rupanya selain Gaia, ada juga sosok yang sedang terpesona di tempat ini.
“Makanya, aku ingin terus berlari dari masa laluku.”
“Kau tahu kan, kau ….”
“Ya aku tahu,” Gaia menundukkan kepalanya, dia ingin merenungi sesuatu, “Jiwaku sudah menjadi bagian dari dosa kerakusan. Aku tidak bisa lari ….”
Wajah Gaia melirik Beelzebub kembali.
“Tapi aku tidak ingin ada lagi orang berharga yang menjadi korban dari wujud ini.”
Suasana yang tenang ini juga membantu Beelzebub untuk berpikir. Dia menciptakan suasana hening sejenak, sebelum siap untuk membalas perkataan Gaia.
“Jadi … apa keputusanmu?”
“Aku ingin tetap bersama mereka. Aku ingin membuat kenangan indah bersama mereka.”
Untuk jawaban itu, Beelzebub harus mengambil nafas panjang. Jawaban yang diberikan Gaia terasa amat berat untuk sampai ke telinganya. Dia pun berdiri, sebagai ancang-ancang sekaligus persiapan untuk mengakhiri obrolan ini.
“Kamu tahu kan kalau kamu tidak bisa hidup di sini.”
Tatapan harapan yang mengikuti gerakan Beelzebub, Gaia turunkan untuk menerima kenyataan. Dia murung kembali. Sedangkan Beelzebub yang menatapnya, sedikit merasa kasihan.
“Aku tahu, tapi jika sudah waktunya … aku akan dengan senang hati menerima kenyataan itu.”
“Ya sudahlah kalau begitu.”
“Beelzebub, apa kamu bisa menyegel berkat ini? Aku jadi sadar kalau berkah ini belum hilang sepenuhnya. Waktu aku tidak sengaja mengigit Yoki, kurasa berkah ini kembali lagi padaku.”
“Ehm, kenapa kamu tidak memakainya pada polisi?”
Pertanyaan yang membuat Gaia kembali menatap Beelzebub. Yah, untuk yang kesekian kalinya, Gaia harus kembali menatap wajah yang menyeramkan itu. Tapi Gaia juga tidak peduli, hanya orang bodoh yang melihat penampilan saat sedang membicarakan hal yang penting.
“Apa maksudmu?”
“Haaah … kamu pikir mereka akan membiarkan kasus Eiji begitu saja. Mereka pasti akan mencari ekor dari kasus ini. Memang kamu tidak sadar kalau ada orang-orang yang tinggal di sekitar rumah Eiji. Salah satu dari mereka pasti melihatmu dan ketika ditanya oleh para penegak hukum itu … kamu tahukan akhirnya?”
Untuk pertanyaan itu, Gaia menunduk dan kembali merenungkan jawaban. Apa yang dikatakan Beelzebub sudah pasti benar. Pasti ada saja mata liar yang pernah merekam kegiatan Gaia di sekitar situ, atau bahkan tahu kalau Gaia ada di rumah Eiji. Mau yang mana saja kemungkinannya, ini tetap menjadi masalah yang serius.
Apalagi, Gaia pernah berhadapan dengan petugas kepolisian sebelum ini. Tepatnya, saat insiden penyerangan rusa di sekolah mereka. Untung pada saat itu, pihak kepolisian telah menyatakan Gaia tidak bersalah. Yah, keputusan itu juga diambil karena polisi tidak bisa memecahkan kasus yang terjadi.
Bagaimana mungkin seekor rusa bisa memporak-porandakan satu sekolah dengan kekuatan yang aneh. Walaupun rusa itu mengamuk, tapi dengan seluruh bukti dan kenyataan yang ada, jelas kalau kejadian tersebut bisa berada di luar nalar manusia biasa.
Kembali lagi ke persoalan Gaia. Jika itu artinya dia harus berhadapan lagi dengan pihak kepolisian. Dia bisa terbukti menjadi dalang dari kedua kasus itu. Mengingat, dia ada di kedua kasus yang boleh dibilang aneh.
__ADS_1
“Kau … ada benarnya juga sih, bisa jadi aku dicurigai oleh para polisi. Lagipula aku ada di kedua kasus itu, mereka bisa mengira kalau akulah pelaku dari kedua kasus yang aneh itu.”
Beelzebub melangkah mendekati Gaia. Wajah yang menyeramkan itu, sama sekali tidak menakuti Gaia.
“Benarkan, kau memang tidak sepantasnya berada di dunia yang rapuh ini. Lihat saja apa yang ada di tangan kanan dan yang kau makan saat ini.”
Gaia menuruti perkataan Beelzebub dan yang dia dapat, adalah sesuatu yang menjijikan sejujurnya. Ada tangan manusia yang tersangkut di genggaman tangan kanan Gaia, bekas darah yang terlukis di mulut Gaia juga berasal dari tangan itu.
Gaia baru saja sadar, buktinya dia langsung membuang tangan itu dan menambahkan kekagetan di wajah. Apa yang terlihat setelahnya sangat berbeda dari Gaia yang dingin dan juga kejam.Tangannya bergemetar saat melihat lumuran darah yang tercetak di tangan dan juga mulut.
Beelzebub yang melihat itu sedikit kebingungan. Wajar saja, Gaia yang dulu sangat senang dengan darah, kini memiliki ketakutan terhadap darah.
“Ta-tangan siapa ini?”
“Entahlah, mungkin orang-orang di kota ini … atau mungkin salah satu teman sekolahmu.”
Tubuh Gaia langsung terbujur kaku, dia bisa membayangkan segala kemungkinan yang terjadi. Dengan kedua tangan yang memegangi kepala, Gaia berharap agar kemungkinan-kemungkinan itu hanya menjadi ucapan Beelzebub yang liar saja.
“Haaah … sepertinya, terjadi kontradiksi di dalam dirimu.”
“Entahlah, aku juga tidak menyadari gerakan tadi. Semuanya terjadi begitu cepat, aku bahkan tidak merasakan adanya objek yang berada di tanganku.”
“Begitu.”
Beelzebub berjalan menghampiri tangan yang tadi Gaia buang. Dia mengambil tangan itu dan hendak memakannya.
“Tunggu!”
“Apakah yang ditahannya adalah nafsu kerakusan? Hahaha … masih ada harapan baginya untuk kembali. Ya … ya!!!”
Beelzebub begitu riang saat berhasil mendapatkan temuan keduanya. Dia terus menerus tertawa dengan dirinya sendiri.
“Pada saat itu, aku pernah melihat keajaiban yang telah membuat Yoki dan Kenichi hidup kembali. Jadi kurasa ketakutan ini mungkin datang dari situ, atau dari trauma kematian mereka.”
Wajah Gaia menunduk ke bawah, sangat jelas terlihat kalau dia sangat ketakutan dengan tangan yang dipegang Beelzebub. Sedangkan di sisi lain, dia sedang berusaha menahan nafsu yang terus meluap dari dalam dirinya.
Kontradiksi inilah yang membuat Beelzebub begitu kesal dan iba. Tindakan itu, pasti susah untuk ditahan Gaia. Beelzebub tahu kalau saat ini Gaia begitu kesakitan untuk menahan nafsu makan yang terus memberontak.
“Apa kamu tahu sesuatu tentang keajaiban yang terjadi pada mereka berdua?”
“CIKH, ekspresimu sangat membuat aku muak. Tapi untuk pertanyaanmu itu, aku sendiri tidak tahu jawabannya. Dugaanku, karena sesuatu yang ada di dalammu.”
Untuk jawaban Beelzebub, Gaia memberikan apresiasi dengan mengangkat kembali kepalanya.
“Batu … waktu kah?”
“Ya, bisa jadi.”
“Tapi, aku tidak tahu cara memakainya. Kurasa, kakek juga hanya menitipkannya padaku.”
“Untuk itu kamu harus cari tahu sendiri jawabannya. Tapi …,” Beelzebub menyodorkan tangan tadi ke arah Gaia, “Kamu harus makan ini, agar kamu bisa tahan sampai pulang sekolah.”
__ADS_1
Lagi-lagi, terlukis keraguan di mata Gaia. Matanya kembali bergemetar dan itulah yang membuat Beelzebub kembali merasa kesal.
“Kenapa?”
“Haaah … kamu tahu kan tentang konsekuensi dari dosa kerakusan.”
Gaia mengangguk dengan kaku.
“Ya sudah, aku akan menyegel dosa ini saat kamu sudah berhadapan dengan mereka. Kurasa, cepat atau lambat mereka akan datang untuk menginterogasimu.”
“Ba-baiklah.”
Dengan ragu Gaia maju, gesekan antara gaun bagian bawah dengan rerumputan pun tidak menghentikan langkahnya. Ketika sampai, Gaia dengan langkah yang ragu mengambil tangan yang sedang dipegang Beelzebub.
Sekilas Gaia menatap tangan itu sebagai sesuatu yang mengerikan. Beelzebub paham, dia harus menjelaskannnya. Kalau tidak, ini bisa memakan waktu yang lama.
“Tenang saja, rasanya tidak akan semengerikan itu kok!”
Sedikit melirik Beelzebub, Gaia mendapat sedikit motivasi dengan menatap wajah buruk rupa milik sang monster.
“Baiklah.”
Perlahan-lahan, Gaia memasukkan tangan itu ke dalam mulutnya. Barisan gigi terdepan, yaitu gigi seri dengan segera langsung mengoyak daging dari tulang.
Sekilas, ini mirip ketika kalian sedang memakan ceker ayam. Tapi tidak tahu juga sih kalau kalian makan sama tulang-tulangnya. Namun pada umumnya, kulit dari ceker itu akan kalian pisah dari tulang. Tulangnya akan dibuang dan kulitnyalah yang kalian santap.
Begitu juga dengan cara Gaia memakan tangan yang disajikan Beelzebub ( tapi kalau yang ini masih mentah yah).
“Ahhhh … sedapnya!”
Dan seketika, sensasi Gaia kembali seperti semula. Kesenangan Beelzebub juga meningkat karena melihat Gaia yang sampai ketagihan mencicipi daging dari tangan itu.
Setiap gigitan, setiap kunyahan, itu semua begitu nikmat terproses dalam pencernaan mekanisme dan kimiawi yang terjadi di mulut Gaia. Memang sensasinya bagi manusia normal adalah menjijikan. Tapi percayalah, Gaia menikmati tangan itu seperti hidangan yang diolah oleh chef terbaik. Rasanya, sebuah mahakarya.
“Aku … mau lagi.”
Gairah yang aneh keluar dari tubuh Gaia. Dia seperti sedang kecanduan pada daging manusia. Di sisi lain, tubuhnya bergemetar karena beradaptasi dengan rasa yang luar biasa itu.
Gila pada awalnya dan semakin lama, dia berubah menjadi Gaia yang sebenarnya. Dingin, kejam, dan kanibal. Setelah semua perubahan itu, Gaia langsung menatap Beelzebub dengan tatapan yang melotot.
“Beelzebub, aku … mau … makan … lagi.”
Beelzebub hanya tersenyum di balik wajah yang menyeramkan itu.
“Baiklah … jika itu ….”
“Ga-Gaia.”
Sebuah suara yang berasal dari belakang Beelzebub, dia langsung membanting tatapan. Suara itu memiliki karakteristik suara laki-laki, Beelzebub tahu siapa pemilik suara itu. Dia pun membalikkan tatapan ke arah Gaia lagi, untuk memastikan kondisi Gaia.
Yang dia dapati adalah Gaia yang sedang tertunduk dalam. Ekspresi Gaia sama sekali tidak terlihat, begitu juga dengan tubuhnya yang diam. Yang terlihat bergerak darinya hanya darah dari mulut, bekas makanannya tadi.
__ADS_1