RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~PASTI ADA JALAN~


__ADS_3

“Kenichi, kenapa tadi kamu bisa mematahkan serangannya?”


“Entahlah, aku hanya berlari ke arahmu dan tidak sengaja menebasnya. Lagipula, saat dia mengayunkan kayu itu, kecepatannya berkurang karena pasti fokus Haori pindah untuk menyerang.”


“Begitu yah. Tapi, sekarang kita dalam masalah. Kita tidak punya apa-apa untuk melindungi diri.”


Kenichi membalas dengan sebuah helaan nafas. Dia hendak berpikir sejenak, pisau di tangannya sudah tidak berguna. Posisi mereka juga tidak enak, karena berada di lapangan terbuka. Kalaupun ada kebetulan, mungkin itu adalah sebuah keajaiban.


Masalah ini semakin rumit, apalagi waktu juga menjadi tantangan. Saat Haori sudah selesai berancang-ancang dan mengeluarkan jurusnya, disitulah keberuntungan Yoki dan Kenichi menjadi taruhan.


Dengan keempat mata yang was-was, mereka berdua hendak mencari celah untuk menghindar. Namun ada yang berbeda dengan yang dilihat mereka tadi.


Bukannya langsung berlari ke arah Kenichi dan Yoki, Haori malah memilih untuk mengitari mereka berdua. Yah, walaupun pergerakannya tetap sulit untuk dibaca.


“Heh! Dia ngapain Kenichi?”


“Ya, kayaknya karena kita berdiri di posisi yang sejajar, dia tidak mau langsung berlari lurus ke arah kita.”


“CIKH, kalau begini akan semakin rumit. Karena kita harus mewaspadai semua sisi.”


“Ya sih, apalagi kita tidak tahu cara dia akan menyerang.”


Di saat inilah Kenichi berpikir. Walaupun berpikir, sejujurnya dia juga sedang bertaruh nyawa. Celah untuk menyerang Kenichi semakin besar, karena fokus Kenichi terbagi dua. Satu untuk mengawasi pergerakan Haori, dan satu lagi untuk menemukan cara mengalahkan Haori.


“Aku rasa dia akan menyerang satu orang dulu pake pisau di tangan kanannya, lagipula mulut Haori tidak akan bisa memberikan dorongan yang kuat untuk menusuk salah satu dari kami.”


“Lalu untuk tempat menyerang, kurasa .…”


Kenichi mencari inspirasi dengan melihat sekilas pergerakan Haori. Sudah sangat diluar dugaan, mungkin Haori bisa membuat angin topan dengan jari-jari 3 meter sekarang.


Mungkin saat ini masih berbentuk tabung yang punya tinggi sama dengan tubuhnya, dengan angin sebagai bahan pembuatan. Namun tidak menutup kemungkinan, kalau kecepatannya bertambah dua kali lipat, dia akan bisa membuat angin topan kecil.


“Ahh, dia akan melemparkan pisau. Karena aku rasa, dia memang sengaja membuat kecepatannya jadi seperti ini. Ini sudah sangat cepat malah, jadi kemungkinan dia tidak akan berhenti sesaat.”


“Sekarang saatnya aku membunuh kalian, yah? Apa yang harus kupilih terlebih dulu … apa yang harus kupilih … apa kamu atau temanmu Kenichi dulu yah? Hahaha ….”


“Dasar brengsek, aku akan menghajarmu … Haori!!!”


Yoki memungut sebuah batu, lalu dia lemparkan ke dinding angin itu. Memang sih dia tidak tahu dengan arah lemparannya, tapi sejujurnya dia mengenai sasaran. Pisau Haori terdengar bersentuhan dengan batu Yoki.


Memang batu itu kalah dan terpental jauh, tapi di saat itulah Kenichi menemukan jawaban yang ia cari.


“Itu dia, Yoki ambil batu yang ada di bawah kita terus lempar ke arah Haori.”


Yoki menurut tanpa bertanya, sekarang sudah ada lima batu di genggamannya. Dia menunggu Kenichi untuk menjalankan rencana.


“Oke, kamu bawa ponsel?”


“Iya, ini.”


“Oke. Sekarang, saat aku memberikan aba-aba dalam bentuk teriakan, kamu harus melemparkan batu itu ke sana.”

__ADS_1


Untuk semakin jelas, Kenichi menunjuk target yang dia maksud. Tunjukkan tangan memang tidak merujuk pada satu objek yang spesifik, tapi Yoki masih mengerti maksudnya.


“Oke, sudah siap. Sekarang!”


Yoki melemparkan batu sekencang-kencangnya, hasilnya tepat sesuai dengan dugaan Kenichi. Batu itu lagi-lagi terpental, namun dengan suara benturan besi sebagai awalan.


Sedangkan saat ini, tugas Kenichi adalah memberi komando menyerang, serta melihat stopwatch yang ada di ponsel Yoki.


“Sekarang!”


Yoki melemparkan batu ke arah yang sama, hasilnya juga sesuai dugaan Kenichi.


“Setiap satu detik, Haori akan kembali ke posisi yang sama. Aku ibaratkan saja sebagai jam, Yoki melempar batu ke arah jam tujuh sedangkan aku menghadap ke jam dua belas. Jika bisa menghitung keliling lingkaran ini dengan kecepatannya, maka aku bisa tahu di titik mana dia berada.”


Konsep yang bagus, dengan begitu dia bisa mengawasi Haori dengan lebih mudah. Apalagi ini seperti jam, jadi titik yang dia maksud adalah angka di jam yang sebenarnya. Semoga saja kecepatan Haori tidak berubah, karena hasilnya bisa kacau kalau itu sampai terjadi.


“Mari kita coba,” Kenichi sudah selesai bergumam, sekarang dia hendak melibatkan Yoki, “Yoki, pas aku teriak, kamu langsung lempar batunya ke sana.”


Karena Yoki tidak tahu konsep jam Kenichi, Kenichi pun membantunya dengan sebuah tunjukkan tangan.


“Oke, teriaklah kapanpun kamu mau.”


“Sekarang!”


Tepat, perkiraan yang matang. Sudah tiga kali dia benar, artinya memang sudah tidak usah diragukan lagi. Sekarang, langkah selanjutnya adalah ….


“Yoki, kamu lepas baju seragammu.”


Yoki menuruti Kenichi. Begitu pun dengan Kenichi yang juga melepaskan seragamnya. Seragam sekolah bertipe gakuran, berwarna hitam sudah siap di tangan mereka. Tinggal menunggu perintah saja.


“Aku tidak menjamin kalau kita bakal selamat dari serangan Haori. Dugaanku, dia akan melempar pisaunya. Di dalam pisau ada bagian untuk melindungi jari, itu terletak di gagang pisau.”



#source google


(*ket\= biar lebih jelas tentang bagian-bagian dari pisaunya Haori)


“Oh, yang ada di antara gagang pisau dan mata pisau kan?”


“Ya, mata pisau memang bisa merobek seragam kita. Tapi untuk pelindung jari, tidak akan bisa menembus kain ini,” Kenichi menunjukkan seragamnya pada Yoki, “Pisau itu akan tersangkut karena pelindung jari yang tersangkut di kain. Jadi, usahakan agar pisau itu tidak mengenai bagian seragam yang dekat dengan tanganmu yang memegang pisau, oke?”


Yoki mengangguk, dia percaya pada rencana Kenichi. Ada alasan kenapa pisau itu harus tertambat di bagian kain yang paling jauh dengan tangan, agar mata pisau tidak bisa menjangkau tangan Yoki.


Lagipula, walaupun sudah matang, masih tetap ada kemungkinan mereka menerima akibat yang lain. Salah satu faktornya adalah kecepatan pisau. Tidak mungkin bisa Kenichi menghitung dalam waktu yang cepat. Maka kecepatan pisau akan menjadi taruhan mereka kali ini.


Setelah selesai berdiskusi, Yoki mengambil tempat di belakang Kenichi. Dia mengambil 180 derajat sebagai sudut pengawasan, begitu pun dengan jatah yang diterima Kenichi. Arah jam yang dia awasi ada di angka sembilan sampai empat, sedangkan Kenichi ada di angka sepuluh sampai tiga.


“Aku masih memperhatikannya, mataku harus sangat jeli untuk mengawasi keadaan sekitar. Apalagi, aku tidak bisa mengawasi pergerakan Haori secara penuh.”


Kenichi masih menyalakan stopwatch di ponsel Yoki, dia menunggu Haori melakukan serangan. Namun sayangnya, sedari tadi Haori hanya berputar-putar saja. Ini sudah 3 menit, ada yang ditunggu Haori terlebih dulu. Itu adalah fokus mereka berdua.

__ADS_1


“Baiklah, sudah 5 menit. Kali ini kalian tidak akan bisa menebakku.”


Ini saatnya melempar pisau. Haori mengambil ancang-ancang dengan mengitari mereka beberapa putaran, lalu saat siap dia segera melepaskan pisau tanpa menghentikan pergerakannya terlebih dulu.


Alhasil, nampak seperti serangan yang keluar dari dinding udara. Tidak terlalu cepat, makanya Kenichi bisa menyadari keberadaan dari pisau tersebut.


“Yoki, arah jam empat.”


“Hah!”


Seketika Haori tercengang. Dia heran karena mereka berdua bisa melihat pergerakannya. Dalam larinya, ada sekilas yang terlintas. Diskusi yang dilakukan Kenichi, lemparan batu yang dilakukan Yoki, di situlah dia menyadari kekurangan dalam hadiah kejutannya.


“Yosh.”


Yoki mengayunkan seragam layaknya seorang matador profesional. Namun ini sedikit berbeda, kali ini si matador akan melawan pisau yang mengancam nyawanya. Yoki masih dapat melihat arah lemparan pisau, dia pun menyesuaikan seragam dengan instruksi yang diberikan Kenichi.


Dan dalam waktu yang singkat, pisau itu akhirnya tertancap tepat diujung seragam Yoki. Seketika, menjadi tontonan dari dua pasang mata yang memberikan pandangan berbeda. Yang satu senang dan yang satu lagi kesal.


“Dasar! Kalian akan aku bunuh dengan cara yang tragis.”


Haori langsung menghentikan langkah, amarah Haori sekarang meluap karena tontonan itu. Dia benar-benar kesal karena telah kalah beberapa kali oleh mereka.


Menghentakan kaki, meluncur dengan kecepatan penuh ke arah mereka berdua. Dia benar-benar datang dengan niat membunuh. Satu pisau di mulut langsung dipindah ke tangan kanan, dia ingin menebas tubuh mereka sekaligus.


“Kenichi, kau yang akan aku bunuh pertama kali!”


Kenichi langsung berpaling, Haori datang dari arah jam sebelas. Karena dia tidak memakai aerodynamics, Kenichi pun langsung berlari untuk menghadapinya. Hanya berbekal tangan kosong, berbanding terbalik dengan perbekalan Haori.


“Pisau itu. Kalau begitu kelemahannya ada di .…”


Kenichi mengincar kaki Haori. Dia memutuskan itu karena melihat dari cara Haori memegang pisau. Mata pisaunya mengarah ke atas, yang artinya dia tidak bisa mengenai tubuh Kenichi saat berada di bawah.


Saat sudah berada dalam jangkauan, Kenichi tidak ragu-ragu untuk meluncur dan menjegal kaki Haori. Namun, ternyata lawan juga sudah tahu rencana itu.


Haori mengantisipasinya dengan melakukan frontflip ke depan. Bukan hanya itu saja, Haori juga hendak menusuk tubuh Kenichi yang berada di bawah, dengan mengubah arah mata pisau ke bawah.


“Kau pikir aku tidak tahu rencana murahan itu hah! Aku akan membuktikannya, kalau aku tidak akan kalah dari bocah seperti kalian!”


“Heh, bukannya kamu juga bocah?”


Mulut Kenichi masih saja bersikap tenang. Bahkan di saat-saat seperti ini, dia masih bisa menyulut emosi Haori.


“Dasar kau! Sudah mau mati masih banyak omong!”


Sekarang pisau Haori semakin mendekati Kenichi. Bagian tubuh yang ditargetkan pisau itu adalah kepala. Semakin dekat dan akhirnya berhasil menusuk sesuatu.


Target yang ditusuk pisau mengeluarkan darah, terus mengalir hingga siapapun yang melihatnya akan menjadi jijik. Beberapa kasus yang lain, mungkin akan langsung muntah saat dihadapkan dengan situasi yang seperti ini.


“Yo-ki.”


Target yang saat ini sudah dikenai oleh pisau adalah tangan Yoki. Sesaat sebelum mengenai Kenichi, Yoki sudah mengorbankan tangan kirinya untuk menahan pisau itu. Sakit iya, tapi semangat Yoki jauh lebih besar. Dia tidak tahan untuk diam saat temannya sudah berada di ambang kematian.

__ADS_1


__ADS_2