
Setelah memakan waktu sekitar 15 menit berlari, akhirnya mereka sampai di suatu tempat. Langkah mereka masih berlari dengan ditemani tanah miring di sepanjang jalan. Kemiringan tanah itu berada di kisaran 30 derajat.
“Apa yang akan kita lakukan?”
Gaia bertanya dengan kapala yang ditolehkan ke kanan, menatap Kenichi.
“Tunggu … tunggu dulu. Sepertinya aku mendengar sesuatu.”
Pendengarannya tidak salah. Dari kelokan yang terhalang oleh dinding batu alami, terdengar derap langkah yang cepat. Derap langkah itu menuju ke arah mereka, seperti sedang mengincar.
Memang yang ada hanya suaranya, namun Kenichi menganggap itu sebagai suara yang berasal dari monster tadi. Dengan instingnya, dia mulai mempercepat langkah.
“Kenichi suara apa itu?”
Belum sempat pertanyaan Yoki dijawab, Kenichi sudah mendorong Yoki hingga terjatuh ke tanah miring di samping kanan mereka. Gaia yang melihat itu segera menampilkan ekspresi marah seraya berkata ….
“Apa yang kamu lakukan Kenichi?”
“Sudah, tidak ada waktu untuk menjelaskannya.”
Jawaban Kenichi diiringi dengan tangan kiri yang menggenggam tangan Gaia dengan kuat. Dia menarik paksa tangan Gaia, untuk mengikuti kemana dia akan berlari.
Dengan tarikan dan genggaman yang amat kuat, Gaia mengerang kesakitan dengan langkah yang tetap berlari.
“Ada apa denganmu Kenichi? Akhh ….”
Kenichi tidak menjawab dengan tetap meneruskan langkahnya hingga mencapai sebuah tempat yang terbuka.
Tempat itu adalah jalan buntu dengan jurang curam yang sudah menanti mereka.
“Lepaskan! Ada apa denganmu?”
Gaia bertanya dengan nada yang dinaikkan. Tangannya terus berusaha untuk melepas genggaman Kenichi, namun tetap tidak bisa.
Saat mereka sudah sampai di ujung dari tempat tersebut, Kenichi memainkan tangan Gaia dan menaruhnya untuk melindungi tubuh Kenichi.
Dia menaruh tubuh Gaia persis di depannya dengan tangan kiri yang melipat tangan kiri Gaia ke belakang. Sekilas mirip dengan sebuah penyekapan, dengan Gaia sebagai sanderanya.
Sementara itu, monster rusa terus berlari dan mempercepat langkah dengan Gaia sebagai targetnya. Derap langkahnya begitu berirama dan kencang, selaras dengan suara detak jantung mereka berdua.
Saat jarak sudah semakin dekat, Kenichi langsung memainkan lagi tangan Gaia dan mendorongnya ke kanan.
Monster itu sadar jika dirinya telah diperdaya. Namun itu semua sudah terlambat, karena langkahnya tidak bisa dihentikan.
“Yosh, kita akan mati bersama.”
Monster itu ingin membalas dendam dengan membunuh Kenichi. Kepalanya menunduk, siap untuk menabrak Kenichi.
Sedangkan untuk Kenichi, dia sudah pasrah jika seandainya jatuh dari tepian jurang yang curam.
Saat tanduknya hampir mengenai Kenichi, Kenichi menjatuhkan tubuh ke belakang dan terjatuh ke dalam jurang bersama dengan si rusa.
Suasana menjadi hening kembali. Tidak ada derap langkah, yang ada hanya tangisan Gaia. Dia menatap ke tepian jurang dengan satu tangannya yang menutup mulut.
“Gaia, Kenichi … payah, badanku sakit semua. Awas kalau aku bertemu Kenichi, aku pasti akan menghajarnya.”
Yoki menyusuri jalan dengan tangan yang memegangi bagian tubuh yang kesakitan. Hingga, Yoki sampai di tempat terbuka di mana di situ Gaia sedang menangis.
“Gaia … di mana Kenichi?”
Gaia tidak menjawab, hanya menunjuk ke tepian jurang. Yoki terheran, namun tetap mengikuti arahan Gaia.
“Dia jatuh bersama dengan monster yang mengejar kita.”
Ekspresi kesal Yoki hilang, berganti dengan kesedihan yang mendalam. Dia langsung berlari ke tepian jurang untuk memastikan perkataan Gaia.
“Apa ?!”
“Yo.”
Sebuah sapaan singkat datang dari dinding jurang. Kenichi masih hidup, dengan tangan kanan yang menggenggam kuat sebilah pisau yang tertancap di dinding jurang. Dia masih bergelantungan dengan wajah yang menatap ke atas.
“Hahaha … kau seperti atlet panjat tebing saja.”
Candaan dilayangkan Yoki untuk meredakan suasana. Namun saat Gaia melihat ekspresi Yoki, dia pun segera menghampirinya.
“Ke-Kenichi, kau masih hidup?”
“Hehe, maaf yah karena aku tadi menarikmu terlalu keras.”
“Tidak papa, semua baik saat melihatmu selamat.”
Sambil berucap, Gaia mengulurkan tangan untuk diraih Kenichi. Tindakan itu direspon Kenichi dengan menerima ulurannya.
__ADS_1
“Yadah … capek sekali.”
Yoki menjatuhkan diri ke belakang untuk melepas lelahnya. Mereka betiga langsung menjatuhkan diri ke tanah saat Kenichi sudah ditarik ke atas. Kenichi dan Gaia duduk, sedangkan Yoki memilih untuk berbaring di tanah.
“Lebih capek daripada dihukum pak Guru kan.”
Kenichi menyindir Yoki. Sesekali nafasnya terengah untuk membuang kelelahan.
“Heee … kalau taruhannya nyawa, mana mungkin bisa dibandingkan dengan hukuman.”
Di sini mereka berdua tertawa, namun tidak lupa untuk memperhatikan temannya juga. Gaia bersedih, itu bisa dilihat dari wajahnya yang murung. Sangat terlihat, apalagi dengan air mata yang menjadi tambahan.
“Gaia, kamu pasti ….”
Yoki mengambil inisiatif terlebih dahulu.
“Hik … hik … payah. Gara-gara aku, bu Mariko mati. Gara-gara aku ….”
“Haaah, jangan dibawa sampai seperti itu.”
“Kenichi!”
Yoki menepuk pundak Kenichi, dia sedikit kesal pada prilakunya. Kalau hanya menyela sih tidak apa-apa, tapi kalau selaan itu bisa membuat orang lain ikut bertambah sedih, itu yang membuat Yoki sedikit kesal.
Membalas tatapan Yoki yang tadi menepuk pundaknya, Kenichi sedikit menghela nafas. Dia tidak bermaksud seperti itu, karena maksud yang sebenarnya sudah dipotong duluan oleh Yoki.
“Haaah, apapun yang kamu lakukan semua sudah terlambat. Mau menangis pun tidak ada gunanya.”
“Ke ….”
Kali ini Yoki tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Dia distop dengan pundak yang ditepuk seseorang. Saat dia menoleh ke samping, barulah dia tahu siapa yang telah menghentikannya. Dia tidak lain adalah Gaia itu sendiri.
Yoki hendak mempertanyakan tindakan Gaia, tapi tidak jadi. Saat Yoki hendak melepaskan suara, Gaia dengan ekspresi sedih langsung menggelengkan kepala secara perlahan.
Yoki mengerti maksud itu dan memilih untuk mendengarkan kelanjutan cerita Kenichi.
“Bu Mariko tidak mati hanya untuk membuat kita besedih, dia mati karena … karena ….”
Padahal dia yang menjelaskan, tapi dia malah ikut menangis pula di dalamnya. Wajah terakhir bu Mariko mengandung banyak sekali arti.
Dia tidak kuat, bagaimana pun juga dia adalah manusia yang masih mempunyai perasaan. Dengan kepala yang menunduk, Kenichi berusaha untuk membendung tangisan itu. Tapi tetap tidak bisa.
“Kurasa aku mengerti maksudmu. Lagipula jika kita terus menangis, bu Mariko tidak akan tenang di sana. Dia pasti berpikir kalau pengorbannannya sia-sia.”
Bahkan, Yoki pun menangis saat melihat ke atas langit.
Untuk beberapa saat, mereka beristirahat. Mereka ingin mengeluarkan semua kesedihan yang melanda.
“Apa kita kembali sekarang?”
Yoki bertanya pada mereka berdua. Bahkan jejak air mata yang ada di pipinya, telah menandakan kalau dia tidak sanggup untuk menahan air mata bagi kematian wali kelasnya.
Mereka berdua mengangguk, lalu kembali bangkit berdiri. Di sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam bisu di setiap langkahnya. Hingga sampai di sekolah pun, mereka tidak saling mengobrol satu sama lain.
Sekolah malah dipenuhi oleh petugas medis yang sedang mengangkut empat jasad. Ada dua jasad murid yang sudah dimasukkan ke dalam mobil jenazah, sedangkan kantung jenazah bu Mariko dan yang satu lagi adalah Shiba, belum dimasukkan ke dalamnya.
Sebenarnya bukan hanya ada banyak mobil jenazah, ada juga mobil polisi. Tapi, satu pun anggota kepolisian tidak terlihat di sekitar mereka. Mungkin mereka sedang berada di TKP, hendak melakukan pemeriksaan.
“Apa kalian ingin melihat jasad bu Mariko untuk terakhir kali?”
Pertanyaan diucapkan Kenichi saat melihat sebuah kantung jenazah, sedang dimasukkan ke dalam mobil jenazah. Walaupun kedua jenazah diletakkan di dua mobil jenazah yang berbeda, Kenichi tetap bisa tahu karena nama yang tertera di kantungnya.
Saat pertanyaan ini dilontarkan, tiba-tiba Gaia mendapatkan imajinasi yang sangat mengerikan. Dia berada di sebuah tempat gelap, dengan pemandangan mengerikan di depan matanya. Sosok itu begitu mengerikan dengan satu tangan yang terulur ke arahnya. Matanya merah darah, namun sosok itu sebenarnya sangat Gaia kenal.
Kaca mata dengan bentuk wajah yang khas, dia adalah bu Mariko. Tapi, melihat dari kondisinya, mungkin itulah yang sangat Gaia takutkan. Bu Mariko bukan lagi menunjukkan senyuman indah penuh kasih sayang, tapi sebuah senyum penuh kebengisan.
Mata merah darah itu semakin menambah suasana, apalagi tempat yang tadi gelap tiba-tiba berubah menjadi sebuah tempat dengan darah yang menempel dimana-mana. Bisa dibilang, hampir keseluruhan.
“Gaia, Gaia, kenapa kamu tidak makan saja tubuhku?” lidah bu Mariko keluar dan digeser dari kanan ke kiri, “masih sedap loh.”
“Maaf … maafkan aku. Aku mohon jangan ganggu aku, maafkan aku.”
Gaia duduk sambil memohon ampun pada sosok tersebut. Reaksi yang diberikan adalah sebuah gerakan, mendekat hingga mulut bu Mariko sudah ada di samping telinga Gaia.
“Tidak perlu meminta maaf, bukankah hal yang seperti ini sudah sewajarnya bagimu.”
“Gaia!”
Yoki berhasil mengembalikan kesadaran Gaia melalui teriakan dan tepukan tangan di pundaknya.
“Haaa … ti-tidak, aku tidak mau.”
Tiba-tiba Gaia mengambil posisi berjongkok, sembari melipat dan menaruh kedua tangannya di atas kepala.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana dengan tas kita?”
“Uhmmm, mungkin kita ke kantor guru dulu deh. Soalnya pasti tempat kema … ahh, maksudku kelas kita pasti sedang tidak boleh dilewati.”
Jawaban Kenichi juga disetujui Gaia dengan sebuah anggukan. Yoki menyetujui keputusan temannya dan mengikuti mereka masuk ke dalam sekolah.
Bisa saja mereka dilarang oleh pihak sekolah untuk masuk, namun mereka mempunyai alasan kuat untuk melakukannya. Mengambil tas, itu bisa menjadi alasan yang akan diterima sekolah … bukan?
“Huekkk, astaga.”
Saat masuk, aromanya begitu pekat. Mereka bertiga sampai menutup hidung dengan seragamnya, tapi itu sebenarnya percuma. Karena, aroma itu berhasil masuk ke hidung mereka.
Apalagi pemandangan yang bisa membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Kerusakan yang disebabkan oleh monster itu sangatlah parah. Bisa dibilang, bagian depan sekolah sekarang sudah tidak berbentuk lagi.
“Astaga, mengerikan.”
Bukan hanya kerusakannya saja. Mata Yoki melotot, tubuhnya tersentak saat melihat ada bercak darah yang menempel sempurna di dinding.
“Sudah Yoki, cepat diteruskan.”
Kenichi mengingatkan, Yoki setuju dan meneruskan kembali perjalanannya. Dengan mulut yang ditutupi seragam, sampai ke tempat yang sudah tidak tercium lagi aroma yang pekat.
“Gaia, apa kamu mau menceritakan kejadian yang sebenarnya?”
Mendengar pertanyaan Kenichi, Gaia sangat ketakutan. Imajinasi tadi saja masih terngiang di pikirannya, apalagi ditambahkan dengan sebuah pertanyaan yang bahkan dirinya tidak tahu jawabannya. Alhasil keadaan menjadi tegang, padahal tinggal berbelok ke kanan sedikit lagi dan mereka sudah sampai di ruang guru.
Sedangkan untuk suasana, benar-benar sepi. Mungkin itu karena kebijakan darurat yang telah ditetapkan sekolah. Mereka langsung memulangkan semua muridnya, agar kondisi nya menjadi aman dan terkendali. Apalagi, ada kasus kematian yang mengenaskan. Yang tidak mungkin diperlihatkan sekolah.
“A-aku ….”
Gaia menarik nafas dalam-dalam, segan untuk mengatakannya. Namun, tidak mungkin dia akan menolak pertanyaan dari orang yang telah berkorban nyawa untuknya.
Tapi, apa jawaban yang akan diberikan olehnya? Bukan karena kehendak sendiri, mungkin jawaban itu tidak akan dengan mudah masuk ke akal sehat mereka berdua. Apalagi Kenichi, yang terbiasa berpikir kritis.
“Sebenarnya, aku ….”
“Permisi, kalian tiga orang murid yang tadi dikejar oleh mahkluk itu kan?”
“Iya.”
Yoki menjawab spontan seorang bapak berkumis putih kehitaman yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
“Kalau begitu, bolehkah pihak kami meminta beberapa keterangan dari kalian? Satu orang saja.”
Saat mendengarnya, Yoki dan Kenichi menatap Gaia. Gaia yang menyadari tatapan mereka, pasrah dan menyetujui permintaan bapak itu.
Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya. Mungkin itu adalah peribahasa yang Gaia coba gambarkan di wajah dan hatinya. Bercerita kepada kedua temannya saja, dia sudah ketakutan setengah mati. Apalagi dengan pihak berwajib.
“Terima kasih atas kerjasamanya. Kalau begitu silahkan ikut bapak.”
Bapak itu berbalik dengan Gaia yang mengikutinya dari belakang. Saat mereka berdua sudah menghilang dari pandangan Yoki, dia pun mambalikkan tatapannya ke samping.
“Kenichi, apa kita harus membawakan tasnya?”
“Bagaimana yah, kamu kabari saja Gaia kalau tasnya ada di kamu.”
“Hee jadi aku. Eee … baiklah.”
Yoki menjawabnya dengan nada yang setengah ragu dan setengah tertawa, terlihat dipaksakan dan bisa menimbulkan keraguan pada orang lain.
“Ya sudah.”
Setelah berbelok, akhirnya mereka sampai di depan ruang guru. Mereka memeriksa sekilas ruangan yang terbuka itu. Ada satu orang guru, mereka segera menghampiri guru yang sedang duduk itu.
“Permisi pak, saya dengan Yoki dan Kenichi. Apa kami boleh mengambil tas yang tertinggal di kelas kami?”
Pak guru berbalik dan menatap mereka berdua, lebih mengarah ke arah penanya yaitu Yoki.
“Oh, kalau gak salah sisa tiga tas lagi.”
Pak berdiri dan berjalan ke arah loker yang ada di ruang guru. Kenichi dan Yoki mengikutinya, tentu untuk mendengar maksud dari ucapan tersebut.
“Nah itu, oh yah kalian Yoki dan Kenichi kan?”
Yoki dan Kenichi mengangguk, padahal tadi mereka sudah memperkenalkan diri, tapi malah diulang lagi.
“Tadi kalian dicari oleh pihak kepolisian.”
“Oh yah pak, satu teman kami sudah mewakilinya.”
Yoki langsung memotong ucapannya, dia benar-benar ingin cepat pulang. Suasana di sekolah ini benar-benar mencekam, pikir Yoki. Apalagi bau darah juga telah menambah kenangan buruk di pikirannya.
“Oh, baiklah. Silahkan diambil tasnya.”
__ADS_1
Mereka berdua mengambil tas mereka masing-masing. Sesuai dengan perkataannya, Yoki mengambil pula tas Gaia untuk dia bawa pulang bersama tasnya.