RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~FESTIVAL~


__ADS_3

Tiga hari kemudian, festival yang dinantikan oleh semua orang pun tiba. Festival ini sendiri diadakan di hampir semua tempat yang ada di sekolah. Yah, sebenarnya itu juga disesuaikan dengan perlombaan yang diselenggarakan. Lomba puisi, pertunjukan tari, dan lomba bernyanyi di adakan di aula sekolah yang terletak di gedung yang memiliki sebuah jam besar di atasnya. 


Untuk pertandingan sepak bola dan basket sudah jelas diadakan di lapangan dan untuk turnamen bela diri diadakan di arena bertarung yang sudah disiapkan oleh masing-masing klub beladiri yang ada di sekolah. Begitu pun dengan perlombaan yang lain seperti turnamen game online diadakan di ruangan komputer.


“Haaah ... padahal kalau aku ikut turnamen game online, aku pasti bisa menang dengan mudah.”


Yoki menatap turnamen game yang saat ini sedang berlangsung. Saat mendengar ucapan Yoki, Gaia terlihat murung karena merasa bersalah pada permintaannya. Sedangkan Kenichi langsung menepuk pundak Yoki dengan keras, mengakibatkan Yoki kehilangan lamunannya.


“Tidak apa-apa Yoki, setidaknya kita bisa melakukannya bersama-sama dalam dua perlombaan ini.”


“Iya juga yah. Oh yah, kalian sudah membawa perlengkapan dan peralatannya kan?”


“Tentu saja aku bawa.”


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai juga ke tempat yang akan dijadikan untuk pelaksanaan lomba memasak. Mereka bertiga segera mengeluarkan perlengkapan dan peralatan memasaknya.


“Baiklah, Kenichi kamu potong-potong dulu sayuran ini yah.”


Gaia memberi perintah, sembari menyodorkan sayurannya kepada Kenichi.


“Tentu saja, dengan katana ini semuanya pasti beres.” 


Sambil mengeluarkan sebuah katana kecil yang dia bungkus dan sembunyikan dari balik jaket. Gaia dan Yoki yang melihatnya langsung tersentak kaget sekaligus takut pada benda yang seharusnya tidak normal berada di dapur.


“E-e Ken, apa kamu mau memenggal kepala seseorang untuk dijadikan masakan?”


Yoki gugup dengan tangan yang bergemetar hebat.


“Tentu saja tidak, karena ini adalah hari yang spesial maka aku juga harus membawa senjata spesialku kan?”


“Yah tapi gak usah bawa senjata juga untuk memotong sayur!” 


Kenichi menggaruk-garuk kepalanya saat dibentak Gaia. Sedangkan Yoki mengeluarkan sisa barang bawaan dari dalam tasnya.


“E-e Yoki ... kamu bawa apa itu?”


“Ini ... aku membawa ....”


Ucapan Yoki terhenti saat dia hendak menyerahkan barang bawaannnya kepada Gaia. Wajah Gaia menatap Yoki dengan perasaan setengah geram. 


Bagaimana tidak, kedua temannya telah membawa barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan untuk masakan yang akan mereka buat, bahkan boleh dikatakan melenceng.


“Ehe ... ma-maaf Gaia, ternyata ... listnya tertukar dengan seorang ibu yang kutemui kemarin.”


“Hadeuhhhh ....”


Gaia membongkar bawaan Yoki dan memeriksa isinya. Tiba-tiba, terlintas pikiran untuk membuat sebuah hidangan dari bahan-bahan yang telah dibawa Yoki.


“Ahhh ... aku punya ide, karena di barang bawaan Yoki ada tepung roti, tepung terigu, dan shoyu ... mungkin kita akan membuat katsudon saja. Bisa jadi dengan bahan-bahan yang aku bawa, kita bisa menciptakan rasa yang berbeda.”


Yoki dan Kenichi mengangguk tanda setuju. Sekarang mereka mulai mengolah bahan yang ada untuk dibuat menjadi hidangan yang telah Gaia utarakan. Yang pasti, yang bertugas untuk memotong adalah Kenichi karena seharusnya dia membawa pisau bukan katana dan Gaia serta Yoki sudah pasti tidak bisa menggunakan katana seperti Kenichi.


*****


Setelah memakan waktu sekitar 30 menit, akhirnya mereka bertiga berhasil menyelesaikan hidangannya. Tapi, mereka tidak tahu kalau saat ini mereka sedang diawasi oleh sekelompok orang yang tidak lain adalah kelompok Terasaka yang berjumlah tiga orang.


“CIKH ... aku yakin masakan mereka lebih enak dari kita. Dari sini saja sudah tercium aroma cita rasa dari masakannya.”


“Bagaimana ini, kita harus bermain curang kalau gitu.”

__ADS_1


Teman di samping kanannya memberikan saran, yang membuat kedua orang yang lain ikut melihat ke arahnya.


“Apa kita harus menukarnya dengan bekal milikku hahaha ....”


“Ide bagus, dengan begini mereka akan didiskualifikasi karena membawa bekal dari rumah. Tapi kalah ngak terjadi ... mana mungkin makanan bekal yang sudah dingin bisa memenangkan perlombaan ini.”


Ucapan yang sebenarnya ditujukan untuk bergurau kini telah menjadi sebuah ide cemerlang untuk menjatuhkan Yoki, Kenichi, dan Gaia.


“Nanti kan semua masakan akan dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Kamu cepat tukar bekal milikmu dengan makanan yang telah mereka buat. Sementara, biar mereka tidak curiga ... kita akan menyajikan masakan yang telah kita buat.”


Perintah pria yang ada di tengah diterima dengan sangat baik oleh kedua temannya. Kini rencana akan segera dijalankan karena sesaat lagi, Gaia akan menyerahkan makanan yang telah dia masukan ke dalam kotak untuk diantarkan troli menuju ke meja juri.


*****


Kini penjurian telah dilakukan untuk menilai setiap mahakarya yang telah dimasak oleh semua partisipan yang hadir di lomba. 


Untuk jurinya sendiri, sekolah hanya menyediakan satu juri saja dan juri itu ialah seorang ibu yang telah paruh baya. Satu hal yang biasa bukan, tapi Yoki seperti menganggap juri itu luar biasa dengan matanya yang terbelalak kaget.


Sang juri kini telah sampai ke kotak milik Yoki, Kenichi, dan Gaia. Membuka kotaknya sekilas dan terbelalak kaget saat melihat isinya, begitu pun dengan Yoki, Kenichi, dan Gaia yang berada tepat di depan kotak mereka.


“Hahaha ... untung saja si pengantar makanan itu memiliki fisik yang sama denganku, dan juga berpakaian tertutup dengan jaket hitam dan masker yang dia pakai hahaha ... mati kalian!”


“I-ini ....”


“Bu ... ini bukan makanan ....”


“Tampilan yang begitu simpel, seperti sudah umum di kalangan anak sekolah. Bercak jari di nasi yang menandakan tangan yang sudah tidak sabar untuk menyantap bekalnya. Cita rasa rumahan, dan ... dan tampilan ini!”


Bisa dibilang nadanya yang puitis semakin naik di akhir ucapannya.


Mata juri menatap tajam ke arah Gaia, selaku chef yang memiliki kontribusi besar dalam masakan mereka. Jantung Yoki berdetak kencang, menunggu kritikan tajam yang akan diucapkan oleh juri tersebut. 


Sedangkan Kenichi sangat marah karena ada yang sudah menjahili mereka. Tapi, sudah terlambat bagi Kenichi untuk menyelidikinya.


Bukannya memasang ekspresi senang dan gembira. Mereka bertiga malah memasang ekspresi heran pada keputusan yang diberikan oleh juri itu.


“I-itu kan be-bekal yang diberikan temanku padaku ... jangan-jangan dia adalah ibunya temanku!”


Kedua temannya langsung memalingkan tatapan tajam ke teman yang tadi berbicara. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau hasil dari perlombaan ini bisa dimenangkan oleh masakan yang sebenarnya adalah jebakan yang telah mereka siapkan.


“Selamat yah!”


Juri itu mengulurkan tangan hendak menyalami mereka.


“Eeeee ....”


“Ah sudahlah Kenichi, Gaia. Kita sudah menang, ayo kita salami jurinya dan pergi untuk menyiapkan perlombaan yang berikutnya.”


Yoki mengabur kebingungan kedua temannya dengan menuntun tangan mereka berdua untuk bersalaman dengan juri. Walaupun kemenangan mereka agak aneh, tapi mau bagaimana lagi. Akhirnya ini adalah tentang siapa yang menang dan yang kalah.


*****


“Ba-baiklah, karena perlombaan memasak diselenggarakan bersamaan dengan lomba berjualan. Maka, kita akan memakai bahan yang tersisa untuk menu makanan dalam dagangan kita.”


Gaia menjelaskan, dengan berjalan ke arah ruangan yang diperuntukkan bagi para peserta melakukan kegiatan masak-memasak.


Semua  berjalan baik-baik saja, sampai mereka memasuki ruangan. Mata mereka melihat dengan menunjukkan ekspresi tersentak pada meja yang mereka jadikan sebagai tempatnya untuk memasak. Bukan karena kerapihannya, karena sedari tadi meja itu sudah berantakan. Tapi karena sisa makanan yang mereka taruh di situ, hilang entah kemana.


Yoki dan Kenichi langsung berlari, sedangkan Gaia masih diam menganga di tempat. Bukan hanya sekedar makanan sisa, itu semua adalah masakan yang mereka siapkan untuk lomba yang kedua.

__ADS_1


“Kemana sisa masakan kita tadi?”


“CIKH, sialan!”


Kenichi langsung melampiaskan amarah, pada meja tersebut. Dia menggebrak meja, membuat meja mereka menjadi pusat perhatian untuk sesaat. Tapi hanya sebentar, karena para peserta yang lain punya kesibukannya masing-masing.


“Bagaimana ini Gaia? Lomba berjualannya akan dimulai 30 menit lagi.”


“Haaah ….”


Gaia menunduk, sembari menghela nafas sejenak. Dia tidak mau terus menerus larut dalam kesedihan, Gaia pun mengangkat kembali kepalanya.


“Ehmm, aku rasa kita masih punya waktu. Resepnya masih kita ingat kan, dan … bahan-bahannya masih ada.”


Gaia memalingkan wajah, menatap bahan-bahan yang tinggal tersisa setengah saja. Walaupun setengah bahan mereka telah habis untuk hasil yang tidak berguna. Tapi, setidaknya ilmu dan resep yang tadi telah mereka rancang kini bisa digunakan untuk membuatnya lagi.


“Haaah, baiklah aku sih siap aja.”


Kembali ke wajah yang penuh ketenangan, Kenichi berucap menandakan kalau dia setuju dengan saran Gaia. Begitu pun dengan Yoki yang menyimbolkannya dengan sebuah anggukan.


*****


Setelah memakan waktu yang sebenarnya cukup singkat, kini mereka telah selesai untuk membuat makanan mereka. Mereka pun pergi menuju lapak yang sudah disediakan oleh sekolah ini untuk tempat bagi para peserta menjual makanannya.


“Yosh, sudah siap dan sudah dibungkus.”


“Yo-Yoki, apa kamu melihat masakan yang dijajahkan oleh kelompok Terasaka itu.”


“Tidak mungkin, masakan mereka sama dengan kita!”


Amarah Yoki sudah tidak bisa tertahankan lagi. Dia ingin maju untuk melaporkan kelompok Terasaka yang telah menjual masakan yang sebenarnya dibuat mereka, tapi Kenichi terlebih dulu menahan Yoki untuk tidak maju. Sedangkan Gaia hanya geram meracau dalam hati karena hasil karyanya telah dicuri orang lain.


“Sebaiknya jangan, sekarang jurinya bukan lagi seorang ahli tapi orang-orang yang menjadi konsumen kita. Jika kamu membentak mereka dengan sebutan plagiat maka para konsumen tidak akan percaya karena mereka telah berdagang lebih dulu dari kita.”


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”


“Kita laksanakan strategi pemasaran. Aku ingin meminta Gaia untuk menjadi seorang maid yang akan melayani para palanggan laki-laki. Tentu saja dengan sebuah aktraksi yang akan diperankan olehku dengan ilmu katana dan bela diri yang aku punya. Sedangkan Yoki, aku ingin kamu menyiapkan makanan yang dipesan.”


“Ehh ... tunggu dulu kenapa aku harus jadi seorang maid? Dan ... dan dimana aku bisa mendapatkan seragamnya?”


“Tenang saja, aku bawa ....”


Kenichi mengambil sesuatu dari dalam tas yang digendongnya. Sebuah busana yang terlipat, yang telah membuat Gaia langsung tersentak.


“Pas-pasti kamu sudah merencanakan ini kan!”


“Ho-ho ... tentu saja, ini adalah kesempatanmu untuk bersinar.”


Kenichi berucap, sambil melepas lipatan dan memperlihatkan pakaian itu kepada Gaia. Kedua tangannya memegang pakaian bagian bahu dan bawahnya menggantung.


Sebuah pakaian maid dengan warna hitam dan putih menjadi warna dominan dari busana itu.


“DASAR MESUM!!! Bilang aja kamu mau melihat bentukanku kan!”


“Tidak tidak tidak ... tapi, hmm ... aku juga bawa bando telinga neko loh ....”


Saat Kenichi mengeluarkan bando dengan hiasan telinga kucing yang menempel, Gaia langsung mengecutkan wajah. Pertanda marah, pada rencana terselubung Kenichi.


“Yah, jangan marah Gaia.”

__ADS_1


Kenichi meminta maaf, tapi Gaia tidak menganggap itu sebagai permintaan maaf yang serius.


Sebelum perdebatan ini bertambah panjang, Yoki melerai mereka berdua dan mengelus Gaia agar menjadi lebih tenang. Dengan begitu, rencana mereka dapat dimulai. Walaupun sebenarnya Gaia sangat tidak setuju dengan rencana Kenichi.


__ADS_2