
“Kau siapa?”
Sebuah sosok berdiri segaris dengan Yoki, berada di ruangan yang satunya. Sosok itu memakai sebuah topeng aneh, lebih mirip tengkorak dengan tanduk di kepala.
Sedangkan badannya terbalut pakaian putih yang menutupi hampir keseluruhan tubuh. Hingga bentukan aslinya tidak terlihat, karena rumbai-rumbai berwarna hitam yang menyempurnakan samarannya.
*****
“Apa itu sosok penunggunya?”
Kenichi bertanya sambil melihat ke samping kirinya. Sosok sama seperti yang terlihat Yoki sedang berdiri diam di tempat itu. Begitu pun dengan posisinya yang segaris dan saling bertatapan.
Kenichi bukan takut, tapi menegaskan tatapannya. Dia berjalan ke samping kanan untuk mengambil katana yang ada di situ. Matanya tetap menatap sosok itu, waspada jika ada gerakan yang mencurigakan.
Sosok itu juga mengikuti gerakan Kenichi dan berjalan mengambil katana yang ada di sebelah kirinya. Benar-benar sempurna tiruan gerakan monster itu, hampir sempurna sampai sesaat Kenichi berpikir kalau dia sedang melihat cermin.
“Lepaskan teman-temanku, atau aku akan menebasmu.”
Ancaman Kenichi dia katakan dengan tegas. Namun sosok itu hanya diam. Sekarang keduanya sudah memegang katana. Kenichi juga sudah bersiap-siap, namun tetap menunggu jawaban.
“Apa kau benar-benar tuli yah.”
Kenichi memantapkan pegangan tangannya. Tempo musiknya semakin cepat, kabut pun semakin tebal. Kenichi melangkahkan kaki kanannya duluan dan mulai berlari ke arah sosok itu.
Begitu pun dengan sosok yang juga berlari ke arah Kenichi. Apakah ini akan berakhir dengan sekali tebas? Awalnya keinginan Kenichi begitu, namun entah kenapa hatinya ragu.
“Bayangan.”
Saat masing-masing sudah berada dalam jangkauan katananya, sebuah bayangan muncul dari balik pintu.
“Ahh … Yoki.”
Sejenak ia lega, namun tetap ada kejanggalan di pikiran Kenichi. Pertama, bayangan itu hanya diam padahal awalnya Yoki menggedor-gedor pintu saat Kenichi terkurung di dalam.
“Mungkin dia sudah pasrah.”
Argumennya terbantahkan. Tapi dia menemukan kejanggalan kedua yang meyakinkan. Padahal lorong di depan kamar mereka tidak terkena sinar rembulan dan ruangan ini bukan kamar Gaia.
Kenichi masih saja berpikir, padahal sosok itu sudah mengayunkan katananya.
“Satu-satunya yang kupikirkan adalah ….”
Ia menghentikan langkah, lalu mengayunkan tangan ke kanan untuk melempar katananya ke bayangan yang masih diam di posisi.
Sedangkan katana yang diayunkan oleh sosok tersebut, semakin dekat ke lehernya. Tapi dia sudah pasrah, menerima tebasan yang sepersekian detik lagi akan memotong kepalanya.
Namun, musik terhenti bersamaan dengan suara erangan kesakitan yang memekikkan telinga. Suara itu berteriak kesakitan, darah bercucuran.
“Kenichi ….”
Air mata Yoki mengalir menetes keluar dari matanya, satu tangan menutup mulut. Dia melihat temannya sedang berdiri di depannya. Pedang katana itu lepas dari genggamannya dan menimbulkan suara, saat menyentuh lantai.
Fokusnya sedikit teralihkan karena darah mengalir hingga mencapai kaki Yoki. Berasal dari sosok bayangan yang ada di pintu. Ketika Yoki melirik, barulah dia tahu penyebabnya. Sebuah pedang katana menusuk tepat di leher dari bayangan tersebut. Bersamaan dengan kabut dan musik yang menghilang.
“Kau berhasil, Yoki.”
Yoki melirik kembali, menatap senyuman yang terarah padanya.
“Tapi, aku hampir membunuhmu.”
“Tidak, itu semua hanya jebakan. Namun kamu berhasil keluar dari jebakan itu dengan reflek yang menyelamatkanku juga.”
“Bagaimana kamu tahu tentang jebakan ini?”
“Itu semua hanya insting dan juga gerakan sosok tadi, sama sepertiku. Kebingungan dan ketakutan dengan semua ini hingga dia hanya bisa mengikuti gerakanku. Kalau yang terakhir sih, hanya sebuah keberuntungan orang pintar saja.”
Kenichi mengiringi dengan tangan kanan yang menunjuk kepalanya. Setelah menjawab pertanyaan Yoki, Kenichi berjalan dan membuka pintu ruangan. Saat dibuka, bayangan itu menghilang. Anehnya, Darah yang membaluri katana, serta yang mengalir masih ada dan sangat nyata.
“Misteri ini masih terasa aneh, tapi kita harus menyelamatkan Gaia terlebih dulu.”
Kenichi berdiri kembali dari jongkoknya dan meneruskan perjalanan. Setelah berkeliling mencari, akhirnya mereka menemukan Gaia sedang tertidur di salah satu ruangan. Dia tidur dengan posisi tertelungkup dan menghadap ke gaun yang terlipat di depannya.
Gaun itu berwarna merah muda, dengan kelopak bunga berjumlah dua belas sebagai pelengkapnya.
“Apa karena gaun itu?”
“Entahlah Yoki, kita bawa dulu Gaia ke kamarnya.”
Saat mereka mau menggendongnya, sebuah suara terdengar entah darimana.
“Nak, nak … bangun nak. Sampai kapan kalian mau tidur di sini?”
Kenichi terheran. Tempat kembali berubah menjadi onsen yang mereka pakai berendam tadi. Sedangkan Yoki yang penasaran menoleh ke belakang, karena suara tadi terdengar dari belakang.
“AHHHH!!!”
“Ada apa sih ?!”
“Setannya bapak-bapak.”
“Mana ada, bapak emang manusia.”
Yah, tidak sesuai ekspektasi Yoki. Sosok yang muncul bukanlah setan maupun monster, tapi hanya seorang manusia biasa.
Di saat mereka berdua masih berdebat tidak jelas. Kenichi merilekskan lagi badannya dan terbentuklah sebuah pertanyaan yang masih tidak ada jawabannnya.
“Benarkah itu sebuah mimpi? Namun segala yang aku terasa nyata. Darah, atmosfernya, dan bahkan, Yoki juga seperti mengalaminya juga.”
“Kami akan keluar sebentar lagi.”
__ADS_1
Bapak itu pergi dan meninggalkan mereka berdua.
“Apa kamu juga bermimpi Yoki?”
Yoki menjelaskan tentang mimpinya. Kenichi yang mendengarkan sedikit tersentak namun kembali tenang. Mimpi yang dialami sama persis dengan apa yang dialami oleh Kenichi. Namun, satu jawaban yang pasti adalah bertanya pada Gaia.
“Aku juga merasa begitu, bahkan anu mu juga masih kecil.”
“Anu mu itu apa sih?”
“Eee ....”
Keesokan harinya Kenichi, Yoki, serta Gaia pulang dari sana. Mereka memilih untuk berjalan kaki, walaupun hari sudah hampir menjelang siang.
“Kenichi, Yoki.”
Gaia bercerita tentang pengalamannya kemarin. Saat di onsen, dia bermimpi berada di penginapan itu. Namun semua tiba-tiba sunyi sepi. Suara musik koto terdengar dan penginapan itu diselimuti kabut. Gaia ketakutan dan berlari kesana kemari.
Langkahnya terhenti saat melihat satu ruangan yang terbuka dengan gaun terlipat yang terterpa sinar rembulan. Dia masuk dan mengamati gaun itu, namun kepalanya terasa pusing saat menghitung motip kelopak bunga yang ada di gaun tersebut.
Hingga dia selesai menghitung dan menyebutkan jumlahnya, badannya terjatuh tidak tahan akan pusingnya.
Saat Gaia sudah menyelesaikan ceritanya. Hanya satu kata yang keluar dari mulut Yoki dan Kenichi.
“A-pa?”
“Uhmmm, ada apa dengan kalian?”
“Eeee … tidak, tidak. Tidak ada apa-apa.”
Yang mengambil inisiatif adalah Yoki, sedangkan Kenichi ikut menyimbolkannya sebagai sebuah lambaian kedua tangan.
Gaia heran, tapi tidak ingin meneruskan masalah ini. Akhirnya, mereka bertiga pulang dalam diam karena ucapan dan kejadian tadi.
Keesokan harinya, di sekolah ….
“Hari ini, ibu ingin memberikan sebuah pengumuman kalau hari kamis besok akan ada seorang tamu spesial yang datang ke sekolah kita.”
Semua langsung memasang wajah yang penuh rasa penasaran. Tentunya ini berita baik, dibalik mata pelajaran yang rumit. Bisa dibilang sebagai jeda dari pelajaran yang benar-benar membuat mereka lelah.
Itu buat yang masih bertahan, tapi kalau yang sudah tumbang tentu tidak akan mendengar pengumuman ini. Dia adalah Yoki, yang sedari tadi masih tidur di saat guru sedang menerangkan.
“Siapa itu bu?”
“Dia adalah Ichiro Takao putra dari seorang pengusaha yang ada di kota ini. Kalian pasti kenal kan?”
Mendengar nama itu, telah membuat ekspresi semua murid berubah heran. Mereka semua saling berpandangan, ada juga yang berbisik-bisik di depan gurunya.
“Bu, ada urusan apa? Sampai putra pengusaha besar itu, datang ke sekolah ini.”
“Katanya sih mau memberikan hadiah, jadi kalian tunggu saja.”
“Baiklah, sekarang yang maju ke depan adalah Yoki.”
Sembari berbalik dari papan tulisnya, guru tersebut memutar badan dan pandangannya untuk melihat Yoki yang duduk di pojok kiri kelas.
Namun amarahnya naik tiba-tiba. Alasannya, karena Yoki yang dimaksud sedang tidak ada di kelas, dalam artian kesadaran dan pikirannya. Sedangkan tubuhnya masih tetap menempel pada kursinya.
“Yo-ki.”
Gigi bu guru bergemeretak hebat, geram bisa menjadi penyebabnya. Dia berjalan perlahan, sedangkan semua murid menjadi penonton. Bisa dibilang mereka antusias, pada apa yang akan diperbuat guru mereka. Yah sedikit tontonan, di kala menyimak mata pelajaran yang memusingkan.
“Yummm … yummm … yummm … enak nya. Haaah, aku mau makan onigiri itu.”
Mimpinya bocor oleh karena ketidak sengajaan Yoki. Mimpi itu didengar gurunya, karena sekarang dia sudah berdiri persis di samping Yoki.
“Hoho, rupanya Yoki ingin segera pulang dan menyantap makan siangnya. Hmmm, baiklah ….”
Ancang-ancang diberikan, tangan kanannya diarahkan ke belakang. Guru itu memposisikan kuda-kuda pada kakinya dan menajamkan tatapannya.
Sedangkan para penonton, secara sukarela mau menonton aksi di depan mereka. Mereka semua, kecuali Kenichi dan Gaia yang mengkuatirkan Yoki.
“Hyattt!”
Tangan kanan itu meluncur cepat dan mengenai pipi Yoki dengan sangat kerasnya.
“Head shot!”
Itulah kata-kata yang dikeluarkan para penonton untuk mengomentari tamparan gurunya. Benar-benar tidak ada ahklak, mereka malah menjadikan itu sebagai hiburan di kala pelajaran.
Sedangkan sang korban, terkapar di lantai dengan kesadaran yang telah pulih. Tapi bisa dibilang mengenaskan, karena wajahnya mencium lantai dengan sangat keras.
“Makan tuh lantai!”
“AMPUN!!!”
Saat pulang sekolah ….
“Adududuh, sakit sekali wajahku.”
Di lorong sekolah, Yoki berjalan bersama Kenichi. Dia sedari tadi terus memegangi pipinya yang sudah merah.
“Haaah, lain kali jangan sampai ketiduran lagi.”
“Mana mungkin aku melewatkan event menarik yang ada di gameku, kau tahu item yang ditawarkan dalam game itu sangatlah langka. Mana mungkin aku melewatkannya.”
Yoki langsung berbalik dan menatap Kenichi dengan antusias. Padahal tadi dia lesu karena meracau tentang rasa sakitnya. Tapi kalau sudah berbicara masalah game, dia langsung bersemangat.
“Aku tidak mengertilah masalah game. Oh yah, Gaia di mana?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, membuat Yoki memaling-malingkan pandangan ke segala arah. Tapi percuma saja, karena hanya ada murid-murid lain di sekitar mereka.
“Entahlah, mungkin dia pulang duluan.”
Di saat mereka ingin melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang memaksa mereka untuk menghentikan langkah. Suara itu berasal dari kamar mandi yang ada di sebelah kanan mereka.
Langsung berlari, mereka penasaran dengan suara itu. Suara itu jelas dihasilkan oleh barang yang pecah, yang jelas adalah bahan yang terbuat dari kaca.
“Kaca cermin kah?”
“Aku yakin iya.”
Yoki menjawab dan menyetujui pertanyaan Kenichi. Tapi, langkahnya berhenti di depan dua pintu yang bertuliskan toilet untuk laki-laki dan toilet untuk perempuan.
“Apa kamu yakin mau masuk?”
“Haaah, sejujurnya aku kuatir. Kita tidak bisa membiarkan ini, setidaknya kita harus memastikannya.”
“Benar juga sih, jangan sampai kita terlambat karena diam dan mengabaikannya. Jika sampai terjadi sesuatu dan kita hanya mengabaikannya, aku juga sangat takut dan yang pastinya menyesal dengan sangat.”
Balasan Kenichi disetujui dengan simbol anggukan dari Yoki. Sekarang mereka sudah menentukan keputusan dan kembali berlari masuk ke dalam toilet wanita.
Terkejut, mungkin merupakan ekspresi yang tepat bagi mereka. Seorang siswi yang mereka kenal, bahkan tadi baru dibicarakan, sedang terkapar dengan kepala yang terluka.
Mereka berdua menghampirinya, Kenichi sekilas melihat cermin yang ternyata benar dugaannya. Pecah karena terbentur sesuatu. Mungkin terbentur kepala siswi itu, karena kepalanya terluka dan ada pecahan kaca di kepalanya.
“Gaia, Gaia ada apa denganmu?”
Yoki menunduk dan menggoyangkan tubuh Gaia. Masih diam, tidak ada reaksi yang keluar darinya.
“Gaia.”
Kenichi ikut memanggil namanya. Berkali-kali dipanggil, akhirnya Gaia kembali sadar. Walau matanya membuka sangat pelan.
“AHHHHHHHH ….”
Aneh, itulah gumaman Yoki saat melihat Gaia yang tiba-tiba berteriak kepadanya. Bahkan bukan hanya teriakan, tubuhnya pun langsung tersentak ke belakang.
Setelah matanya terbuka sepenuhnya, kesadarannya pun kembali penuh.
“Haaah … haaah .…”
Gaia menghela nafas perlahan, dia akhirnya sadar kalau mereka berdua adalah temannya.
“Ada apa denganmu? Apakah yang dibenturkan ke cermin adalah kepalamu?”
Sedikit gugup, Gaia menelan ludahnya. Dia menghela nafas, bersiap untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.
“I-iya. Tadi, aku diganggu oleh suara-suara yang ada di telingaku.”
“Maksudmu?”
Ketika ditanya Kenichi, Gaia langsung memalingkan pandangan ke samping. Dirinya enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Benar-benar mengerikan, pikirnya.
“Aku, tidak mau membahasnya.”
“Apa kamu bisa berdiri?”
Sekarang, giliran Yoki yang bertanya.
“Haha, tenang saja aku bisa kok.”
Yoki merasa lega, tapi tidak begitu dengan Kenichi yang masih belum puas dengan jawaban Gaia.
“Tapi kita, harus mengobatinya dulu kan.”
Kenichi berbicara kepada Yoki, menyebabkan Yoki menatap ke arahnya.
“Ehhh, ga papa kok aku membawa perban dan obat-obatan lainnya.”
Bukan hanya sekedar ucapan, Gaia juga mengambil sesuatu dari dalam tas yang ada di dekatnya. Sebuah perban berwarna putih dan beberapa obat yang lainnya tersedia dalam kedua tangannya.
Kenichi lega dan Yoki juga langsung berdiri.
“Apa kamu bisa berdiri?”
Gaia mengangguk sembari tersenyum ke arah Yoki, ini dibuktikan dengan badannya yang berusaha untuk berdiri. Setelah berhasil, barulah dia mengobati lukanya.
“Udah, gak perlu dikuatirkan.”
“Haaah, kamu benar-benar membuat kami takut.”
Walaupun jawaban belum didapat, setidaknya Kenichi lega kalau Gaia tidak apa-apa.
“Terus bagaimana dengan cerminnya?”
Pertanyaan Gaia membuat Yoki dan Kenichi berpaling ke kaca cermin yang sudah pecah.
“Untungnya, sekarang sekolah sedang sepi. Jadi kita bisa diam-diam menyelinap keluar.”
“Iya sih, aku juga bakal izin kalau aku sedang sakit.”
“Berarti kamu gak masuk besok?”
Menundukkan kembali kepalanya. Gaia mencoba memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Yoki.
“Yah, sebenarnya untuk tiga hari.”
Mengangguk, pertanda puas pada jawaban tersebut. Sebenarnya Yoki tidak ingin mempermasalahkannya, cuma bertanya karena penasaran.
__ADS_1
Akhirnya, setelah mengobrol sebentar mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing. Gaia pulang bersama Yoki dan Kenichi, seperti biasanya pulang sendiri.