RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~SIAPA YANG AKAN UNGGUL?~


__ADS_3

“Aku sudah lelah …,” tendangan dari belakang dan pukulan dari depan. Itu semua akan menghantam Kenichi dengan sangat keras, “Lelah dengan keegoisan dan kemunafikan kalian!”


Seketika amarahnya menjadi kekuatan. Kemarahannya seperti api, tapi pikirannya tenang seperti laut yang dalam. Dia mengendalikan semuanya, hanya dalam hitungan detik.


“Ini adalah teknik yang aku ciptakan sendiri dengan kemarahan yang menjadi amunisiku dan ketenangan yang menjadi pistolku.”


Tindakan yang tidak terduga dari Kenichi. Dia menggunakan salto, dia bisa mengambil keputusan dalam waktu sepersekian detik sebelum kaki lawannya menghantam target.


Lawan yang ada di belakangnya sih hanya bisa ternganga, karena Kenichi bisa menghindarinya dengan sangat cepat.


Sedangkan yang di depan, dia sih tidak peduli entah itu salto atau bukan, yang penting tinjunya kena dan menghantam tubuh Kenichi. Keputusan yang ceroboh sih, makanya dia pun terkena imbas.


Kaki Kenichi berhasil mengenai kepalanya, sedangkan lawan yang ada di belakang, tangan Kenichi sudah mencengkram rambut pria itu dengan sangat kuat.


“Kenapa … kenapa kau masih tetap kuat setelah menghadapi semua ini?”


“Hidup akan terus mengejarmu, yang perlu dan hanya bisa kau lakukan hanyalah … melawan.”


Bersamaan dengan itu, Kenichi langsung menarik rambut lawannya. Pria itu masih ternganga, dia masih merenungi perkataan Kenichi. Sedangkan tanpa sadar, tubuhnya sudah terlempar ke arah rekan-rekannya.


“Karena orang yang hanya mengikuti alur, dia tidak akan mengerti arti hidup yang sebenarnya.”


Kenichi telah selesai mendarat. Dia tidak menyia-nyiakan waktu, langkah selanjutnya adalah melempar batu ke Terasaka.


Di saat orang yang tadi dia lempar masih melayang, dia langsung melemparkan batu ke arah Terasaka. Ukurannya sih lumayan, yang penting pas di genggaman Kenichi.


Apa makna di balik rencana Kenichi? Pertama, orang yang Kenichi lempar akan secara tidak langsung menghalangi tubuh Kenichi. Orang itu berbadan lumayan besar dan telah mengambil fokus yang lain. Artinya, mereka tidak melihat tindakan Kenichi selanjutnya, sampai … sebuah batu melintasi mereka semua.


“Ada batu yang mengarah ke arah Terasaka.”


Fokus mereka teralihkan lagi, sekarang semua langsung menghadap ke belakang. Mereka teralihkan dari Kenichi dan orang yang tadi melayang.


“Terasaka, awas!”


Telinga Terasaka mendengar peringatan itu, dia langsung menghindar ke samping kiri.


“Dasar bodoh, targetku bukanlah Terasaka … tapi yang ada di belakang.”


Untuk sesaat, mereka bisa bernafas lega. Tapi tidak untuk waktu yang lama. Batu itu memang tidak mengenai Terasaka, tapi mengenai Play House di belakangnya. Play House yang ada di belakang Terasaka lumayan besar, yah untuk ukuran Play House. Tingginya saja mencapai 4 meter, cukup besar bukan.


Apa yang membuat mereka tersentak adalah dampak Play House setelah terkena hantaman batu. Tiba-tiba Play House itu bergetar hebat. Sesaat kemudian, Play House yang terbuat dari kayu itu goyah dan runtuh.


Secara reflek mereka langsung berlari menghampiri Terasaka, mereka ingin menyelamatkan bosnya dari cedera yang parah.


“Kalian kira bisa mengalahkanku di sini. Ini adalah taman tempat aku bermain dulu. Sejak pertama kali aku pindah ke sini, struktur wahana ini memang sudah rapuh dan tidak layak untuk dinaiki.”


Kenichi menghentakan kaki dan juga berlari menghampiri Terasaka. Dia tidak mau didahului mereka, agar rencananya berjalan lancar.

__ADS_1


“Ahhh … tidak kusangka, suatu saat wahana ini bisa berguna juga.”


Mereka semua masih fokus dengan Terasaka, sampai ada sesosok yang mendahului mereka. Sosok itu telah menjadi pusat perhatian dan saat dia memalingkan kepala.


“Kenichi!”


Sekarang kedua pihak saling bertatapan. Pihak Terasaka yang memasang wajah heran dan Kenichi yang memasang senyuman. Yah, Kenichi hanya mau menyapa mereka sedikit.


“Yo, jadi bagaimana rasanya ... dikalahkan?”


“Bangs*at!!!”


Percuma saja mereka mempercepat langkah, kecepatan Kenichi jauh melebihi kemampuan mereka. Yang duluan mendapatkan Terasaka adalah pemenang dan yang menjadi pemenang adalah Kenichi.


Dengan segera, Kenichi menyelamatkan Terasaka yang hampir tertimpa reruntuhan rumah dan langsung membuatnya menjadi tawanan.


Kini mereka hanya bisa marah, meracau pada kesalahan dan keteledorannya. Sedangkan Terasaka, walaupun dia sudah diselamatkan, sepertinya kekalahan itu telah menghapus kebaikan Kenichi.


“Jadi, bagaimana?”


Kenichi bertanya dengan satu tangan yang masih menyekap Terasaka. Sedangkan, Play House yang runtuh itu sudah berserakan di tanah.


“Bagaimana yah, kami kira dapat melindungi pemimpin kami lebih baik. Tapi, ternyata kami gagal dalam test ini.”


Kenichi sedikit heran.


“Alasan kenapa kami mau mengikuti Terasaka dan tunduk pada perintahnya, karena ini adalah sebuah ujian bagi kami. Jika berhasil, kami akan naik pangkat dan melindungi bos dengan jabatan yang lebih tinggi.”


“Kau serius?”


Dari ekspresi mereka saja sudah terlihat. Padahal reaksi mereka tadi dramatis, tapi kenapa sekarang jadi berubah 180 derajat. Kemana wajah gelisah yang mereka tunjukan tadi? Malah sekarang, rasanya mereka sudah tidak peduli lagi pada nasib Terasaka.


Ketika Kenichi menyimpulkan berdasarkan wajah mereka, dia amat kesal. Dia tidak menyangka kalau tawanan yang saat ini dia sekap sudah tidak berharga. Apa cuma sejauh ini hasil yang dia dapat sedari tadi.


“Hahaha … terkejut Kenichi?”


Bukannya meminta tolong untuk dilepaskan, Terasaka malah memanas-manasi orang yang menyekapnya. Kenichi yang menatapnya saja sudah sangat sebal.


“Bodoh, kenapa kau menjual harga dirimu. Apa ini yang kau inginkan? Hanya menjadi mainan karena dendam. Sepertinya, memang pantas ibumu tidak mengucapkan kata-kata terakhir padamu.”


Walaupun marah, Kenichi tetap tidak kehabisan akal. Dia juga memanas-manasi Terasaka. Hasilnya, lagi-lagi Terasaka yang kalah secara emosi, dia sudah duluan terpancing emosi. Yah, jika Terasaka sadar sih, yang dikatakan Kenichi hanya sebuah gertakan belaka.


“Apa yang kau mau katakan pemb*nuh? Apa kau mau bilang kalau ibuku tidak mau hidup bersamaku?”


“Itu tergantung pemahamanmu, hanya orang bijak saja yang mengerti artinya.”


“Sialan kau, kubunuh kau!!!”

__ADS_1


Terasaka terus menggeliat. Tapi percuma, sekapan Kenichi jauh lebih kuat. Walaupun tinggi badan mereka tidak sama (lebih tinggi Terasaka) tapi Kenichi masih tetap unggul.


“Percuma, kau diam saja.”


“Ya kah?”


Senyum itu, Kenichi merasakan perasaan yang tidak enak. Tapi sudah terlambat, dari arah belakang sebuah peluru sudah mengenai leher Kenichi.


Sekapan tangannya terlepas dan itu yang dimanfaatkan Terasaka untuk membebaskan diri. Kesadaran Kenichi sedikit teralihkan karena tembakan tadi.


“Apa, aku akan mati?”


Sedangkan langkah Terasaka tidak berhenti sampai di situ saja. Dia langsung membalikkan keadaan dengan menyekap Kenichi.


“Apa yang terjadi?”


“Wah, wah, wah, hebat sekali kau bisa menahan rasa sakit yang diberikan peluru ini. Walaupun cuma karet, tapi kecepatannya mencapai 60 meter per sekon.”


“Jadi yang tadi itu pistol mainan.”


Sekarang keadaan kembali berbalik, Terasaka sudah bisa tertawa. Keunggulan kembali di tangannya, setelah berhasil menyekap Kenichi. Hal ini berbanding terbalik dengan sang lawan, gertakan gigi menjadi tanda bagi Kenichi yang sedang marah.


“Huhu, jangan marah gitu dong. Lagipula, lebih baik aku tidak menggunakan menggunakan peluru asli. Karena, aku ingin … kamu mati dengan tersiksa.”


“Dasar sampah!”


“Baiklah, kalian boleh menyiksanya. Tenang saja, aku akan melaporkan yang baik tentang kalian.”


Para bawahan Terasaka datang menghampiri. Akhirnya tiba juga waktu untuk bersenang-senang. Bagi mereka, menyiksa orang adalah sebuah hiburan tersendiri. Apalagi, sekarang mereka sudah aman karena target sudah didapat. Tinggal memikirkan promosi yang akan mereka terima dari atasan.


Suara pletekan tangan berbunyi. Sumbernya bukan hanya satu, melainkan berasal dari orang-orang yang ingin menyiksa Kenichi. Nafsu itu diwaspadai oleh mata Kenichi. Dia kembali menatap ke depan, melihat ancaman nyata yang sedang datang.


“Waktunya memberikanmu hadiah anak kecil.”


Tatapan dan senyuman bengis disajikan untuk Kenichi. Mereka hendak meninggalkan kesan menakutkan pada orang yang akan disiksa. Apa rengekan atau jeritan yang akan mereka terima? Lihat saja, sebentar lagi mereka akan mendapatkan hasil.


“Nishimura, menurutmu bagian mana yang enak untuk disiksa terlebih dulu.”


Para bawahan Terasaka sedang berkumpul, meninggalkan Terasaka yang masih dalam tugas penyekapan.


“Kenapa kita tidak cabut kukunya dulu?”


“Lumayan.”


“Aku sih rambut.”


Pria berambut pendek yang ada di sampingnya memberikan saran.

__ADS_1


“Bagus juga sih, cuma kurang aja sensasinya.”


__ADS_2