
Pak polisi langsung berlari layaknya seekor hewan buas, begitu pun dengan perilaku yang lain. Mereka telah mempraktekan kanibalisme yang mengerikan, satu sama lain saling memakan, tanpa peduli pada keadaan tubuhnya sendiri. Gaia sangat menikmati itu, menatap dengan senyuman saat melihat apa yang mereka lakukan. Dialah yang paling sadis, sifat Gaia yang sebenarnya.
Dalam kurun waktu 5 menit, mereka semua sudah kehilangan lebih dari tiga perempat bagian tubuh. Tapi, tetap saja kanibalisme itu terus terjadi. Mungkin kalian melihat sesuatu yang aneh di sini. Yah, benar. Nafsu makan mereka telah mengalahkan kematian. Walaupun sudah tidak ada perut, mereka terus mengigit, mengunyah, dan menelan makanan yang telah diproses.
“Ahhhh … indahnya. Aku sudah lama sekali tidak melakukan ini, mungkin terakhir kali aku lakukan ini pada sebuah desa yang menentangku.”
Gaia masih terbuai dengan kenangannya, dia begitu menikmati setiap masa lalu yang telah ia lalui. Hingga saat matanya menatap orang-orang yang telah menjadi tulang, dia pun menutup buaian tersebut.
“Baiklah, waktunya aku menghapus ini semua.”
Gaia berjalan mendekati tulang-tulang yang berserakan di tanah. Begitu bersih, tidak ada satupun daging yang tersisa dari tulang itu. Yang ada hanya darah dengan bau semerbak yang menjadi ciri khasnya.
“Berkah kerakusan … pemakan segala!”
Tanda pentagram terproyeksi tepat di atas tumpukan tulang. Berwarna merah cerah pada awalnya, hingga mengeluarkan sesosok monster dari dalam. Berwujud seperti ulat, putih pucat, tanpa mata, hanya mulut berbentuk lingkaran yang ada.
Untuk ukuran, tentu saja dengan wujud yang mengerikan itu, ukuran raksasa telah benar-benar menampilkan eksistensinya. Dengan panjang 3 meter, makhluk itu bahkan bisa menelan manusia secara utuh.
“Ahhhh … kau memang cantik seperti biasanya, Nimphhh.”
Tidak ada respon. Sekarang, setengah badan Nimphhh ke atas untuk berdiri sambil menghadap ke tulang-tulang di hadapannya.
“Sekarang juga, makan keberadaan mereka di dunia ini. Makan jiwa-jiwanya!”
Perintah dilaksanakan. Dengan mulut melingkar itu, dia mulai menyedot tulang-tulang ke dalam tubuh. Mulutnya akan membesar sesuai ukuran tulang yang hendak di sedot. Gaia yang melihat itu merasa puas dan bahagia, apa yang tersaji di depan mata adalah … seni.
“Ahhhhh … hahaha ….”
Benar-benar tontonan yang menarik, sampai-sampai membuat tawanya tak terhenti.
“Hampir saja aku tergoda lagi, haaah … baiklah.”
Gaia berjalan menghampiri meja tempat dia diinterogasi tadi. Di situ, tergeletak sebuah tulang. Gaia memungutnya, lalu berjalan ke dekat Nimphhh yang masih sibuk menyedot jiwa.
“Kau, makan juga jiwa dari pemilik tulang ini.”
Nimphh menurut, perintah Gaia adalah prioritas. Dia menghentikan pekerjaan tadi dan menyeret tubuhnya ke hadapan Gaia. Memajukan tangan, Gaia menyerahkan tulang untuk dimakan oleh Nimphhh.
“Baiklah, sekarang urusanku sudah selesai. Sekarang, semuanya telah aman.”
Gaia berbalik badan, hendak meninggalkan ruangan dan Nimphhh yang masih menyedot jiwa. Memang sih dia ada di kantor kepolisian, tapi sekarang itu semua bukan menjadi masalah yang berarti lagi. Keberadaan Eiji dihilangkan, yang artinya kasus yang menimpa Gaia telah hilang dari peradaban dunia.
Begitu pun dengan kelima polisi tadi. Keberadaan, identitas, kenangan, atau semua yang membuktikan kalau mereka ada di dunia, telah habis ditelan oleh mahkluk bernama Nimphhh itu.
Kini Gaia bisa berjalan santai, melewati kerumunan polisi yang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan keberadaan Gaia, mereka hanya menganggap dia sebagai gadis biasa. Seolah-olah, dia tidak memiliki masalah dengan pihak berwajib.
“Haaah, sekarang … waktunya aku menyerahkan berkah ini pada Beelzebub.”
__ADS_1
Gaia memilih hutan menjadi tempat untuk memanggil Beelzebub. Bukan tanpa alasan, hutan di situ begitu sepi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia.
“Beel!”
Sesuatu menyahuti panggilannya. Pertama masih dalam bentuk asap tebal berwarna putih, yang membumbung tinggi di depan Gaia. Lalu dari situ keluar sosok yang dia sebut sebagai Beelzebub. Berjalan dengan dua pasang kaki, Beelzebub masih memasang wajah yang sama saja. Buruk rupa, tak ada ekspresi yang keluar dari sana.
“Ambil berkah ini.”
“Apa kau yakin?”
“CIKH, hentikan rencana kejammu. Aku sudah tidak kuat untuk menahan nafsu kerakusan sedari tadi, cepat!”
Beelzebub masih diam, itu tandanya dia membangkang.
“Kalau ….”
“Br*engsek! Kalau kau tidak melepaskan ini, aku akan memakanmu sekarang!”
“Haaah … berlagak, seolah-olah kamu memang lebih kuat dariku. Ya sudah, aku lepaskan.”
Mulut bertipe penghisap itu menyedot aura yang menyelimuti tubuh Gaia. Semula sangat hitam pekat, namun lama kelamaan berkurang dan akhirnya menghilang. Gaia yang tubuhnya sudah selesai disedot pun tumbang. Untung kedua tangannya sudah siap menopang tubuh agar tidak jatuh menyentuh tanah.
“Sekarang kau sudah seperti … eee, mahkluk menjijikan itu.”
“Ja-ngan meremehkan manusia … Beelzebub.”
“Kau tidak punya hak untuk berbicara denganku, mahkluk kotor.”
Sedangkan bagi Beelzebub, diri Gaia yang satu ini adalah salah satu bentuk kejijikan di mata. Dia pun membuang pandangan, daripada harus menatap pemandangan yang bisa membuatnya kesal.
“Bukannya kita satu ras, berarti kamu juga kotor.”
“Berani juga ucapanmu itu. Lagipula, apa kamu tidak apa-apa?”
“Tidak, aku … baik-baik saja.”
Apa semuanya baik-baik saja, saat tubuhnya sedang bergemetar hebat? Mungkin tidak. Beelzebub tahu, kalau kenyataan berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan Gaia.
“Apa ekspresi itu menunjukkan keadaan yang baik, kurasa tidak.”
Beelzebub mendekati tubuh Gaia, dia memamerkan mata majemuknya di depan gadis itu. Gaia tidak tahu, ekspresi apa yang terpancar dari wajah buruk rupa itu. Tapi dia sadar, kalau ketakutan telah terangsang ke tubuhnya. Alhasil, tatapan Gaia menjadi goyah di depan mata Beelzebub.
“Kamu tidak bisa membayangkan perbuatan yang kamu lakukan itu bukan?” Beelzebub menyentuh jantung Gaia, “Disini, yang biasa disebut hati itu telah berhasil mempengaruhimu hingga menjadi seperti ini.”
Wujud Beelzebub telah menjadi nilai tambah untuk memberikan serangan mental kepada Gaia. Badan yang seperti monster, ekspresi yang tertutupi oleh segala aksesoris di wajah.
Gaia takut, tapi dia juga memegang sesuatu. Itu adalah komitmennya, janjinya, untuk semua perbuatannya. Dia sudah mendapatkan kebaikan dengan kebangkitan Yoki dan Kenichi. Apa itu gratis? Entahlah, tidak ada yang tahu. Tapi stigma masyarakat akan berkata kalau itu adalah sebuah kesempatan.
__ADS_1
Kesempatan baginya untuk tidak terjatuh lagi ke lubang yang sama. Yah, dia masih tetap teguh kok dengan pegangan itu. Dia menatap wajah buruk di depan, tidak usah pikirkan wujud atau apapun itu, yang penting … apa yang sudah dipegang jangan dilepaskan kembali.
“Sudah kubilangkan kalau lima tahun yang lalu itu terjadi bukan karena kehendakku. Itu karena keegoisan keluargaku semata, yang menganggap kalau aku ini adalah anak ajaib.”
Beelzebub menjauh, kemudian berbalik lagi.
“Kau yakin?”
“Apa maksudmu?”
Gaia agak sedikit memiringkan kepala. Tapi dia tidak dapat melihat wajah Beelzebub lagi, karena tubuh Beelzebub sudah membelakangi Gaia.
“Nanti kamu akan tahu sendiri, disaat itulah … kamu akan memakai berkah ini secara sukarela.”
“Haaah … baiklah. Lagipula aku masih akan memakai berkah itu nanti, atau mungkin tidak untuk selamanya.”
“Ya … ya … ya … aku akan kembali ke dalam dan menonton kehidupanmu yang satu ini.”
“Beelzebub.”
Sebuah panggilan yang membuat Beelzebub kembali ke hadapan Gaia. Dia melihat sebuah senyuman, senyuman yang diartikan secara sempurna. Tanpa ada apapun yang disembunyikan.
“Apa … aku terlihat cantik dengan seragam ini?”
Beelzebub terpesona, walaupun terhalang oleh wajah yang buruk rupa. Di tempat itu dia terpana, Gaia dengan senyuman bukan lagi menjadi tontonan yang tidak pantas. Malahan itu adalah karya seni yang sesungguhnya.
“Ga-Gaia ….”
Hingga mampu membuat Beelzebub menangis. Tapi untung saja itu semua ditutupi dengan wajah yang menghadap ke bawah, dengan ditambah oleh tangan yang menampung air mata. Beelzebub tidak mau terlihat menangis di depan mata Gaia, kalau itu terjadi, bisa hancur jati dirinya.
“Be-Beelzebub.”
“Aku akan pergi sekarang. Ingat Gaia, waktumu untuk memutuskan sudah dekat.”
“Tenang saja,” Gaia mendekat dan malah mengelus punggung Beelzebub yang masih membungkuk, “Walaupun masa lalu berhasil menangkapku, aku tetap akan bertahan. Karena aku … akan terus maju.”
Beelzebub tidak mau membalas Gaia lagi. Air matanya akan terus terisak kalau dia masih menggerus waktu. Beelzebub pun bangkit, menepis elusan Gaia, tanpa melirik bola mata Gaia sedikitpun.
“Terserah.”
Walaupun tatapannya tidak dibalas, Gaia masih tetap memajang senyumannya. Dia tahu, ada sisi lain yang baik dari Beelzebub. Dibalik seluruh penampilan yang mengerikan ini.
“Apapun yang kamu katakan, aku akan langsung menonton semua keputusanmu nanti. Disitu, aku akan melihatnya. Melihat pilihan yang akan kamu ambil.”
Beelzebub tidak butuh balasan Gaia, dia langsung menyembunyikan keberadaan dengan asap putih yang terselimuti di sekitar Beelzebub. Gaia agak mundur ke belakang, sampai jangkauan asap itu tidak mengenainya. Semenit kemudian, asap yang tebal itu menipis dan habis tak bersisa. Meninggalkan Gaia yang sendirian sekarang.
“Aku juga tidak tahu, apa yang dimaksud dengan tujuanku. Tapi … ahh sudahlah, aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengan mereka berdua. Sampai … apa yang diperingatkannya benar.”
__ADS_1
Merubah haluan kaki, Gaia berjalan meninggalkan hutan. Di sepanjang perjalanan, dia masih dibebani dengan berbagai macam pemikiran. Kemungkinan di masa depan, memori di masa lalu. Terlalu banyak yang terngiang, bisa-bisa dia jadi depresi karena itu.