
#Mungkin bisa dibaca dengan lagu kokoronashi 😂😂😂, tapi terserah sih.
“Adududuh, kenapa … kepalaku pusing sekali?”
Samar-samar Yoki membuka matanya perlahan. Kesadarannya sudah mulai pulih, walaupun belum sepenuhnya. Rasa dari pukulan Kenichi memang masih berbekas pada tubuh Yoki, jadi saat dia sadar, dia memegangi leher yang terkena pukulan Kenichi tadi.
“Ahh yah, kalau tidak salah aku dan Kenichi tadi ….”
Ingatan Yoki juga kembali pulih. Dia sadar kalau tadi Kenichilah yang memukulnya. Rasa kuatir Yoki muncul karena dia tahu alasan Kenichi melakukan itu.
“Dimana dia?”
Setengah badan Yoki bangkit, matanya melirik keadaan sekitar. Tanpa dia duga, dia telah mendapatkan yang dia cari. Tapi sayangnya, itu tidak sesuai harapan Yoki. Sampai-sampai, telah membuat matanya terbelalak kaget.
Lagi-lagi, tontonan sadis tersaji di depan mata. Begitu familiar dengan darah dan kematian. Tapi kali ini, yang dia tonton adalah temannya sendiri.
Sedikit ke kiri, dia dapat melihat seorang gadis yang berdiri di samping jasad itu. Mulut gadis itu mempunyai bekas darah, itulah yang menyebabkan kondisi mengenaskan yang menimpa korban.
Kedua tangan, juga kedua kaki telah lenyap dan menyisakan tulang-belulang saja. Untung ada aura putih yang menyelimuti, jadi siapapun tidak akan langsung pingsan saat melihat pemandangan yang mengerikan itu.
“Kenapa?”
Memang aura putih itu telah menutupi bagian yang menjijikan. Tapi tetap saja kan, walaupun mata Yoki tidak melihat, tapi hatinya tahu. Hatinya sangat tahu dengan apa yang ada di baliknya.
Yoki hanya bisa meracau dengan isak tangis yang mendalam. Kepedihan ini sangat tidak bisa diterima hatinya. Ironi bukan, ketika seorang teman melakukan kanibalisme terhadap temannya yang lain.
Apakah kepercayaan Yoki terhadap Gaia masih tetap sama? Atau akan runtuh bersama dengan kematian Kenichi?
“Aaaaaaa ... ini tidak mungkin … kenapa …. aaaaa … tidak-tidak-tidak … apa yang aku lihat bukan kenyataan kan? … ya kan, ya kan … tidak mungkin ini terjadi bukan? Aku … aku tidak mungkin kehilangan Kenichi. Dia … dia … dia selalu bersama kami. Tidak-tidak, itu pasti bukan dia.”
Kenyataannya memang sangat berbeda, tapi Yoki berucap seolah-olah ingin membuang semua fakta yang terjadi di depan matanya. Apa yang dia ucapkan sekarang tidak lebih dari sekedar racauan. Ada pertentangan antara matanya yang melihat fakta dan hati yang mengelak dari kenyataan.
“Kenichi tidak mungkin mati kan … aaaaa, itu pasti orang lain kan … dia adalah pria yang selalu kuat dan selalu lolos dari kematian. Aku yakin itu.”
Memang berat bagi Yoki. Jika diingat lagi, ini adalah kali kedua bagi Yoki melihat kematian yang tragis seperti ini. Yang pertama adalah kematian kedua orang tuanya dan yang kedua adalah temannya sendiri.
Pasti tidak terbayang saat melihat tontonan yang seperti ini bukan? Apalagi itu terjadi pada orang yang sangat berharga. Kaki Yoki saja sampai tidak kuat menopang tubuh, dia sampai harus mendekati Kenichi dengan tubuh yang diseret.
Saat sampai, Yoki masih menyangkalnya karena kepala Kenichi yang menghadap ke bawah. Tapi ketika dibalik, apakah sangkalannya masih berlaku? Ya, hanya menjadi bisikan kecil yang perlahan menerima fakta yang terjadi.
Yoki menaruh tubuh Kenichi dalam pangkuannya. Berharap ada detak jantung atau tanda-tanda kehidupan yang lain. Namun sayang, harapan itupun hanyalah sebuah khayalan di angan-angan. Apa yang sedang dia pangku, hanyalah tubuh kosong tanpa jiwa.
“Tidak … tidak … tidak … tidak … tidakkkk!!! aaaaaaaa ….”
Dia semakin histeris. Sebuah ratapan kematian yang menandakan kalau dia tidak bisa menerima kematian Kenichi yang seperti ini. Dibunuh teman sendiri? Kematian macam apa itu. Orang-orang banyak bermimpi untuk mati saat lansia, saat senja datang menjemput karena waktu hidup yang telah habis.
Yoki menangisi cara kematiannya, dia juga menangis karena takdir kejam yang menimpa dirinya dan temannya itu. Dua kali, dia tidak berharap kalau orang-orang yang berharga akan mati dengan cara seperti ini.
__ADS_1
“Ke-ni-chi … kenapa kamu mengorbankan tubuhmu padaku?”
“Apa pendapatmu, tentang tindakanku Yoki?”
Yoki mendengar suara Gaia, kepalanya langsung didongkakkan ke atas. Jika orang lain yang menatap Gaia pasti ketakutan. Dingin, penuh hawa membunuh dan kejam, semua itu bisa dilihat dari mata yang tak peduli dan mulut yang bersimbah darah. Tapi apa yang dilihat Yoki sungguh berbeda.
“Gaia.”
Yoki meletakkan tubuh Kenichi, dengan air mata yang masih berlinang. Kali ini kakinya sudah kuat untuk menopang tubuhnya berdiri. Mereka berdua saling bertatapan, Gaia menerka apa yang akan dilakukan Yoki selanjutnya.
“Ya, aku tahu. Kau pasti akan ahhh ….”
Ternyata terkaan Gaia salah. Apa yang dilakukan Yoki sungguh tidak ia duga. Kali ini wajah dinginnya sedikit berubah dengan wajah penuh kebimbangan.
“Gaia, Kenichi mati.”
“A-apa maksudmu?”
Ya, bukan dendam ataupun sakit hati yang Yoki keluarkan. Tapi tangisan dengan kedua tangan yang langsung memeluk Gaia dengan erat. Perasaan Gaia campur aduk sekarang. Dia menjadi kaku seperti batu, dengan segala pemikiran tentang motif di balik perbuatan Yoki.
Padahal awalnya dia juga sudah tidak peduli dengan Yoki, dia mengira kalau Yoki akan membenci dirinya. Tapi Yoki benar-benar mematahkan semua ekspektasi Gaia.
Tangisan serta pelukan itu telah menenggelamkan Gaia dalam kebimbangan, hingga yang tersisa hanyalah sebuah kekosongan. Yah, itu jugalah yang telah menyentuh bagian dari hati Gaia yang paling dalam.
“Apa kamu tidak lihat Gaia, teman kita sedang terbaring tak bernyawa di tanah.”
“Bu-bukankah kamu tahu siapa yang membunuhnya?”
Yoki agak sedikit melonggarkan pelukannya, untuk dapat menatap Gaia. Sekarang kedua mata milik kedua remaja itu saling bertatapan. Satu penuh dengan air mata, dan yang satu lagi tidak menunjukkan apa-apa.
“Yang membunuh Kenichi … adalah aku.”
Bukannya terkejut, Yoki malah semakin dalam mendekap Gaia. Dia tidak peduli dengan ucapan Gaia, informasi itu seperti tidak penting lagi baginya. Malahan, dialah yang membuat Gaia heran. Gaia larut dalam emosi Yoki, air matanya mulai terlihat. Padahal, dia sama sekali tidak menyuruh air mata itu keluar.
“Kenapa kau tidak bereaksi ataupun takut pada pembunuh temanmu?”
“Tidak, Gaia tidak akan pernah membunuh temannya sendiri.”
Senyuman Yoki, bagaikan hujan yang menghapus kemarau. Hujan itu begitu teduh, begitu sejuk merangsang ke tubuh Gaia. Dia tidak kuat menahan tangis, kekosongan di matanya mulai terisi. Dalam hati, dia bergumam ….
“Kenapa? Kenapa setelah semua yang aku lakukan, kalian tetap menganggapku sebagai teman. Kenapa? Padahal selama ini tidak ada yang peduli padaku. Semuanya hanya menganggapku sebagai mahkluk yang hina. Tapi … tapi kenapa kalian menunjukkan ekspresi yang berbeda? Padahal kalian hanyalah mahkluk lemah saja.”
Tanpa sadar, wajah Gaia sudah tumpah ruah oleh air mata yang mengalir keluar. Perasaannya kini sudah campur aduk. Dia tidak lagi menunjukkan ekspresi yang dingin ataupun kejam. Saat ini, dia hanya terlihat seperti seorang gadis yang sedang kebingungan dalam menentukan jalan.
“Gaia.”
Yoki tidak membiarkan Gaia menangis lebih dari itu, dia segera mengusap air mata yang tadi sempat tumpah ruah dari mata Gaia. Apa yang dibutuhkan gadis itu agar tidak tersesat adalah cahaya. Yoki tahu itu, dia ingin menjadi cahaya harapan baginya.
__ADS_1
“Aku tidak tahan melihat ekspresi polos itu. Tapi, tapi kenapa aku tidak bisa melepas pelukannya? Diriku seperti nyaman berada di sini, sangat hangat … berbeda dengan diriku yang dingin.”
Gaia bergumam, disembunyikan dalam hati yang tidak bisa didengar Yoki.
“Gaia, apa kamu sudah tenang?”
“CIKH, apa-apaan perkataan itu? Aku tidak akan pernah terpengaruh olehmu, lepaskan pelukanmu!”
Memang perasaan Gaia sempat campur aduk, tapi dia tetap memilih untuk menjadi penjahat yang kejam. Dia tidak akan membiarkan perasaan menjijikan itu datang ke dirinya lagi.
“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu … sampai aku bisa menyelamatkanmu.”
“A-apa?”
“Gaia, apa kamu masih lapar?”
“Ti-tidak.”
Yoki hanya tertawa kecil, dia tahu kalau perut Gaia berbunyi sangat keras. Boleh dibilang, itu adalah alarm alami yang akan menandakan orang yang sedang kelaparan.
Di sisi lain, terlihat setetes air liur yang nampak menggantung di pinggir mulut. Nafsu Gaia sedang mempengaruhinya, dia ingin agar Yoki dianggap sebagai makanan.
“Baiklah, kalau gitu aku ada sebuah permintaan untukmu. Aku minta agar ini menjadi makanan yang terakhir kamu makan. Janjilah, kalau kamu tidak akan memakan manusia lagi.”
Yoki menatap mata Gaia lagi. Secara mental, pihak yang kalah adalah Gaia. Matanya bergemetar hebat. Padahal itu cuma tatapan biasa, tapi di dalam hati Gaia timbul berbagai pertentangan.
“Kenapa?”
Yoki tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja. Gaia masih dipenuhi kebingungan, sampai dia tahu maksud Yoki sebenarnya. Daging yang ditusuk oleh bilah besi terdengar di telinga. Gaia bisa merasakan itu dari bawah, dia pun menoleh ke sumber suara. Apa yang ada disana, telah membuat tangisannya semakin menjadi.
Darah bercucuran dari perut Yoki, ternyata ada sebilah pisau yang mendobrak masuk ke tubuhnya. Bukan karena kemauan Gaia, itu semua murni karena kemauan Yoki. Saat pandangan beralih ke mata Yoki, Gaia menemukan senyuman itu lagi.
“Kenapa?”
“Aku tahu seharusnya aku sedih karena kematian Kenichi. Aku juga tahu, sudah sewajarnya aku marah padamu. Tapi, apa itu semua akan menyelesaikan masalah? Tidak, harus ada yang mengalah, harus ada yang melawan. Aku tidak akan bisa menyelamatkanmu, kalau aku hanya memakai emosi saja.”
“Karena itu …,” ucapan Yoki terjeda karena batuknya yang sudah tercampur darah, “Tolong berjanjilah padaku, kalau tubuhku ini akan menjadi makanan manusia terakhir bagimu. Aku berharap ….”
Sebuah senyum yang membuat Gaia tenggelam. Dia tidak ingin ini menjadi pesan terakhir Yoki. Tapi, itu sudah terlambat, keinginan itu terbantahkan. Tubuh Yoki mulai lemas, karena hampir mencapai tenggat.
“Kamu bisa berubah menjadi Gaia yang dulu lagi.”
“Tidak … tidak … tidak … Yoki … kenapa, kenapa kamu mempercayai aku yang sudah terkutuk ini?”
“Tidak, kamu adalah berkat … karena kamu berharga di mata orang terdekatmu. Yah, kamu adalah hartaku.”
“Har-ta.”
__ADS_1
Kesadaran Yoki melemah. Jiwa Yoki sekarang sudah mau terlepas dari cangkangnya. Perlahan Yoki melihat ke mata Gaia, dengan tubuh yang mulai ambruk ke tanah. Yah, Gaia tidak akan membiarkan itu terjadi. Sekarang giliran Gaialah yang mendekap Yoki dengan erat.
Tadi pikiran Gaia sempat teralihkan oleh perkataan Yoki. Perlahan tapi pasti, ucapan Yoki tadi telah membuat Gaia berubah. Tidak terlihat secara kasat mata sih, tapi bisa dirasakan oleh orang-orang terdekatnya.