
“Akhirnya, hahaha ....”
Perilaku Terasaka makin aneh, dia seperti kerasukan saja. Senyuman Terasaka terbuka, karena sekarang dendamnya sudah terbalaskan.
“Apa yang kalian perbuat harus kalian pertanggung jawabkan dan kini …,” mengelus dagu Yoki dengan tangan kasarnya dan kembali menatap Kenichi, “Kita lihat sejauh apa pertemanan kalian.”
Tangan teman-teman Terasaka memegangi tubuh Kenichi layaknya sebuah rantai. Membuat siapa pun yang terkekang di dalamnya, tidak akan berdaya untuk terlepas.
“Maaf Terasaka, atas kejadian itu. Atas apa yang tidak bisa aku pertanggung jawabkan.”
“Kau mengatakan itu sekarang hah! Apa kejadian itu bisa diulang kembali? Apa aku bisa merasakan kehangatannya lagi? Selama ini aku sendirian, tidak punya siapa-siapa dan saat aku menemukan secercah cahaya ....”
Ucapan Terasaka diiringi dengan mata yang dikerutkan, dihiasi dengan setetes dua tetes air mata yang mulai keluar membasahi pipinya.
“Orang yang aku beri tanggung jawab itu, malah menghilangkannya!”
Berteriak dalam kesedihan dan kemarahan adalah tindakan yang dikeluarkan Terasaka. Sementara, orang yang ia tawan yaitu Yoki, benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang terjadi. Di satu sisi dia merasakan kesedihan yang mendalam dari Terasaka, di sisi lain dia juga ingin agar Kenichi lolos dari masalah yang diakibatkan oleh kelalaiannya.
Dengan semua pikiran itu, Yoki hanya bisa terdiam, merunduk dan merenung. dalam hatinya timbul berbagai pertanyaan. Apakah aku berguna? Apakah aku hanya menjadi beban? Apa aku sudah menjadi teman yang baik?
Setidaknya itulah pertanyaan dominan yang menghantuinya, membuat Yoki merefleksikan segalanya.
“Baiklah, sekarang .…”
“Jika kau mau, kau bisa menyiksaku sekarang juga. Cepat siksa aku dan lepaskan Yoki. Akulah yang bersalah, akulah yang harus bertanggung jawab.”
Permintaan dilayangkan Kenichi. Memotong perkataan Terasaka, dari balik belenggu tangan-tangan yang membatasi gerak tubuhnya.
“Apa kau gila Kenichi. Lebih baik aku mati, daripada harus menanggung kenangan ini.”
Dengan nada keras Yoki membentak Kenichi. Sekilas mirip debat, dengan tujuan untuk menentukan siapa yang harus dikorbankan. Salah satu penonton mereka yaitu Terasaka, sedang tersenyum lebar dengan pikiran bengis. Yah, layaknya mendapatkan sebuah mainan baru.
Bagi Terasaka, inilah yang seharusnya terjadi pada orang yang telah menghancurkan kebahagiannya. Padahal, mereka bertiga tidak sepenuhnya bersalah. Tapi, mau bagaimana lagi kematian adalah sesuatu yang menyakitkan bagi orang-orang terdekat, hingga bisa mengkeruhkan pikiran.
“Terima kasih atas dramanya. Kalian akhirnya bisa merasakan drama yang terjadi dalam hidupku dan waktunya menuju konflik dari drama ini. Teman-temanku, hajar Kenichi sepuasnya.”
Teman-teman Terasaka melaksanakan perintah dan mulai memukuli Kenichi. Satu tangan memegangi tubuh Kenichi. Sedangkan tangan yang lain terus memukuli tubuh Kenichi dengan senjata yang dibawa.
Sontak tindakan itu menimbulkan erangan kesakitan dari Kenichi. Apalagi yang dihantamkan ke tubuhnya adalah benda-benda padat yang keras.
__ADS_1
Jika dilihat dengan seksama, sebenarnya Kenichi masih bisa melepaskan kekangan itu. Jika berusaha dengan maksimal. Namun dengan Yoki yang ditawanlah yang membuatnya menjadi lemah. Walau tanpa sadar, itu juga telah membuat seseorang menderita karena penderitaannya.
Ya, dia adalah Yoki yang hanya bisa histeris saat melihat penyiksaan Kenichi. Terus berteriak, berharap Terasaka akan menghentikan tindakannya. Namun, itu semua tidak berguna dan malah menimbulkan kemarahan Terasaka.
“DIAMLAH!”
“Kenapa kau sampai melakukan ini?”
Yoki bertanya, membalas bentakan Terasaka.
“Kenapa? Itu karena temanmu itu, temanmu yang tidak menepati janjinya dan juga gadis itu, yang karena tindakannya lah yang telah membuat ibuku mati.”
“I-bu .…”
Yoki tersentak dibalik kesedihan. Apa yang dimaksud Terasaka sebagai ibu? Pertanyaan itu terus tersirat dalam kebingungan dan keterkejutannya.
“Karena kenaifan Gaia, dia harus sampai merenggut nyawanya dan karena pertemanan kalian bertigalah yang membuatnya semakin mengukuhkan niatnya.”
Lagi-lagi air mata yang jarang keluar dari mata Terasaka, bocor membasahi pipi. Jarang-jarang ia bisa menangis sedemikian rupa, sudah lama semenjak ia masih kecil dan hidup di bawah bayang-bayang dunia yang kejam.
“Tunggu maksudmu ibu itu ….”
“Aku tahu apa yang kau rasakan Terasaka, rasa sakit saat melihat orang tuamu mati. Aku juga yakin kalau Yoki merasakan hal yang sama. Tapi ….”
Ucapan Yoki dipotong oleh Kenichi dan dipotong lagi oleh Terasaka. Yang akhirnya, Yoki tidak bisa mengungkapkan hasil pemikirannya. Padahal, dia sudah hampir mendekati jawaban.
“Apa kau tahu kalau ibumu mati karena menjalankan tugas dan tanggung jawabnya?”
“Aku tahu, tapi yang aku mau … dia terus bersama dengan diriku. Tidak peduli apa yang ada di dunia ini, aku tidak akan pernah merelakan kepergian ibuku.”
Satu tangan Terasaka yang bebas terangkat ke atas, lalu diturunkan. Teman-temannya melihat ini sebagai sebuah tanda. Tanda untuk semakin memperbanyak pukulan. Lagi-lagi, Terasaka menutup telinganya untuk mendengar lebih dalam. Ia lebih mementingkan emosi, ketimbang fakta dan apa yang terjadi sebenarnya.
Suasana di tempat itu kembali bising dengan berbagai hantaman suara benda keras yang berselingan dengan suara Kenichi yang mengerang kesakitan.
Darah dan bekas pukulan benda keras, menempel pada badan Kenichi. Menjadi bekas yang tak akan mudah hilang, baik fisik maupun mental.
Yoki berteriak semakin histeris. Melihat tubuh temannya yang terkapar tak berdaya oleh berbagai pukulan yang melayang ke badannya.
“Aku harus memikirkannya nanti. Sekarang, aku harus bisa keluar dari sini.”
__ADS_1
Yoki segera menghentikan tangisnya dan mulai mencari cara agar dia bisa kabur. Sekarang, prioritas keselamatan Kenichi yang paling utama. Sedangkan kebingungannya tadi, dibuang sementara.
Ketika Yoki melihat bahwa pipa yang mengekangnya itu longgar “Hai tunggu dulu, sepertinya ada cela agar aku bisa keluar dari sini,” Yoki pun menunduk perlahan-lahan dan setelah beberapa saat, Yoki akhirnya keluar dari kekangan pipa itu dan menyusup ke belakang Terasaka tanpa ketahuan.
“Maaf Terasaka, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, aku akan mencari tahu nanti.”
Kenichi melihat ke arah Yoki, senyumannya mengembang. Sekarang muncul jalan keluar untuk terlepas dari masalah ini.
Dia melihat Yoki yang sudah terbebas dari sekapan Terasaka dan kini Yoki telah berada di belakang Terasaka, tanpa menimbulkan kecurigaan dari pihak penyekap.
Kekuatan Kenichi seakan bangkit, dia pun langsung berdiri lalu menghajar kesepuluh teman Terasaka yang sedari tadi memukulinya.
Padahal bekas pukulan sudah sangat banyak tertempel di tubuhnya, tapi semangat dan kekuatannya masih tetap ada. Bahkan berkembang.
“Hei! kamu mau temanmu ini mati apa ?!”
“Kau terlalu buta untuk melihat sekelilingmu, saat melihatmu aku seperti melihat diriku yang pertama kali melihat kematian kedua orang tuaku.”
Kenichi berlari kencang, menghiraukan segala rasa sakit yang dia dapat. Sedangkan Terasaka menatap heran tindakan Kenichi.
Dia melihat ke bawah dan tawanannya menghilang entah kemana. Spontan ia berteriak, “Apa ?!” dan mengubah arah matanya dengan melihat ke belakang untuk mencari di mana Yoki berada. Yah, dengan berbalik dia sudah tahu letak tawanannya.
Melihat hal itu, Kenichi yang tengah berlari langsung menyempatkan diri untuk mengambil pipa yang sedang dia lewati.
“Terasaka!”
Teriakan Kenichi menyebabkan Terasaka menoleh kembali ke arahnya. Hanya tatapan kosong yang diberikan Terasaka untuk merespon. Rencananya telah gagal, semua berantakan. Itulah yang membuat kebanggaan Terasaka sirna.
“Tangkap ini!”
Kenichi melempar pipanya dengan kuat dan Terasaka yang masih setengah kebingungan langsung terkena imbas.
Sesaat, terdengar sebuah suara nyaring yang berasal dari pipa besi yang membentur kening Terasaka yang menyebabkan tubuhnya oleng seketika.
Yoki yang kini tengah berada di belakang tubuh Terasaka langsung menyeleding kedua kaki Terasaka, menyebabkan Terasaka yang kehilangan keseimbangan tumbang dalam keadaan terbaring di tanah.
Tepat pada saat Terasaka berada dalam posisi terbaring, Kenichi langsung melompat lalu melipat kedua tangannya dan langsung memukul perut Terasaka sampai dia batuk.
Bahkan sampai membuat Terasaka pingsan seketika.
__ADS_1
Terasaka yang pingsan, telah membuat teman-temannya ketakutan. Padahal mereka baru bangun setelah dihajar Kenichi.
Awalnya mereka ingin segera membalas perbuatan Kenichi, tapi saat melihat pemimpinnya pingsan mereka langsung lari ketakutan. Meninggalkan Terasaka yang sekarang sudah berada di tangan musuh.