
Malam semakin larut, suasana di seluruh bagian kota semakin mencekam. Mungkin Gaia juga termasuk dari salah satu bagian yang mencekam itu.
Gaun hitam dengan rok bawah yang besar dan berat, sekilas bisa diibaratkan dengan sebuah mangkuk. Dan yang menjadi pelengkap dari penampilannya adalah hiasan pita yang mengikat kepangan rambut, yang diletakan di tubuh bagian depan.
Penampilan yang kuno dan mengandung unsur kematian bukan. Yoki dan Kenichi juga merasakan hal yang sama. Apalagi bulan yang berbentuk bulat dan sedang bersinar cerah saat ini, telah menampilkan keseluruhan kharisma Gaia.
“Ahh, kalian pasti sedikit bingung karena busana baruku, kan?”
Yoki dan Kenichi tidak menjawab, padahal bukan itu yang mereka kuatirkan. Tapi biarlah, mungkin ada sebuah informasi yang akan diberikan Gaia.
“Tadi gaun ini dikasih oleh sebuah keluarga yang baik. Wah, mereka sangat ramah dan mau menerimaku. Aku sangat senang dengan pengorbanan mereka untuk membuat gaun ini.”
Kepala Gaia menatap bulan. Dia bersyukur dengan menatap bulan dan memberinya senyuman.
“Tunggu, keluarga siapa?”
“Natsuki.”
Kenichi yang tadi bertanya, berpikir sejenak. Dia rasa pernah mendengar nama keluarga itu dan ketika didalami lagi, ternyata dia ingat.
“Keluarga pemilik onsen kah?”
“Seratus untuk Kenichi, yey.”
Kenichi sih tidak bangga atas penilaian Gaia, bahkan dia malah merasa aneh pada penilaian itu. Maksudnya, sikap Gaia dalam memberikan penilaian. Penuh euforia dalam penampilannya yang menyeramkan.
“Nah, mereka memberikan jiwanya untuk membuat pakaian ini.”
“Apa maksudmu?”
“Haaah, nih deh biar ada bukti.”
Gaia memperlihatkan bukti yang menyeramkan. Bahkan sampai membuat Yoki mual dan muntah. Apa yang ada di depan mata mereka bukan rekayasa, itu asli, itu benar-benar nyata.
Sepuluh wajah, telah menunjukkan wujudnya di setiap bagian gaun hitam yang Gaia kenakan. Apa yang lebih menyeramkan dari eksistensi mereka, jadi wajar saja kalau Yoki sampai muntah.
Tangan, kaki, perut, bahkan sampai pita menunjukkan kejijikan itu. Bukan hanya muncul dan menghilang, sepuluh wajah itu juga menggerakkan mulutnya.
Kata yang terlontar berupa permintaan tolong, penyembahan kepada Gaia, dan racauan-racauan lainnya. Jika sudah seperti, mungkin kalian akan mengira kalau wajah-wajah itu adalah wajah asli dari spesies manusia.
Apalagi, semua tersaji dalam kurun waktu 2 menit. Pasti bisa dibayangkan, betapa tidak kuatnya Yoki menonton itu semua. Hingga diakhiri dengan wajah-wajah yang masuk kembali ke dalam gaun, Yoki baru berani menatap Gaia.
“Gimana, baguskan?”
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu Gaia? Tolong katakan, ini tidak nyata kan?”
“Sudah kubilangkan aku baik-baik saja, bahkan aku merasa lebih baik dari wujud ini.”
Tanpa perlu waktu dan tempat untuk berganti busana, Gaia sudah berganti pakaian menjadi seragam sekolahnya. Sekarang baru cocok, penampilan dan kharismanya sama seperti Gaia yang mereka kenal. Sekarang, Yoki sudah bisa merasakan dan mengingat temannya itu.
“Ga-Gaia.”
“Maaf … Yoki, Kenichi.”
Namun hanya bertahan sampai Gaia menyelesaikan ucapan. Penampilan Gaia berubah lagi seperti tadi, suram dan kuno. Benar-benar cocok dengan waktunya.
Rasa kuatir yang tadi sudah terobati, kembali tersakiti. Senyuman Yoki dan Kenichi yang tadi tumbuh, kembali layu. Gaia yang tadi mereka temui, telah menghilang ke dalam sosok gadis itu.
“Bagaimana, sekarang kalian percayakan kalau aku sudah baikan?”
__ADS_1
“Tidak, kamu belum baikan.”
Yoki kembali berdiri. Rasa takut tadi dia ganti dengan keberanian. Matanya sekarang memberikan tatapan tajam. Begitu pun dengan Kenichi yang mengikuti langkah Yoki.
“Heee … kalian belum percaya?”
“Kenichi, kayaknya kita harus menghabisi Haori.”
Yoki tidak menanggapi Gaia, saat ini dia sedang berdiskusi dengan Kenichi.
“Yah, kita coba saja. Kita harus mengubah Gaia kembali seperti tadi. Apalagi permintaan maaf tadi .…”
Keduanya langsung teringat pada ucapan Gaia tadi. Lembut dan tenang, sebuah rasa malu yang menyempurnakan keindahan Gaia. Yah, mereka harus mendapatkannya dari sosok gadis suram di depan mereka.
“Yah, kau benar Kenichi. Dia seperti sedang dikendalikan atau dipengaruhi.”
“Oke, apa kamu sudah memegang pisau itu?”
“Dari tadi aku pegang.”
“Bagus.”
Kenichi juga mengambil bekal berupa pisau yang tertanam di seragam gakuran Yoki, tadi pisau pertama sempat tersangkut di seragam itu.
“Kalian … kenapa?”
Sedangkan Gaia, dia memasang wajah heran. Dia mencoba menerka maksud mereka berdua. Mencoba menyerang? Gaia tidak ingin mengambil kesimpulan itu. Dia masih akan melihat sampai Yoki dan Kenichi sudah bergerak.
Yoki dan Kenichi sekarang sudah maju, mereka berlari bersamaan. Target mereka sih searah dengan Gaia, jadi itu membuat Gaia sedikit ragu. Dia masih ingin melihat kemana arah serangan Yoki dan Kenichi, jadi dia masih diam berdiri. Sampai mereka bertiga saling bertemu, barulah Gaia menghindar dan menyingkir dari jalan mereka.
“Oh, ternyata bukan aku.”
“Multifunction teleport!”
Sebelum kedua mata pisau mengenai wajahnya, Haori sudah menghilang dan muncul di samping Gaia. Alhasil, mereka berdua hanya menyerang angin saja. Sambil mengumpat kekesalan, mereka berdua memalingkan kepala ke posisi Gaia.
Di situ sudah ada Haori yang berdiri dengan senyuman puas. Sekarang tenaganya lumayan membaik, yang penting dia sudah bisa melanjutkan pertarungan walaupun sebentar.
“Tuanku, apa yang harus kita lakukan pada kedua bocah ini?”
“Uhm, apa yah?”
“Saranku kita … heh.”
Apa yang terjadi di samping Haori telah menghentikan ucapannya. Mata Haori melotot, merasa tak menyangka dengan apa yang dia lihat. Seluruh tubuhnya bergemetar hebat, melihat apa yang terjadi pada tubuhnya.
Bukan hanya dia, bahkan Kenichi dan Yoki juga menunjukkan reaksi yang sama. Ini sudah yang ketiga kali Yoki merasa ingin mengeluarkan isi perut, dia benar-benar jijik dan mual.
Benar-benar penggambaran kengerian yang sesungguhnya. Kejam iya, jijik iya, sadis, apalagi.
“Ga-Gaia ….”
Ya, hanya ucapan lemas yang keluar dari mulut Yoki. Tubuhnya kembali tumbang ke tanah, dia sudah tidak bisa menatap gadis remaja di depannya lagi. Sedangkan Kenichi, menatap iba dengan apa yang terjadi pada kedua temannya.
“Tuanku, kenapa Anda melakukan ini?”
“Uhm …,” Gaia menghentikan kesibukannya dan mendongkakkan kepala ke atas untuk menatap Haori, “Apa kamu tidak merasa terhormat untuk menjadi makanan pertamaku semenjak sepuluh tahun lamanya?”
“Ohhhhh … ya-ya, aku … aku sangat terhormat tuanku … silahkan, silahkan lahap sesukamu.”
__ADS_1
“Terima kasih yah,” Gaia memberikan senyuman ramah, tapi darah di mulut telah merusak gambaran itu, “Lagipula kamu gak akan merasakan sakit kok, ini adalah salah satu berkat yang diberikan padaku.”
Gambaran ini mungkin agak sedikit menjijikan, pendapat yang lain mungkin akan sangat menakutkan. Gaia sedang melakukan sesuatu pada tubuh Haori, sesuatu yang buruk tentunya.
Yang dia lakukan saat ini adalah … memakan pundak kiri Haori. Tangan Haori sudah tidak ada, jadi dari situlah Gaia memulai santapannya.
Gigi yang kuat itu berhasil merobek daging, lalu dikoyak dan dikunyah di pencernaan mekanisme yang terjadi di mulut. Sekilas, dia sangat menikmati santapan itu. Apa yang mungkin bisa disimpulkan dari gambaran di atas adalah kanibal.
“Ga-Gaia, kenapa kamu melakukan itu?”
Gaia menghentikan makannya, dia meninggalkan tubuh Haori yang tinggal tersisa setengah. Tenang-tenang, ada aura putih yang menyelimuti tubuh Haori.
Jadi darah dan daging bekas gigitan akan disensor oleh aura itu. Yah, itulah mengapa Yoki masih kuat untuk berdiri setelah menonton sesuatu yang sadis seperti ini.
“Wah, Kenichi masih kuat saja mentalnya yah.”
Kenichi tidak tertarik pada senyuman dan mulut yang berbalut bekas darah, dia ingin pertanyaannya segera dijawab.
“Ini adalah salah satu berkat yang diturunkan padaku.”
Gaia memegangi roknya yang seperti mangkuk. Di balik rok itu, kaki kanan Gaia disilangkan ke belakang. Kepala juga ditundukkan. Semua itu dilakukan sebelum melanjutkan ucapannya.
“Aku adalah pembawa warna merah muda, utusan dewa lalat. Karunia yang terjadi pada Haori adalah … karunia kerakusan, kerakusan dalam diam.”
Ternyata gerakan kaki tadi untuk menurunkan posisi tubuh Gaia. Dia seperti seorang putri yang sedang memperkenalkan diri. Namun bagi para pendengarnya, itu sedikit aneh. Belum lagi kata-kata yang mereka sama sekali tidak mengerti, semua ucapan itu terdengar seperti mendekati bualan semata.
“Haaah … kalian masih belum mengerti rupanya,” gerakan Gaia kembali seperti semula, “Aku adalah lambang dari kerakusan. Siapa pun yang aku makan terlebih dulu, akan mendapatkan kehormatanku.”
“Ya, dan tuanku memilih aku.”
Haori masih saja senang. Padahal kondisi tubuhnya sudah sangat mengenaskan.
“Tidak … bukan kamu yang pertama.”
Tiba-tiba Haori tersentak, dia langsung membantingkan kepala untuk menatap Gaia.
“Apa maksud tuan? Siapa yang pertama?”
“Yang pertama adalah Eiji, anggota keluarga Natsuki.”
Sekarang dia baru sadar, semua yang dia korbankan sia-sia. Lihat saja badannya, mungkin kalau karunia itu hilang, Haori tidak akan bisa diselamatkan lagi.
Ekspresi Haori sudah menjadi keputusasaan, dia sedang menatap Gaia karena tidak percaya. Matanya melotot, seolah-olah menaruh harapan kalau apa yang diucapkan Gaia tadi hanyalah sebuah kesalahan saja.
“A-Anda bercandakan tuan?”
Gaia mendekati Haori. Saat sampai dia menekukkan lutut, agar ucapan Gaia bisa didengarkan Haori.
“Iya, tentu saja aku berkata jujur.”
Pupus sudah harapan Haori. Dengan kondisi tubuh yang seperti itu, Haori hanya bisa menunggu ajal yang akan datang menjemput. Tidak ada perlawanan lagi. Yang terjadi padanya, seperti nasi yang sudah menjadi bubur.
Haori hanya menatap bulan saja, hanya diam tanpa meronta ataupun marah. Untuk apa menangis, dia juga tidak bisa diselamatkan lagi. Lagipula, marah sekalipun tidak akan menyelesaikan masalah ini.
“Haaah, itulah sebabnya aku tidak menggunakan karunia ini pada Eiji.”
Sang makanan telah diam, sekarang Gaia kembali menatap Yoki dan Kenichi yang sedari tadi masih ternganga.
“Baiklah, aku selesaikan makanku dulu yah.”
__ADS_1