
“Kumohon, sadarlah. Kalian telah diperalat. Kumohon, jangan membuat kematian kalian menjadi mainan orang lain. Kumohon, kumohon.”
Permohonan Eiji tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Makhluk-makhluk itu tidak mendengarnya. Mereka menghiraukan Eiji dan langsung pergi keluar rumah. Sekali lagi, dia ditinggalkan tanpa pernah didengar oleh keluarganya.
“Aku harus pergi ke hutan.”
Setelah keluar, Gaia malah kebingungan mencari tempat untuk menjalankan rencana. Dia baru menemukan tempat yang cocok, setelah melihat hamparan warna hijau di kejauhan. Yah, hamparan warna hijau itu adalah hutan.
“Baiklah, sudah kuputuskan.”
“Kau, jang-an kabur!”
Makhluk itu sudah berhasil mendekati Gaia (mungkin agak cocok memanggilnya sebagai makhluk saja, mengingat tubuh fisik mereka yang cuma satu). Sekarang jarak mereka kurang dari 30 meter. Ini sudah pasti berbahaya, jarak Gaia dengan hutan itu sekitar 150 meter. Jika dia berhasil disusul, maka tamatlah sudah.
Otaknya harus berputar cepat. Kemungkinan dia selamat semakin kecil, itu juga dipengaruhi dengan jarak makhluk dengan Gaia yang semakin dekat.
“Wujudnya sekarang terlihat! Tapi … menyeramkan sekali!”
Sekarang makhluk itu juga bisa terlihat oleh Gaia, bahkan suaranya pun bisa didengar (gak enak sih suaranya, bercampur aduk menjadi sesuatu yang disturbing). Hanya dia saja, sedangkan orang-orang yang lalu lalang hanya menganggap Gaia sedang berolahraga atau sedang terburu-buru dan kebanyakan tidak ada yang peduli.
“Kemari kau!”
Satu kaki depan dari makhluk itu diangkat lalu menyerang Gaia yang sudah ada persis di depan. Untung Gaia sadar dan menghindar. Tapi dia tidak bisa bangga, walaupun keuntungan memang dia dapat berkat makhluk yang sekarang sudah terlihat, tapi bukan berarti makhluk itu tidak bisa melancarkan serangan.
Di setiap langkah matanya harus selalu waspada, karena serangan yang dikeluarkan makhluk itu tidak terduga. Yang pasti, jeda di setiap serangan selalu singkat. Jadi insting dan reflek Gaia harus bergerak dengan cepat.
“Iwa, ada apa dengan gadis itu? Dia berlari dengan gerakan-gerakan melompat yang aneh.”
“Haaah, tidak usah diperhatikan. Makanya, kamu harus jaga pikiranmu biar gak stress.”
“Oh ….”
Sedangkan orang lain hanya melihat Gaia sebagai sosok yang gila. Itu benar, sembilan puluh persen orang berpendapat begitu, sisanya, tidak peduli. Bukan berarti perilaku Gaia aneh, itu hanya karena sudut pandang mereka berbeda dengan Gaia. Boleh dibilang, hanya Gaia yang melihat makhluk itu.
“Haaah … akhirnya aku sampai. Gara-gara dikejar olehnya, harga diriku sampai mendapat perlakuan buruk dari masyarakat.”
Gaia sudah melewati palang pembatas jalan yang berbatasan langsung dengan hutan. Persoalan lain muncul, setelah sampai di hutan, dia akan kemana?
Belum lagi dengan masalah di belakang. Walaupun sudah sampai ke daerah yang sempit karena pepohonan, makhluk itu terus-menerus menerjang Gaia dengan kaki-kakinya.
Bukannya menjadi solusi, pepohonan malah menjadi tambahan bahaya bagi Gaia. Batang-batang pohon patah oleh serangan kaki makhluk yang meleset, membuat pohon-pohon jatuh secara acak.
Tentu saja Gaia harus menambah gerakan, seperti jungkir balik ke depan, menunduk, mengubah arah lari, dan lain-lain. Semua dilakukan agar bisa bertahan hidup dari cobaan yang disajikan lawannya.
Setelah 5 menit melalui itu semua, akhirnya Gaia menemukan tempat yang cocok untuk menyelesaikan masalah. Ada tempat yang lapang, lengkap dengan jurang di ujung.
__ADS_1
“Apa aku bisa seperti Kenichi yah? Masalahnya aku kayaknya gak akan kuat bergelantungan setelah memancing makhluk itu jatuh ke jurang. Apalagi ….”
Sekarang bukan waktunya bergumam. Hampir saja Gaia terkena serangan, untung dia sempat menjatuhkan diri ke kanan dan kembali berdiri dengan cepat. Dia kembali berlari, pertama dia harus sampai dulu ke tujuan.
“Ahh, tidak ada waktu untuk berpikir. Aku harus melakukannya dengan cepat.”
Kesempatan untuk berhasil memanglah kecil, namun patut untuk dicoba. Bagaimana pun Gaia harus memutuskan. Apakah dia akan mati terjatuh dari jurang dengan mencoba, atau mati di tangan mahkluk itu tanpa mencoba sama sekali.
“Yosh!”
Dengan nekat Gaia melompat, satu tangan sudah siap untuk bergelantung di pinggir tebing. Sedangkan untuk mahkluk itu, dia berhasil terpancing. Saat hendak menangkap Gaia, mahkluk itu sudah jatuh ke jurang terlebih dulu.
“Haaah … akhirnya … aku berhasil.”
Sebenarnya tangan Gaia sudah tidak kuat, tapi dia memaksa untuk melebihi batas. Alhasil dia pun selamat, kini seluruh tubuhnya sudah naik ke tepi jurang. Dia senang karena kemenangan tadi. Sensasinya benar-benar mendebarkan. Takut, gelisah, dan diakhiri kesenangan yang penuh kemenangan.
Terbayarkan sudah rasa lelahnya. Setelah melewati satu hari yang berat ini, Gaia ingin beristirahat, apalagi hari sudah berganti malam. Setidaknya, beberapa informasi penting sudah dia dapat.
“Aku pengen kembali dulu ke rumah pak Eiji. Dia sudah sangat membantuku, aku ingin berterima kasih padanya.”
Gaia berdiri. Dia terlalu memaksakan badan untuk kembali ke rumah Eiji. Tapi, ia rasa itu semua tidaklah sebanding dengan yang dilakukan Eiji padanya. Informasi dan semuanya, telah membukakan sebuah pintu untuk Gaia melangkah ke arah yang baru.
Ya, itu benar. Hanya saja dia tidak sadar, sampai semuanya akan berubah dalam hitungan detik saja. Gaia baru saja melangkahkan kakinya, tapi dia sudah diganggu dengan suara gemuruh yang datang dari dalam jurang.
Saat kepala Gaia berpaling, barulah dia tahu siapa yang menjadi sumber suara. Dia adalah makhluk yang sedari tadi mengejar Gaia. Nampaknya dia masih sehat-sehat saja, dengan raut dan bentuk tubuh yang masih tetap aneh.
Entah kenapa Gaia bertanya itu. Ini bukan saatnya untuk berdiam diri. Tunggu, tidak. Tidak ada perlawanan atau elakan dari hati Gaia. Apa kelelahan telah mempengaruhi pikirannya? Tidak ternyata. Itu semua murni dari keinginan hati.
Padahal sedari tadi, dia ingin kabur dari mahkluk itu. Tapi, sekarang semuanya telah berbeda. Gaia sudah menjadi pribadi yang berbeda, ditandai dengan rasa ingin tahu tentang mahkluk itu. Mungkin sekarang, tidak ada waktu untuk kabur lagi. Jarak di antara mereka sudah sangat dekat.
“Hei, siapa sebenarnya kalian? Untuk apa kalian mengejarku?”
Mahkluk itu hanya diam saja. Tapi dengan tangan-tangan yang terangkat, dia menunjukkan maksud yang lain. Seperti siap untuk menerkam Gaia, tapi dia tunda untuk sementara.
“Hei, apa kau bisa menja ….”
Mahkluk itu melakukan tindakan yang tidak terduga. Dia melahap Gaia, sebelum Gaia sempat menyelesaikan ucapannya. Bisa dibilang, Gaia sudah kalah dan tidak bisa lolos lagi.
Namun, untung kekalahan Gaia bukan berarti kematian. Tapi kekalahan yang boleh dibilang membingungkan. Gaia saat ini diselubungi ruangan hitam yang amat luas, bukan langit malam lagi yang menaunginya.
Jika dilihat dari luar, ruangan itu berbentuk bola berwarna hitam. Ukurannya sih tidak begitu luas, dari sisi luar saja. Sedangkan sisi dalamnya, wah bisa berkali-kali lipat luasnya.
Ekspresi Gaia juga tidak kalah aneh saat dihadapkan dengan situasi yang seperti ini. Dia hanya melirik sekeliling dengan mulut yang terbuka. Mungkin saat ini dia sedang takjub, tapi itu tetap saja aneh kan.
“Apa ini?”
__ADS_1
Ternyata bukan ruangan gelap yang hampa. Ada air yang mengalir di dalam, bisa jadi kenyataan atau hanya ilusi yang dibuat-buat. Aliran air itu beriak ke arah Gaia, menyerang dengan serangan yang tidak berarti. Yah, walaupun cukup menyebalkan karena sekarang baju Gaia menjadi basah. Satu hal yang menjadi pertanyaan Gaia.
“Darimana air ini berasal? Dan apa maksudnya ini?”
Ahh, ternyata sudah terjawabkan sesudahnya. Cipratan-cipratan air telah membuat Gaia merasakan sensasi yang aneh. Sensasi ini seperti ia kenal. Tapi dimana dan kapannya masih belum ia ketahui.
Cipratan-cipratan selanjutnya membuat Gaia tenggelam semakin dalam. Tenang dan membuat pikiran Gaia kosong karena kenyamanan yang diberikan. Sensasi yang ada tadi semakin nyata. Hingga dia akhirnya berkata ….
“Ahh, ternyata mereka semua adalah … pecahan-pecahan kenanganku, yah?”
Bukannya merasa kuatir dan takut seperti Gaia yang normal. Gaia yang satu ini malah menikmati kenangan-kenangan itu. Memang sih, dia awalnya juga ingin tahu tentang kehidupannya saat masih berumur 5 tahun ke bawah.
Yang Gaia alami saat ini adalah realita dari bait kedua itu. Bisa dilihatkan, saat bait kedua dari tulisan yang ada di kertas telah membuat Gaia ketakutan. Walaupun saat itu dia tidak tahu sama sekali, mengacu kepada siapa tulisan itu dibuat, tapi dia sampai ketakutan setengah mati.
Nah sekarang, saat kenangan-kenangan itu begitu penuh dengan darah, ekspresi Gaia biasa aja. Bahkan boleh dibilang, menikmati setiap kenangan-kenangan yang ditampilkan.
“Indah.”
Itu buktinya, kata ‘indah’ bukanlah kata-kata yang akan Gaia keluarkan untuk tontonan seperti ini. Dia bahkan berkomentar dengan senyuman dan kepala yang dimiringkan. Selain itu, dia juga melihat tubuhnya sendiri.
“Ahh, ternyata aku sudah jadi gadis remaja yah. Sudah sepuluh tahun sejak kejadian itu yah.”
“Ahh, begitu-begitu. Ternyata Bennylah yang selama ini menyamar. Hahaha, beraninya dia memberikan kesengsaraan pada keluarga palsuku.”
Lihat saja, kelakuannya sudah bukan seperti Gaia kan?
“Ohh, begitu-begitu. Orang tua tiriku dibunuh sama Ajin yah. Hmmm, aku pingin meninju wajahnya karena membuatku jadi seperti ini.”
Setiap cipratan air yang bersentuhan, telah memberikan potongan puzzle untuk disatukan menjadi jati dirinya yang asli. Tiap potongan semakin lama semakin lengkap dan dia tampak … sangat menikmati kenangan-kenangan yang kejam itu.
“Haaah … kenapa aku jadi pribadi yang begitu lembut. Yah, kenangan-kenangan ini menjijikan. Sebaiknya aku buang saja,” sekali lagi Gaia mengecek ingatan yang telah kembali padanya, “Tapi, kok ada beberapa ingatan yang tidak ada.”
Gaia mengecek lagi. Dia mengkerutkan mata, agar bisa mencari lebih teliti. Namun, setelah semuanya dia periksa, ingatan itu tetap tidak ada. Matanya melotot, wajahnya berubah dari wajah yang dingin menjadi wajah yang tersentak kaget.
“Setelah semuanya aku cari, kenapa … namaku tidak ada?!”
Gaia histeris. Pikirannya menjadi kacau, dia terkejut karena tidak menemukan namanya. Semakin lama, ruangan itu semakin menelan Gaia. Pertama dari kedua kaki, sampai seluruh tubuhnya sudah diselimuti.
Teriakan memekikkan tadi hilang setelahnya, berganti dengan keheningan dan ruangan hitam berbentuk bola yang mulai bereaksi. Bola itu semakin lama semakin kecil sampai menyatu dengan tubuh Gaia.
Dari dalam, terbentuklah sosok yang sangat mengerikan. Memang itu adalah Gaia, tapi sosok dan tampilannya berbeda. Memakai gaun berwarna hitam, bahannya terbuat dari tubuh makhluk tadi yang menyatu dengan Gaia.
Untuk tampilan fisik, sudah tidak bisa digambarkan lagi kengeriannya. Semua berubah 360 derajat dari tampilan Gaia yang biasa.
Dari tato darah yang menghiasi beberapa bagian tubuh, sampai bibir yang berwarna hitam. Apalagi, tanduk Gaia memanjang. Muncul pula dengan tato pentagram di leher.
__ADS_1
Dengan semua ciri-ciri di atas, mungkin dia sudah bisa disamakan dengan makhluk yang disebut iblis
“Ahhh, mungkin … aku akan mencari makan dulu.”