
Sementara itu, di depan sebuah rumah ….
“Kurasa ini alamat yang benar, haaah … jauh sekali dari onsen.”
Gadis itu adalah Gaia. Setelah beberapa saat mencari alamat yang tertera di kertas, barulah dia menemukannya.
Sedari tadi, dia terus mencari menggunakan bus dan berjalan kaki. Bertanya pada orang-orang sekitar tentang alamat yang dia tuju dan pada akhirnya, setelah memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan, dia pun sampai di tempat tujuan.
“Hari juga sudah sangat sore lagi.”
Memang benar sih, langit sudah menunjukkan tanda-tanda mau tenggelam. Jingga sudah mendominasi warnanya.
“Baiklah, karena ini rumahnya.”
Mata Gaia melirik pintu bertipe geser, dia sedang mencari cara masuk yang sopan dan yang dia dapat adalah bel listrik. Namun, dia harus memencet bel beberapa kali untuk membuat pemilik rumah merespon. Seorang pria dengan umur yang berkisar 30 tahun sedang membuka pintu dan keluar menghampiri Gaia.
Rambut panjang acak-acak itu membuatnya menjadi pria yang terkesan tidak rapi. Apalagi, ekspresi mata yang tidak memperdulikan apapun.
“Ada urusan apa?”
Terlebih dulu dia menyusuri taman untuk sampai di gerbang depan.
“Anu, aku ingin bertanya apa bapak tahu tentang sebuah gaun dengan corak bunga di sekelilingnya? Gaun yang kata orang di situ pernah diambil oleh bapak.”
Pria itu berpikir dulu, dia hendak menguak ingatannya.
“Ehm, ahh … iya. Gaun itu masih ada di rumahku sih.”
Sebuah senyum Gaia tampilkan, dia sudah mendapat yang diinginkan.
“Pak apa boleh aku melihatnya?”
“Haaah ya sudah, tapi jangan lama-lama yah.”
Bahkan nada bicara pria itu pun seperti menyimbolkan kalau dia tidak mau diganggu. Pria itu seperti seorang individualis yang sedang diganggu mahkluk sosial.
Tapi ya sudahlah, yang penting cepat sehingga tidak mengganggu waktu pribadinya. Pria itu membuka pintu gerbang dan menuntun Gaia masuk ke dalam.
Dia masih menjadi pemandu Gaia di dalam, tidak mungkinkan membiarkan Gaia berkeliaran di rumahnya yang luas. Di sepanjang perjalanan, Gaia juga melihat berbagai hiasan yang menghiasi dinding si paranormal.
Yah, dia semakin yakin kalau yang menemaninya adalah seorang paranormal. Lihat saja barang-barang kuno dan menyeramkan ini, mungkin ada sesuatu di dalam.
“Oh yah, biar lebih gampang panggil aku Eiji saja.”
“Baik pak Eiji.”
“Panggil namanya sajalah.”
“Oh, baik pak Eiji.”
Untuk selanjutnya, Eiji tidak ingin meladeni Gaia lagi. Keberadaan orang lain di rumahnya saja sudah menyebalkan, apalagi yang datang adalah tipe orang yang tidak mau mendengar perkataannya.
“Nah di sini tempatnya.”
Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan. Suasananya masih sama-sama saja sedari tadi, menyeramkan, dekil, dan kotor. Namun entah kenapa Gaia masih bisa terkagum.
Saat masuk pun tidak ada perkembangan sama sekali. Di tengah ruangan ada sebuah gaun yang terlipat di atas meja. Bentuk dan ciri-cirinya sih sama dengan yang Gaia cari.
__ADS_1
“Apa itu pakaian yang kamu maksud?”
“Iya pak.”
“Sudah kubilang ….”
“Ngomong-ngomong, kenapa gaun itu ada bersama bapak? Bukannya sebelum ini ada di sebuah onsen yah?”
Eiji berpikir sejenak. Dengan tangan yang memegangi dagu dan kepala yang diarahkan ke atas. Sebenarnya, pertanyaan itu sudah pernah ia tanyakan pada gadis yang ada di onsen. Tapi sekarang, dia hanya ingin memastikan apakah jawaban Eiji itu jujur atau bohong.
“Ahh … onsen milik keluarga Natsuki itu yah,” sekarang kepala Eiji menatap Gaia, “Kayaknya kamu memang punya hubungan erat dengan gaun itu dan juga, sepertinya baru-baru ini kamu pernah datang ke onsen itu.”
Gaia mengangguk. Dia tahu kenapa tebakan Eiji benar, jadi tidak ada yang perlu diherankan.
“Untuk pertanyaanmu tadi, sebenarnya aku yang mengajukan sendiri permintaan ini.”
Ternyata benar, Gaia sudah tidak perlu mencurigai informasi yang diberikan gadis itu padanya.
“Awalnya aku hanya iseng-iseng aja datang ke onsen itu. Aku dengar kabar kalau seluruh anggota keluarga Natsuki mati di tempat itu.”
Eiji duduk di kursi terlebih dulu. Tak lupa juga, dia menawarkan Gaia untuk duduk di sampingnya.
“Memang sih berita ini ditutup-tutupi, aku tahunya dari temanku yang seorang polisi. Hari itu, polisi mengadakan investigasi tempat kejadian. Aku sengaja ikut dan memeriksa kemungkinan kematian dari sisi paranormal.”
Eiji bahkan mengutipkan kata ‘paranormal’ memakai kedua tangannya.
“Saat aku masuk ke dalam, ehm … mungkin ruangannya kayak gudang. Aku menemukan sebuah gaun yang terlipat rapi di ruangan itu. Saat itu aku berpikir ‘ada yang aneh dengan gaun ini’ dan memutuskan untuk menyelidikinya. Jadi, aku meminta pada temanku untuk memohon izin pada atasannya.”
“Begitu.”
Sekarang Gaia mengerti, dia menandai dengan sebuah anggukan kepala.
“Tidak ahh, kan semuanya sudah meninggal.”
Sungguh jawaban yang membuat Gaia tersentak. Tidak ada, lalu dengan siapa Gaia berbicara tadi. Apalagi Eiji berkata kalau seluruh anggota keluarga Natsuki telah mati. Ahh, Gaia sadar. Makanya waktu dia tanya pertanyaan ini ke gadis yang bernama Ino itu, Ino langsung mengalihkan topik pembicaraan.
Yah, kenyataan itulah yang membuat ekspresi Gaia ketakutan. Tubuhnya bergetar, bulu kuduknya berdiri sendiri, dan mata Gaia, melotot menunjukkan rasa takut yang luar biasa. Tanpa sadar, dia sudah berhadapan langsung dengan sesosok yang disebut orang-orang sebagai … hantu.
“Ohh, jadi saat kamu ke sana kamu ketemu sosok itu yah?”
Mungkin pertanyaan itu kurang tepat waktu. Alhasil, Gaia merespon dengan memalingkan wajah gemetaran pada Eiji. Gerakannya kaku dan keringat dingin bercucuran. Tentu Eiji agak terganggu, dia pun memundurkan badan.
“I-iya.”
Tapi setelah dilihat-lihat lagi, ekspresi ketakutan Gaia sangat lucu, Eiji saja sampai tertawa kecil.
“Itu biasa, mungkin dia arwah penasaran. Bisa jadi karena urusan duniawi yang belum selesai atau bisa jadi karena … dia tidak dibiarkan tenang.”
Ucapan itu membuat Gaia teringat sesuatu. Segera dia bersihkan raut wajah ketakutan, agar bisa kembali ke tujuan awal.
“Oh yah, pak Eiji. Apa yang sudah Anda dapat dari gaun itu?”
“Tunggu sebentar.”
Eiji berdiri dan mengambil selembar kertas yang tersimpan di sebuah lemari. Setelah ditaruh di saku, dia kembali dan duduk lagi di samping Gaia.
“Ini.”
__ADS_1
Eiji memberikan kertas itu, sekilas Gaia memperhatikan kertas yang sudah ada di tangannya.
“Tulisannya berbahasa yunani kuno, coba kamu tebak … ada yang aneh gak dari kertas ini?”
“Ehm …,” Gaia memutar-mutar kertasnya, dia sedang mendalami pertanyaan Eiji, “Entah kenapa, aku merasa kertas ini sama sekali tidak sinkron dengan isinya.”
“Hahaha, tepat sekali. Tidak mungkin kertas zaman dulu bisa seputih sekarang. Itu malah mirip kertas HVS yang banyak dijual di warung. Tapi anehnya, kenapa ada yang niat nulis pakai bahasa yunani kuno.”
Gaia memang bingung, sekarang dia memeriksa isinya. Semula dia tidak mengerti tulisan itu, namun hal yang aneh tiba-tiba terjadi.
Semua tulisan di kertas, berubah menjadi tulisan kanji jepang. Matanya sih menangkap itu, tapi tidak dengan Eiji. Mata Eiji masih menangkap tulisan yunani kuno.
“Kenapa tiba-tiba tulisannya berubah?”
Gaia bertanya dengan memalingkan kepala menghadap Eiji, menuntut untuk dijawab pertanyaannya.
“Berubah? Apa maksudmu?”
“Maksudku, tadi kan tulisannya kata pak Eiji berbahasa yunani kuno, tapi saat aku baca lagi tiba-tiba tulisannya jadi tulisan jepang.”
“Heh! Coba aku lihat.”
Eiji saja tidak percaya, dia meminta kertas itu untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Gaia. Tapi sayangnya, nihil. Tulisan di kertas itu sama sekali tidak berubah sama seperti yang dilaporkan Gaia.
“Gimana pak?”
“Aneh, tidak ada yang berubah. Apa ucapanmu tadi benar?”
“Ta-tapi beneran berubah kok. Aku bisa membacanya kalau bapak mau.”
Eiji tidak kuat melihat wajah Gaia yang sedang memohon. Dia tidak tahu apakah omongannya hanya omong kosong atau memang benar-benar terjadi. Lagipula, tidak ada salahnya untuk dicoba. Dia bisa menilai Gaia berdasarkan cara membacanya.
“Bentar, sebenarnya aku juga pernah menerjemahkan kata-kata di kertas itu. Jadi mungkin …,” Eiji berlari ke sebuah lemari, dia membuka laci dan mengambil selembar kertas, “Aku bisa mencocokkannya.”
Gaia hanya mengangguk, dia sih tidak mempermasalahkan itu, karena dia yakin kalau penglihatannya sudah benar. Sampai Eiji kembali ke tempat semula, barulah Gaia sudah siap untuk membaca.
“Bait pertama tertulis .…”
Tanggalan telah ditentukan.
Sejak awal ia ada.
Berkhianat dan saling menjatuhkan.
Darah daging membunuh buah sesama.
Gaia membaca bait pertama dulu, dari tiga bait totalnya. Dia ingin mencocokkan isi bacaan dengan isi terjemahan yang ditulis Eiji. Saat dia melirik, dia menemukan wajah Eiji yang tersentak.
“Bagaimana?”
“Tidak mungkin, sama. Maksudku hampir sama, karena aku juga tidak terlalu bisa bahasa itu. Tapi kalau sudah 80 persen tepat, itu artinya ….”
Di satu sisi Gaia senang, tapi di sisi lain dia bimbang. Dia masih menerka maksud dari kertas itu, begitu pun dengan Eiji.
“Ada hubungan antara kertas itu dan kamu,” Eiji hendak menerka, disimbolkan dengan memegangi dagu, “Mungkin hubungan yang sangat erat, semacam surat rahasia yang memang ditujukan padamu.”
“Lalu apa arti dari bacaannya?”
__ADS_1
“Coba kita tulis hasil bacaanmu di sebuah buku.”
Eiji mengambil buku tulis dan ditaruh di sebuah meja. Dia sudah siap dengan penanya, tinggal menunggu untuk mencatat isi dari kertas yang tadi dibacakan Gaia.