
“Bagaimana kalau aku tidak bisa menepati janjiku?”
“Tidak, aku percaya padamu,” Yoki memaksakan kepala untuk melirik Kenichi yang terbaring di tanah, “Lihatlah, wajah kematian Kenichi yang puas dengan senyumannya. Pasti, apapun permintaannya telah kamu kabulkan.”
Kata-kata itu telah merasuk ke dalam Gaia. Yoki hanya asal bicara saja, dia hanya mengambil itu dari insting. Tapi, mau darimana pun sumbernya, kata-kata itu, ucapan itu, adalah rangkaian huruf yang begitu indah bagi Gaia.
Lihatlah, perlahan Gaia berubah menjadi gadis remaja yang pernah dikenal Yoki. Seragam sekolah bertipe sailor yang terakhir kali dipakai Gaia, juga ekspresi wajah yang telah memberi ketenangan bagi Yoki.
Darah yang melukiskan kengerian juga telah menghilang, seiring dengan semua perubahan yang terjadi. Di akhir hidupnya, Yoki bisa menyelamatkan Gaia. Walaupun singkat, tapi dia begitu bahagia. Akhirnya, dia dapat menyelamatkan orang yang berharga, walaupun nyawa menjadi bayaran.
“Kurasa aku hanya iri pada diriku yang tadi. Kebahagiannya, teman-temannya, andai aku pernah mendapat itu saat kecil.”
Tangan Yoki mengelus Gaia dengan lembut. Air mata keduanya bersatu, saling bertatapan, dalam senang dan duka bersama.
“Kenapa, kamu tidak ikut merasakan kebahagiaannya?”
Tiba-tiba sebuah ciuman datang ke bibir Gaia. ciuman yang lembut, ciri dari orang yang selama ini selalu bersamanya. Walaupun dia terkejut, tapi dia juga sangat menikmati ciuman itu.
“Sejak lama aku ingin mengatakan ini, aku … mencintaimu.”
Disaat itu pula rasa sakit Gaia datang. Ucapan itu telah menjadi ucapan yang mengiringi kematian Yoki. Sekarang tubuh Yoki sudah sepenuhnya menjadi cangkang kosong.
Penyesalan Gaia datang saat ini, walaupun berkat kerakusan masih ada, tapi hati Gaia jauh lebih berkuasa.
Memang benar, dia sudah jadi seperti dulu. Tapi, apa yang mau dia kenang sekarang? Mayat kedua temannya yang sudah tiada? Tentu saja, tidak ada yang bisa dikenang lagi.
Siapa yang berangkat bersamanya ke sekolah? Siapa yang akan menemaninya di sekolah? Lalu pada akhirnya, siapa yang akan menemaninya pulang sekarang?
Jawabannya tidak ada, dia sudah tidak punya apa-apa lagi. Semua kenangan telah habis, sekilas dia mengingat kembali buku yang pernah dia ceritakan pada Yoki dan Kenichi.
“Jadi, inilah perasaan sang tokoh utama saat semua temannya mati … yah?”
Kepala Gaia menatap bulan yang ada di atas. Dia mengutuki semua hal yang menimpa dirinya. Disitu juga, hati dan pikiran Gaia sedang membuat refleksi. Hasilnya, ada satu hal yang dia sadari … semua itu, terjadi karena keberadaannya di dunia ini.
“Ironiskan? Aku memang selalu dijauhi orang lain, aku memang selalu merasa kesepian. Bahkan …,” terhenti oleh isak tangis, isak tangis yang semakin dalam hingga menusuk hatinya, “Tuan takdir pun tidak mau menerima kebahagianku.”
Yah, itu sangat ironis, Gaia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan sedari kecil. Bahkan jika kalian menyebut kalau kebahagiaan Gaia terletak di semua perbuatan kejinya, mungkin, itu bukanlah kebahagiaan yang sejati.
Ya, pada dasarnya Gaia seperti gadis kecil yang tersesat. Sama seperti pemikiran Yoki, Gaia membutuhkan cahaya untuk kembali. Hanya remaja itu yang tahu, dan hanya dialah yang mau menjadi cahayanya.
__ADS_1
Gaia sadar. Tapi, satu hal yang tidak bisa diterima Gaia adalah kematian Yoki. Dia sama sekali tidak menyangka kalau cahaya itu juga akan menjadi cahaya kehidupan Yoki yang terakhir.
“Kenapa?”
Dari bulan, tatapan Gaia kembali kepada Yoki. Yoki dilepaskan dari pelukan dan ditaruh di dekat Kenichi. Hati sakit, matanya berharap akan melihat mata Yoki dan Kenichi yang terbuka lagi. Tapi, tidak akan pernah. Dia sadar kalau harapan itu telah sirna, sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah meratapi kepergian mereka berdua.
“Yoki … bodoh.”
Memang, kematian Yoki begitu bodoh, begitu naif, begitu egois, begitu nekat. Yah, semua kata-kata sarkasme dapat dimasukan untuk mengomentari kematiannya. Tapi pertanyaannya, apa kematian Yoki tidak ada artinya?
Tidak, kematian Yoki bukanlah kematian yang sia-sia. Nyawa memang sangat berharga, sangat mahal, bahkan bagi orang berduit yang duduk di singgasana.
Tapi remaja itu. Pria yang hidupnya boleh dibilang sebatang kara, menyedihkan dan tidak punya apa-apa, menyerahkan nyawanya secara sukarela demi sesuatu yang dinamakan pertemanan.
Apa itu semua tidak berarti? Tidak, tanpa disadari, itulah yang akan menjadi landasan masa depan mereka. Sesuatu, yang dinamakan Abyss sebagai ikatan.
“Tuan, apa yang Anda lakukan? Di mana … di mana Orthus?”
Datang sesosok yang berbentuk anjing. Dia menganggu Gaia yang sedang meratapi kepergian Yoki dan Kenichi. Kalau dilihat berdasarkan cirinya, kalian pasti mengira kalau itu bukanlah anjing biasa.
Lihat saja fisiknya, mungkin sejenis ras anjing herder, tapi yang membuatnya berbeda adalah ukuran dan kepala yang berjumlah tiga. Bahkan anjing yang bisa bicara, sudah tentu aneh bukan.
“Dia … sudah mati karena perbuatanku. Cerberus.”
“Dia sudah kembali ke ayahnya, dia sudah tenang di sana.”
“Kalau begitu, ayo kita kembali … tuanku.”
“Maaf, tapi aku tidak akan pernah kembali seperti diriku di masa lalu.”
Jawaban itulah yang membuat gigi Cerberus menggertak. Dari ketiga wajahnya, hanya kemarahan saja yang mencuat keluar.
“Dasar! Kau pikir … kau pikir yang aku, Hydra, dan Orthus lakukan hanya untuk kematian yang sia-sia seperti ini. Tidak! Kumohon tuanku, kembalilah. Aku tidak tahu harus bilang apa pada ayahku nanti.”
Gaia langsung membantingkan kepalanya. Dia menatap mata Cerberus lekat-lekat. Tatapan yang lekat itu telah membuat Cerberus ingat sesuatu.
Dia kenal tatapan dan aura ini, makanya matanya berbinar melihat pemandangan yang indah itu. Maksudnya hanya dalam penglihatan Cerberus saja, kalau orang awam sih biasa saja.
“Apakah kau ….”
__ADS_1
“Yah, aku sudah tahu diriku. Makanya aku berterima kasih pada Orthus dan mengembalikannya pada ayah kalian. Sekarang kalian sudah mendapatkan yang kalian inginkan, bahkan aku yakin kalau Echidna sudah kembali.”
Rasa senang Cerberus terus meluap. Dia tidak menyangka, kalau apa yang dia dan saudara-saudaranya lakukan tidak sia-sia. Setidaknya, tuan mereka sudah ingat semuanya.
“Jadi … Anda sudah tahu semuanya. Tentang kontrak dan perjanjian itu?”
Sebuah senyuman telah menjadi jawaban untuk Cerberus. Rasa senang Cerberus bukan kepalang, menggusur duka yang mendalam atas kematian saudaranya Orthus dan Hydra.
“Jadi, apa keputusan Anda?”
“Aku akan meninggalkan masa laluku dan hidup di masa depan yang damai ini.”
Dia berkata sambil melirik Yoki dan Kenichi kembali. Mereka berdua mati dengan sebuah senyuman, rasanya seperti dua orang tidur yang sedang bermimpi.
Yah, itulah yang membuat Gaia tidak ingin mengingkari janjinya pada Yoki, sambil berharap kalau mereka berdua bisa kembali ke dekapannya lagi.
“Apa kau yakin itu … tuan?”
Melirik Cerberus kembali, Gaia sudah siap untuk menjawab pertanyaan itu.
“Ya … dan perintah terakhirku, sebagai putri dari penguasa yang sah … aku, Elysia o’ Astaroth memerintahkanmu untuk kembali ke ayahmu.”
“Kenapa? Kenapa? Tapi, baiklah kalau itu yang tuan inginkan,” ketiga kepala Cerberus menunduk hormat. Tapi air mata yang keluar juga terlihat jelas oleh siapapun,” Kalau begitu, aku sebagai salah satu penjaga akan menuruti perintah tuanku.”
Kilauan cahaya menyelimuti tubuh Cerberus, perlahan-lahan tubuhnya tertelan oleh cahaya itu. Saat sudah tiga perempat bagian yang sudah diserap, Cerberus kembali menatap Gaia dengan tatapan yang menyedihkan.
“Tapi, apa tuan masih ingat dengan tujuan saat tuan melakukan dosa besar itu?”
Saat itu juga tubuh Cerberus menghilang, artinya pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Gaia itu sendiri. Namun sayang, bahkan dia yang diharapkan pun tidak tahu jawabannya. Gaia hanya terdiam karena pertanyaan yang dilayangkan oleh Cerberus.
“A-apa maksudnya?” Sebentar dia memegangi kepala untuk memikirkan pertanyaan Cerberus, tapi berakhir dengan sia-sia, “Ah … sudahlah. Aku tidak mau hidup seperti dulu lagi, sekarang aku ingin memulai hi ….”
Seketika mulut Gaia berhenti saat melihat kembali mayat Yoki dan Kenichi. Gumaman tadi kembali terngiang di kepala. Tanpa sadar, gumaman itu telah mengekang hati dan pikirannya.
“Kurasa, aku memang tidak pantas hidup di dunia manapun.”
Dengan perasaan yang goyah, Gaia menekuk lutut dan menatap kedua temannya yang telah tiada. Kakinya lesu, dia sudah tidak kuat untuk menopang semua perbuatan di masa lalu.
Dengan tenaga yang masih tersisa, dia mengangkat dan membopong tubuh Yoki dan Kenichi.
__ADS_1
Yah, kekuatannya masih ada, bahkan bertambah besar. Tapi untuk semangat hidup, mungkin sudah habis tak tersisa di hatinya. Tangannya saja bergemetar saat membawa jasad Yoki dan Kenichi.
Di sepanjang langkah, dia terus dihantui dengan kedua temannya. Hingga apa yang ada di matanya hanyalah sebuah … tatapan kosong.