RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~KEJADIAN YANG TIDAK TERDUGA~


__ADS_3

Di sekolah, malam hari ….


“Ya, jadi itu aja yang bapak mau bicarakan dengan kamu. Tunggu yah, bapak mau menandatangani ini dulu.”


Lama sekali perbincangan mereka. Sudah memakan 2 setengah jam dan waktu sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam. Tentu larut sekali bukan. Para penghuni sekolah saja sudah pada pulang, tinggal menyisakan mereka berdua dan pak satpam yang entah kenapa, membiarkan mereka berdua bermalaman di sekolah.


Semula, Yoki masih menonton pak Thomas yang sedang menandatangani setumpuk kertas. Dapat dipastikan kalau semua kertas itu adalah tugas. Yah, bisa dibuktikan dengan tanda tangan ditambah dengan nilai yang diberikan. Namun, tangan pak Thomas tiba-tiba berhenti dan bergemetar.


Kepala yang menunduk membuat Yoki tidak tahu dengan apa yang dialami pak Thomas. Yang dia tahu, pasti ada yang tidak beres.


“Pak, apa aku boleh pulang sekarang. Ini sudah mau jam 8.”


“Oh, ngomong-ngomong … berapa detik lagi sampai jam 8 tepat.”


Yoki melihat jam dinding yang terpasang di tengah kelas.


“Sepuluh detik lagi.”


“Kalu gitu, kamu hitung mundur sekarang.”


“Ehhh, ma-maksud bapak?”


“Cepat!!! sekarang.”


“Lima … empat … tiga … dua … satu .…”


Tepat di angka satu, pulpen yang ada tangan pak Thomas patah. Bukan tanpa sebab, itu disengaja karena pak Thomas menekan pulpen itu terlalu kuat. Yoki agak tersentak melihat itu, tapi ada keheranan di dalamnya.


“Ini bapak sehat apa yah?”


Hanya sebuah gumaman saja.


“Ak-hir-nya. Dia sudah kembali seperti sedia kala. Oh sayangku, oh tuanku hahaha ….”


Sedangkan pak Thomas secara terang-terangan mengatakan hal yang aneh, dia tertawa bersama racauannya. Yah, Yoki semakin bingung saja. Sayang, tuan, apa-apaan racauan yang datang tiba-tiba itu.


“Pak, aku sudah boleh pulang?”


Pak Thomas menjeda tawa. Kepalanya yang sedari tadi menatap langit-langit diturunkan untuk menatap Yoki. Dari raut wajah, dapat digambarkan kekesalan pak Thomas karena kesenangannya diganggu Yoki.


“Ahh, maaf-maaf. Sebentar lagi bapak juga akan selesai kok.”


Disembunyikan saja, pak Thomas kembali menandatangi kertas-kertas itu.


“Yoki, apa kamu pernah mengalami kejanggalan di dalam tubuhmu?”


“Eee ….”


“Tunggu-tunggu, kenapa bapak ini bertanya pertanyaan yang aneh?”


Yoki bergumam sebentar. Ia hendak menanyakan keanehan pak Thomas. Tidak akan mungkin ada jawaban sih, kalau dia hanya bertanya pada diri sendiri. Lagipula, Yoki juga tidak enak untuk bertanya langsung.


“Ti-tidak ada pak.”


“Begitu yah. Apa memang seperti itu?”


Pak Thomas tetap bersikeras untuk mempertahankan pertanyaan itu. Padahal kan pertanyaannya jauh melenceng dari topik pembicaraan mereka hari ini, bahkan merembes ke permasalahan pribadi.


“Coba kamu ingat-ingat kejadian hari itu … saat kamu melihat kedua orang tuamu mati.”


“Saat itu … eh tunggu. Apa bapak tahu kasus itu?”


Ada yang janggal di sini. Yoki mencoba untuk memastikan.

__ADS_1


“Telinga bapak ini bisa mendengar semuanya. Termasuk … masa lalu orang tuamu.”


Yoki rasa sudah cukup sampai di sini saja. Makin lama, obrolan mereka berdua semakin melenceng dari topik. Yah, lihat saja raut wajah Yoki yang terlihat marah saat disinggung mengenai kematian kedua orang tuanya.


“Eeee, ya sudahlah pak. Aku pamit mau pulang dulu.”


Tidak usah berbasa-basi lagi. Yoki juga tidak ingin menunggu pak Thomas menyelesaikan pekerjaannya. Dia langsung berdiri sembari membawa tas, tak lupa dengan sopan santun yang dia tunjukkan melalui tundukan kepala.


Setelah itu, dia langsung pergi keluar kelas. Tapi, itu tentu saja tidak dibiarkan oleh pak Thomas. Yoki melanggar perintah, dia harus segera mengingatkannya.


“Tunggu, kita kan belum selesai bicara.”


Yoki berbalik, hendak membalas ucapan itu.


“Bukannya sudah. Kan bapak memanggil saya untuk membicarakan nilai-nilai saya selama ini.”


“Oh begitu yah. Baiklah, kita ganti topik saja kalau gitu.”


“Tidak, bapak saja sendiri. Aku mau pulang, ini sudah terlalu malam.”


Yoki berbalik lagi. Dia sudah tidak mau berurusan dengan pak Thomas lagi.


“Yah, aku memang sangat membenci dia yang ada di tubuhmu.”


Baru saja kenop diputar dan pintu baru terbuka seperempat, pak Thomas malah membuat Yoki menghentikan langkahnya … lagi.


“Siapa … yang bapak maksud?”


Pak Thomas menciptakan senyuman miring, dia tahu kalau Yoki akan tertarik dengan ucapan liar yang dia keluarkan.


“Sudah kuduga, kau mengerti maksudku.”


“Sudahlah pak, aku pengen pulang. Aku saranin bapak juga pulang, mungkin ucapan ngawur tadi karena bapak sudah lelah.”


“Heh! A-apa yang terjadi?”


Yap, sesuatu terjadi pada lingkungan di sekitarnya. Awalnya lorong, tapi tempat berubah menjadi kelas.


Dia berakhir duduk di kursi dan di depan, sudah ada pak Thomas yang tersenyum miring menatap Yoki. Kesimpulannya, dia muncul di kelas yang sama, dengan tempat duduk dan penghuni yang sama pula.


“Ke-kenapa aku ada di sini?”


“Ya ampun,” pak Thomas bersender pada kursinya, “Cuma jurus sekecil ini pun memakan energi yang banyak. Aku memang tidak bisa berkembang di sini, apalagi dia belum sadar seutuhnya.”


“Apa yang terjadi padaku pak?”


Yoki kembali melayangkan pertanyaan pada pak Thomas yang sedang memejamkan mata. Untuk sesaat, tidak ada respon. Pak Thomas sedang asyik sendiri. Barulah beberapa menit kemudian, pak Thomas mulai melirik Yoki.


“Sudah lama sekali aku ingin memusnahkanmu.”


Yoki memiringkan kepala. Jawaban itu sama sekali tidak hubungannya dengan pertanyaan yang dia layangkan.


“Apa sih pak.”


“Hoo … mungkin aku harus ganti wujud.”


Tubuh pak Thomas bereaksi aneh. Seperti ada yang mau keluar dari dalam. Awalnya sih hanya di beberapa bagian, namun menyebar hingga seluruh badannya menggumpal. Hal ini berlangsung beberapa menit, Yoki sangat jijik karena harus menonton itu.


“Apa yang terjadi dengan tubuh pak Thomas? Ahh tidak, apa yang terjadi sebenarnya sih? Pertama ucapannya yang aneh, terus tubuhku yang tiba-tiba berpindah, lalu tubuh pak Thomas yang berubah aneh seperti … apalah itu namanya. Sebenarnya, dia itu pak Thomas yang aku kenal gak sih.”


Memang tidak salah kecurigaan Yoki. Setelah menggumpal, sebuah wujud terbentuk dari gumpalan itu. Membentuk sosok yang sontak membuat Yoki terkejut. Rambut pigtail berwarna pink dan dia adalah seorang wanita.


“K-kau … kau adalah Haori.”

__ADS_1


“Ohh, ternyata Yoki masih mengenalku. Syukurlah.”


Bukan hanya wujud, suara dan prilakunya juga menampilkan kepribadian Haori dengan sempurna. Setelah dipanggil Yoki, Haori langsung berdiri dan menjawab dengan suaranya yang imut. Sirna sudah keraguan Yoki. Ketika Haori berdiri, busana yang dipakai olehnya adalah seragam sekolah. Dengan ukuran dan aksesoris yang sama.


“Ini semua tidak masuk akal. Ini pasti mimpi.”


Mana ada orang yang akan menganggap semua itu normal, itu pun berlaku bagi Yoki. Dia memastikan kesadaran dengan cara mencubit-cubit pipinya berkali-kali, mana tahu yang dia lihat hanyalah sebuah mimpi. Tapi ternyata tidak, malahan itu menambah warna merah pada pipinya. Ini semua memang asli, apapun yang terjadi pada Yoki itu nyata.


“Kenapa, sebenarnya ada apa ini?”


“Yo-ki, apa kamu ingin tahu apa yang sedang terjadi?”


Yoki mengangguk kaku. Namun untuk saat ini dirinya menolak pribadi Haori, dia agak sedikit resah sekarang. Walaupun prilaku Haori nampak seperti biasa, namun Yoki menolak semua fakta itu.


“Saat ini, aku sedang membantu dia.”


“Membantu siapa?”


“Tuanku, Gaia.”


Keresahan Yoki sudah mencapai puncak. Memang semua keanehan ini, mungkin dapat ia terima. Tapi, kenapa Gaia harus dibawa-bawa.


“Apa maksudmu, Haori?”


“Ahh, keren. Yoki memanggil namaku lagi. Yah, kalau dijelaskan memang agak panjang dan pastinya kamu tidak akan mengerti. Intinya, aku ingin membantu mengembalikan tuanku ke wujud aslinya.”


Yoki tidak akan terintimidasi dengan perkataan itu. Walaupun memang sangat membingungkan, tapi Yoki tetap berdiri untuk menentangkan Haori.


“Denger yah Haori, walaupun segala keanehan dan keganjilan ini. Atau tentang segala kebaikanmu yang diberikan pada kami tempo hari, aku … sama sekali tidak menganggapmu sebagai teman, jika kamu berani menyakiti Gaia.”


“Oh, emang aku bilang aku ingin jadi teman kalian. Lagipula, kan aku bilangnya membantu, bukan menyiksa.”


Walaupun nadanya imut dan menggemaskan, namun isinya tetap saja mengesalkan. Gaya bicara dengan senyuman Haori, seperti menunjukkan kesombongan.


Yoki jelas tidak suka itu, dia pun menggebrak meja dan berdiri menatap Haori. Gigi Yoki menggertak, tinggal tunggu kata-kata yang keluar dari kemarahannya.


“Diam kau, k*parat! Kau pikir … kau pikir kami bertiga hanya mainan hah!?”


“Ya ampun, mungkin mainan adalah kata-kata yang tepat.”


“Sialan!”


Yoki juga punya batas kesabaran. Untuk menghadapi orang yang satu ini, Yoki terpaksa menggunakan fisik untuknya. Dia menarik kerah baju Haori. Mau itu perempuan atau laki-laki, yang namanya bersalah akan tetap bersalah.


“Jawab aku, apa yang kau lakukan pada Gaia?”


“Uhhh, santai … santai,” Bagi Haori itu terlalu dekat, jadi dia memundurkan kepala dan mengisyaratkan Yoki untuk menjauh dengan kedua tangannya, “Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku akan menjelaskan secara ringkas.”


“Apa yang bisa baik-baik setelah kamu mengatakan itu semua, hah?!”


“Ya sudah,” sekarang Haori sudah duduk, sedangkan Yoki masih tetap bediri dengan emosinya, “Tapi, kamu bisa duduk kan?”


Kemarahan Yoki agak teralihkan karena perkataan Haori. Dia sih sebenarnya tidak sabar untuk mendapat jawaban, tapi kalau itu bisa mempercepat urusannya sih tidak apa-apa. Dia pun menurut dan duduk sesuai permintaan Haori.


“Sekarang jawab.”


“Sabar, sabar. Kita ngobrol sambil minum teh dulu.”


“Heh!”


Yoki tidak mengerti, sampai Haori mengeluarkan teko dan cangkir teh dari bawah meja. Itu pasti membuat Yoki ingin tahu. Dia dengan mata menyelidik melihat ke bawah meja. Kosong melompong, tidak ada trik atau tipuan di dalamnya.


Bahkan kalaupun tempat menyimpannya adalah meja, mana mungkin teko yang segitu besar bisa muat di laci.

__ADS_1


__ADS_2