
“Beelzebub.”
Suara Gaia juga menjadi lesuh, menjadi misteri tersendiri untuk Beelzebub.
“Ya, Elysia.”
“Berarti aku harus tetap mempertahankan diriku saat ini, sampai aku sudah selesai berhadapan dengan para polisi itu yah?”
“Ya.”
“Kalau gitu, aku percayakan urusannya padamu.”
Gaia tidak menunggu Beelzebub untuk membalas ataupun merespon ucapannya. Dia langsung pergi mendekati Beelzebub, dengan langkah yang sama seperti suaranya.
Lalu melewatinya, tanpa pamitan atau sepatah kata pun. Gaia terus berjalan ke pintu yang sudah menunggunya di depan, sampai dia keluar melalui pintu itu.
*****
“Gaia.”
“Heh!”
Gaia sadar dengan ekpresi tersentak. Dia mendapati dirinya tengah berada di sebuah kamar mandi. Posisi dia saat bangun adalah duduk di lantai kamar mandi, sama seperti saat dia tidak sadarkan diri tadi.
Memang saat pertama kali membuka mata, Gaia tidak melihat siapa-siapa. Tapi saat lirikannya beralih ke kanan, dia mendapati Yoki yang sedang berjongkok persis di sampingnya.
“Yo, Ga ….”
Sambutan hangat telah diterima Yoki, bahkan sebelum sempat dia mengeluarkan sapaan. Bekas yang dapat terlihat adalah warna merah yang persis muncul di pipi kanan Yoki. Bukan tanpa sebab, Gaia dengan sepenuh hati langsung memukul Yoki, menyebabkan bekas yang moga-mogahan tidak akan menjadi permanen.
“Mesum.”
“Bukan … begitu.”
Mendengar nada menderita Yoki, Gaia langsung tertunduk sejenak. Dia pun memutuskan untuk langsung memeluk Yoki dengan erat, lagi. Yah, dua kali dia sudah memeluk Yoki tanpa diberitahukan terlebih dulu. Sungguh, dia seperti mempunyai masalah dalam membatasi jumlah pelukannya.
Alhasil, wajah Yoki memerah seperti tomat dan ada sedikit tambahan jika dibandingkan dengan pelukan pagi tadi. Pelukan kali ini, mengabaikan luka yang berada di bahu kanan Yoki. Jadi, Yoki sangat kesakitan dan meledak dalam jeritan.
“Gaia … Gaia … Gaia … sakit … ugh …. sakit … ugh ….”
Ekspresi Yoki jelek, seperti orang yang kebelet BAB tapi lubang duburnya sedang mengalami kemacetan.
Setelah beberapa saat, akhirnya kekangan penyiksaan itu berakhir. Gaia yang menyudahi pelukannya, memutuskan untuk menatap Yoki.
Gaia menemukan air mata yang menggantung di mata Yoki, dia menafsirkan itu sebagai bentuk perasaan yang Yoki keluarkan padanya. Gaia terharu akan itu - walau dia sebenarnya salah tafsir, dan langsung memeluk Yoki kembali.
“Untung sudah atatata … Gaia, jangan dipeluk lagi! Awww ….”
Sudahlah Yoki, dia juga gak dengar. Gaia saat ini sedang mendalami pikirannya, turun ke alam bawah sadar, hendak menggumamkan sesuatu.
“CIKH … sudah kuduga, aku tidak merasakan apa-apa saat memeluk Yoki. Seperti … semua perasaanku hilang dalam sekejap, apa seterpuruk inikah diriku yang dulu. Bahkan aku merasa hambar, padahal Yoki adalah teman terdekatku.”
Sekarang Gaia sudah selesai, waktunya kembali ke permukaan alam sadarnya.
“Yo-Yoki, jangan-jangan.”
Tangisan dan teriakan yang terlalu norak itu sudah bukan disebabkan oleh rasa terharu lagi. Gaia juga bingung dengan maksud dari Yoki yang saat ini sedang histeris.
Yah, walaupun dia sedang berpikir, tapi pelukan itu tetap melekat di tubuh Yoki. Pasti bisa terbayang rasa sakit yang harus Yoki pasrahkan demi ketidakpedulian Gaia terhadapnya.
“Jangan-jangan, luka yang waktu itu.”
Baru sadar, dia tidak tahu selama apa perjuangan Yoki sejak tadi. Nafas yang terbuang-buang, rasa sakit yang kembali mencuat, dan keringat yang terbuang sia-sia. Yoki saat ini sedang tertunduk lesuh, tapi Gaia sama sekali tidak merasa iba.
__ADS_1
“Yoki … maafkan aku.”
Yoki tidak mempermasalahkan masalah tadi, tapi dia juga hendak menyambut permintaan maaf Gaia. Dia pun kembali mengangkat kepala dan yang dia dapat … hanya suara yang keluar dari wajah yang datar. Tidak ada rasanya dan telah membuat ekspektasi Yoki menjadi pudar.
“Heh! Mukamu kok jadi serem.”
“Maaf … eee, maksudku aku minta maaf.”
Tidak ada perkembangan, masih tetap datar. Setidaknya, dia sudah mengeluarkan usaha maksimal.
“Ya sudah, gak papa. Kita kembali ke kelas.”
Yoki berdiri dengan senyuman dan tangan kiri yang terulur kepada Gaia. Mungkin sekilas dia nampak baik-baik saja bukan, tapi sebenarnya ada sebuah penderitaan yang sedang ditahan Yoki.
Gaia melihat beberapa ciri seperti uluran tangan kiri dan bukan tangan kanan, juga senyuman yang terlihat seperti hasil rekayasa.
“Ya sudah,” Gaia berdiri, tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, “Kenapa kamu masuk ke toilet perempuan?”
“Toilet perempuan? Ngak ahh, ini toilet laki-laki. Orang aku pas ke toilet lihat kamu lagi terbaring di lantai.”
“CIKH … apa yang kamu lakukan saat aku sedang tidak sadarkan diri, hah?!”
Suasananya berganti suram, hal itu dimulai dengan kemarahan yang Gaia lampiaskan. Yoki saja sampai lupa pada rasa sakitnya dan memilih untuk bergidik ketakutan. Dia sama sekali tidak menyangka akan keluar kata-kata seperti itu dari wajah temannya yang cantik itu.
“Hanya kencing, lalu ke wastafel dan ….”
“Uh, maaf. Entah kenapa … emosiku meledak-ledak.”
Untung kembali tenang, meninggalkan keringat yang membasahi tubuh Yoki.
“Tidak apa-apa, itu sudah wajar kok. Berarti kamu sehat dalam kedewasaanmu.”
“A-apa maksudmu?”
Yoki meninggalkan kebingungan yang melanda Gaia saat ini. Lagipula, Gaia membuang ucapan Yoki sebagai sampah dan mengikuti Yoki dari belakang.
*****
Suasana di lorong sekolah sedang sepi, Gaia mulai merasakan firasat yang tidak enak. Saat mereka sudah sampai di dalam kelas, firasat Gaia menjadi kenyataan.
Seluruh murid di kelas mereka sudah duduk siap di tempatnya masing-masing, lengkap dengan pak guru yang sedang memberikan penjelasan tentang pelajaran.
Satu set kelas yang lengkap dan disiplin, dihancurkan karena keterlambatan mereka berdua. Kini mereka menjadi fokus semua orang, tak terkecuali dengan pak guru yang mengerem mulut demi melirik mereka berdua.
Seketika, kegiatan pembelajaran di kelas terhenti sesaat. Dengan ditambah oleh wajah pak guru yang menjadi masam, nampaknya ada hadiah bagi dua pengganggu itu.
“Haaah … ternyata aku telat.”
“Ya sudahlah.”
Di sekolah itu juga ada aturan dan yang melanggar aturan harus dihukum. Karena keterlambatannya, mereka berdua terpaksa berdiri di depan kelas sambil memegang ember di kedua tangannya. Dua kali hukuman beruntun bagi mereka berdua, itupun sama lagi hukumannya.
“Yoki … kenapa kamu terlambat?”
“Ahh, soal itu.”
Yoki hanya bisa membuang pandangan. Dia menjauh dari hadapan Gaia. Gaia tahu perilaku itu, tapi Yoki tidak ingin membicarakan kejadian tadi, karena dia tidak mau menyakiti perasaan Gaia.
“Kalau gitu maaf, karena telah melukaimu.”
Biasanya ketika Yoki berbalik, dia akan mengklarifikasi permintaan maaf Gaia. Tapi kali ini berbeda, dia malah terpanah dengan ekspresi Gaia. Begitu dingin dan kaku, seperti tidak ada celah untuk memberikan rasa kasihan.
“Ya-ya sudah.”
__ADS_1
“CIKH, lagi-lagi tidak ada perasaan yang keluar.”
Gaia mengevaluasi hasilnya yang buruk. Dia benar-benar tidak tahan dengan tubuh yang tidak berperasaan ini, ingin rasanya mengatakan sesuatu yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam.
“Oh yah Gaia, kenapa kamu tadi tiba-tiba pingsan di kamar mandi laki-laki?”
“Bukan urusanmu! Eh, ma-maksudku ….”
Lawan bicara Yoki sedang tidak enak untuk diajak ngobrol, Yoki pun membuang tatapan untuk menghentikan obrolan mereka.
“Aku tadi … ehm, entahlah. Tiba-tiba pingsan saja.”
“Haaah … ya sudah.”
“Lalu, bagaimana lukamu?”
Yoki sedikit melirik ke seragam gakuren di sisi kanan. Di dalamnya terdapat perban yang sedang membungkus bekas luka tadi. Sedangkan bekas gigitan Gaia bisa terlihat jelas di seragamnya.
“Udah aku obati kok, tenang saja.”
Yoki menatap Gaia kembali, yang dia dapat hanya anggukan yang berasal dari wajah yang beku. Setelahnya, mereka berdua hanya diam. Tidak ada topik yang akan dibahas lagi. Lagipula, Yoki dan Gaia yakin kalau diteruskan malah akan memperburuk keadaan.
*****
Di dalam kelas, jam istirahat ….
“Kenapa kamu bisa terlambat, Yoki?”
“Cikh, apa-apaan muka penuh senyum itu Kenichi. Apa mau sombong karena kamu belum mendapatkan hukuman untuk hari ini?”
Untuk merilekskan suasana, Kenichi memindahkan kursinya ke samping meja Yoki. Begitu pun dengan Gaia yang membalikkan kursinya ke belakang. Sekarang, Yokilah yang menjadi pusat perhatian dari kedua temannya. Tentu saja, secara tidak langsung ini telah membuatnya gugup.
“Ke-kenapa kalian memindahkan kursi ke arahku?”
Tidak ada jawaban, Yoki menenggak ludah karena respon yang diberikan.
“Hoho, irikah? Tidak perlu iri, lagipula kamu sudah menambahkan gelar ke koleksimu … kan?”
“Haaah … terserahlah. Aku juga tidak terlalu peduli dengan koleksi-koleksiku.”
Interogasi untuk orang pertama sudah selesai, sekarang Kenichi lanjut ke orang kedua. Dia melirik ke kanan, di situ sudah ada Gaia.
“Tapi, aku heran padamu. Kamu baru kali ini dapat hukuman, dua kali. Di dua pelajaran dan kesalahan yang sama seperti Yoki. Apa, ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?”
Kenichi hanya ingin memulai candaannya, namun ditanggapi berlebihan oleh Yoki. Badan Yoki langsung disentakkan ke depan dan menarik mata Kenichi untuk meliriknya.
“Ja-jangan berpikiran yang aneh-aneh, Kenichi.”
Nada gugup dan wajah yang memerah. Kedua ciri itu telah mengungkap tempat persembunyian Yoki. Kenichi yang melihatnya tersenyum. Merasa menang, jika dibandingkan dengan ekspresi Yoki yang tenggelam di dalam malu.
“Hoo … begitu-begitu.”
Yoki menyembunyikan tatapan. Dia tidak tahu lagi harus menghadapi Kenichi dengan cara apa. Muka merah Yoki berisi dengan kenangan tentang pelukan Gaia, di dua kali hukuman yang sama. Sudah dua hari berturut-turut, mungkin Yoki harus beradaptasi jika terjadi seperti itu lagi.
“Ke-ni-chi, begini ….”
Ada tamu tak diundang nih, apalagi tamu itu adalah orang yang telah dua kali menonton adegan pelukan Yoki. Berarti, Yoki sedang kedatangan tamu yang harus dia waspadai.
Lihat saja mata dan wajah Yoki, semua terlukis jelas dari getaran yang telah dihasilkan. Mata Yoki, seperti sedang menghadapi monster mengerikan, yang datang dengan membawa cuplikan yang berhasil direkam di ingatan.
“Aiha.”
Hanya Kenichilah yang mau menyapa kedatangan tamu itu.
__ADS_1
“Mereka itu …,” Aiha mendekati telinga Kenichi. Semakin dekat, raut wajah Yoki pun nampak ingin meledak, “Sudah pelukan, dua kali lagi.”