
Bunyi nyaring berdenting dari bel sekolah, tugas bel itu dilaksanakan dengan baik. Menandakan waktu istirahat bagi para siswa dan semua personel sekolah.
“Baiklah, kita lanjutkan pelajarannya besok.”
Saat bu guru melangkah sedikit keluar dari mejanya, ia terhenti sejenak dan kembali berbalik menghadap para murid. Namun, alangkah terkejut guru tersebut saat melihat para murid yang sudah berkerumun di jendela kelas yang terletak di kiri.
“Woy ngapain kalian woi?”
“Tidak ada.”
Para murid menjawab serentak, diiringi dengan kaki mereka yang berlari serentak keluar kelas. Dalam sekejap, kelas menjadi kosong. Hanya menyisakan bu guru yang hanya diam menganga.
“Ada apa dengan mereka? Bahkan, aku yang duduk di pojok aja sampai didempet oleh banyak murid.”
Berbeda dengan murid yang lainnya, Saat sudah berada di luar kelas Yoki memperlambat langkahnya. Sebenarnya, ada murid lain yang juga memperlambat larinya. Namun semua sudah memencar. Alasannya untuk ikut-ikutan berlari cukup simpel sebenarnya.
“Haah … yang penting bu guru tidak menanyakan pekerjaan rumah yang diberikan pada kami. Yah, hampir saja.”
Yoki bergumam dan tak lupa memberi senyuman pada gumamannya. Ia meneruskan langkah menuju kantin sekolah.
“Apa! Kemana semua orang?”
Saat sudah sampai, Yoki terkejut. Biasanya, hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk berdesakkan merebut meja di kantin tersebut. Maklum, biasanya semua murid sudah berdatangan karena perut yang keroncongan.
Namun berbeda pada hari ini, antrian nyaris tak ada. Meja-meja kosong dengan kursi panjang yang sepi. Bahkan, jika tiduran di situ pun tidak akan ditertawakan banyak orang.
“Pak, kemana semua orang?”
“Eee … mereka sedang ada di parkiran mobil.”
“Begitu, makasih pak.”
Yoki menundukkan badannya, lalu pergi ke tempat yang dimaksudkan. Sedangkan bapak itu, entah kenapa merasa sedih.
“Haaah, harusnya aku gak bilang.”
“Makanya jangan terlalu baik!”
Sebuah suara stainless steel berbenturan dengan kepala milik si bapak. Saat ia berbalik sembari memegang kepalanya, barulah ia tahu siapa yang telah menghantamkan panci dengan kepalanya.
*****
“Woah ramai sekali.”
Yoki berdecak kagum pada keramaian itu. Namun, hatinya sedikit kesal karena terlambat datang. Sekarang Yoki tidak bisa melihat objek yang menjadi pusat perhatian karena barisan murid yang menjadi penghalang.
__ADS_1
“Permisi, apa yang kalian perhatikan?”
“Hah, padahal kau duduk di pojok tapi gak tahu apa-apa.”
Ucapan ketus itu membuat Yoki sedikit kesal. Giginya di gertakkan seraya bergumam, “Bagaimana aku bisa lihat, kalau yang mendempetku perempuan semua.”
“Kau marah?”
“Ahh, tidak-tidak,” Yoki memperbaiki lagi sikapnya dengan tertawaan yang dibuat-buat, sedikit membingungkan siswa itu tentunya, “Jadi sebenarnya, ada keramaian apa disini?”
Yoki bertanya sambil memalingkan mata, walaupun pandangannya terhalang oleh punggung siswa tinggi di depannya.
“Haaah … kau ini tidak mendengar pengumuman sekolah kemarin yah?”
“Hee … pengu-muman.”
Sejenak Yoki berpikir. Kembali mencari memori kemarin. Saat dia sudah ingat semua, kepalanya tersentak ke atas secara cepat.
“Apa yang pas aku tidur yah?”
“Kan, makanya jangan jadi tukang tidur.”
Mulut Yoki sedikit dimanyunkan, merasa tak bersalah. Dipikirnya, event dalam game jauh lebih penting dari sekolah yang berulang setiap hari.
“Siswa itu adalah Ichiro Takao. Yang artinya putra pertama seorang bangsawan.”
Namun, sebuah pertanyaan juga timbul di benak Yoki. Tempat tinggal Takao terletak cukup jauh dari sekolah Yoki. Ditambah, sekolah Takao bukan di sini.
*****
Sementara itu di sisi lain, berkumpul sekelompok siswa yang juga menonton anak itu. Mereka adalah Terasaka dan teman-temannya.
“Bukankah kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukan status di sekolah … bos?”
“Mm … Mm, boleh juga. Kali ini kita akan buktikan kasta kita di sekolah.”
“Ahhh … Takao masuk ke aula sekolah.”
Suara seorang siswi mengalihkan perhatian mereka.
Semuanya langsung mengikuti ke mana arah Takao berjalan. Aula sekolah berada di gedung sebelah kanan dari gedung utama yang ada di tengah. Biasanya selain dipakai untuk acara resmi, aula sekolah juga di pakai untuk beberapa kegiatan ekstrakulikuler yang membutuhkan area luas sebagai tempatnya.
Takao berdiri di tengah, dikelilingi murid-murid yang duduk mengelilinginya. Awalnya ia berpidato, panjang dan berwibawa. Pidatonya berisi tentang rencananya untuk memberikan liburan gratis bagi sekolah ini.
“Apa ada syarat kah?”
__ADS_1
Salah satu guru yang ikut kerumuman bertanya.
“Tentu saja, kalian harus berterima kasih pada rival abadiku sewaktu SMP.”
Tangannya terbuka, menunjuk ke salah satu siswa di barisan belakang. Semua mata langsung tertuju, melihat orang yang dimaksud Takao.
“Silahkan maju.”
Siswa yang ditunjuk itu adalah Kenichi. Bukannya menunjukkan perasaan senang, ia malah geram pada panggilan itu. Sikapnya sangat berbeda dengan Takao. Sementara, para hadirin berdecak heran. Tidak menyangka pada siswa yang dimaksud Takao.
Kenichi berdiri, terlihat malas dari ekspresinya. Lalu berjalan pelan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.
“Ada apa? Lagi-lagi kau mengganggu hidupku.”
“Kau tidak senang melihatku, rival abadiku?”
“Heh ….”
Kenichi membuang pandang ke arah lain, tidak peduli pada ucapan Takao.
“Begini, untuk mengenang kembali persaingan kita, aku ingin mengadakan pertandingan denganmu. Jika kamu menang, maka aku bersedia membiayai seluruh biaya perjalanan outing sekolahmu. Bagaimana?”
Satu tangannya diulurkan terbuka. Bermaksud untuk memberikan tawaran pada Kenichi. Sedangkan Kenichi, hanya diam dengan mata yang masih menatap ke arah lain.
Dia benar-benar malas berhadapan dengan rivalnya sewaktu SMP. Setiap hari dia tidak tenang karena diganggu terus oleh Takao. Bisa dibilang, saat masuk SMA ia sudah merasa tenang. Namun ia kembali kesal saat melihat wajah dari sang rival. Rival yang membuatnya terkenal akan kejahilannya di mata para guru.
“Memang kau sudah mendapat persetujuan dari para guru?”
“Tentu saja sudah. Apa kau tahu, mereka sampai rela untuk meniadakan karya wisata sekolah kalian demi liburan yang aku berikan.”
Jawaban Takao membuat wajah Kenichi berubah kesal. Tapi itu tetap ia sembunyikan. Dia perlahan memiringkan kepalanya, melirik ke arah seorang guru yang terlihat antusias seraya bergumam, “Kalau begitu untuk apa kami membayar uang kegiatan, dasar mata duitan.”
“Tapi, jangan beritahu siapa-siapa. Nanti sekolah ini bisa didemo muridnya sendiri hahaha ….”
“Heee ….”
Kenichi menatap lagi Takao yang tadi mendekatkan mulut ke telinganya. Heran, pikirnya Takao tidak memiliki selera humor yang memadai.
“Jadi bagaimana?”
“Aku ….”
“Apa aku boleh mengajukan saran?”
Sebuah pertanyaan terdengar dari orang yang duduk di barisan tengah, seorang siswa berbadan kekar sedang mengangkat satu tangan dengan wajah yang antusias.
__ADS_1
Dan, tentu semua mata tak terkecuali Kenichi langsung menatap orang itu dengan pandangan yang berbeda-beda pula.
“Ada apa lagi si br*ngs*k Terasaka ini?”