RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~INI MASALAHKU 7~


__ADS_3

Saat Kenichi sudah berada di lantai dua, kelompok itu masih berada di anak tangga. Dia rasa tempat ini cocok untuk rencananya. Kenichi menyahuti mereka dan sepertinya semua terpengaruh oleh sahutan Kenichi.


Mengambil sebuah benda dan kembali memandang sekelompok orang yang posisinya sekarang lebih rendah darinya.


“Hei kalian, ayo lihat ke sini apa kalian tahu apa benda ini?”


Seketika orang-orang itu melihat pada benda yang dipegang oleh tangan kanan Kenichi dan menjawab serentak,“Barbel 50 kilogram.”


Itu sudah jelas, dari tulisan besar yang tertera pada barbel itu. Aneh, itulah yang dipikirkan oleh mereka. Tapi, mereka masih saja meremehkan kemampuan Kenichi.


“Pinter, sekarang sebagai hadiahnya aku akan memberikan barbel ini kepada kalian.”


Barbel itu dibanting ke bawah. Ternyata, total berat mereka ditambah barbel yang dibanting dengan sangat keras, sudah mampu menggoyahkan tangga di bawahnya.


Tangga itu runtuh bersama mereka. Memang tangga itu tidak terlalu tinggi, tapi yang menunggu di bawah adalah yang paling menakutkan.


Jebakan beruang, serta berbagai jebakan lain sudah siap menyambut mereka. Teriakan kesakitan dan darah menjadi dominasi dari keadaannya. Tidak terduga, mereka sedikit menaruh rasa heran yang tersirat dengan sebuah pertanyaan.


Bagaimana bisa Kenichi mendapatkan semua itu? Yah, itu semua hampir sama dengan misteri darimana Kenichi bisa hidup dan bersekolah sampai sekarang. Padahal biaya hidup di sini lumayan besar.


“Payah, kukira aku bisa membalas dendam saudaraku.”


Sekarang kesempatan Genki sudah habis, bersamaan dengan tubuh bagian bawah yang terluka sangat parah.


Tidak hanya dia, bahkan yang lain pun ikut merasakan kesakitan yang sama. Seketika, teriakan dan erangan kesakitan memenuhi rumah Kenichi.


“Kurang ajar! sekarang habislah kau!”


Kenichi ketinggalan satu, pemimpin baru saja sampai dan melihat semua anak buah terluka dengan sangat parah. Ini tentu membuatnya marah. Dilampiaskan dengan menembaki Kenichi. Hampir saja, untung Kenichi melihat pistol yang dikeluarkan oleh pria itu. Jeda sesaat sebelum pria itu menembak, Kenichi sudah lari untuk menghindar.


Kekalahan bukanlah hal yang bisa diterima olehnya. Dia berlari, hendak meneruskan usaha bawahannya. Agak lambat memang, tapi itu karena beban tubuh yang dipikul.


“Jangan lari kau!”


Pria itu mengejar Kenichi ke lantai dua menggunakan sebuah tali yang terjuntai. Memang susah payah untuk menaiki tali itu, tapi tetap saja ia berhasil sampai ke lantai dua. Kehilangan jejak Kenichi, pria itu pun mencoba mencari-cari letak keberadaan Kenichi.


Langkah semakin masuk ke dalam lorong di lantai dua, tanpa sadar ada seseorang yang mengawasinya.


“Whoa, dia pakai pistol. Hahaha, makin menarik. Kalau tidak salah … itu adalah pistol revolver. Kalau begitu, pelurunya hanya sedikit. Tapi aku tidak tahu kaliber peluru yang dipakainya.”


Kenichi bersembunyi di balik tembok yang dilingkupi kegelapan. Dia hendak mengawasi bos itu. Ini adalah kandangnya dan mana mungkin dia mau kalah di sini.


“Apa aku harus memastikan, yah?”


“Kenichi, jangan bersembunyi lagi. Kau tidak perlu sungkan untuk menjadi buruanku hahaha ….”


Pria itu berbalik dan melihat sebuah lorong yang gelap. Awalnya dia ingin mengecek, tapi tiba-tiba sebuah pisau dengan cepat meluncur ke arahnya.


“Jadi kau di situ yah rupanya.”


Hanya tanggapan yang tenang, sepertinya dia mempunyai bekal yang melebihi kemampuan dari sang pisau. Itu benar, saat pisau itu mendekat dia langsung menarik pelatuk pistol dan mengenainya.


“Lumayan jitu tembakan, tapi kita akan lihat,” Kenichi menunjukkan empat buah pisau dari balik bajunya, “Amunisi siapa yang lebih cepat habis.”


Mata Kenichi menatap pria gendut yang tepat berada di belakangnya. Jaraknya dengan orang itu lumayan jauh dan juga terpisah karena kegelapan yang menutupi keberadaan Kenichi.

__ADS_1


“Waktunya bermain, mangsa.”


Dia berjalan, ke arah tempat berasalnya pisau yang muncul tadi. Dia hampir mencapai batas kegelapan dan itu artinya, dia semakin dekat dengan Kenichi.


Tapi langkahnya tiba-tiba mundur, dia mendeteksi adanya pisau yang meluncur cepat. Yap benar dugaannya, dia pun dengan cepat menarik pelatuk dan mengenai pisau itu.


“Jaa, kau pikir aku tidak tahu.”


Dia sengaja mengeraskan suara, agar sosok yang bersembunyi di balik serangan ikut terpancing.


“Wah, kau pikir hanya itu rencanaku.”


Kenichi sudah menyiapkan rencana selanjutnya. Kali ini dia akan menjalankan rencana terakhir, karena hampir semua amunisi sudah dia siapkan.


“Hee, ada yang aneh.”


Pria itu memasang wajah waspada, dia sama sekali tidak mengetahui apa yang akan datang dari kegelapan di depannya.


Pelatuk pistol dipegang erat, supaya berjaga-jaga untuk serangan yang mungkin akan datang. Sedangkan kaki, dia memasang kuda-kuda agar tubuh tetap seimbang.


“Langsung semuanya yah. Kau pikir, kemampuan sister hanya sampai segini saja.”


Ternyata yang datang dari kegelapan adalah dua buah pisau yang meluncur cepat. Mungkin bagi orang awam, itu adalah sebuah ancaman yang berarti.


Tapi berbeda dengannya, dia malah meremehkan serangan Kenichi. Dengan mengarahkan moncong pistol ke arah pisau-pisau yang meluncur cepat, sepertinya dia ingin unjuk gigi dan membuktikan kualitasnya.


Dan yah, kata-kata itu bukan hanya sekedar omongan. Fokus dan akurasinya sangat tinggi. Dia mulai menembaki pisau yang dekat dengannya terlebih dulu, lalu hanya dalam waktu kurang dari 1 detik saja dia sudah mampu mengenai semua pisau tersebut.


Semua sudah beres. Sebagai tanda kebanggaan, dia meniup moncong pistol.


“Hoo … mari kita akhiri permainan ini.”


“Kau belum belajar yah, bocah,” Bos itu mengelak dan berhasil menghindari serangan itu, “Sudah cukup waktu bermainnya. Sekarang … tunjukkan dirimu yang sebenarnya!”


Dia bertanya dengan aura yang terbalut amarah. Benar-benar kesal dibuatnya, hingga bertanya dengan maksud untuk menantang Kenichi. Yah, dia sudah ingin menyelesaikan misi ini dan kembali ke rumah yang nyaman.


Menikmati seduhan teh hangat, setelah menyelesaikan tugas.


“Baiklah!”


Kenichi langsung berbalik dan menunjukkan letak keberadaannya. Dia langsung berlari, tanpa memikirkan bahaya yang mungkin keluar dari pria gendut yang menjadi lawannya.


Terus berlari, hingga dia hampir melewati batas kegelapan. Di situ lawannya tersenyum, sekarang dia akan segera mendapatkan Kenichi.


Dia menarik pelatuk pistol dan mengarahkan moncong ke sumber suara. Kenichi bukan hanya mengambil keputusan tanpa adanya sebuah rencana. Ketika dia melihat arah pelatuk pistol, dia langsung mengeluarkan sebuah benda yang selama ini dia sembunyikan.


Hingga peluru sudah keluar, dia langsung menggunakan benda tersebut, sebagai alat perlindungan diri.


“Ro-rompi anti peluru, dari mana dia mendapatkan itu.”


Ya, itu adalah rencana tersembunyi Kenichi. Rompi itu berhasil melaksanakan tugas dengan baik. Sekarang Kenichi sudah keluar dari batas kegelapan, tapi dia terus berlari ke arah lawannya.


“Jika aku benar, dia memakai pistol revolver berkaliber 44. Namun, takutnya dia mempunyai pistol atau senjata yang lain.”


Saat ini bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan itu, bahkan boleh dikatakan terlambat. Kenichi sadar betul, makanya dia terus melangkah maju.

__ADS_1


“Ahh, ya sudahlah. Keputusanku sudah dibuat.”


Dia memantapkan tekad. Sedangkan pria itu masih terheran pada barang-barang yang Kenichi punya. Pertama jebakan beruang dan jebakan yang lain. Kedua, rompi anti peluru yang tidak sewajarnya dimiliki oleh anak usia SMA seperti Kenichi.


“Mati kau!”


Jawaban disertai tindakan, tapi tidak ditanggapi oleh lawannya. Bahkan saat Kenichi melompat pun, pria itu tetap bisu dan menyaksikan kekalahannya.


Kenichi menimpa tubuh orang itu dan tiba-tiba, lantainya roboh ke bawah. Sepertinya itu disebabkan oleh lantai yang tidak kuat dan tentu saja, rencana yang matang dari Kenichi.


Mereka jatuh ke lantai satu, menimbulkan suara yang keras. Untung lantai satu juga tidak ambruk ke bawah. Hanya menyisakan retakan di lantainya.


Tapi hanya dengan itu bisa membuat pria yang ditimpa Kenichi kesakitan dan lumpuh sesaat. Kenichi masih duduk di perut pria itu dengan pistolnya yang sudah jatuh entah kemana.


“Bagaimana rasanya dijatuhkan orang lain HAH!”


“Kenapa kau memiliki semangat hidup yang tinggi, bocah?”


Sesaat, Kenichi menghentikan amarahnya. Tapi tatapan yang diberikan, masih menunjukkan ekspresi yang pertama.


“Hmpph, hidup itu cuma sekali bodoh. Yang bisa kita lakukan hanya mencari dan mencari cahaya hingga cahaya itu redup dan mati lagi.”


“Haaah … alasan yang bagus bocah. Tapi aku peringatkan kau .…”


Dia tentu tidak ingin menunjukan raut wajah kekalahan. Dia masih gengsi, jadi dia masih menatap berani Kenichi yang ada di atasnya. Itu pun disertai dengan sebuah ancaman yang tersurat pada wajah dan gaya bicaranya.


“Kau akan menyesal bocah, sekarang tempat ini akan di kerumuni oleh anak buah bosku yang sebenarnya hahaha ....”


“Hihihi ....”


Tawa orang itu dibalas dengan tawa dari Kenichi. Menandakan kalau dia tidak terprovokasi dengan ancaman pria tersebut. Tentu pria itu keheranan saat menerima balasan dari ancamannya.


“Kenapa kau tertawa?”


“Karena tempat ini akan menjadi kuburan kalian.”


Pembawaan yang sangat santai, ia berdiri dengan tangan yang dimasukkan ke kedua saku yang terletak di samping kanan dan kiri jaket. Lalu berjalan keluar rumah untuk mengakhiri semua ini.


“Hei apa maksudmu? hei tunggu!”


Berusaha berdiri namun tak bisa, pertanyaannya juga tidak dapat dijawab. Sekarang, hanya bisa menunggu kedatangan bosnya. Apakah bisa? Mungkin tidak akan sempat, karena suara yang berasal dari dinamit yang telah terpasang di penjuru rumah langsung berbunyi ketika Kenichi sudah menjauh dari rumahnya.


“Sial!”


“Selamat tinggal.”


Kata-kata itu seperti sebuah pemicu ledakan. Tepat setelah Kenichi mengatakan itu, seluruh dinamit langsung meledak dan meruntuhkan rumahnya.


“Oh yah, kenapa tadi aku tidak bertanya ke orang itu yah? Uhmmm, nanti aku cari tahu sendirilah. Udah capek juga tubuhku.”


Kenichi menolehkan kepala ke arah kanan. Dia hendak melihat sejenak, keadaan rumah yang sekarang sudah rubuh. Yah, benar-benar berantakan dan menimbulkan suara gaduh. Tapi tenang saja, area di sekitar rumah Kenichi adalah pemungkiman yang kosong.


“Sekarang aku harus mencari rumah baru lagi.”


Sambil menaruh tangan kanannya di bawah dagu.

__ADS_1


“Ahh, mungkin suatu hari nanti aku akan menginap di rumah Yoki.”


Berjalan semakin jauh dan hilang di kegelapan, tanpa tempat tujuan untuk pulang.


__ADS_2