
Memulai hari yang baru, seperti biasa Yoki berjalan pagi ke halte bus. Sehabis pulang dari kunjungannya ke rumah Gaia, Yoki langsung tertidur pulas di kamar. Dia tidak sempat memikirkan hal yang lain, karena sudah tertutupi oleh kelelahannya.
“Kemana yah buku tugasku? Dari tadi aku cari gak ada.”
Saat ini Yoki sedang dilanda kegelisahan. Barang yang seharusnya dia bawa ke sekolah, telah menghilang. Dia sebenarnya tidak tahu pasti sih, bisa saja hilang atau terselip karena kecerobohannya.
“Haaah, kalau seperti ini mungkin aku akan dimarahi pak guru. Kalau ngerjain ulang pun tak akan sempat,” Yoki menatap langit, dengan ekspresi yang tidak mengenakan, “CIKH, apalagi gurunya adalah pak Thomas.”
Di sepanjang perjalanan dia terus meracau, hingga sampailah ke halte bus tempat dia akan berangkat ke sekolah.
Yoki sudah pasrah, dia sudah bisa membayangkan hukuman apa yang akan diberikan padanya. Yah, setidaknya dia sudah berpengalaman dalam 13 kali masa hukuman. Jadi dia tahu rasanya dihukum.
Namun sayangnya, walaupun sudah berpengalaman seperti itu Yoki belum pernah sekali pun mencoba rasa hukuman milik pak Thomas.
“Haaah, Gaia belum datang yah.”
Yoki mengambil posisi duduk yang nyaman. Saat ini dia sedang dalam perjalanan ke sekolah.
“Kurasa dia butuh banyak istirahat. Tapi …,” Yoki teringat sesuatu, itu adalah senyuman yang diberikan Gaia, “Senyuman itu seperti memberitahukanku sesuatu.”
Sementara waktu dia termenung, hendak merenungi semuanya.
“Ehh bentar,” ada ingatan lain yang terlintas, “Oh iya, bukuku ada di tempat kerja. Payah!”
Sungguh hari yang sial ternyata, jawaban itu malah memperburuk keadaan. Pertama dia tidak membawa buku tugas karena kecerobohan dan yang kedua, kemungkinan Yoki akan terlambat sampai ke sekolah.
Yah, sepanjang perjalanan dia hanya bisa meracau, memohon agar perjalanan ini berjalan tanpa hambatan. Bahkan, juga memohon agar pak satpam mengendorkan kedisiplinannya. Intinya, semua racauan dan permohonan itu ditujukan untuk keselamatan sendiri.
Setelah melewati perjalanan menggunakan bus, akhirnya Yoki sampai juga di tempat tujuan. Satu hal yang dia lihat pertama kali adalah gerbang sekolah, ternyata masih buka. Mungkin hanya dengan berlari kencang, Yoki dapat sampai di tujuan dengan aman.
“Yosh, dewi keberuntungan berpihak padaku!”
Langkahnya langsung saja dikebut, Yoki dengan girang berlari menuju gerbang keselamatannya dan yah, dia berhasil. Akhirnya Yoki bisa aman setelah melewati gerbang tersebut.
“Yeah, pak satpam juga tidak kelihatan. Waktunya pergi ke tempat berikutnya!”
Yoki melanjutkan lagi larinya, tujuan selanjutnya adalah kelas. Biarlah keringat bercucuran membasahi tubuh, yang penting harga dirinya masih dapat terselamatkan.
Ungkapan bagus untuk menggambarkan tindakan Yoki saat ini. Bagaimana pun, ke-13 hukuman itu bukanlah pengalaman yang patut dibanggakan.
“Heh, Gaia!”
Yoki terkejut bukan tanpa alasan, baru saja dia sampai di kelas dan tiba-tiba melihat Gaia yang sedang menaruh kepalanya di atas meja. Ada Kenichi juga sih di sampingnya, tapi dihiraukan Yoki.
“Ehh hei hoahm … Yoki, apa kabar?”
“Kenapa kamu masuk sekolah Gaia, badanmu sudah sehat?”
“Sudah, hanya aku sedikit ngantuk.”
Tiba-tiba Yoki menyentuh dahi Gaia, hendak memastikan apakah dia masih demam atau tidak. Hasilnya, sangat mengejutkan. Suhu Gaia sudah kembali normal, apakah ini sebuah keajaiban? Mengingat baru sehari dia menderita demam dan suhunya boleh dikatakan sangat tinggi.
Yoki terkejut, begitu pun dengan Gaia. Maklum dia masih lemas dan lelah, ketika ada seseorang yang menyentuhnya tanpa permisi, tentu dia akan mengeluarkan respon. Responnya berupa kaget dengan kepala yang diangkat menjauhi meja.
“Kenapa suhunya tiba-tiba normal?”
__ADS_1
“Mungkin karena kemarin dia istirahat penuh dan minum obat-obatan.”
“Yah, aku juga gak tahu sih kenapa aku bisa sembuh. Tapi kayaknya yang diomongin Kenichi ada benarnya.”
“Begitu … yah.”
“Bu guru datang!”
Di saat Yoki sedang berpikir, ada suara yang mengganggu. Suara peringatan yang menandakan datangnya guru ke kelas mereka. Semua harus menghentikan dulu kegiatannya masing-masing, karena kegiatan belajar-mengajar akan dimulai.
*****
Di kelas, saat pelajaran ….
“Oke anak-anak, sekarang siapkan tugas yang sudah bapak berikan pada kalian.”
Seorang guru sedang berdiri di depan kelas, memberikan intruksi tentang apa yang harus dilakukan muridnya sekarang. Guru itu laki-laki dan dikenal dengan nama pak Thomas.
“Baik!”
Semua langsung menurut, mereka semua merogoh tas dan mengeluarkan buku tugasnya masing-masing. Tertib dan tenang, mungkin karena guru yang mengajar mereka saat ini. Orang kepala sekolah aja tidak berani melawan, apalagi mereka.
“Ehhh, tunggu dulu.”
Padahal mereka sudah menemukan barang yang diminta, tapi dengan terpaksa mereka meninggalkan lagi barang itu dan mengubah fokus ke sumber suara.
“Oh yah bapak lupa, bapak ada sedikit hadiah untuk kalian. Penasaran?”
“Iya!”
“Baiklah, bagi murid yang sudah mengerjakan tugas bapak akan berikan sebuah hadiah. Hadiah ini mungkin kecil .…”
“Heh!”
Tiba-tiba ekspresi mereka semua berubah haluan saat mendengar kata “kecil”. Kecil, apa itu hadiah yang dari tadi mereka tunggu-tunggu?
Dalam otak kecil mereka berkata, untuk apa menanti-nanti hadiah kecil dengan euforia yang besar. Yap, itulah makna dibalik teriakan serempak yang mereka lakukan tadi. Teriakan atas kekecewaan mereka.
“Tapi, hadiah ini akan berdampak besar bagi masa depan kalian.”
Pak Thomas tidak mau menyerah, dia terus menyalakan api dalam hati murid-muridnya. Dan yah, satu kalimat itu telah memancing rasa penasaran anak didiknya lagi.
“Kalian tahu, hadiah ini bisa mengubah kalian di masa depan.”
“Uwoo! Hadiah seperti apa itu?”
“Hoho, kau penasaran? Kau penasaran? Kau juga penasaran?”
Pak Thomas berucap, sembari mengarahkan jari dan menunjuk satu persatu anak didiknya. Tanggapan yang diberikan berupa sebuah anggukan kepala, pertanda kalau mereka semua menjawab ya.
“Hadiah itu adalah ….”
Sengaja dilama-lamain untuk memberikan kesan dramatis, namun jika ada orang waras yang menontonnya pasti mereka akan bilang, “Lebay.”
“Test matematika dadakan dan terpadu.”
__ADS_1
“Hah!!!”
Apa yang seperti itu disebut sebagai hadiah? Yah mungkin bagi orang-orang jenius bisa saja, tapi sebagian besar subjek di kelas ini tidak berpikir demikian.
Tentu keputusan itu telah mengubah raut wajah mereka secara otomatis dan mungkin sebentar lagi akan meluap keluar.
“Kenapa hadiahnya test sih?”
“Hoho, bagi peserta didik … test adalah hadiah yang paling menyenangkan.”
“Mana ada, dimana-mana test itu bukan dijadikan hadiah surprise. Bapak pikir tes itu kayak hadiah ulang tahun yang bisa seenak-enaknya diadakan.”
Hoho, itu adalah sebuah serangan yang berisi. Penuh dengan curahan hati yang dia pendam tadi. Bahkan bukan hanya dia saja, itu juga turut mewakili suara teman-teman sekelasnya.
Apakah berhasil, mungkin tidak. Keras kepala juga pak Thomas, bahkan dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa pada serangan yang diterima.
“Jadi kau tidak setuju?”
Segitu saja balasan yang diberikan, sebuah pertanyaan yang menandakan kalau pak Thomas tidak ingin berdebat.
Sementara itu, murid yang ditanya hanya menggelengkan kepala. Jawaban yang sudah cukup bagi pak Thomas untuk menggerakkan jari telunjuknya lagi. Menuju ke arah seorang siswi yang duduk di barisan paling depan, kolom kedua.
“Kalau kamu?”
Lagi-lagi sebuah gelengan yang membuat jari pak Thomas berpindah haluan lagi. Setelahnya, setiap haluan juga diberikan pertanyaan yang sama dan dia mendapatkan jawaban yang sama pula.
“Baiklah kalau begitu, mari kita tanyakan pada murid baru. Siapa tahu jawabannya akan menjadi penentu dari perdebatan yang panjang ini.”
“Haori, apa kamu setuju untuk melakukan test?”
Dia adalah penentu dari perdebatan yang panjang ini. Semua pandangan difokuskan pada satu objek yang sama, kini Haori telah menjadi pusat perhatian kelas.
Dia menjadi korban tak bersalah karena perdebatan yang dimulai dengan hadiah yang mencengangkan.
“Kalau aku .…”
Siapa juga yang tidak malu saat menjadi pusat perhatian banyak orang, apalagi dia adalah murid baru dan sekarang, dia telah menjadi penentu nasib kelas. Setiap mata yang ia tatap mempunyai harapan yang dipendam padanya, beban yang Haori tanggung begitu besar.
Kedua tangannya sampai terus meremas-remas roknya, keringat dingin juga terus bercucuran. Ada sebuah keraguan dalam mata yang tidak akan terlihat dengan mata telanjang. Tapi itu semua bertentangan dengan kemauan waktu.
“Tentu saja tidak.”
“Haaah .…”
“Tidak mungkin aku akan menolak hadiah pak guru.”
“Hah!!!”
Baru saja mereka dapat bernafas lega, tapi Haori sudah dapat mengacaukan semua itu hanya dengan sebuah kalimat.
Jawaban ini sudah pasti membuat ekspresi pak Thomas berbeda dengan semuanya, dia tersenyum bahagia dan menyambut dengan baik jawaban Haori.
“Baiklah semua, sudah diputuskan kalau test ini tetap diadakan dan sekarang .…”
Nada pak Thomas meninggi setinggi langit. Jari tangannya tiba-tiba diacungkan ke atas, entah apalagi yang akan dia lakukan.
__ADS_1
“Serahkan buku tugas kalian di atas meja.”