RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~SANTAPAN PEMBUKA~


__ADS_3

Gaia masih diam di tempat. Dia hendak memutuskan sesuatu. Satu jari ditaruh di dagu, untuk membantunya mencari jalan keluar.


“Kayaknya makanan pertamaku adalah Eiji deh. Lagipula aku harus berterima kasih, makanya dia akan aku beri kehormatan menjadi makanan pertama yang aku santap, setelah kembali seperti sedia kala.”


Gaia tertawa saat memikirkan santapannya, yang dimaksud itu Eiji. Yah, lihat saja tawa dan mata mengerikan itu. Mungkin serangkaian cara sedang dia rencanakan, untuk mendapat sensasi yang pas.


Sedangkan saat ini, mangsa yang ia incar, sedang mengkuatirkan dirinya. Tentu saja, Eiji sangat peduli pada keselamatan Gaia. Walaupun, akan datang saatnya dimana perasaan itu akan terbakar menjadi abu.


“Aduh, gimana yah? Apa Gaia baik-baik saja?”


Sedari tadi, Eiji terus mondar-mandir keliling ruangan. Pikirannya dipenuhi kegelisahan pada nasib Gaia. Kalau pikiran tentang keluarganya, dia sudah membuang itu jauh-jauh. Sudah tak ada harapan lagi, hanya keajaiban saja yang bisa menjadi penyelamat.


“CIKH … lagipula kalau Gaia mati bisa gawat ini.”


Kaki Eiji sudah mencapai batas. Keduanya capek dan memilih untuk duduk terlebih dulu.


“Ehm, kayaknya aku harus yakin dia selamat. Ingat Eiji, ingat … pikiran buruk bisa memperburuk nasibmu. Tapi aku harus ngapain sekarang, apa harus berdiam menunggu Gaia yang sedang menghadapi maut?”


Eiji melirik ke kertas hasil terjemahan yang dibacakan Gaia. Dia langsung mengambil dan menyelidiki kertas itu.


“Setidaknya, aku mau memecahkan baris ketiga ini.”


Pandangan mata merujuk pada baris ketiga di bait ketiga. Tinggal sedikit lagi kok, kalau bait terakhir kan sudah memberikan jawaban yang pasti.


“Harum bunga bangkai hanya khayalan.” Eiji berpikir sejenak, “Oh, bunga bangkai yang dari indonesia itukan.”


Untuk hasil yang lebih pasti, Eiji berlari menghampiri laptop. Jari-jemari dengan cepat menari-nari di atas keyboard. Membentuk kalimat ‘Bunga bangkai’ dan langsung mengklik tanda yang berbentuk seperti lup.


“Ohh, ternyata bunga bangkai memang sesuai namanya. Dia mengeluarkan bau busuk untuk menarik serangga yang akan membantunya dalam proses penyerbukan. Tapi … apa kaitannya bau busuk itu dengan kalimat yang ada di bait ketiga?”


Sekali lagi dia melirik ke kertas.


“Ohh, disini tertulis harum tapi faktanya bunga bangkai itu bau. Kata terakhir juga membantu teoriku, khayalan artinya kebohongan.”


Sekarang Eiji meninggalkan laptop. Dia memilih untuk kembali fokus pada kertas.


“Coba aku hubungkan bait ketiga dengan yang lain.”


“Biar aku saja yang hubungkan semuanya.”


Tanpa adanya peringatan maupun tanda, sebuah suara tiba-tiba ikut berbicara. Tentu itu membuat Eiji tersentak, namun juga merasakan sebuah perasaan yang aneh. Suara itu terdengar begitu familiar. Dia coba untuk mengingat-ingat.


“Suara cewek. Kok kayak suaranya Gaia.”


“Itu memang suaraku kok.”


Bukan cuma suara yang menganggu gumamannya. Ada sesuatu yang menyentuh leher Eiji. Basah, elastis, permukaannya penuh dengan benjolan-benjolan kecil. Dia mengartikan semua ciri-ciri itu sebagai lidah.

__ADS_1


“A-apa kau ….”


Eiji langsung berpaling kali ini. Yang dia dapat adalah senyuman dari orang yang sedari tadi dia kuatirkan. Seketika, Eiji berlinang air mata.


“Gaia, akhirnya kau selamat.”


Eiji memeluk Gaia dengan erat. Namun sayangnya, tidak ada balasan yang diberikan Gaia. Senyumannya sih masih dipertahankan, tapi senyuman itu tidak berarti apa-apa. Malahan, yang nampak adalah ekspresi dingin.


Keanehan ini juga bisa dirasakan Eiji. Dia merasa ada yang janggal. Hawa yang diberikan Gaia begitu dingin dan nampak tidak peduli pada kekuatiran Eiji. Apalagi kemungkinan besar, lidah yang menjilat lehernya adalah punya Gaia, yah itu sih yang dipikirkan Eiji.


“Apa … yang sedang kamu lakukan?”


Pertanyaan yang membuat Eiji segera melepas pelukan. Nampak jelas dari wajah Eiji, kerutan alis menandakan kalau kebingungan dan kejanggalannya semakin bertambah.


“Kau ini kenapa? Terus kenapa dengan wajahmu? Kok wajahmu ada garis-garis berwarna merah,” sekilas, Eiji melirik lagi tubuh Gaia, “Darimana kamu dapat gaun ini?”


“Ohh … ini hanya hadiah untukku dan itu semua …,” Gaia menyentuhkan telunjuknya ke dada Eiji, “Bisa terjadi berkat kerja kerasmu.”


Satu jawaban telah menjawab semua pertanyaan. Tapi jawaban yang diterima, sangatlah tidak jelas. Bahkan membuat Eiji bertambah heran. Walaupun dia tahu kalau itu semua adalah pujian tentangnya, tapi jelas kalau pertanyaannya belum dijawab dengan benar.


“A-apa maksudmu?”


“Ahh, sudah-sudah,” Gaia berulang kali menepuk pundak Eiji. Tepukan yang dihasilkan begitu bertenaga, “Kita langsung bahas saja yang tadi.”


Mata Gaia melirik kesana kemari, dia hendak mencari tempat untuk duduk dan yang dipilih adalah meja. Tidak ada alasan khusus sih untuk memilih meja, itu hanya keinginan Gaia semata. Padahal kan permukaan meja jauh lebih tinggi dari kursi, tapi ya sudah kalau itu memang keinginannya.


“Bait pertama itu berisi tentang seorang gadis yang lahir saat terjadi konflik perebutan kekuasaan di sebuah kerajaan. Yah, itu tentang kejadian saat dia lahir.”


“Terus bait kedua itu tentang gadis yang sudah bertumbuh. Dia tumbuh dengan nafsu membunuh yang tinggi, semakin banyak pembunuhan yang dia lakukan semakin menjadi pula perilakunya. Akhirnya, membunuh menjadi kebiasaan anak itu.”


Gaia menaruh kedua tangan untuk menopang beban tubuh di atas meja, masing-masing di samping kanan dan kiri tubuh Gaia. Sedangkan kakinya menendang-nendang ke depan. Eiji juga melihat senyuman yang Gaia layangkan ke langit-langit. Dia tidak tahu maksud dari senyuman itu, tapi firasatnya berkata buruk.


“Dia tidak peduli dengan nyawa yang dia ambil. Walaupun masih balita, gadis kecil itu sudah sangat menggemari pertumpahan darah. Yah, perbuatan itu sudah pasti diketahui banyak orang. Kekejaman dan kebengisan tuan putri pun tersebar ke seluruh negeri.”


Untuk sesaat, dia menjeda ucapannya. Kini berganti dengan tatapan yang mengarah pada Eiji. Tatapan yang pasti tidak enak untuk dibalas. Bahkan saat diberikan pun, Eiji agak sedikit tersentak.


“Ada pendapat?”


“Bagaimana bisa kamu mengetahui semua itu?”


“Ohh, tunggu. Aku selesaikan dulu bait ketiga. Bagaimana?”


Mau dijawab atau dilanjutkan pun, kedua pilihan itu tetap tidak membuat Eiji merasa baikan. Tapi dia juga harus merespon pertanyaan Gaia, jadi respon yang diberikan hanya berupa anggukan yang kaku.


“Bait ketiga bercerita tentang ulang tahun dia yang kelima, tentang akhir dari semua itu. Saat itu dia juga melakukan pembunuhan, pembunuhan itu yang membuat hidupnya berubah 360 derajat. Dia lari dari takdirnya, dia menghilang dari dunia. Membaur, mengubah total hidup dan sikapnya. Tapi … walaupun itu semua dia lakukan, dia tidak akan pernah bisa menghapus jati dirinya.”


Masih saja Eiji tidak bereaksi. Padahal, Gaia sudah mendalami perkataannya. Dengan simbol tersurat yang dia tampilkan lewat kepala yang menunduk dalam. Yah, sepertinya Eiji masih kalah dengan rasa takut. Yang ditatapnya saat ini, seperti bukan Gaia saja.

__ADS_1


“Ba-bagaimana kamu bisa tahu semua itu? Terus, apa mahkluk itu sudah mati?”


Pertanyaan Eiji diulang. Memang sih dia agak sedikit senang karena semua jawaban Gaia sama dengan kesimpulannya. Tapi, yang dia pikir lebih penting adalah Gaia itu sendiri. Perilaku, ekspresi. Semua perubahan sifat Gaia, jauh membuatnya gelisah.


Walaupun memang baru kenal, tapi dia sudah tahu tentang Gaia sejak pandangan pertama. Dan sekarang, tiba-tiba semua ekspektasi Eiji berubah.


Hingga Gaia bisa menyimpulkan sendiri semua tulisan itu. Bukankah itu semua akan menimbulkan keanehan, terlepas dari rasa senang karena dia sudah kembali dengan selamat.


“Mahkluk itu yah. Dialah yang telah memberiku hadiah dan jawaban tentang tulisan itu.”


“Heh! Mahkluk itu?”


Gaia hanya tertawa saat mendengar pertanyaan Eiji. Setelah puas, dia turun dari meja dan berjalan mendekati Eiji. Sekali lagi, suasananya kembali mencekam.


“Iya, kalau gak percaya lihat ini.”


Ya ampun, siapa pun pasti muntah melihat pemandangan ini. Di beberapa bagian gaun yang dipakai Gaia, muncul sepuluh kepala. Sepuluh kepala itu sama persis dengan monster yang mengejar Gaia tadi.


Ketakutan Eiji juga sudah mencapai batas. Tubuhnya bergemetar sendiri, layaknya sebuah jam weker yang dijadikan alarm. Matanya juga tak ketinggalan memeriahkan suasana, keduanya memelototi kesepuluh wajah yang menyerupai anggota keluarga Natsuki yang telah mati.


“Ga-Gaia, kamu tidak apa-apa kan?”


“Tidak apa-apa kok. Daripada mentingin aku, mending kamu mentingin urusan pribadimu. Kalau gak salah kan, mereka semua itu anggota keluargamu yah. Walaupun memang kamu tidak dianggap, tapi pasti muncul kesedihan yang mendalam di hatimu.”


“Ada apa denganmu Gaia? Apa kamu tahu kejadian yang menimpa keluargaku?”


Kepala-kepala itu menghilang. Sekarang Gaia berjalan semakin dekat dengan Eiji. Mereka saling bertatapan. Kedua mata mereka hanya memakan jarak 15 senti.


“Kesimpulanmu itu hampir tepat dengan yang aku ucapkan tadi. Coba kamu baca bait ketiga baris ketiga dari tulisan itu.”


Tanpa pikir panjang, Takezawa menuruti perintah Gaia. Dia mengambil kertasnya terlebih dulu, barulah setelah itu dia mulai mengamati kalimat yang ada di baris ketiga.


Ketika semakin mendalam dia mencerna, barulah dia sadar sesuatu. Tubuhnya semakin bergemetar dengan hebat, dia melirik Gaia dengan kaku. Sesuatu itu tentu memiliki arti yang begitu menyeramkan.


“Kamu, adalah orang yang ditulis itu.”


Tepat, hadiah pertama yang diberikan Gaia adalah senyumannya yang semakin lebar. Yah, memang sih sedari tadi dia kebanyakan senyum, tapi senyuman yang satu ini seakan memiliki arti. Bahkan, gigi-gigi itu sudah memberikan samaran tentang kejadian selanjutnya.


“Sungguh mengejutkan, kemampuanmu memang tidak perlu diragukan. Untuk jawabanmu yang tepat itu …,” Gaia mendekati Takezawa. Sangat dekat, mungkin hanya dipisahkan jarak 7 senti, “Aku punya hadiah untukmu.”


“Hadiah apa maksudmu?”


Pertama Gaia membuka mulut. Hadiahnya ada di dalam mulut? Tidak, itu salah. Hadiah yang dimaksud Gaia akan masuk ke dalam mulut.


Takezawa tidak tahu apa-apa, sampai mulut Gaia mendekat dan ….


“Ga-Gaia … Gaia, apa yang kamu lakukan … Gaia ….”

__ADS_1


Sekarang Eiji sudah bisa tenang, Gaia tidak perlu mendengar jeritan-jeritan berisik lagi. Karena sebagian wajah depan Eiji sudah berada di dalam perut Gaia. Kenapa bisa segampang itu? Rasanya seperti sedang memakan biskuit saja. Ya, memang itu adalah salah satu kelebihan Gaia.


Dan … itu jugalah yang akan dia perbuat pada anggota tubuh Eiji yang tersisa. Dengan hanya tulanglah yang disisakan.


__ADS_2