
Suasana di perapian api unggun manjadi mencekam. Semua murid berkumpul dan duduk mengelilingi apinya, hanya pak guru saja yang berdiri.
“Jadi, penculik itu ingin agar Terasakalah yang menyerahkan diri?”
Kenichi bertanya dengan satu tangan yang ditaruh di mulutnya, hendak menganalisa keadaan. Sedangkan matanya masih menatap ke bawah.
Murid-murid yang lain juga sama sebenarnya, cuma mereka tidak mempunyai otak yang berpikir keras seperti Kenichi. Sedangkan Terasaka masih diam mematung dengan kertas yang erat sekali di tangannya.
“Begitulah isinya, kan Terasaka?”
Terasaka masih terdiam saat ditanya. Butuh lima kali panggilan sampai dia merespon.
“Yah, yah be-begitulah.”
Kaku sekali jawabannya dan itu telah menimbulkan kecurigaan pada Kenichi. Dari tadi pun, Terasaka hanya menunjukkan satu sisi yang bertuliskan penculikkan itu. Sedangkan sisi yang lain tidak ia tunjukkan. Bahkan sampai bersikeras.
“Menurut kertas itu, tempat penculik ada di hutan yang ada di pulau ini. Kalau jarak ….”
Pak guru mengukur jarak mereka menggunakan peta yang ia bawa tadi.
“Sekitar 3 kilometer perjalanan.”
“Apa kita akan menggunakan sepeda?”
“Lebih baik berjalan kaki, agar keberadaan kita tidak diketahui.”
Kenichi menjawab pertanyaan seorang siswi yang duduk di samping kanannya.
“Kalau begitu aku yang akan jadi umpan.”
Suara itu berhasil memancing perhatian semua orang. Bukan hanya karena sarannya yang berani, tapi untuk rencana umpan, bukankah itu tidak ada. Mereka semua juga tidak terpikirkan. Karena biasanya tidak ada yang ingin menjadi umpan, apalagi kalau taruhannya nyawa.
“Apa kau yakin Terasaka, kalau kau tidak berani kami juga ….”
“Tidak, tidak apa-apa. Aku akan mennyerahkan diri sesuai dengan tulisan yang tertara. Lagipula, aku merasa bertanggung jawab.”
Terasaka menunduk lagi, menghayati kata-kata terakhir yang ia ucapkan dengan kesedihan yang nampak. Sedangkan bagi Kenichi, itu malah semakin menambah kecurigaannya.
“Haaah … terserah dia sih, jadi bagaimana pak guru?”
“Kau juga setuju Kenichi. Ahh … baiklah gini saja, bagaimana kalau Terasaka maju ke depan beberapa meter dari kita dan kita menyergap mereka di saat yang sudah tepat.”
Semua murid langsung menajamkan mata memperhatikan gurunya. Benar-benar fokus pada rencana yang akan dilaksanakan ini. Sedangkan kepala gurunya terus mengayun dari kanan ke kiri dan juga sebaliknya.
“Kalian semua maju dan menunggu aba-aba, lalu …,” pak guru berhenti sejenak dan mengambil batu di sampingnya, “Kita akan menggunakan berbagai barang untuk menyerang mereka.”
__ADS_1
Salah satu siswi mengangkat tangannya seraya bertanya.
“Bisa apa saja kah pak?”
“Hmmm, bisa apa saja sih. Tapi ingat, gunakan barang yang tidak tajam tapi keras. Kita kan tidak mau sampai ada pembunuhan disini. Jadi hanya aku saja yang memegang pisau.”
Semua mengangguk tanda mengerti. Tidak semua yang ikut, bagi yang tidak berani akan memegang telepon untuk memanggil petugas berwajib, jika terjadi sesuatu.
*****
Tempat penculikkan bu Mariko masih berada di hutan.
“Terasaka hahaha … apa kau masih kenal aku?”
“Owh, Kyoto si cemen yang hanya bisa main belakang.”
“Apa kau bilang ?! tarik kata-katamu kembali atau ibumu ini akan menderita.”
“Begini saja, bagaimana kalau kita bertarung?”
“Maksudmu?”
“Aku sendiri melawan kalian semua.”
“CIKH, kau meremehkan kami.”
Semuanya maju, geram pada perkataan Terasaka. Pun demikian dengan dua orang yang tadi bertugas menjaga bu Mariko, mereka berdiri dan meninggalkan bu Mariko tanpa penjagaan.
“Hei bocah kecil, kau pilih mana kuburan atau rumah sakit?”
Pria tadi bertanya sambil menunjukkan kedua tangannya. Sepertinya dia tidak main-main dengan pilihannya, Itu juga bisa dilihat dari cara mereka mencuri bu Mariko. Benar-benar tanpa topeng atau apapun yang berguna untuk menutupi identitas mereka.
“Aku memilih … memasukkan kalian semua ke penjara.”
Terasaka melesat cepat dengan kaki yang melangkah jauh, hanya tangan kosong yang dibawa sebagai bekal untuk pertarungan ini. Begitu juga dengan lawan-lawannya. Perbedaan mereka hanya pada jumlah.
“Yosh bu Mariko sudah bapak bebaskan.”
Serentak mereka berlima menoleh ke belakang dan terkejut saat melihat sekapannya sudah dibawa kabur oleh pak guru.
Bersamaan dengan itu, suara angin dari atas mereka sedikit berbeda. Mereka berlima juga menoleh ke atas dan melihat seorang siswa yang terjun, tepat ke arah mereka.
“Terasaka, jangan hanya lihat-lihat saja.”
Terasaka mengangguk dan melanjutkan tindakannya. Kini mereka berlima diserang dari atas dan samping. Memang mereka berlima masih menang jumlah, tapi kemampuannya masih belum sepadan dengan mereka berdua.
__ADS_1
*****
Bu Mariko sudah aman dan hanya butuh waktu beberapa menit saja bagi Kenichi dan Terasaka untuk membereskan sisanya. Sekarang, kelimanya sudah ditangkap dan sudah diiinterogasi. Hasilnya, mereka berlima melakukan ini karena tidak terima akan kekalahan mereka dengan kelompok Terasaka.
Karena beberapa minggu sebelum hari, kelompok Terasaka terlibat perjudian dengan kelompok mereka. Barang yang dipertaruhkan adalah uang dan Terasaka memenangkan taruhannya. Di interogasi itu juga diungkapkan bagaimana mereka mengikuti mereka dan terlibat dalam perusakan bus.
Tentu hasil interogasi yang terakhir membuat semua mata memandang Terasaka. Sedangkan Terasaka yang ditatap, hanya bisa tersenyum kecut saja.
“Haaah, kau ini yah. Gara-gara kamu bapak sampai difitnah murid.”
“Heleh, bapak juga sama.”
Kenichi menoleh kesal ke arah pak guru, membuat pak guru hanya bergidik malu. Padahal semangatnya sudah meningkat tadi, tapi kembali surut saat ia terseret lagi ke dalam masalah.
“Kalau begitu, kalian berlima harus membayar biaya ganti rugi pada pak supir,” satu jari pak guru mengarah ke arah Terasaka, “Termasuk denganmu.”
Terasaka yang ditunjuk tidak berkutik sama sekali. Ia tahu maksud dari keputusan pak guru.
“Sebagai seorang siswa kau juga harus bertanggung jawab, karena kau adalah pria.”
Yah, apa yang dikatakan pak guru sesuai dengan pikiran Terasaka.
Semua selesai, kelima orang itu juga sudah kapok dan menyesali perbuatannya. Mungkin bagi mereka, siksaan Kenichi dan murid-murid sekelas tadi seperti layaknya dewa kematian. Hasilnya juga sangat menguntungkan bagi sekolah Yoki, karena beban mereka saat pulang nanti sudah berkurang.
Tapi, tiba-tiba bu Mariko memanggil pak guru. Membuat murid-murid dan pak guru memalingkan badannya.
“Aku yang akan membayar biaya ganti rugi Terasaka.”
“Kenapa bu? Terasaka kan harus menjalani tanggung jawabnya.”
Bukan pak guru, tapi Kenichi yang menolak ucapan bu Mariko.
“Ehhh gak papa, ibu ingin uang Terasaka bisa digunakan untuk keperluannya.”
Mendengarnya membuat hati Terasaka sakit. Ia sudah mengetahui identitas bu Mariko yang sebenarnya dan sepertinya bu Mariko juga tahu kalau Terasaka sudah mengetahui informasi itu. Karena pak Guru tadi bercerita kalau Terasakalah yang pertama kali mengetahui surat itu.
“Bu ….”
Terasaka bangkit berdiri dan ingin berbicara, namun dipotong oleh tangan bu Mariko yang menolak ucapannya.
“Ini sudah menjadi keputusan ibu, kamu tidak usah ikut campur.”
Hanya kepala yang tertunduk yang menjadi respon Terasaka. Hatinya tiba-tiba luluh, sejak melihat kertas yang ada di kamar bu Mariko.
******
__ADS_1
Hari-hari berikutnya berjalan lancar, semua sudah aman terkendali. Walaupun Terasaka masih berada di bawah tekanan. Sekarang adalah hari keempat dan itu berarti mereka harus pulang meninggalkan tempat ini, mereka semua berkemas dan bergegas ke dermaga. Lagi-lagi harus berjalan kaki, mereka semua hanya bisa mengeluh.
Sedangkan sepeda itu tidak bisa dibawa ke dermaga, hanya sebatas digunakan untuk pergi ke pantai saja. Sementara untuk kelima orang itu, mereka ikut bersama rombongan kelas Yoki agar bisa mempertanggung jawabkan tindakannya.