
Malam hari ini begitu indah, bulan dengan berani menampakkan sinarnya. Angin sepoi-sepoi juga turut hadir untuk mengapresiasi keagungan purnama.
Mereka menari kesana-kemari, untuk menyegarkan mata para penonton, yang sedang menyaksikan rembulan yang masih tergantung di atas sana. Mungkin, makna kiasan di atas cukup untuk menutupi kekelaman yang terjadi dibaliknya.
Bulan memang menunjukkan keseluruhan wujudnya, tapi dia datang di saat yang salah. Dia muncul di saat sebuah ikatan hancur di bawah naungannya.
Lihatlah gadis remaja yang sedang membopong kedua mayat di tangannya. Cara berjalan gadis itu, telah membuktikan siapa pelaku dari perbuatan keji yang terjadi pada kedua mayat.
Gadis itu adalah Gaia, dan yang dia bopong adalah mayat Yoki dan Kenichi. Di sepanjang perjalanan dia hanya terdiam, hanya memandang ke depan. Bahkan matanya saja sudah tidak bernyawa. Melihat perilaku Gaia, kalian pasti merasakan keanehan.
Dia yang merupakan sosok yang bertanggung jawab atas kematian ribuan orang, bisa merasakan ketakutan saat membunuh dua insan yang masih remaja. Hanya dua. Betapa berharganya nyawa kedua orang itu dari nyawa ribuan orang, termasuk keluarganya sendiri.
Dia bahkan kehilangan akal sehat, apakah seorang pembunuh handal akan memamerkan korbannya di jalanan? Tidak, kan? Untung saja sekarang masih subuh, belum terlihat satu pun kendaraan yang melintas melewati Gaia.
Kalau ada sih bisa berbahaya, jangan-jangan Gaia bisa langsung dibawa ke kantor polisi dan dijatuhi pidana. Tahu kan hukuman untuk membunuh orang, hukumannya pasti sangatlah berat.
Setelah memakan waktu 15 menit untuk berjalan, Gaia akhirnya berhenti di suatu tempat. Bangunan yang ada di situ lumayan besar. Dengan mobil ambulance yang berjejer rapi, bisa ditebak kalau saat ini Gaia sedang berada di rumah sakit.
Saat hendak membawa kedua mayat ke dalam rumah sakit. Seorang dokter secara tak sengaja melihat Gaia. Dia langsung berlari menghampiri, saat melihat ada dua mayat yang terbaring di kedua tangannya.
“Dokter, tolong taruh mereka ke kamar mayat.”
“Ke-kenapa dengan mereka?”
Dokter segera memeriksa denyut nadi Yoki dan Kenichi, sudah tidak bernyawa. Lagipula, kematian mereka berdua sangat membuat dokter ketakutan.
Maksudnya kondisi mayat dan kedua senyuman yang terpajang. Benar-benar membingungkan dan … bisa dibilang agak seram. Yah, seperti orang mati yang bisa bangkit lagi.
“Tolong … bawa mereka berdua ke kamar mayat.”
Sedangkan yang membawa, wajahnya malah kaku dan penuh ketegangan. Matanya bergemetar, tanpa berkedip sedikit pun. Begitu pula dengan tubuhnya yang kaku seperti patung, yang terlihat bergerak hanya bibirnya saja.
“Kalau gitu, saya otopsi mereka dulu yah.”
__ADS_1
“Tidak perlu, tidakkah Anda lihat kalau mereka mati dengan bahagia?”
“Ba-baiklah, kalau gitu biar saya panggilkan orang yang akan membawa mereka berdua ke kamar mayat yah.”
Tidak ada respon sama sekali, dokter itu seperti berbicara dengan tembok saja. Dia juga tidak peduli sih, yang penting dia menjalankan tugasnya sebagai dokter.
*****
Segala sesuatu yang diminta Gaia sudah dipenuhi, Yoki dan Kenichi baru saja selesai diletakkan di kamar mayat. Para petugas sudah keluar dan melewati Gaia yang duduk di depan ruangan. Ekspresi masih seperti tadi dan itu membuat para petugas ketakutan.
Jelas, sudah pasti mereka menunjukkan reaksi seperti itu. Seumur-umur, mereka semua sudah berurusan dengan puluhan mayat yang harus ditaruh di tempat ini. Jangan pikir mereka suka dengan pekerjaan ini. Mereka bekerja, dengan ditemani oleh kejadian di luar nalar yang menghantui.
Gadis di depan itu bisa dianggap sebagai salah satunya, apalagi wujudnya dapat dilihat jelas oleh setiap mata. Wajah itu menampilkan aura kematian, tidak ada tanda kehidupan di dalam.
Jadi tentu saja seluruh badan mereka bergemetar hebat, apalagi saat tahu kalau gadis itulah yang membawa kedua mayat seorang diri. Tentu tidak normal bukan, dari histori hingga keadaan mayat, telah membuat sosok Gaia jadi menyeramkan.
Tiba-tiba, gemetaran mereka bertambah hebat. Lebih tepatnya, seorang petugas dari kawanan. Dia memandang gelisah tangan kanannya yang dipegang Gaia. Begitu dingin, benar-benar tepat perasaannya. Dari yang hanya dugaan, menjadi kenyataan. Sedangkan Gaia, sama sekali tidak peduli dengan perilaku mereka.
“Pak, apa aku boleh melihat mayat mereka untuk yang terakhir kalinya?”
“Terima kasih.”
Hingga berdiri, barulah Gaia melepas pegangannya. Para petugas bebas dan langsung lari terbirit-birit, mereka seperti habis melihat hantu saja.
“Mungkin, aku sudah tidak ada harapan hidup lagi.”
Sambil mengatakan itu, Gaia masuk ke dalam dan menjenguk Yoki serta Kenichi. Kamar mayat ini begitu dingin, suhunya berkisar di antara 2 derajat celcius sampai 4 derajat celcius. Saat masuk, Gaia sudah dapat melihat Yoki dan Kenichi yang diletakkan di dua brankar jenazah yang berbeda.
Gaia mendekati mereka, tanpa memikirkan ruangan tempat ia berada. Yah, mungkin ketakutan Gaia mulai sirna sepenuhnya. Dia hanya memikirkan mereka berdua, tanpa peduli pada yang lain.
Setelah sampai, air mata Gaia kembali mengalir. Ini adalah pertemuan terakhir mereka, sebagai tiga teman yang selalu bersama. Sekarang Gaia akan berpisah dengan mereka berdua, sendirian dan akan melanjutkan hidup dengan penyesalan.
“Aaaaa … aku malah membunuh teman-temanku, aku malah mengkhianati persahabatan kami,” kedua lutut Gaia ditekuk, dengan kedua tangan yang menopang tubuh Gaia di brankar milik Yoki, “Apanya yang berkat, itu semua … itu semua adalah kutukanku!”
__ADS_1
Tidak akan ada yang mendengar Gaia, bahkan tidak ada yang akan meresponnya. Tapi dengan dikeluarkan, setidaknya Gaia bisa mengeluarkan segala penyesalan yang menumpuk di hati.
“Jika tahu begini, aku tidak akan mau mencari jati diriku … lebih baik aku dikelilingi mimpi buruk itu selamanya.”
Gaia melirik mayat Yoki yang masih tersenyum. Begitu miris, apa yang hendak mayat itu senyumkan. Apalagi, senyuman itu seperti masih memiliki arti, walau pemiliknya telah pergi.
“Kenapa kamu masih bisa tersenyum seperti itu? Apa yang kamu harapkan dari makhluk hina sepertiku. Kenapa … kenapa … aaaaa, kamu juga memberikanku kekangan dengan senyuman itu.”
Perasaan Gaia langsung jatuh dengan air mata yang langsung mengalir deras. Memang sih, kalau kalian tahu, berkat kerakusan itu masih ada dalam diri Gaia. Artinya, terjadi pertentangan di dalam tubuh Gaia. Satu sisi terus mempengaruhinya untuk memakan kedua mayat itu, sedangkan yang lain terus menahan keinginannya.
“Mana bisa aku memakan kalian dalam wujud yang seperti ini. Tapi aku juga tidak bisa menahan berkat kerakusan yang terus memaksaku. Kumohon, agar senyuman itu menjadi tanda kebangkitanmu lagi.”
Permohonan yang lahir dari penyesalan. Bagai nasi sudah menjadi bubur adalah peribahasa yang cocok untuk itu. Gaia tidak akan bisa memintanya kembali, dia harus menanggung penderitaan dan janji itu sendirian.
Jika berbicara tentang kebangkitan, mungkin keajaibanlah yang bisa menjadi jawaban. Karena kesempatan terkabulnya keinginan itu, sangatlah kecil. Tapi yang namanya kesempatan, tetaplah kesempatan bukan?
“Kurasa … semua sudah terlambat. Dosa yang selama ini aku perbuat, mungkin itulah yang telah membuatku menderita seperti ini,” Gaia berdiri kembali, “Maafkan aku atas kematian kalian semua, maaf karena telah sesuka hati mengambil hidup orang lain. Hari ini aku belajar sesuatu … ternyata hidup orang lain juga mempunyai arti yang sangat penting. Apalagi bagi orang terdekat yang dikasihi.”
Gaia berbalik, dia hendak meninggalkan mereka berdua. Memang tidak akan berguna untuk menangisi tubuh yang kosong tanpa jiwa, Gaia sadar itu, apapun yang dia lakukan sudah terlambat.
“Kurasa … aku harus merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang terdekat dari korban yang aku bunuh. Sambil menahan rasa sakit dari berkat ini.”
Namun, saat satu langkah sudah Gaia keluarkan, ada sesuatu yang secara tiba-tiba melarangnya untuk pergi. Sesuatu itu datang dari belakang. Gaia berpaling dengan cepat, dan lihatlah … sebuah keajaiban telah terjadi.
Kilauan cahaya menyelimuti tubuh Yoki dan Kenichi. Indah, tapi ada makna yang lebih penting dari itu. Partikel-partikel cahaya bukan hanya menyelimuti tubuh mereka berdua, tapi juga membawa keajaiban ke dalamnya.
Haha … sudah dibilangkan, kesempatan tetaplah kesempatan. Jadi jangan pernah meremehkan apapun, walau kesempatannya sangatlah kecil.
Cahaya itu membawa kesembuhan bagi tubuh mereka berdua. Tubuh Yoki, yang tadi sudah tertusuk oleh pisau, kembali sembuh dengan perut yang sudah tertutup sempurna. Lalu tubuh Kenichi, yang tangan dan kakinya sudah tidak ada, kembali muncul seperti sedia kala.
Semua pemandangan itu tersaji dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit, dengan ditutup oleh baju seragam sekolah yang melekat di tubuh mereka berdua.
“Jadi begitu yah … inikah yang kamu maksud sebagai berkat.”
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Gaia bahagia, sangat bahagia. Itulah jawaban atas permintaannya. Air mata yang saat ini keluar adalah air mata kebahagiaan, dia ingin menyambut kedatangan mereka berdua kembali ke dunia.
Tapi sayang, itu tidak bisa dilakukan. Dia tidak ingin teman-temannya kembali menatap wajah dari biang kerok pembunuhan mereka. Gaia tidak kuat menatap mereka berdua dengan beban dosa yang dibawa. Dia pun pada akhirnya memilih untuk teguh pada keputusan. Menghilang dari dunia, untuk membayar kebangkitan Yoki dan Kenichi.