
Di kantor kepolisian setempat, di sebuah ruangan yang dijadikan tempat interogasi ….
“Dengan Yashashi Gaia?”
“Iyap, wah gak disangka aku dikelilingi oleh cowok-cowok tampan.”
Ruangan yang dipakai lumayan besar, tapi perlengkapan yang ada hanya sebuah meja dengan dua kursi.
Dua kursi itu sudah ada penghuninya, yakni Gaia dan pak polisi. Sedangkan penghuni lain hanya diam berdiri di sudut-sudut ruangan, totalnya ada 5 orang termasuk polisi yang bersama Gaia tadi.
“Baiklah, Nona. Sekarang ….”
“Wah, mejanya juga nyaman sekali. Aku sampai pengen tidur di sini.”
Dengan merebahkan tubuh bagian atas di atas meja, Gaia nampak sangat menikmati benda itu. Dia ingin bermalas-malasan, atau mungkin ingin meminta kemanjaan. Apapun motifnya, tindakan yang Gaia lakukan saat ini sungguh keterlaluan. Apalagi dia sedang berada di hadapan penegak hukum.
“Nona, kumohon jangan main-main.”
Gaia tidak marah dengan sindiran itu, dia hanya melirik dengan wajah yang nampak memikat. Istilahnya, genit. Tapi sajian itu malah ditanggapi oleh kekesalan para polisi, mereka menggertakkan gigi, melihat betapa jauhnya gadis itu merendahkan mereka.
“Aaaahhhh … aku tidak sedang main-main kok, aku hanya … hoahmm, ngantuk saja. Walaupun badanku begini, kalian masih tetap bisa mengajukan pertanyaan kan?”
“A-aaa baiklah.”
Terserahlah. Mau Gaia jungkir balik pun tidak masalah, yang penting mereka masih bisa mengajukan pertanyaan dan menyelesaikan masalah ini dengan cepat.
“Apa Anda pernah bertemu dengan seseorang bernama lengkap Natsuki Eiji?”
“Ahhh itu lagi,” Gaia langsung memalingkan pandangan, ke seseorang yang berdiri di ujung ruangan, “Koto, jawab pertanyaannya.”
Pak polisi langsung berbalik ke belakang, meninggalkan Gaia yang masih bermalas-malasan di meja.
“Jadi dia sudah pernah bertemu dengan Eiji kemarin sore dan juga … dialah pembunuhnya.”
Pak polisi langsung membanting tatapan, melihat Gaia yang masih menaruh tubuh atas di meja. Hanya kepala yang naik, itupun dengan tatapan malas. Tidak disangka olehnya, gadis yang seperti itu telah melakukan pembunuh yang boleh dibilang gila.
“Dia ini sedang tidak waraskah saat membunuh pria itu?” pak polisi masih menilik sikap Gaia, “Apa memang kejiwaannya tidak beres?”
Percuma, dia tidak akan tahu sebelum bertanya.
“Nona, apa motifmu melakukan ini?”
“Motif, uhm …,” sekarang tangannya sudah mau bergerak, dia menempelkan itu di dagu, “Aku hanya lapar saja.”
Jawaban apa itu? Dia menjawab, sambil kembali ke posisi malas. Aneh, pasti. Bagaimana bisa jawaban itu memiliki bobot, itu terdengar layaknya seseorang yang sedang kelaparan dan mengambil makanan di lemari.
Tapi untuk yang sesederhana ini, polisi agak tidak terima. Masa karena lapar, sampai harus membunuh orang. Lagipula, dia makan seperti makan daging ayam lagi, yang hanya disisakan tulangnya saja.
“Aku meminta jawaban yang serius nona.”
Pak polisi memindahkan tangannya ke bawah meja, lalu dikembalikan lagi ke atas. Dia menunjukkan sesuatu di atas tangannya yang telah kembali. Semua orang tahu kalau benda itu adalah tulang.
“Apa ini yang kau sebut makanan?”
Sungguh benda yang tidak terduga, Gaia sangat tertarik pada benda itu. Tulang yang jika dilihat dari ciri-cirinya adalah tulang lengan atas, mampu membuat kepala Gaia tegak kembali. Mulutnya terbuka, menaruh hasrat pada tulang tersebut.
“Ya, tentu saja.”
__ADS_1
Pak polisi beserta rekannya langsung bergidik ketakutan, ekspresi Gaia telah menjadi sesuatu yang harus diwaspadai mereka.
“Apa-apaan wanita ini, dia … dia memang terlihat sangat menyukai tulang itu, apa dia kanibal yah?”
Tetap tenang dan tidak terburu-buru, pak polisi sedang menarik argumen dalam gumamannya.
“Apa, aku boleh memintanya?”
Gaia mengganggu gumaman pak polisi, padahal ada beberapa hal yang sudah didapat tadi.
“Buat apa?”
Pertanyaan yang membuat Gaia memiringkan kepala, dia menatap langit-langit dengan satu tangan yang ditaruh di dagu.
“Entahlah, buat cemilan aja.”
“Sebentar, aku ingin bertanya. Bagaimana caramu membunuh atau maksudku, memakan orang ini?”
“Oh gitu, mau kutunjukkan?”
Agak mencurigakan. Pak polisi tahu dari mata dan ekspresi yang dikeluarkan Gaia. Apalagi dengan firasat yang berkata buruk. Yah, dengan semua itu, pak polisi harus memakan waktu 1 menit untuk mengangguk. Walaupun kaku, karena kontradiksi yang melanda pikirannya tadi.
“Oke, Koto … Maru.”
“Baik nona.”
Apa yang mau ditunjukkan Gaia, apalagi dengan melibatkan kedua rekannya. Pak polisi saja sampai kebingungan, sampai mau menatap mereka berdua untuk memastikan. Dan yang dia lihat, adalah sesuatu yang tidak terduga. Mereka berdua, seperti menuruti perintah Gaia. Padahal bukan atasan, tapi mereka nampak sangat patuh pada sahutan tadi.
“Oke, aku tunjukkan yah.”
Pak polisi kembali menatap Gaia, dia tidak punya waktu untuk menarik kesimpulan terhadap sikap kedua rekannya.
Langsung dituruti. Dengan cepat, moncong pistol yang beristirahat dalam sarungnya, keluar dan langsung tearah ke dua kepala yang ada sisi ruangan.
Pak polisi langsung tersentak melihat itu, dia tidak menyangka kalau pertanyaan tadi akan berujung menjadi kuburan bagi dirinya.
Lagipula, dia juga kebingungan dengan perilaku Koto dan Maru. Kedua bawahannya ini terkenal patuh dan penuh dengan kejujuran. Tapi apa yang dia lihat hari ini, mereka berdua berubah 360 derajat dari sifat aslinya.
Mungkin juga, yang selama ini pak polisi lihat bukanlah sifat asli mereka berdua. Entahlah, yang mana pun, hasilnya adalah apa dia yang dilihat saat ini. Kedua orang yang malah patuh kepada tersangka, firasat buruknya malah sangat melenceng jauh dari dugaan.
“Koto, Maru … jangan sampai mereka bergerak sedikit pun, kalau bergerak …,” Gaia bangkit dari kemalasannya. Dia berdiri dari kursi, meninggalkan pak polisi, “Tinggal bunuh saja.”
Tanpa tepisan maupun perlawanan, mereka berdua seperti mengiyakan permintaan Gaia. Dengan senjata yang masih digenggam erat, mereka berdua sudah siap melubangi tubuh para polisi.
“Koto … Maru … kenapa kalian melakukan ini?”
Pak polisi sudah tidak tahan dengan pemandangan ini. Di satu sisi, dia kuatir pada kedua rekan yang sedang ditodong. Di sisi lain, dia juga merasa kuatir pada Koto dan Maru. Ada kemungkinan, kalau orang terdekat mereka sedang disandera bukan. Mereka berdua pasti akan menurut jika faktanya begitu.
“Karena … aku ingin mendapat kenikmatan yang tuan Gaia berikan tadi.”
“Kenikmatan apa maksudmu?”
“Makanan! Ahhhhh … mempesona, sangat nikmat, renyah di mulut. Ahhh kalian harus mencoba itu, benar-benar cita rasa yang menggugah selera. Apa kau tahu … saat itu menyentuh lidah, aku … aku, ahhhhh ….”
Koto semakin menggila saja. Perilakunya sudah seperti cacing kepanasan, yang terus meronta-ronta dan bertindak berlebihan dalam euforia yang dia bayangkan.
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Kau akan tahu sendiri.”
Sesuatu sedang menyentuh lehernya, licin dan meninggalkan cairan. Spontan, pak polisi langsung membanting tatapan ke sumber suara. Dia mendapati Gaia yang sedang menjilati lehernya.
“Apa yang kau lakukan?”
Tangannya reflek mendorong Gaia menjauh. Dia memandang jijik pada bekas yang tertinggal di leher. Sedangkan Gaia, sesaat masih menjulurkan lidah, lalu dikembalikan lagi ke dalam.
“Jika kau bertindak lebih dari ini, aku akan memanggil seluruh polisi di kepolisian ini.”
Ancaman yang tidak ada artinya, Gaia tidak gentar, apalagi takut. Dia hanya memandang remeh individu yang masih meracaukan perbuatannya. Sambil tersenyum, bersiap untuk rencana selanjutnya.
“Ya … ya … ya, terserah pak polisi yang hebat sajalah.”
Gaia berlalu meninggalkan pak polisi yang masih berbicara. Dia tidak peduli dengan omongan itu, lebih baik tugasnya dulu yang diselesaikan.
Gaia malakukan hal yang sama dengan kedua rekan pak polisi. Mereka juga tidak bisa berkutik di hadapan lidah Gaia yang menyentuh lehernya. Hanya ketakutan karena ekspresi Gaia dan moncong pistol yang menatap mereka.
Selesai dengan langkah pertama, Gaia menatap senang dengan membuang senyuman ke langit-langit. Matanya tertutup karena lega, sedangkan kedua tangan yang direntangkan bertugas untuk merilekskan badan.
“Haaah … sekarang sudah selesai. Waktunya pertunjukkan yang sebenarnya.”
“Apa maksudmu? Jangan bertindak lebih dari ….”
“Berkat kerakusan … kelaparan tiada akhir!”
Pertunjukan yang sebenarnya sudah dimulai. Tontonan yang penuh dengan darah, kesadisan, dan kanibalisme yang kuat akan tersaji di sini. Gaia sudah tidak sabar, pemandangan ini, tontonan ini, adalah sebuah karya seni baginya.
Dia mundur, hingga sampai ke dekat pintu ruangan. Matanya menatap dengan tatapan nafsu yang membara. Sedangkan mulutnya ternganga, untuk mengekspresikan rasa lapar yang luar biasa. Lengkap dengan air liur yang menjadi penggambaran niat Gaia.
“Jika kau … aaaahh, harum apa ini? Haaaa … baunya dari ….”
Indera penciuman pak polisi telah mendeteksi adanya keharuman yang semerbak di ruangan ini. Hidungnya menyelidik, mengendus, dan ditemukanlah sumber dari bau tersebut. Keempat temannya, adalah penyebab dari bau harum yang saat ini dia cium.
Secara otomatis, air liur menetes bagai anjing yang kelaparan. Dia menatap mereka berempat dengan tatapan yang sama dengan Gaia. Penuh nafsu, meninggalkan tingkat kewarasan manusia.
“Hei … ba-bau apa ini?”
Pertanyaan yang akan dijawab Gaia dengan sepenuh hati. Dia mendekat, mengambil posisi di belakang pak polisi yang sedang duduk. Tangannya dilingkarkan ke depan, mengurung pak polisi dalam dekapan. Tak lupa juga, mata yang menggoda pun dia sematkan.
“Itu adalah bau kenikmatan, lihatlah … ada banyak daging di sini.”
Sekilas pak polisi melirik rekan-rekannya.
“Tidak, mereka semua adalah rekanku. Kau tidak akan bisa ….”
“Sssstttt … apa kamu lapar?”
“Apa maumu kalau saat ini perutku lapar?”
“Jika kamu lapar …,” Gaia mendekatkan mulutnya ke telinga pak polisi, “Makan saja ….”
Sungguh kata-kata yang penuh kekuatan. Dengan dua kata saja, pak polisi sudah tenggelam dalam nafsu makan seorang manusia. Kewarasannya sudah menghilang ditelan perut yang sedang keroncongan. Pikirannya saat ini sedang kosong, sedang diisi oleh rasa lapar yang tidak tertahankan.
“Kau benar.”
Pak polisi berdiri dari kursinya, dia menatap rekan-rekannya seperti daging yang sudah ingin dia santap. Mulutnya mengeluarkan air liur, sekarang kemanusiaan telah menghilang darinya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah makan, makan, dan makan saja.
__ADS_1
“Selamat makan!”