RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~ORANG TUA TIRI~


__ADS_3

Di rumah Gaia, malam hari .…


“Hik … hik ….”


Terdengar suara tangisan gadis SMA yang berasal dari salah satu ruangan di rumahnya. Ruangan itu terisi oleh tempat tidur, lemari pakaian, dan meja dengan cermin yang menandakan kalau itu adalah kamar tidur seorang perempuan.


“Kejadian tadi, tidak bisa kulupakan. Ada apa dengan instingku, kenapa aku melakukan sesuatu tanpa sesuai dengan kehendakku?”


Gadis itu mengarahkan pandangan ke langit-langit kamar.


“Lalu apa bu Mariko marah kepadaku yah. Hik ... hik ... maaf bu, aku juga tidak tahu kenapa bisa begini.”


Dia adalah Gaia, yang sedang meracau di sudut ruangan. Duduk dengan kedua tangan yang mengikat kedua kaki yang ditekuk ke atas.


“Aku tidak tahu maksud dari perkataan terakhir bu Mariko. Sudah sewajarnya, apa maksudnya?” Gaia menunduk lagi ke bawah, “ Tapi, yang jelas aku sangat merasa bersalah.”


Gaia melayangkan pertanyaan, yang tidak akan dijawab oleh siapapun di rumahnya.


Namun, dia tidak sendiri. Ada sesuatu yang sedari tadi terus mengintipnya, wujud dari sesuatu itu benar-benar misterius. Menyatu dengan bayangan yang ada di luar jendela, kamar tidur Gaia.


“Tuan, tuan kenapa Anda melupakanku? Tuan, tuan kenapa Anda berusaha mencelakakanku? Tuan, tuan ….”


“Heh .…”


Gaia langsung mengangkat kepalanya, dia juga sudah merasakan ada hawa aneh yang mengelilinginya. Tapi masih samar, bahkan dia tidak peduli sama sekali.


“Mungkin, segelas air putih bisa menenangkanku.”


Berdiri dengan bawaan lesuh, Gaia segera keluar kamar untuk pergi menuju dapur. Kepalanya tertunduk dengan air mata yang membekas di pipinya.


“Tuan … tuan … tuan .…”


Dia tidak sadar kalau sedari tadi, ada suara yang memanggil “tuan” pada Gaia. Mungkin kata-kata itu tertuju pada Gaia, jika melihat kalau hanya ada Gaia yang menjadi penghuni rumah.


Membuka pintu, kini suasana dapur sudah terhampar di hadapannya. Sederhana memang, perabotannya tidak berlebihan, kurang lebih sama dengan dapur-dapur pada umumnya.


“Haaah ….”


Rasa lega sudah dia dapatkan, sambil sedikit merilekskan badan dengan duduk bersender pada kursi. Tapi, tiba-tiba pikirannya kabur dan dia melihat kejadian tadi. Kejadian saat dia melihat tubuh bu Mariko yang tertusuk oleh tanduk rusa.


Darah meninggalkan jejaknya di lorong sekolah. Warna putih berganti merah, semua Gaia lihat dan itu benar-benar tidak mengenakan.


“Ahhhh! Kenapa aku tiba-tiba teringat pada kejadian itu.”


Gelas yang semula erat di tangannya, terlepas dan menghantam tanah dengan keras. Pecah menjadi akibatnya, tapi itu bukan menjadi fokus Gaia. Sekarang seluruh indranya tegang, pada kejadian yang terus berputar dan berulang dalam otaknya.


“Tuan, tuan … bagaimana tayangannya? Bukannya itu sangat indah?”


“Apa maksudmu? eh si-siapa kamu?”


Gaia melihat sesosok bayangan yang mulai mendekati dirinya. Bayangan yang mempunyai mata merah menyala. Pada akhirnya, itu bukan lagi sebuah bayangan dan lebih menyerupai sebuah sosok.


“Bagaimana warna darahnya tuan, merah cerah bukan? Haaah … itu sama dengan warna darah milik orang tua tuan yang sudah meninggal.”


“Apa maksudmu? orang tuaku yang meninggal saat aku SMP?”


Mendengar pertanyaan itu, telah membuat ketakutan Gaia sedikit berkurang. Dia menguranginya lagi dengan sebuah pertanyaan penasaran, pada masa lalu kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Heee, maksud tuan orang tua tiri itu?”


“O-orang tua tiri?”


Dibalas dengan sebuah pertanyaan, Gaia sepertinya tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan itu. Dia bahkan menunjukkan ekspresi tersentak pada kata-kata “orang tua tiri” yang diucapkan oleh sosok tersebut.


“Apa maksudmu? Mereka bukan o-rang tuaku.”


Mata Gaia masih terkunci ke mata dari sosok tersebut. Sedangkan ekspresi Gaia benar-benar kacau, perasaannya bercampur aduk. Bagaimana tidak, setelah dia mengalami kesedihan karena kehilangan wali kelasnya, dia juga harus dihadapkan dengan fakta yang lainnya.


“Haaaa, haaaa … sejak kapan tuanku jadi sosok yang feminim.”


“Oh yah, nama apa yang aku dengar saat kedua temanmu memanggil namamu ... Gaia, hahaha ... padahal lebih bagus nama yang diberikan orang tua kandungmu.”


“Jangan mengejek nama yang diberikan orang tua tiriku, berus.”


“Heh ....”


Gaia sadar pada mulut dan wajahnya yang tiba-tiba berubah, seperti dia sudah pernah akrab dengan mahkluk itu. Dia langsung menutup mulut, hendak menghentikan mulutnya yang nakal.


“Haaaaah, sungguh indah kalau tuan kembali seperti dulu lagi. Aku benar-benar tidak suka gaya tuan yang seperti ini.”


Nada bicaranya begitu mendayu, merayu tapi tetap pada jenis suara seorang laki-laki. Bukan hanya sekedar bicara, sosok itu semakin mendekat, membuat badan Gaia mundur ke belakang.


“Ayo kita pulang tuan, kumohon kumohon. Kaulah yang terbesar dan terhebat bagiku. Pelayan setiamu ini.”


Mahkluk itu semakin mendekat, jantung Gaia semakin berdetak sampai-sampai dia tidak mendengarkan ucapan yang disampaikan mahkluk itu tadi.


“Apa yang kau lakukan? Mundur … mundur … ahhh ….”


Aroma yang sangat menyengat telah masuk ke dalam hidung Gaia. Kini kesadarannya menurun dan tak lama kemudian, dia sudah kehilangan kesadaran.


Gaia masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Pemandangan di situ sangat ramai. Itu sudah pasti, karena yang dia lihat adalah suasana pesta.


“Gaia, coba kamu makan ini.”


Gaia terheran, siapa orang yang berinteraksi dengannya? Dia sama sekali tidak pernah melihat atau pun bertemu dengan orang ini.


“Cobalah.”


Gaia masih menahan tangannya, dia benar-benar ragu. Orang itu tidak dikenal dan orang itu langsung menawarkan makanan kepadanya.


Mau beberapa menit pun, orang itu tetap kukuh pada pendiriannya. Sambil terus memajukan tangannya untuk mengalihkan pandangan Gaia pada makanan yang ada di tangan kanannya. Makanan seperti daging yang telah dimasak.


“Ba-baiklah.”


Gaia menyerah, dia menurut karena menganggap ini sebagai bagian dari mimpinya. Dengan tangan yang bergemetar, dia menerima makanan itu lalu perlahan mulai memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyah dengan perlahan, pertama Gaia ragu tapi tekstur dari daging tersebut begitu kenyal dan nikmat.


Semakin ditambah kecepatan mengunyahnya, semakin terasa juga cita rasanya. Sedangkan orang yang menonton Gaia, tersenyum dengan maksud yang masih terselubung.


“Gimana, enak?”


Gaia mengangguk tanda setuju, sembari meneruskan makannya.


“Tapi, apa kamu tahu ini daging apa?”


“Sapi.”

__ADS_1


“Huhu, salah coba lagi.”


“Babi.”


Gaia menjawab asal-asalan, daging itu begitu nikmat hingga fokusnya tidak diberikan pada orang yang berbicara padanya.


“Haaah, aku tahu kamu tidak bisa mengalihkan perhatianmu pada daging itu. Jadi, aku kasih tahu aja deh.”


Mulutnya di dekatkan ke telinga Gaia yang masih menyantap daging tersebut.


“Itu adalah … daging orang tuamu.”


“Huekkkkk.”


Gaia memuntahkan daging tersebut. Bersamaan dengan itu, kesadarannya langsung pulih secara mendadak. Matanya terbelalak, mulutnya bergemetar hebat. Dengan tubuh yang dimajukan tiba-tiba.


“Tidak itu bohong, orang tuaku mati karena dibunuh oleh orang berkulit biru tua itu. Kau berusaha menipuku kan?”


Matanya langsung dipalingkan ke sosok itu, dengan keringat dingin yang keluar karena mimpi tadi. Sedangkan, sosok itu mendekat lagi ke telinganya.


“Enak kan?”


“Apa maksudmu? Jawab pertanyaanku!”


Gaia mencoba menolak bisikan itu lagi. Tapi tubuhnya terpaku, tidak bisa bergerak. Itu bukan efek yang dikeluarkan sosok tersebut, tapi karena peristiwa tadi.


“Enak kan?”


“Apa maksudmu?”


Tiba-tiba kesadaran Gaia hilang lagi. Tenggelam ke dalam lautan yang gelap. Tubuhnya semakin jatuh ke bawah. Wajahnya begitu tenang, diam seperti seluruh ingatannya telah menghilang. Matanya kosong, tubuhnya kaku, tapi gravitasi tidak memperhatikan keadaannya.


“Aku tanya sekali lagi, enak bukan?”


“I-ya ….”


Jawaban itu telah menimbulkan sesuatu. Tangan-tangan hitam yang datang dari dasar laut yang sangat gelap, mulai merayapi tubuh Gaia. Tangan-tangan itu terus menarik tubuh Gaia agar semakin tenggelam ke dasar.


Aneh, Gaia tidak berontak. Dia hanya diam, mengikuti alur dari keadaan ini.


“Hahahahaha … tuanku!!!”


Sebuah suara menggema di tempat itu. Suara itu berasal dari sosok tadi, begitu menggema hingga tidak ada satu pun sisi yang tidak terdengar.


Suara itu mengiringi tubuh Gaia yang sudah jatuh ke dalam kegelapan. Hingga seluruh tubuh Gaia telah hilang di dalam kegelapan.


“Itu adalah rasa terenak yang pernah aku rasakan.”


“Gaia, apa ada orang lain yang menemanimu?”


Seseorang memencet bel yang ada di rumah Gaia. Dia adalah seorang ibu tua yang sedang berdiri di depan rumah Gaia. Tidak ada pagar, jadi dia bisa langsung ada di depan pintu rumahnya.


“Huhu, tuanku apa nafsu makanmu masih ada?”


“Haaaaah, tentu sajaaaaa.”


Nada bicara Gaia berubah. Aura bengis dan membunuh sudah menyelubungi tubuh Gaia. Nada itu benar-benar telah merubah pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2