RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~INI MASALAHKU 2~


__ADS_3

“Sepertinya dugaanku selama ini benar. Sejak aku membawa Gaia dan Yoki ke lingkunganku … entah kenapa ada sesuatu yang mengawasiku.”


Sambil berjalan, dia menaruh tangan kanannya di dagu.


“Apa dia sudah lama mengawasiku? Ahh, kurasa tidak mungkin. Rasanya, keganjilan ini masih terasa baru.”


“Hmmm, apa itu Terasaka dan teman-temannya? Kurasa kesempatannya kecil. Jika demikian, mungkin motifnya adalah balas dendam.”


Kenichi masih mempertahankan langkahnya. Dia mencoba memulai analisis dengan berbagai pertanyaan. Siapa pelakunya? Dia mencoba untuk menampilkan pihak-pihak yang mungkin terlibat.


“Kalau gak salah, setelah Yoki dan Gaia pulang, ada beberapa hal aneh yang terjadi di lingkungan sekitarku. Pertama barang. Walaupun hanya bergeser beberapa inchi saja, tetap saja aku bisa mengetahui kalau barang-barang itu sudah berpindah tempat.”


Dia menjeda, dengan meminum minumannya. Dia tidak mau terbawa suasana yang tegang ini. Lagipula dia harus ingat, kalau sekarang dia sedang berada di jalanan.


“Lalu yang jelas terlihat adalah jejak kaki. Itu yang semakin memperkuat argumenku.”


*Flashback on


Seorang remaja sedang berlari menyusuri gang. Tubuhnya basah kuyup dengan hanya memakai celana seragam sekolah saja dan yah, bekas luka yang melintang diagonal di perutnya juga bernasib sama.


Sedangkan untuk baju, sudah dia amankan di dalam tas. Namun sayang, sekeras apapun dia mencoba untuk melindunginya, tetap saja serangan air hujan berhasil masuk ke dalam tas.


“Haaah, hujan hari ini terlalu deras. Masalahnya aku cuma punya satu baju seragam, kalau ini basah sekali, aku harus pakai apa.”


Remaja itu adalah Kenichi, dia masih menerobos tirai hujan demi bisa kembali ke rumahnya. Tapi, tiba-tiba dia berhenti. Matanya menatap sebuah lorong yang ada di samping kanan, seperti biasa keadaannya sunyi senyap.


Tapi bukan itu yang menjadi fokusnya, melainkan sebuah jejak sepatu yang ada di bawah. Permukaan dari lorong itu terbuat dari tanah, jadi jejak sepatu bisa tercetak di permukaan tersebut.


“Sejak kapan di sini ada tanda kehidupan? Perasaan, selama ini tidak orang yang tinggal di sekitarku.”


Awalnya Kenichi ingin menelusuri jejak tersebut. Itu terlihat dari satu kakinya yang melangkah maju, tapi dia tidak meneruskan niatnya. Hujan semakin deras dan dia harus segera pulang.


Dia berbalik, hendak meneruskan perjalanan pulang.


“Yah, mungkin besok saja aku telusuri.”


Keesokan harinya, barulah Kenichi meneruskan niatnya. Hari ini adalah hari sekolah, dia sekarang telah berganti seragam karena seragam yang kemarin basah kuyup.


“Haaah, jadinya pake seragam ini deh. Kalau pake seragam ini pasti dimarahin sama bu Ma ... haaah, ngomong-ngomong sudah beberapa hari yah kelas kami tidak mendapatkan perwalian dari guru. Apa sekolah masih belum menentukan?”


Kenichi beranjak keluar.


“Yah, biarlah jadi urusan mereka. Lagipula, aku harus beli perban lagi buat lukaku.”

__ADS_1


Kenichi memegangi perutnya, lukanya tidak terlihat karena seragam yang menyamarkan luka tersebut. Saat Kenichi melewati perempatan di gangnya, dia menoleh ke arah kiri.


“Baiklah, sekalian saja aku lewati lorong itu.”


Biasanya Kenichi mengambil jalan lurus, tapi kali ini dia ingin melewati jalan yang dia curigai kemarin. Lagipula ini masih pagi, jadi dia bisa mengatur waktu untuk pergi ke sekolah.


“Coba kita, ehmm.”


Mata Kenichi terus menatap jejak itu, matanya tidak dipalingkan ke hal yang lain.


“Jejak kakinya lumayan besar juga yah, jejak kaki bapak-bapak kah,” sesaat dia merenung, “Ahh, kurasa tidak benar kalau aku hanya menilai berdasarkan ukuran jejak kakinya saja.”


Walaupun jejak kaki itu penting bagi dirinya, tapi ada sebuah kewajiban yang harus dia laksanakan. Yah, itu adalah bersekolah. Sekitar 30 menit lagi, sekolah akan memulai kegiatannya.


Kenichi menghentikan penelusuran itu, setelah melihat waktu yang tertera di jam tangannya.


“Haaah, sekarang mungkin kau beruntung,” Kenichi berbalik lagi, hendak kembali ke jalur yang biasa, “Tapi lain kali tidak.”


*Flashback off


“Yah, tapi kayaknya sekarang sudah terlambat.”


Tiba-tiba Kenichi merasakan lagi perasaan ini, dia merasa seperti sedang diikuti. Datangnya dari arah belakang dan spontan, telah membuat Kenichi menoleh.


Tapi tidak ada siapa-siapa, hanya khalayak ramai yang lalu lalang sibuk dengan urusannya masing-masing.


Bergumam sambil membalikkan lagi badannya ke depan, Kenichi meragukan kecurigaannya. Tapi, bukan berarti Kenichi akan mengendorkan kewaspadaan.


Melewati beberapa kelokan, dari belakang Kenichi merasakan hal yang aneh lagi. Pertama-tama ia meneruskan jalannya, hingga ke tempat yang terbuka. Sekarang, tempat persembunyian orang mencurigakan itu semakin berkurang.


Dengan cepat dia menoleh lagi dan memang tidak terlihat wajahnya, hanya pakaian jas hitam panjang yang nampak dari balik pohon. Sedangkan kepalanya tersembunyi di balik pohon. Kenichi semakin yakin dengan firasatnya, lalu berbalik dengan sebuah senyuman kecil.


“Dia membawa koper putih.”


Petunjuk yang tidak akan dilepaskan Kenichi. Sepertinya ia mulai tahu orang-orang ini, kenal pada ciri khasnya.


Tempat yang dilalui Kenichi kembali ramai, bahkan lebih ramai dari tempat sebelumnya. Di situ Kenichi akan menjalankan rencananya. Ia menatap sekeliling, mencari inspirasi untuk idenya. Tapi kakinya masih berjalan, takutnya dicurigai oleh orang yang mengikuti Kenichi.


Sesaat dia menemukan sebuah ide, saat melihat orang dengan pakaian yang sama dengannya. Memakai jaket hitam dengan kerudung jaket yang menaungi kepala. Bahkan, postur tubuh orang itu juga sama dengannya.


“CIKH, target hilang.”


Sosok itu terus mencari targetnya yang sudah menghilang di kerumunan. Kepalanya yang tertutup topi bowler berwarna hitam terus berpaling kesana kemari. Hingga ia menemukan targetnya.

__ADS_1


Tanpa menyia-nyikan kesempatan emas ini, dia langsung berlari menerobos orang-orang yang berjalan teratur. Memang beberapa orang kesal, apalagi dia berlari melawan arus.


“Kena kau.”


Dia langsung mencegat orang itu dengan memegangi pundaknya. Sontak, orang itu berpaling dan menatap heran pada orang yang mencegatnya tadi.


“Ada apa pak?”


“Eee, maaf salah orang.”


Orang itu berpaling dan meneruskan jalannya lagi. Salah orang adalah alasan spontan yang keluar dari mulutnya, untung ia berpikir cepat dan akhirnya tidak menimbulkan kecurigaan.


Masih berdiri diam di tempat, secara otomatis menjadi penghalang orang-orang yang sedang berlalu lalang di sekitarnya.


“Brengsek! Kemana anak itu pergi. Apa pulang ke rumahnya? Tapi iya juga sih, aku akan ke sana terlebih dulu. Kalau ada tanda-tanda keberadaannya, barulah aku memberi tahu mereka.”


Sekarang dia telah kehilangan target. Tidak ada yang perlu disesalkan, itu hanya membuang waktu. Jadi dia kembali meneruskan perjalanan, untuk pergi ke rumah Kenichi.


Di sebuah jalan sempit ….


“Kalau dia mengikutiku sedari tadi, berarti dia juga akan mencari jalan dimana aku pergi untuk membeli obat. Aku harus melihat sendiri, siapa sosok yang mengejarku.”


Kenichi bersembunyi di balik mobil tua yang sudah tidak memiliki ban, bahkan permukaan yang sudah berkarat telah menunjukkan umurnya.


“Tapi siapa?”


“Apa polisi? Kalau itu sih bahaya sekali. Apa mungkin aksiku selama ini pernah bocor, yah?” Kenichi bersender di dinding yang ada di belakangnya, “Tapi kayaknya gak mungkin deh. Kalau orang itu polisi, mana mungkin dia mau repot-repot bersembunyi dari banyak orang.”


Kenichi sedikit menoleh, hendak memastikan apakah orang itu telah masuk ke dalam rencananya.


“Orang tinggal datang ke rumahku dan menunjukkan lencana saja. Lalu berkata, pak kami dari kepolisian ingin menginterogasi Anda.”


Entah kenapa Kenichi menjadi tersenyum saat mendengar ucapannya sendiri.


“Hahaha, lelucon polisi yang bagus. Dasar aparat penegak hukum.”


Sekarang waktu untuk bercanda telah habis, karena orang itu telah masuk ke dalam rencananya. Kenichi melebarkan senyum.


Dia sudah tahu tentang siapa yang mengejarnya, masuk ke dalam organisasi apa dia. Selain ekspresi itu, Kenichi juga menunjukkan kelegaan karena yang mengejarnya bukanlah polisi.


“Dasar, ternyata kalian memang terlalu niat sampai mengejarku selama ini. Sudah lebih dari tiga tahun dan urusan kalian dengan keluargaku masih belum selesai juga.”


Kenichi masih menunggu, sembari mengomentari orang yang sekarang telah melewatinya. Tidak terdengar, hanya sebuah gumaman saja.

__ADS_1


“Cepat juga langkahnya, apa dia sudah menyadari keberadaanku?”


“Yo, om.”


__ADS_2