RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~SMA~


__ADS_3

Suara alarm ponsel Yoki berbunyi. Suara yang selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik, walau sebenarnya tuannya juga tidak terlalu suka diganggu pada pagi hari seperti ini.


Hari ini adalah hari pertama Yoki di SMA dan hari ketiga puluh setelah kedua orang tuanya meninggalkannya. Selamanya.


Mungkin kalian bertanya, bagaimana Yoki  bisa membiayai semua keperluan sekolah dan rumahnya? Padahal, orang tuanya sudah tidak ada lagi.


Itu karena Yoki  mendapatkan beberapa bantuan dari sebuah lembaga dan tentu saja desakan warga yang tinggal di sekitar rumah Yoki.


Mereka masih belum bisa menemukan pelakunya sampai saat ini. Hanya dugaan kalau si pengusaha daginglah yang menjadi tersangka, walau dugaan itu lumayan kuat.


Akhirnya, karena sang pengusaha daging tidak mempunyai sanak saudara dan keluarga, maka sebagian harta kekayaan milik pengusaha itu diberikan kepadanya dan usaha yang dimilikinya ditutup.


Begitu juga dengan rumah Yoki. Dia tidak tinggal lagi di rumah kumuhnya di Saiki, melainkan tinggal di salah satu rumah pengusaha daging di Kota Beppu.


Benar-benar menunjukkan kekayaan si pengusaha, namun tidak mencerminkan ahklaknya.


Itu semua memang fasilitas yang sudah sangat lengkap harusnya. Tapi, sampai sekarang Yoki masih bisa membayangkan dengan jelas darah yang berceceran dari tubuh orang tuanya.


“Ahhh … apa yang aku pikirkan! Tidak …tidak aku harus melupakan kejadian hari itu. Kejadian itu bisa menghantuiku sepanjang hari,” Yoki pun berusaha melupakan kejadian itu dengan membereskan tempat tidur.


Setelah Yoki  selesai memakai baju sekolah Yoki pun menuju dapur untuk sarapan.


Dia membuka lemari dapur, “Hanya ada roti doang …,” gerutunya sambil mengambil roti itu dan menyantapnya.


Setelah selesai sarapan dan sudah mengenakan seragam sekolah, kini Yoki sudah siap untuk pergi ke sekolah baru yang juga menandakan kenaikan jenjang pendidikannya.


Sambil mengambil tas dan memakai sepatunya, Yoki pun keluar rumah dan tidak lupa untuk berpamitan pada rumahnya.


”Sampai jumpa lagi rumah,” sambil berjalan meninggalkan rumahnya.


Yoki biasanya pergi ke sekolah menggunakan bus, tapi dia harus terlebih dahulu  berjalan ke halte untuk menunggu bus yang datang.


Setelah beberapa saat berjalan di trotoar, menikmati hembusan angin pagi yang menghiasi perjalanannya, sampailah dia di halte yang ia tuju, lalu menunggu bus yang lewat dan menaikinya.


Sekitar 30 menit perjalanan, Yoki pun sudah sampai di sekolahnya. Tidak lupa ia membayar biaya perjalanannya di sebuah kotak dan menuruni tangga bus dengan perlahan.


Ketika ia turun dari bus, rambut hitam pendeknya sedikit melambai dibelai angin, benar-benar lembut sampai membuat hatinya damai. Namun itu semua tidak menghentikan mata birunya untuk menatap sebuah pemandangan yang menurutnya sangatlah indah. Karena hari ini semua warna bercampur, hijau pohon, biru air, dan warna merah muda bunga sakura yang bermekaran, turut menemaninya.


"Woah!" ucap Yoki terdecak kagum dengan mulutnya yang menganga.


Terhampar di hadapannya gedung-gedung sekolah yang bertingkat, ada yang memiliki satu tingkat dan ada yang memiliki dua tingkat.


Semua gedung itu memiliki persamaan dari segi gedung yang berwarna putih dan bentuk persegi panjang yang menjadi bentuk khasnya.


Sedangkan, gedung utamanya adalah gedung yang terdepan diantara yang lain dan memiliki sebuah jam besar yang menjadi pembedanya.


Setelah selesai memandanginya, tatapan Yoki pun dipalingkan menatap orang orang yang berlalu lalang, sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.


Ada yang mengobrol, bermain, sibuk membawa beberapa dokumen yang tebal, dan juga ada anak yang menangis karena tidak ditemani oleh orang tuanya.

__ADS_1


"Etooo ... ini SMA atau sd kah, pake ditemani orang tua segala hihihi ...."


Yoki menyempatkan diri untuk mengalihkan pandang ke siswa yang menangis tersebut. Lalu kembali mengalihkan perhatian ke arah lain.


"Tapi ... tidak kusangka, Kepolisian sampai segininya memberikan bantuan kepadaku," gumam Yoki sembari menghela nafas bersiap memulai kehidupan sekolahnya di jenjang yang lebih tinggi.


Yoki berjalan diantara kurumunan orang yang ada di sekitarnya. Suasana mulai riyuh dengan berbagai keramaian di luar sekolah yang ditambah dengan sinar mentari pagi yang menghangatkan suasana di sekolah barunya.


Karena hari ini adalah hari pertamanya di SMA, dia masih merasa canggung untuk bergaul dengan teman-temannya yang baru.


Setelah masuk ke dalam salah satu gedung sekolah yang memiliki jam besar di atasnya, Yoki pun berjalan-jalan berkeliling di setiap ruangan yang difasilitasi oleh sekolahnya.


Yah, walaupun langkahnya sedikit canggung ketika melewati khalayak banyak yang mulai ramai hilir mudik di setiap ruangan.


Tapi, Yoki tetap memberanikan diri karena bagaimana pun juga sekolah ini yang akan dia tempati untuk menempa ilmu selama 3 tahun kedepannya.


Bel masuk sudah berbunyi, menandakan dimulainya kali pertama Yoki menempa ilmu di Sekolah Menengah Atas atau disingkat SMA.


Yoki pun langsung masuk ke dalam kelas yang sudah ditentukan sebelumnya dan duduk di kursi yang paling belakang.


Begitu pula dengan semua murid yang sibuk kesana kemari mencari kursi yang kosong untuk ditempati.


Teman-teman sekelas Yoki bisa dikatakan beragam jika dilihat dari suku, agama, bahkan perilaku mereka. Itu semua bisa saja kan menjadi sebuah kelebihan tersendiri bagi kelas tersebut.


Beberapa saat kemudian, bu guru masuk ke ruang kelasnya dengan langkah kaki yang menunjukkan ke integritasannya. Yah, walaupun ukuran badannya bisa dikatakan pendek.


Rambut pendek berwarna hitam dan kacamata yang turut menghiasi penampilannya, kini bu guru sudah berada di samping mejanya dengan mata semua murid yang sedari tadi tertuju mengikuti langkah bu guru mereka sejak masuk ke kelas tadi.


”Wah cantik sekali guru itu,” celetuk beberapa siswa.


Pastinya yang paling antusias adalah murid cowok. Mata mereka semua terus menatap bu guru, seperti mengisyaratkan sesuatu. Badan gurunya yang pendek pun bukanlah sebuah masalah bagi mereka.


”Selamat pagi anak-anak,” sapa Bu guru dengan ramah.


Di balas sapaan oleh semua murid di kelas itu. Suara mereka bersemangat entah karena hari pertama sekolah atau karena guru mereka.


”Halo semua … mungkin hari ini adalah hari pertama kalian di SMA tapi Ibu harap kalian bisa saling mengenal dan berteman dengan teman teman kalian yang baru di sekolah ini.


Nah terlebih dahulu Ibu mau memperkenalkan diri Ibu kepada kalian,” kata guru tersebut yang memulai acara perkenalannya.


”Nama Ibu Mariko Mai umur Ibu sekitar 29 tahun dan Ibu di sini sebagai Wali Kelas kalian,” lanjutnya.


”Bu guru mau nanya, Ibu sudah punya pasangan belum?” celetuk salah seorang siswa.


”Ehh … belum kenapa gitu?” Bu guru tiba tiba heran.


”Wah wah wah udah cantik belum mempunyai pasangan, udah gitu selisih umurnya juga gak terlalu jauh  beda 16 tahun sama aku bisalah nih,” kata seseorang yang berperawakan tinggi besar.


”ITU JAUH!!!” balas temannya.

__ADS_1


Seketika suasana kelas menjadi ricuh hanya karena candaan seseorang, kericuhan ini juga memancing reaksi dari murid-murid di kelas itu.


Ada yang menganggapnya mengganggu, ada juga yang menganggapnya biasa, bahkan ada juga yang malah ikutan menjadi biang kerok kericuhan ini.


”Ehhhh ...,” sahut Ibu guru dengan nada pelan. ”Sudah sudah ... cukup, tidak usah diteruskan. Sekarang giliran kalian yang memperkenalkan diri agar Ibu tahu nama-nama kalian.”


”SIAPPPP BU … namaku Terasaka orang paling gagah kekar terganteng di sekolah ini HeHeHe!” jawab pria tinggi besar itu dengan semangat.


Ucapannya langsung menyerobot urutan dan langsung berdiri dengan dada yang dibusungkan, ingin terlihat gagah. Sedangkan semua murid serta bu guru malah menatapnya aneh.


Badannya benar-benar menyeramkan, bisa dikatakan ia memiliki tinggi sekitar 193 centimeter. Dengan tinggi yang seperti itu, Terasaka merupakan siswa tertinggi di kelas bahkan di sekolah Yoki.


”Astaga ada apa dengannya padahal ini baru hari pertama tapi semangatnya sudah luar biasa,” kata Yoki dalam hati. Begitu pun dengan umpatan para murid di kelas itu.


”Ya … Ya … Sabar yah jangan terlalu bersemangat dulu silahkan giliran yang lain, untuk memperkenalkan diri,” balas Ibu guru.


”Halo namaku Kenichi lengkapnya Kenichi Gatland mungkin Ibu sudah tahu siapa aku kan dan sekarang Ibu menjadi wali kelasku hehehe … selamat bersenang-senang denganku Bu guru,” jawab seseorang yang duduk di samping kanan meja Yoki.


Pria itu berambut panjang hingga menyentuh lehernya. Mata hitamnya menatap lekat bu guru yang masih berdiri ditempatnya.


Semua mata memandang ke arah Kenichi seperti sebuah primadona, tapi yang membuat mereka tertegun saat melihat Kenichi adalah posisi duduk Kenichi dengan kedua kakinya yang diluruskan dan ditaruh di atas meja.


Sementara, tubuh bu guru malah bergetar hebat saat melihat seseorang yang sepertinya tidak asing lagi baginya.


Tentu saja, Kenichi merupakan primadona di sekolahnya dulu atau bisa dikatakan jika saat itu ia masih SMP. Di sekolah yang terdahulu, Kenichi seringkali membuat guru-guru di sana terjerumus ke dalam lubang galian kubur buatannya.


Bahkan walaupun dituntut, Kenichi masih bisa mengelak menggunakan bukti-bukti palsu yang telah ia persiapkan secara matang.


Jadi, dia masih bisa bersekolah bukan karena dibantu oleh cheat seperti kondisi keluarga maupun status di masyarakat. Tapi, itu semua karena otaknya yang licin seperti belut.


”Ya …Ya Baiklah terima kasih sudah memperkenalkan diri Kenichi, nah silahkan giliran yang lain untuk memperkenalkan diri juga,” kata bu guru sambil menelan ludah.


Keringat dingin mulai bercucuran keluar dari badannya walaupun saat itu masih pagi di sekolah tersebut.


”Hey … sabar Bu guru kenapa harus terburu buru emang ada evakuasi di sekitar sini sehingga harus terburu-buru, aku tahu kok kalau Ibu guru pasti kelelahan karena berdiri terus, nah karena itu sebagai simbol kekeluargaan kita aku persilahkan Ibu guru untuk duduk dulu biar gak capek lagi,” kata Kenichi dengan nada jahil.


”Tidak usah Kenichi tidak apa Ibu sudah biasa berdiri kok,” kata Bu guru.


”Jangan begitu dong Bu guru saya melakukan itu supaya hubungan kita tetap lancar kedepannya, malahan nanti saya yang bakal sakit hati karena tidak diindahkan permintaannya,” balas Kenichi.


”Ya … sudahlah tidak apa-apa lagipula kayaknya gak ada perangkap yang disiapin Kenichi untukku,” ujar Bu guru dalam hati. Lalu dia pun menuju ke meja guru dan ketika duduk di kursinya.


Tiba-tiba saja Bu guru terjatuh karena baut kursi yang longgar. Keadaan Kelas menjadi ricuh karena satu Kelas tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu. Semua mata memandang ke arah Bu guru yang masih berada dalam posisi yang menyedihkan di lantai.


”HEI … HEI ternyata Sekolah ini tidak memenuhi standar kursi yang seharusnya hahaha …,” ledek Kenichi.


”KENICHI!!!” balas Bu guru kesal.


”HEI ... HEI jangan marah marah gitu dong dihari pertama sekolah Bu guru. Nanti hubungan kita gak lancar kedepannya hihihi ...,” ledek Kenichi.

__ADS_1


”Sudah kuduga. Haah, sabar … sabar,” ujar Bu guru yang kembali berdiri.


__ADS_2