RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~KEBERUNTUNGAN~


__ADS_3

Minggu ini bisa dibilang minggu yang penuh kesenangan bagi orang-orang di Kota Beppu. Bagaimana tidak, salah satu brand makanan ringan di kota ini sedang mengadakan sebuah event. Hadiah dari event ini sangat menarik minat warga Kota Beppu, tiga orang beruntung akan menikmati fasilitas di salah satu onsen yang terkenal di kota ini.


Begitu pun dengan Yoki yang menantikan-nantikan kesempatan ini. Namun, karena uang yang bukan penghasilannya, Yoki pun sedikit mengurungkan niat. Namun tetap berharap.


“Hmmm … apa aku rela untuk menghabiskan uang ini demi tiket itu?” sejenak ia berpikir, lalu segera menatap dengan tatapan yakin, “Yah, apa salahnya mencoba.”


Semangat sudah ada, tinggal keberuntungan yang belum datang. Yoki bergegas beranjak keluar rumah untuk pergi ke minimarket. Beruntung, sekolah saat itu sedang libur karena akhir pekan, jadi Yoki bisa leluasa untuk pergi.


Jalanan saat itu sedang lenggang, Yoki berjalan santai sambil menikmati pemandangan yang tidak bosan-bosannya ia lihat. Satu dua motor dan mobil lewat begitu saja, namun tidak mengganggu kedamaian.


*************


“A-apa!”


Yoki berteriak heran, saat melihat stok cemilan telah habis, ludes tak tersisa. Tentu, cemilan yang dimaksud adalah cemilan yang menawarkan hadiah menikmati onsen.


Merasa tak terima, Yoki pergi ke meja kasir.


“Pak, apa stok cemilan bermerek ini sudah habis persediaan?”


“Hmmm iya, baru lima belas menit bapak buka dan seluruh stok sudah habis.”


“Tiga puluh menit!”


Yoki mengeja untuk memastikan pendengarannya dan bapak itu mengangguk, menyakinkan jawaban.


“Haaah pantes suasana jalannya sepi, rupanya pada di rumah semua untuk membuka semua bungkus cemilan yang mereka beli.”


Dengan sebuah helaan nafas panjang, Yoki berbalik dan meninggalkan minimarket. Memang hatinya masih tidak terima, tapi mau bagaimana lagi. Itu semuanya kesalahannya, karena terlambat datang.


Saat di jalan dengan kaki yang lesuh ia berhenti, melihat seorang bapak-bapak berjanggut putih kehitaman sedang duduk di pinggir jalan.


Dilihat dari tampang dan pakaiannya, bapak itu seperti seorang gelandangan. Pakaiannya sangat kotor dengan koyakan yang tersebar. Namun, bukan itu yang menjadi fokus Yoki.


Di tangan kiri bapak itu, sedang menggenggam sebungkus cemilan. Cemilan itulah yang sedari tadi dicari Yoki, hingga akhirnya memutuskan untuk menonton si bapak yang saat ini sedang membuka bungkus dengan perlahan.


“Itu kan ….”


Yoki sedikit tersentak, satu tangannya spontan terarah ke arah bapak yang sedang mengamat-ngamati kertas putih dengan tulisan hitam yang tertera. Malahan, wajah bapak itu sekilas nampak biasa saja, bahkan tak acuh dengan ditegaskan oleh tangan yang melempar kertas itu.


“Heh?!”


Yoki setengah terkejut dan heran saat bapak itu melempar kertasnya ke samping kanan. Untung saja, kertasnya tidak terbawa angin dan malah tersangkut di bebatuan.


Sebelum rezeki menjadi sia-sia, Yoki segera menyebrangi jalan hendak menghampiri bapak itu. Namun, sebelum berbicara ia segera mengambil kertas yang masih tersangkut di bebatuan.


“Pak, permisi.”

__ADS_1


“Oh yah nak, ada apa?”


Bapak itu memalingkan pandangan, untuk melihat orang yang berbicara padanya.


“I-ini kertas punya bapak bukan?”


“Ehmmm …,” sekilas bapak itu mengamati kertas tersebut, lalu kembali menatap Yoki, “ Ya.”


“Gini pak, ini adalah kertas hadiah dari merek cemilan yang bapak makan.”


Sambil menunjuk ke arah bungkus keripik yang dipegang si bapak, untuk menegaskannya.


“Iya, bapak tahu kok.”


Balasan yang diterima cukup mengherankan. Pikirnya, Bagaimana bisa seseorang mengacuhkan tiket hadiah gratis yang didapatkan dengan hanya membeli sebungkus keripik kentang saja.


Walaupun memang butuh keberuntungan tinggi, namun tetap saja hadiahnya tidak sebanding. Entah karena penipuan atau alasan lain, itulah yang ingin diketahui Yoki.


“Lalu kenapa bapak tidak senang saat mendapatkan ini?”


“Hahaha … tentu saja siapa pun pasti senang saat mendapatkannya. Tapi, bapak hidup untuk hidup bukan untuk menikmati kemewahan.”


Jawabannya masih membingungkan Yoki. Rautnya masih tetap menggambarkan rasa herannya.


“Lalu mau bapak apakan kupon ini?”


“Kalau kamu mau ,silahkan saja.”


Awalnya bapak itu menolak, namun karena Yoki bersikeras akhirnya bapak itu menerima bayaran atas kebaikkannya.


Pulang dengan rasa senang yang tak terkira, Yoki tak sabar untuk menunjukkannya pada Kenichi dan Gaia. Sampai-sampai, ia hanya memandangi tiket itu sambil tiduran di kasurnya.


**************


Keesokan paginya, di dalam kelas ….


“Pe-permisi, ini bangku milikku.”


Yoki memandangi seorang siswa gempal yang duduk di kursinya. Siswa itu memakai kacamata dan sedang memandangi dua kertas putih di tangannya.


“Apasih! Nanti juga aku pergi dari sini kok, anak yatim.”


Balasannya sangat menyakitkan, namun Yoki mencoba untuk bersabar agar tidak terjadi keributan di kelas.


“Baiklah,” ia berbalik, hendak duduk di bangku Kenichi. sekilas ia menoleh ke belakang, melihat anak gendut yang sedang asyik dengan kedua kertasnya seraya bergumam, “Gak usah segitunya juga kali.”


Ia termakan kesal, bahkan tidak memperdulikan dua kertas yang sedang disibukkan siswa itu. Tak lama berselang setelah Yoki duduk, dua orang yang ia tunggu-tunggu datang menghampirinya.

__ADS_1


“Yo.”


Sapa Kenichi duluan, dibarengi dengan satu tangan yang diangkat.


“Kenichi, Gaia aku mau menunjukkan sesuatu pada kalian.”


Mendengarnya, membuat Kenichi dan Gaia penasaran. Mereka berdua mempercepat langkah dengan dua jalur yang berbeda. Kenichi berjalan di jalur sebelah kiri meja Yoki, sedangkan Gaia di sebelah kanan.


Sesaat, Kenichi memalingkan pandangan ke arah siswa gendut yang menduduki bangku temannya, lalu kembali menatap Yoki.


“Lihat ini,” sambil mengeluarkan sebuah tiket dari dalam tasnya, “Aku mendapatkan sebuah kupon dari seorang bapak yang kutemui di jalanan.”


“Oh yah, beruntung sekali. Tapi, bukannya itu kupon buat satu orang … kan?”


Saat mendengar pertanyaan Kenichi, Yoki menaruh tangan kanannya di dagu. Pandangannya hanya pada tiket di depannya.


Disaat Yoki masih berpikir, sekelompok murid juga masuk ke kelasnya. Mereka memanggil siswa gendut yang duduk di bangku Yoki dengan menunggu di depan kelas.


Siswa itu menyahuti mereka. Sambil mengantungi tiketnya di kantung celana, ia berdiri hendak berjalan menghampiri mereka.


Saat berjalan melewati Kenichi, Kenichi menaruh tangan kanannya ke belakang dengan waktu yang hampir bersamaan.


“Iya juga sih, apa kalian juga dapat? Kalau nggak, mungkin aku tidak akan pergi ke onsen itu.”


“Wis … dapat dong.”


Yoki tersentak kaget, saat melihat Kenichi mengeluarkan dua tiket yang sama dengan Yoki dari tangan kanannya.


“Du-a ….”


“Yap, satu untuk Gaia dan satu lagi untukku.”


“Tapi, bagaimana kamu dapat kupon ini?”


“Itu semua … hanya keberuntungan orang pintar saja.”


Ucapan Kenichi berbarengan dengan tangan kanan yang menunjuk ke kepalanya, seperti hendak memperjelas maksudnya.


Saat Yoki masih bingung dengan ucapan Kenichi, terdengar suara keributan yang berasal dari depan kelas. Siswa gendut itu, sedang berdebat dengan salah satu siswa dari kelompok yang memanggilnya.


“Mana katamu, katanya mau ditunjukkan. Mana hah!”


Nada bentakan keluar dari siswa yang berasal dari kelompok itu. Tidak sampai di situ saja, ia bahkan menaruh satu tangannya, menarik kerah baju milik siswa gendut tersebut.


“Ta-tadi aku simpan di saku kok. Ta-tapi ….”


Nadanya berantakkan, ditandai dengan ucapan gagap. Namun bel masuk sekolah menjeda ketegangannya.

__ADS_1


“Awas kau nanti.”


Pria dan kelompoknya berbalik meninggalkan kelas, meninggalkan siswa gendut yang hampir menangis keras.


__ADS_2