RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~KE BUKIT LAGI~


__ADS_3

“Ada apa?”


Yoki hanya berpura-pura saja, dia hanya ingin melihat pengaruhnya dalam nada bicara Kenichi.


“Yoki, apa yang kamu temukan dalam biodata Terasaka?”


Itu adalah reaksi Kenichi, ternyata dia tetap tenang. Malahan, sekarang dia seperti wartawan yang sedang menanyai Yoki.


“Ada selembar kertas yang terselip di biodata miliknya dan kertas itu menyimpan informasi yang sangat penting.”


Sekarang kedua tangan Yoki ditekuk di atas paha untuk menopang badan. Dia ingin lebih rileks dan mendalami permasalahan ini, walaupun sebenarnya ada rasa tidak enak untuk mengungkapkannya kepada Kenichi.


“Informasi yang menyangkut status bu Mariko dan Terasaka.”


“Status seperti apa?”


Kenichi berucap, bermaksud untuk bertanya kelanjutannya. Pertama Yoki diam, menghela nafas, menjeda perkataan. Lalu sudah siap untuk bicara dengan wajah yang kembali menatap Kenichi.


“Haaah, kalau kau bertanya tentang status yang kumaksud adalah … hubungan bu Mariko dan Terasaka. Karena kertas itu adalah kertas yang berisi ancaman kepada Terasaka. Yah, kertas penculikan bu Mariko pada saat kita pergi berlibur.”


“Jadi kebenaran yang kamu maksud itu .…”


“Jangan pura-pura bodoh Kenichi, anak bu Mariko adalah Terasaka bukan?”


Walaupun pertanyaan yang dilayangkan Yoki begitu ketus, tapi Kenichi tetap menenangkan diri. Dia sebenarnya mempunyai maksud lain di balik ketenangan itu. Yah, itu tentang siapa yang telah memindahkan kertas itu ke dalam biodata Terasaka.


*****


Mereka berdua masih mengobrol di kursi taman. Tapi, mereka tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang berjalan untuk menghampiri mereka.


Seorang siswi, dengan baju khas seragam sekolah yang bertipe sailor. Sedang berjalan pelan, melewati kerumunan murid yang berjalan berlawanan arah dengannya.


Sepertinya, mereka semua hendak ke kelas untuk menyiapkan pelajaran berikutnya. Lain dengan tindakan yang dilakukan oleh siswi tersebut.


“Ehhmm ... aku sebenarnya mau sekali melihat tempat itu. Tapi karena ketakutanku dan karena kehadiran beruang yang tiba-tiba menyambut perjalanan kami, akhirnya semua rencana kami gagal deh.”


Siswi itu adalah Gaia, yang bergumam sembari melewati kerumunan. Dia meneruskan langkah dan hampir mendekati kantin.


Ketika Gaia masih termenung dalam gumamannya, dia melewati kelokan dan akhirnya sampai juga di kantin.


Membeli jajanan terlebih dulu, lalu pergi ke tempat yang biasa di pakai untuk mengobrol dengan Yoki dan Kenichi.


Saat sudah sampai di taman, Gaia melihat kedua temannya saling duduk bertatapan. Dari posisi mereka berdua, terlihat jelas kalau mereka sedang berbincang tentang sesuatu. Gaia kembali meneruskan langkah, dia tidak mau tak acuh pada mereka berdua karena dia juga ingin membicarakan sesuatu.


Langkahnya semakin mendekat, tapi telinganya tidak mengerti dengan apa yang sedang diperbincangkan oleh Yoki dan Kenichi.

__ADS_1


“Hai Yoki, Kenichi kalian sedang membahas apa?”


Pertanyaan yang datang dari belakang Kenichi, tentu saja membuatnya tersentak. Bukan hanya dia, tapi Yoki juga tersentak.


Bahkan, ketakutan juga timbul di benak mereka. Bukan tanpa dasar, di satu sisi mereka sudah mulai mendalami pembicaraan mereka dan tiba-tiba, ada yang datang menyerobotnya. Di sisi lain, mereka berdua takut kalau Gaia sudah mengetahui isi dari pembicaraan mereka.


Jika rahasia ini bocor, maka Gaia akan sangat menyesal, Itu yang dipikirkan oleh mereka berdua. Tentu saja, karena Gaia lah yang membuat Yoki, Kenichi, dan juga korban dari peristiwa itu yang tidak lain adalah bu Mariko, turut mengikutinya keluar kelas.


Apalagi rusa itu datang karena Gaia. Dia bisa saja mengerucut pada pernyataan, kalau keberadaannya lah yang membuat mereka semua begini. Jika diam, maka seluruh kelas akan porak-poranda dan jika pergi maka bisa dilihat sendiri hasilnya. Timbul sebuah pengorbanan dari seorang guru muda kepada murid-muridnya.


Dia akan sangat terkekang karena itu dan boleh dibilang, serba salah.


“Tidak ... tidak ada apa-apa.”


Kenichi berusaha untuk menutupi pembicaraannya dengan Yoki. Langkah ini juga disetujui oleh Yoki, tidak diucapkan hanya sebuah isyarat dari wajahnya.


Untung saja Gaia tidak sempat mendengar mereka, itu bisa dilihat dari reaksi yang menerima jawaban Kenichi. Yah, setidaknya mereka berdua bisa bernafas lega.


“Ehmmm Yoki, Kenichi ngomong-ngomong kita bakal ke bukit itu lagi gak yah?”


Dengan satu pertanyaan, maka alur pembicaraan telah berubah. Tapi tidak apa-apa, ini malah semakin membantu Yoki dan Kenichi dalam menyembunyikannya, daripada mereka didesak untuk memberitahukan apa yang mereka perbincangkan kepada Gaia.


“Haaah ... kamu menanyakan bukit itu, bukannya kamu takut sekali untuk pergi ke sana?”


Yoki menambahkan bumbu heran pada pertanyaannya, sebagai balasan dari pertanyaan Gaia. Ini berguna untuk semakin membawa Gaia larut dalam topik ini, agar lebih terlihat tidak menyembunyikan apa-apa.


“Masih berani ke sana, mungkin kalau kita ke sana lagi kita harus siap membayar asuransi untuk telinga kita hihihi .…”


Kenichi menyindir dengan santai sembari tertawa kecil.


“Ahh ... Kenichi jangan gitu dong. Aku janji, aku bakal berusaha untuk tidak takut. Demi sesuatu yang menakjubkan itu.”


Janji itu dibuktikan dengan satu tangan yang diangkat. Tidak disuruh sebenarnya, hanya datang dari inisiatifnya saja.


“Iya juga sih, aku juga masih penasaran dengan apa yang kamu bilang. Apalagi, kemarin saat kita mendaki bukit itu bukannya menemukan sesuatu yang menakjubkan tapi malah ketemu sesuatu yang menakutkan. Jadi aku masih belum puas.”


Dari jawaban ini, bisa dilihat kalau Yoki masih memiliki rasa penasaran pada ajakan Kenichi yang dulu.


“Aku bisanya sih dua minggu lagi, apa tidak apa-apa?”


“Iya, aku setuju. Yang penting kita bisa ke sana.”


Keinginan Gaia sekarang sudah tercapai, hal itu ditandai dengan mata yang berbinar-binar. Apalagi dengan tambahan badan yang dicondongkan ke arah Kenichi yang sebenarnya, itu terlalu berlebihan.


“Baiklah kalau begitu, tiga hari sebelum keberangkatan … kita harus berdiskusi dulu tentang apa saja barang yang perlu dibawa ke sana. Yang pasti sih, harus bawa penyumbat telinga hehehe.”

__ADS_1


“Oke!!!”


Yoki dan Gaia berteriak serentak dengan wajah penuh kebahagiaan. Bahkan Gaia mengabaikan kalimat terakhir Kenichi. Itu hanya candaan, tidak perlu dibesar-besarkan, pikir Gaia.


“Ohhh kalian mau merencanakan liburan di bukit itu yah hihihi ... baiklah, kalau gitu aku akan menyiapkan sebuah pertunjukan untuk kalian bertiga supaya kalian bertiga menjadi terhibur oleh pertunjukanku. Sekarang, yang menjadi pemainnya adalah kau Yoki.”


Seseorang yang misterius, dari tadi mendengar pembicaraan mereka bertiga. Keberadaannya benar-benar tidak diketahui seluruh penghuni sekolah yang melewatinya. Atau, mereka semua tidak peduli dan juga, kemana satpam yang selama ini selalu menjaga sekolah dari luar dan dalam?


Yang pasti, setelah orang yang misterius itu mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan, ia langsung segera pergi meninggalkan mereka. Langkah misteriusnya segera menjauh dari kerumunan murid yang ada di tempat itu.


Sekarang sudah pulang sekolah, pasti dia sudah sangat jauh dari sekolah. Setelah berhenti berjalan, dia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku lalu menelpon seseorang. Yang pasti, pembicaraannya berkaitan dengan informasi yang dia dengar dari Yoki, Kenichi, dan Gaia.


“Anazawa.”


“Eh, bos Terasaka. Pa-padahal aku ingin menelponmu.”


Responnya sangat cepat. Itu karena, awalnya Anazawa ingin menelpon Terasaka terlebih dulu. Tapi sayang, dia kalah cepat dari bosnya.


“Hah, begitukah? Apa kalian masih peduli, setelah kalian lari seperti pecundang saat aku sudah terkapar karena mereka berdua.”


Balasan yang cukup untuk membuat Anazawa meneguk ludah. Dia sekarang sedang ketakutan, tapi itu tidak terlihat dari telepon.


“Ma-maaf bos. Waktu itu, kami sangat ketakutan.”


“CIKH, kalian semua minta dihajar yah.”


Nadanya memuncak, emosinya meluap. Dia benar-benar geram saat mengingat kelakuan teman-temannya.


“Haaah, sudahlah. Sekarang ada masalah yang perlu aku selesaikan terlebih dulu.”


Tapi tiba-tiba kemarahannya menurun, dia ingin membuang masalah tadi terlebih dulu.


“Apa itu bos?”


“Aku mendapatkan informasi tentang sebuah kelompok mafia. Aku ingin bergabung dengan mereka demi balas dendamku.”


Anazawa menggaris bawahi kata “kelompok mafia”. Di sini dia sedang menebak maksud dari bosnya. Kelompok mafia, apa Terasaka benar-benar akan bekerja sama dengan organisasi gelap itu?


Bisa dibilang, itu adalah organisasi yang berbahaya. Jika Terasaka terjebak di dalamnya, mungkin dia akan menjadi sampah bagi masyarakat. Bahkan, menjadi musuh para polisi dan aparat penegak hukum.


“Kelompok mafia apa bos?”


“Kau akan tahu sendiri, ketika aku berhasil maka aku akan mengumpulkan kalian semua dan kita akan bermain lagi dengan mereka hahaha ….”


Kata-kata yang diakhiri dengan tawaan bengis. Di situ sudah tercampur dendam, marah, benci, dan sedih yang telah menyatu layaknya kopi.

__ADS_1


__ADS_2