
“Buat acara peresmian pertemanan juga bisa. Lagipula, rencana kita dari dulu selalu saja gagal karena sesuatu, ya kan?”
“Iya juga sih.”
Gaia menjawab pertanyaan Kenichi. Tapi untuk teman yang satu lagi, entah kenapa penjelasan Kenichi telah menjadi lelucon tersendiri bagi Yoki, membuat kedua temannya menatapnya dengan heran.
“Haaah, apa kita perlu acara peresmian pertemanan?”
“Eee ….”
“Awww ….”
Gaia langsung menginjak kaki Yoki, disaat Kenichi masih berpikir. Mungkin, Gaia tidak suka dengan gaya bicara Yoki atau bisa jadi karena isi dari ucapannya. Namun, tindakan seperti itu, sedikit tidak dipahami Kenichi.
“Ahaha … silahkan saja, jadi apa yang ingin kamu tunjukkan?”
Gaia mengalihkan arah pembicaraan, dia takut kalau masalah tadi akan berkepanjangan. Sementara Kenichi, hanya mengikuti alurnya saja. Berbeda dengan Yoki yang masih meredam rasa sakitnya.
“Apa kalian tahu bukit di belakang sekolah ini?”
“Bukannya itu tempat yang angker! Katanya, di situ banyak penampakan arwah-arwah bekas bunuh diri dan pembunuhan yang bergentayangan menghantui bukit.”
Perasaan takut dan mencekam telah tercampur aduk di dalam satu jawaban dari Gaia. Matanya bergidik ngeri, cocok dengan seramnya jawaban yang ia berikan.
”Hahaha ... apa kalian percaya cerita khayalan seperti itu. Kalau memang ada arwah bunuh diri atau pembunuhan yang gentayangan. Dari dulu, aku sudah dihantui sama arwah ayahku.”
“Eh … kayaknya dia biasa banget yah, ngomongin tentang arwah ayahnya sendiri.”
Yoki hanya bergumam saja, tidak mau untuk mengungkapkan tanggapannya.
“Mereka hanyalah orang-orang bodoh dan serakah yang tidak ingin bukit itu terjamah oleh orang-orang awam seperti kita, jadi aku saranin isu seperti itu jangan kalian anggap serius.”
“Lalu apa yang akan kita lakukan di sana?”
Tidak mau mendengar lebih dalam, Yoki mencoba mengalihkannya dengan sebuah pertanyaan.
“Oh yah, kalian libur gak hari sabtu?”
“Paling minta izin sama atasanku.”
“Kalau aku sih gak ada kerjaan hehe.”
__ADS_1
“Baiklah, kalau bisa sabtu pagi kita berkumpul di depan sekolah. Nah, baru deh aku kasih tahu dengan menunjukkannya. Jadinya kan … rahasia.”
Rencana itu semakin menarik dengan adanya sebuah rahasia. Rahasia bisa membuat orang penasaran dan itu juga berlaku bagi Yoki dan Gaia.
“Hahaha, kau ingin memberi kami kejutan rupanya.”
Yoki menekukkan kedua tangannya di kedua sisi pinggang, sambil tertawa terbahak-bahak.
“Eh tunggu dulu Yoki ... Gaia, aku lupa ngasih tahu besok kalian juga bawa perlengkapan yah, seperti obat-obatan dan makanan eee ... saran aku sih makanannya juga bawa banyak-banyak yah.”
“Bilang aja, kamu mau makan gratis.”
“Heeh, kok tahu kamu ?!”
Mereka bertiga tertawa saat mendengar lelucon Yoki. Yah, satu percakapan yang diakhiri dengan candaan juga tidak buruk. Mungkin memang seperti itu seharusnya arti dari pertemanan mereka, agar tidak suram menurut Yoki.
Tiga hari kemudian, orang yang datang paling awal adalah Kenichi. Dia bahkan datang dari subuh dan menunggu teman-temannya sambil duduk. Antusiasnya sangat besar dan itu nampak pula pada wajahnya.
Sambil memakan sebungkus keripik di tangannya, dia menunggu sembari melihat pemandangan yang tersaji di sekitarnya. Sedangkan, semua perlengkapannya di taruh tepat di samping tempat duduknya.
Beberapa saat kemudian, samar-samar mata Kenichi melihat dua orang sedang berjalan ke arahnya dari kejauhan dan semakin lama kedua orang itu semakin dekat dengan Kenichi. Sampai mereka kini sudah menunjukan identitasnya.
“Hai kalian ....”
Yoki membalas sapaan Kenichi dengan nada ramah, dengan sedikit ditambahkan sebuah sindiran.
“Tentu saja, aku sudah tidak sabar menunjukan tempat itu ke kalian karena selama ini hanya aku saja yang tahu tempat itu, tapi sekarang aku bisa menikmatinya bersama kalian, lagipula ini akan menjadi acara peresmian pertemanan kita.”
Kenichi membalasnya dengan senang, matanya berbinar saat berbicara. Sama dengan Kenichi, kedua temannya juga sangat antusias ingin pergi ke bukit bersama.
Sepertinya isu-isu menyeramkan yang selama ini menghantui bukit itu, perlahan mulai dilupakan. Lagipula, mereka berdua juga tidak ingin merusak rencana Kenichi.
Begitu pula dengan berbagai macam perlengkapan, yang kini menempel pada tubuhnya. Dengan harapan, agar semua dapat berjalan lancar.
”Baiklah, tunggu apa lagi jika semuanya sudah siap. Ayo kita pergi ke bukit itu sekarang!”
Tanpa basa-basi lagi, mereka segera berjalan menuju bukit. Sebenarnya, bukit itu sendiri tidaklah besar cuma karena tidak ada jalan setapak, itulah yang memaksa mereka untuk mendakinya. Batu besar kecil lah yang akan menjadi penghalang perjalanan mereka.
Sedangkan, suasana di bukit itu bisa terbilang asri dengan lebatnya pepohonan yang menghiasi permukaan bukit. Yah, hal itu tidak terlepas dari rumor-rumor yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Awalnya perjalanan mereka lancar, tapi tiba-tiba suasana berputar 180 derajat, wajah Gaia dihiasi oleh rasa ketakutan ketika memasuki hutan di bukit itu. Karena ketakutannya lah yang membuat Gaia terus-menerus merangkul tangan Yoki untuk menghilangkan rasa takutnya, lalu tiba-tiba saja Gaia berteriak, “AHHHHHHHH ... ada yang memegangku, Yoki tolong AHHH!!!”
__ADS_1
“AHHHH!!!”
Yoki berteriak ketika dia dikagetkan oleh suara yang berasal dari mulut Gaia yang sedang mengigil ketakutan.
Ketika Yoki berbalik badan, “Ehhhhh ... itu kan cuma ranting pohon doang.”
Jawab Yoki, sambil menahan tawa karena dikagetkan Gaia yang ketakutan pada sebuah ranting pohon saja.
“He ... he ... he maaf.”
Hanya sipuan malu yang mengiringi jawaban Gaia. Walaupun hanya berdua saja yang melihat kelakuannya, dia tetap merasa tidak enak.
Sepanjang perjalanan mereka, bukannya dihadapkan dengan hal-hal yang mengerikan. Malahan, mereka hanya dihiasi dengan suara teriakan Gaia yang semakin memecah keheningan di hutan. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan, atau bisa juga karena trauma.
Gaia menganggap semua pohon pohon dan binatang di hutan itu seperti hantu yang sedang mengawasi mereka. Untung saja Yoki dan Kenichi sudah mempersiapkan sumbat telinga dari rumah masing-masing, agar tidak usah membayar lagi biaya pengobatan untuk telinga mereka.
Awalnya masih berjalan normal, teriakan Gaia pun sudah menjadi kejadian yang normal untuk Yoki dan Kenichi. Tapi, tiba-tiba saja mereka dihadapkan oleh seekor beruang besar yang sudah bersiap untuk menyergap mereka bertiga.
Tanpa peringatan, Beruang itu berlari ke arah Yoki dengan keempat kaki yang dilapisi oleh kuku-kuku tajam. Dari arah samping kanan mereka.
“Yoki AWAS!!!”
Kenichi memperingatkan Yoki.
“Napas?”
“Hadehh, lepas dulu penyumbat telinganya dong.”
“Ohh kenapa?”
Yoki melepas penutup telinganya, itu juga yang telah membuatnya tidak mengenali setiap kondisi yang mengikuti.
“Aku bilang awas!”
Sebenarnya Kenichi sedikit kesal karena harus mengulangi ucapannya. Tapi yah mau bagaimana lagi, kondisi mereka jauh lebih mendesak.
“Ohh awas ... APA!!!”
Saat itulah Yoki baru menyadari kalau ada beruang yang berlari ke arahnya. Lebih lambat responnya daripada Gaia dan Kenichi.
Yoki langsung berbalik arah, berlari menghindar dari cengkeraman beruang besar itu, lalu berkumpul bersama Kenichi dan Gaia.
__ADS_1
Mereka menjadi panik karena tidak menyangka akan bertemu dengan beruang di tempat itu, Yoki dan Gaia bergemetar dan ketakutan setengah mati ketika melihat cakar dan mulut beruang yang menampilkan aura membunuh yang kuat.