RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
BERTEMU


__ADS_3

“Woi kalian berempat!”


Bantingan pintu terdengar, sangat keras dan kasar. Tenaga pak guru yang satu ini juga tidak kalah dengan pak Thomas ternyata. Untungnya, pintu yang dibanting tadi tidak rusak.


“Heh!”


Apa yang dilihat oleh pak guru, telah menimbulkan kebingungan tersendiri baginya. Kekagetan yang disalurkan lewat satu kata tadi adalah bukti.


“Kalian ngapain?”


“Ya ampun, ternyata ada pak guru yang mau ikutan juga.”


TIba-tiba berubah, apa-apaan dengan sikap Gaia kali ini. Dari wajah yang penuh kekakuan, keluar wajah dengan godaan yang melimpah. Nada bicara Gaia begitu mendayu, secara tidak langsung mengangkat keanggunan kaum hawa dari sisi gelapnya.


“A-ada apa denganmu?”


Pertanyaan itu bukan tanpa sebab, karena Gaia mendekati tubuh pak guru tanpa menunjukkan sopan santun. Sekarang dia saja sudah sangat dekat, hingga mungkin kedua tubuh bisa saling terbentur.


“Hee … ada apa denganku, kenapa aku jadi gini?”


Bahkan Gaia sendiri pun tidak tahu, tubuhnya seperti tidak dia kendalikan sama sekali.


“Ga-Gaia ...”


Ada aura ketakutan dalam wajah pak guru. Padahal secara sosial dan umur, dialah yang lebih tinggi dari Gaia. Tapi kehormatan dan harga dirinya runtuh karena senyuman dan mata menggoda yang Gaia keluarkan.


“Bapak terlalu serius deh.”


Sebelum pak guru sempat membalas pernyataan Gaia, Gaia telah melakukan tindakan yang sangat tidak wajar. Tindakan ini benar-benar tidak sopan dan pastinya, membuat pak guru menjadi semakin tidak nyaman jika berada di dekatnya.


Jejak dari tindakan Gaia adalah cairan yang menempel di leher pak guru. Cairan itu berasal dari mulut Gaia sendiri, yang diberikan saat dia menjilati leher pak guru.


“Rasanya ternyata asam.”


“Cikh … dasar kurang aja. Kau dan teman-temanmu akan bapak hukum lari 10 kali keliling lapangan!”


Tentu saja, walaupun masih dilanda ketakutan dan kebingungan, pak guru harus tetap bertindak sebagaimana mestinya. Dia seorang guru, bila ada murid yang melanggar, dia harus segera meluruskan kesalahan muridnya.


“Baik pak, terima kasih. Ayo teman-teman, kita jalani hukuman bapak guru.”


Semua yang ada di situ masih membeku karena kaget. Perilaku Gaia seperti … seperti bukan dirinya saja. Padahal, Gaia yang asli bersembunyi di sebalik topeng yang ia kenakan saat ini.


“Eee … ya udah pak, kami pamit undur diri.”


Hanya Yoki, Kenichi, dan Aiha saja yang menundukkan kepala, sedangkan Gaia meneruskan langkah tanpa sudi melirik pak guru kembali.


Pak guru menghormati sikap sopan ketiganya, namun tetap memperhatikan prilaku Gaia yang berubah aneh.


Dia sebenarnya ingin memarahi anak itu, tapi ada pelajaran yang tidak terurus di kelasnya. Terpaksa, dia membalikkan badan dan kembali masuk ke dalam kelas.


*****

__ADS_1


“Hoo ….”


Saat ini Kenichi sedang dalam perjalanan pulang, tapi kehadiran seseorang telah menghentikan langkahnya. Kenichi pun mengerem, lalu berpaling ke seberang jalan. Di sana, telah berdiri seorang pria paruh baya yang sedari tadi menonton.


Kenichi merasa kalau tatapan itu memang untuknya, dia pun memilih untuk merespon. Tapi sebelum itu, ada jalanan yang membentang membatasi posisi mereka. Jadi Kenichi harus melaluinya terlebih dulu.


“Aku sudah menunggumu.”


Baru saja Kenichi sampai ke seberang, pria itu sudah membuka obrolan mereka terlebih dulu. Namun, ucapan pembuka itu malah direspon dengan tatapan datar lawan bicaranya.


Kenichi tahu, kalau dugaannya benar. Sekarang yang ingin Kenichi tunggu adalah motif di balik tatapan tadi.


“Kenapa kau menungguku?’


“Kamu ingat siapa aku?”


“Ahh, orang yang kemarin aku lempar itu.”


Pria itu langsung membuang pandangan, dengan ditambahkan sebuah garukan di kepala. Dia agak sedikit tersentak, dengan cara yang Kenichi lakukan untuk mengingatnya.


“Y-yah terserahlah.”


“Terus kenapa kau menungguku? Apa ini untuk jebakan yang lain?”


Pria itu kembali masuk ke tatapan Kenichi. Kini, kedua netra mata sedang saling berbalas tatapan serius.


“Tidak, aku hanya ingin berterima kasih atas apa yang kamu katakan padaku kemarin,” pria itu menyingkirkan pandangan ke bawah, dia hendak mendalaminya, “Itu adalah kata-kata yang sangat memotivasiku. Kau tahu, aku sekarang sudah punya anak. Aku tidak ingin melihat anakku memilih jalan yang sama denganku ….”


Menurut telinga Kenichi, semua kata-kata yang masuk adalah basa-basi saja. Tidak ada bedanya dengan suara kendaraan yang sedari tadi melalui mereka. Perjalanan hidup, rumah tangga, keadaan ekonomi, dan pendidikan. Wajar saja kalau Kenichi tidak acuh pada topik yang dibicarakan, pria itu pikir, ini sedang dalam acara renungan apa.


Hingga beberapa menit pun dia masih acuh tak acuh pada cerita panjang yang dibebani ke otaknya, bahkan sampai pria itu kembali menatapnya untuk menyampaikan bagian penutup.


“Oleh itu aku menyerahkan diriku, aku ingin anakku tahu kalau ini adalah jalan yang salah. Dengan apa yang kamu katakan, setidaknya aku dapat mencegah ini sebelum anakku tumbuh besar. Makanya, aku sangat berterima kasih padamu.”


“Ya bagus, aku juga tidak peduli.”


“Heee … aku pikir kamu akan menangis atau kembali memberikan beberapa quotes lagi.”


Sejenak Kenichi ingin mendiskusikan ini dengan otaknya.


“Kalau aku tambah lagi, bisa-bisa orang ini bakal berpidato sampai pagi.”


“Tidak, sudah cukup kok.”


Pria itu membenamkan wajah, nampak ada ekspresi murung dengan disertai gumaman, “Ehmm …,” dalam prosesnya.


“Lalu, apa cuma itu yang ingin kamu sampaikan?”


Pria itu teringat sesuatu, dia pun mendongkakkan kepalanya ke atas.


“Ahh iya, tadi saat aku sedang ada di markas, aku mendengar beberapa orang sedang mendiskusikan cara untuk membalas dendam padamu. Rencananya mereka akan mulai bergerak malam ini.”

__ADS_1


Nah, sekarang telinga Kenichi bisa mendengarkan kata-kata pria itu dengan seksama. Informasi yang akan diucapkan, adalah informasi yang penting bagi Kenichi. Sangat malah, karena ini menyangkut tentang keselamatan temannya.


“Berapa orang?”


“Lima kalau gak salah.”


“Oh yah, tadi kamu bilang markas kan. Kamu tahu letaknya ada dimana?”


“Oh itu, tempatnya ada di hutan. Mungkin kalau kamu naik kendaraan dari sini akan memakan waktu 15 menit. Patokannya adalah gedung tua, dari situ kamu bisa melihat hutan yang dijadikan kelompok kami sebagai kantor cabang di tempat ini. Jika kamu ingin tahu letak pastinya, di seberang gedung itu ada patok jalan yang memisahkan jalanan dengan hutan. Dari situ, kamu berjalan lurus saja sejauh 2 kilometer. Nanti kamu akan melihat sebuah gubuk tua yang biasa mereka pakai untuk tempat hiburan malam.”


Hanya butuh waktu sepuluh detik saja untuk Kenichi mencerna dan menyimpan itu dalam memori otaknya. Dia pun kembali membalas tatapan pria itu, dengan tatapan keyakinan.


“Baiklah, terima kasih.”


“Ahh tidak apa-apa, ini aku lakukan untuk membalas kebaikanmu tempo hari. Soalnya ….”


Mulai lagi, Kenichi terpaksa mengumpat kekesalan pada pidato yang tiada habisnya itu. Padahal pemantiknya kecil, tapi yang dihasilkan begitu besar. Yah, Kenichi sampai tidak kuat untuk mendengar basa-basi ini lebih lanjut.


“Ahh sudah-sudah. Baiklah, sampai jumpa lagi.”


Untung langsung disela, jadi pidato itu bisa direm secara mendadak. Bersamaan dengan selaan itu, Kenichi melangkahkan kaki dan melewatinya yang masih terdiam. Dia bingung kenapa pidatonya harus dihentikan sekarang, padahal kan penuh dengan diksi unik nan menarik. Menurutnya.


“Oh yah Kenichi, jangan terlalu dalam berurusan dengan mereka. Karena … kelompok itu sangat berpengaruh di Jepang.”


Kenichi sudah lelah untuk berbalik badan. Sebagai gantinya, dia pun mengangkat satu tangan tanda mengerti pada peringatan yang disampaikan.


*****


Sementara itu, temannya Gaia sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Sudah dekat sih, sebentar lagi dia akan menyelesaikan urusannya.


“Aku harus ke taman yang kemarin, karena kalau tidak salah taman itu ….”


Taman itu memiliki pengaruh yang kuat. Cuma mengucapkannya saja, Gaia langsung teringat kenangan yang sangat mengerikan. Penuh darah dan yang pastinya, itu adalah kenangan dimana dia hampir kehilangan Yoki dan Kenichi.


“Darah-darah itu sangat membuatku sedih, tapi … kenapa aku juga sangat bergairah saat membayangkannya? Ahhhh ….”


Berjalan dengan pikiran yang bercampur aduk, perjalanan Gaia menjadi penuh dengan langkah yang goyah. Memori tentang taman terus terngiang, sampai dia sudah berada di tempat yang sedari tadi dipikirkan.


“Ini … kan tamannya.”


Gaia menuruni anak tangga terlebih dulu. Sesampainya di bawah, mata Gaia melirik sekilas pemandangan di taman. Begitu asri dan hijau, warna merah jingga matahari pun tidak mampu menyembunyikan keanggunannya.


Tapi bukan berarti dia hanya menikmati pemandangannya saja yah, dia juga sedang mencari tempat yang dijadikan tempat baku hantam kemarin. Tidak ada, dia coba untuk menelusuri lagi. Dengan kaki, dia mencoba mengelilingi tempat itu. Mencari petunjuk, atau apapun yang bisa menjelaskan kejadian kemarin.


“Perasaan ada di sinikan, aku masih ingat betul ciri-cirinya.”


Apa-apaan temuannya. Seluruh sisi begitu bersih, hanya dedaunan gugur saja yang mengotori. Ini tidak mungkin. Tidak wajar. Apa ada yang membersihkan darah-darah dan bagian tubuh yang kemarin terbuang? Kurang tepat, karena pasti ada saja yang tersisa.


“Tidak mungkin, sebenarnya apa yang terjadi?”


“Nona.”

__ADS_1


Suara seorang pria paruh baya, telah mengganggu pikiran Gaia yang sedang menyimpulkan keadaan. Gaia pun terpaksa harus meladeni suara yang berasal dari belakang. Yang dia temukan adalah seorang pria tua, pendek tubuhnya, dengan memakai busana yang khas dengan kepolisian.


__ADS_2