RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~TIDAK BISA MUNDUR~


__ADS_3

Hingga gigitan terakhir, barulah urusan Gaia sudah selesai. Untuk beberapa waktu, dia hendak membiarkan semua santapan itu tercerna dulu. Kepalanya didongkakkan ke atas, nampak jelas bekas darah yang diterpa sinar bulan. Lihatlah, dia sangat senang.


Senyuman itu bukanlah lambang keindahan seorang wanita, tapi lambang kebengisan seekor monster. Bukan tanpa sebab dia bisa disebut monster. Tanduknya, darah segar yang masih mengalir, serta tampilan yang mengerikan. Bukankah itu semua akan mengingatkan kalian pada mahkluk jahat yang ada di kisah-kisah fiksi.


“Kenichi, kenapa Gaia memakan Haori? Bukannya pikiran Gaia sedang dipengaruhi oleh Haori.”


“Entahlah, tapi saat Haori memanggil Gaia sebagai tuan, aku agak sedikit … terpikirkan sesuatu.”


Kenichi mengingat sesaat. Kata itu membuat Yoki sepenuhnya beralih fokus untuk mendengar ucapan Kenichi. Daripada menyaksikan acara makan yang mengerikan, mending dia berdiskusi untuk mencari jawaban.


“Mungkin ini agak tidak bisa diterima olehmu, tapi kayaknya Gaia yang selama ini bersama kitalah ... yang palsu.”


“Tidak.”


“Coba lihat tanduknya Yoki, yang selama ini kita kira hanyalah hiasan kepala.”


Yoki menurut, dia melirik tanduk itu dengan berat hati. Dia tahu, dia sebenarnya setuju dengan Kenichi. Tapi, di dalam lubuk hatinya, dia tetap berharap kalau itu semua palsu.


“Ternyata itu tanduk asli bukan?”


“Aku … tahu. Tapi aku juga yakin kalau itu bukanlah Gaia yang sebenarnya.”


Tebakan Kenichi memang tepat, sudah pasti Yoki tidak akan mau menerima kenyataan pahit tentang Gaia yang selama ini selalu bersama dia dan Kenichi.


Dalam pikiran, Yoki mengkoreksi kembali setiap memori yang dijalani bersama Gaia. Keluguan, keceriaan, keramahan, Yoki tidak mau menganggap semua itu hanyalah kepalsuan yang menempel di memori.


Dalam genggaman tangan Yoki terdapat rasa sakit. Dia tidak bisa menerima ucapan Kenichi, tapi apa yang ada di depan mata juga tidak bisa dia hiraukan. Pada akhirnya, dia bergelut dengan diri sendiri untuk menentukan mana yang benar.


“Yoki, aku tahu ini berat. Tapi ….”


“Tidak, aku bisa menerimanya kok.”


Bohong, apa yang dilihat mata Kenichi jauh berbeda dengan ucapan Yoki. Yoki mencoba menahan tangis sambil mengepalkan tangan, tapi usaha yang dia lakukan sia-sia dan bocor di mata Kenichi.


“Ku-kurasa kita tinggalkan Gaia dan mengatur strategi dulu. Saat ini situasinya terlalu berbahaya untuk mendekati Gaia.”


“Tidak, saat ini situasi Gaia sedang memprihatinkan. Kita harus menyelamatkannya.”


“Kau gila Yoki. Mungkin kekuatannya di atas Haori. Kita hanya akan mati di tangannya saja kalau sekarang kita melawan.”


Yoki menundukkan kepala, tangisan tadi sudah dia buang sepenuhnya. Nafas yang sedari tadi dia ambil dan buang telah menjadi obat yang mujarab bagi rasa sakit itu.


“Kenichi … aku mohon kamu pergi. Aku tidak mau kamu jadi korban dari keegoisanku.”


“CIKH … tidak akan, aku akan tetap di sini bersamamu.”


“Kumohon, cepat pergi Kenichi.”


“Tidak akan.”


Kenichi tetap berpegang teguh pada ucapan. Dia juga punya motif di balik keputusan yang berubah drastis. Dia juga tidak bisa membiarkan temannya yang naif, sendirian saja di sini.


“Kenapa?”


“Kenapa, karena kamulah alasan aku masih ada di sini.”

__ADS_1


Kenichi hanya menjawab sebatas gumaman. Dia tidak mungkin memberitahukan motif yang selama ini tetap dipertahankan.


“Ahhh, akhirnya aku sudah selesai teman-teman.”


Gaia sudah selesai, ampas yang tersisa dari bekas santapannya hanya tulang-tulang Haori saja. Masih utuh, tapi tidak ada bekas daging yang tersisa. Gaia benar-benar makan dengan teliti dan lahap.


“Apa kamu sudah puas, Gaia?”


Gaia berbalik dan menangkap senyuman yang ditampilkan Yoki saat bertanya. Kenichi juga awalnya heran pada senyuman Yoki, bukankah Yoki sangat tidak kuat untuk menatap mulut Gaia yang penuh dengan bekas darah. Tapi ekspresi itu telah hilang, karena berbagai pertentangan yang terjadi di dirinya.


“Tentu saja.”


“Kalau begitu … ayo kita pulang.”


Gaia mengawalinya dengan senyuman, lalu dia berjalan perlahan mendekati Yoki. Kewaspadaan Kenichi semakin meningkat, dia harus siap jika segala kemungkinan terburuk terjadi. Jika saja Yoki juga waspada, tapi dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Apa yang dilihat Kenichi dari mata Yoki adalah … kekosongan.


“Yoki.”


Sekarang Gaia sudah berdiri sejajar dengan Yoki. Kenichi merasakan sesuatu yang lain, kharisma penggoda entah kenapa ada pada pribadi Gaia saat ini. Tangan mengelus lembut kepala dan leher Yoki, juga tidak lupa merapikan rambutnya.


Dapat pengalaman dari mana dia, bahkan pengaruh Gaia bisa dikatakan sangat kuat. Orang bermata keranjang sudah pasti masuk ke dalam jebakan, bahkan orang biasa sekali pun juga bisa terayu oleh elusan dan tatapan mata yang memikat itu. Apa yang bisa disimpulkan? Yah, dia sudah seperti profesional. Pebisnis gelap pasti mau orang yang seperti ini.


“Kamu … mau gak ikut denganku?”


Dan diakhiri dengan senyuman.


“A-aku … CIKH, kenapa … kenapa kamu jadi seperti ini Gaia?”


Yoki tidak terpengaruh dengan rayuan maupun kata-kata Gaia. Gaia yang dilihat Yoki bukanlah wanita yang seperti itu, dia malah tetap bersikukuh kalau itu adalah Gaia yang dulu. Yang ada di mata Yoki sekarang adalah rasa kasihan, yang keluar dari kekosongan batin.


“Bukan begitu, ini bukan dirimu kan? Gaia yang kukenal bukan seperti ini. Kau yang sekarang, tidak lebih dari seseorang yang tidak berdaya. Kau yang sekarang, tidak lebih dari seseorang yang diperbudak oleh sesuatu.”


Sepeduli apapun Yoki terhadap Gaia, ucapan itu malah memicu kemarahannya.


“Aku ini asli loh dan aku ini bebas. Tidak ada yang mengekangku, aku ini telah terbebas dari diriku yang menjijikan itu. Aku bertindak seperti ini, atas dasar kemauanku sendiri.”


“Kau hanya membohongi dirimu sendiri. Aku bisa melihatnya, apa yang kamu sembunyikan itu. CIKH, kenapa kamu tidak pernah berbagi rasa sakitmu pada kami hah? Kamu ingat saat kita sedang berdiskusi mengenai setan yang ada di onsen itu, waktu itu kamu bertingkah aneh setelah menonton berita. Di situlah aku bisa merasakan beban berat yang sedang kamu pikul sendirian.”


Yoki tidak mau kalah, mau tidak mau dia harus menaikkan nada untuk berdebat dengan Gaia. Tapi bukannya berpikir, Gaia malah memainkan emosinya lagi.


“Memang apa yang kamu tahu tentang diriku hah?”


“Tidak ada, hanya itu yang kutahu. Tapi setidaknya ...,” dari kepala yang menunduk, Yoki memberanikan diri untuk mengangkat kepala dan beradu mata dengan Gaia, “Kumohon, beritahukan aku tentang dirimu.”


Yah, Gaia agak sedikit kalah. Dia tersentak atas keselarasan gaya tatapan dan isi mulut Yoki. Kepalanya agak mundur, emosinya jadi terhambat.


“Terus bagaimana caranya agar aku bisa memberitahumu kalau aku ini bebas? Sihir tipe attack, Fireball!”


Bukan hanya sekedar bicara, kali ini Gaia juga melakukan sesuatu yang menakjubkan. Dia mengeluarkan bola api dari tangan kanan. Bisa jadi itu adalah sebuah ancaman, Kenichi sadar betapa besarnya ancaman itu akan berdampak pada mereka. Dia pun bertindak sebagai bodyguard yang melindungi Yoki di garis depan.


“Apa yang akan kau lakukan Gaia?”


“Aku hanya ingin pembuktian saja. Bagaimana kalau aku yang mengambil nyawa Yoki? Dengan begitu aku bisa membawanya dengan mudah.”


“Jangan harap,” Kenichi berbalik, “Yoki, sebaiknya kamu pergi dari sini. Kamu tidak akan kuat menahan serangan itu. Biar aku yang menghadapinya.”

__ADS_1


Yoki tahu kalau ucapan Kenichi hanyalah sebuah kebohongan belaka. Mata dan ucapan yang dikeluarkan Kenichi begitu ragu dan sedikit tidak yakin dengan kata-kata yang terlontar tadi.


Dia juga tahu, kondisi tubuh Kenichi sama dengannya. Setangguh apapun dia, yang dapat menjadi pembuktian adalah apa yang ada di depan mata Yoki.


“Memangnya kamu sendiri kuat, Kenichi?”


“Tenang saja, aku punya semangi berdaun empat di sini.”


Kenichi bukan asal omong, dibuktikan dengan daun semangi yang dia keluarkan dari saku. Yoki yang melihat itu, menganggapnya sebagai keputuasaan Kenichi. Sebagai persiapan untuk melakukan upaya bunuh diri.


“Kenapa? Kalian bertingkah seolah aku yang paling menderita di sini.”


Karena keputuasaan yang dilihat Yoki dari Kenichilah yang membuatnya menangis.


“Karena ...,” Kenichi berjalan mendekat, sekilas dia melihat wajah Yoki yang sudah diguyur air mata, “Pada akhirnya, aku dapat melindungi seseorang yang berarti penting bagiku.”


Yoki langsung menatap Kenichi, sekarang mereka berdua sangat dekat. Jarak satu mata dengan yang lain adalah 20 centimeter. Yoki menjadi bingung, ada perasaan takut juga di mata Yoki. Jangan dikira homo yah, karena mental mereka juga sedang tidak baik.


Tanpa Yoki sadari, saat mata mereka berdua saling berkontakan, satu tangan Kenichi sudah mendarat di bawah rahang Yoki. Pukulan itu menyebabkan Yoki kehilangan keseimbangan, hasil akhir yang dapat terlihat adalah pingsan. Tapi sebelum itu, Yoki menggumamkan sesuatu.


“Kenapa?”


Barulah kesadaran Yoki habis, berbarengan dengan tubuh yang roboh ke tanah.


“Hahaha … baguslah kalau kamu sudah mengamankan dia.”


Kenichi memang ingin membalas ucapan Gaia, tapi sebentar dia melihat temannya yang sudah jatuh pingsan ke tanah. Barulah setelah itu, Kenichi berbalik badan.


Kedua pisau yang ada di tangan Kenichi sudah siap untuk digunakan. Ditambah, dengan mata Kenichi yang berubah serius.


“Jangan menatapku seperti itu, kita kan teman.”


“Ya, tapi saat kekuatanmu dan pisauku beradu, pertemanan kita mungkin akan sirna.”


“Wah-wah, sungguh pria yang berani,” Gaia terkesan, sebagai bentuk apresiasi, Gaia melepaskan kekuatannya, “Baiklah, biar adil mari kita main fisik.”


Ada senyum yang terlintas di wajah Kenichi. Sedikit sindiran sepertinya bukan menjadi masalah, sebelum pertemanan mereka berdua benar-benar sirna.


“Ternyata kamu mendapatkan kursus pelatihan bela diri yang hebat yah, sampai-sampai bisa sehebat itu bela dirimu.”


“Ahh, tentu. Di kampung halamanku, akulah yang terkuat di antara yang lain.”


“Begitu yah. Tapi, aku punya sebuah syarat untukmu. Aku minta, jika aku kalah, kamu harus membebaskan Yoki.”


Gaia hanya senyum-senyum saja. Dia sudah melihat keputusasaan dari mata Kenichi.


“Oke, aku janji. Tapi bisa saja aku mengambil nyawa Yoki loh.”


“Tidak, Gaia yang selama ini aku kenal tidak akan mengingkari janjinya. Karena itu aku percaya padanya.”


Ucapan itu membuat Gaia tersentak, dia sama sekali tidak menyangka kalau kata-kata itu keluar dari mulut Kenichi. Setelah semua yang dia lakukan, Kenichi masih saja mau menerima dan mempercayainya.


“Baiklah, aku setuju.”


“Yosh. Aku akan mulai terlebih dulu.”

__ADS_1


Kedua pisau, yang berada dalam genggaman kedua tangan Kenichi, dihunuskan. Dia maju terlebih dulu, sedangkan Gaia hanya menunggu serangan yang akan datang.


__ADS_2