
Tiga hari kemudian, di sekolah ….
Terdengar suara bel sekolah yang berdering kencang hendak merayu semua murid untuk pergi meninggalkan mata pelajaran mereka.
Beberapa telinga yang mendengarnya segera memanaskan nafsu untuk pergi meninggalkan kelasnya, sedangkan yang lain hanya menganggap itu sebagai sebuah kegiatan biasa yang terus berulang setiap hari. Bahkan, ada pula yang merasa tidak tertarik pada denting bel tersebut dan memilih untuk diam di kelas.
“Murid-murid tunggu dulu!”
Sebuah perintah yang disertai dengan sebuah tepukan tangan berhasil mengerem langkah murid-murid yang ingin keluar kelas. Kini semua mata memandang orang yang menyuruh mereka, yang tidak lain adalah guru sekaligus wali kelas mereka.
“Sebentar, ibu ada pengumuman. Duduk dulu yah.”
Semua siswa segera melaksanakan perintah gurunya dengan cekatan, walaupun nafsu makan mereka sudah tak bisa ditahan lagi.
“Baiklah, ibu hanya mau mengumumkan kalau sekolah kita akan segera mengadakan festival sekolah yang akan diadakan minggu depan. Di festival itu akan diadakan berbagai macam lomba, yah ... ibu berharap agar kalian mau mengikuti lomba-lomba yang diselenggarakan agar kelas kita memiliki kenangan yang bisa kita banggakan.”
Semua murid yang ada di kelas tersebut memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap tawaran guru mereka. Ada yang memperhatikannya sungguh-sungguh, ada yang lebih memilih untuk mendengar suara perutnya yang sedang keroncongan, dan ada juga yang tidak tertarik dengan pengumuman tersebut termasuk Kenichi yang memlih untuk menatap ke samping kelas.
“Untuk lombanya sendiri, sekolah akan mengadakan lomba puisi, pertunjukan seni tari, turnamen game online ....”
Saat mendengar perlombaan bermain game, Yoki langsung mencerahkan pandangannya. Sebuah senyuman tipis terukir di mulutnya, menandakan ketertarikkannya pada lomba tersebut. Karena itu memang kegiatan yang bisa dikatakan rutin dilakukan Yoki untuk setiap harinya.
“Lalu ada lomba bernyanyi, pertandingan sepak bola dan basket, turnamen bela diri ....”
Setelah Yoki, kini giliran Kenichi yang memasang wajah senang. Pandangannya langsung dipalingkan untuk menatap guru yang ada di depan kelas. Sepertinya, Kenichi sangat tertarik untuk mengikuti turnamen bela diri, karena kemampuan dan kompetensi dirinya yang hampir menguasai semua jenis seni bela diri yang ada di sana.
“Dua lomba terakhir yang tersedia di sini adalah lomba memasak dan berdagang. Nah untuk lomba berdagang, peserta yang sudah ikut dalam lomba memasak dapat ikut untuk menjajahkan makanannya dalam lomba berdagang.”
“Wah ... memasak.”
Saat mendengar nama kedua lomba yang terakhir, hati Gaia tiba-tiba berdegup kencang. Bahkan, entah kenapa Gaia sendiri merasa aneh dengan hatinya. Padahal, Gaia sangat jarang memasak di rumahnya.
“Ok, ibu hanya menyebutkan nama lombanya saja. Untuk selengkapnya, kalian bisa melihat informasi mengenai lomba-lomba ini di depan ruang OSIS. Baiklah, kalau begitu silahkan ... kalian boleh ....”
Guru tersebut menghentikan ucapannya, karena belum selesai ia berbicara, semua murid yang ada di kelas sudah membubarkan diri keluar kelas.
“E-he ... kayaknya mereka sudah sangat lelah untuk mengikuti pelajaran.”
*****
Di depan ruang OSIS, Gaia adalah siswi yang pertama melihat poster mengenai lomba-lomba yang akan diadakan untuk festival. Yah, mungkin itu karena murid-murid yang lain sedang sibuk untuk melayani kebutuhan perutnya.
“E-e ... ke-kenapa aku jadi sangat tertarik untuk memasak? A-aku kan maunya ikut lomba berdagang, tapi ... kenapa ....”
“Daritadi mataku terus menatap selembaran poster mengenai lomba memasak!”
Perilaku Gaia menjadi aneh setelahnya. Entah kenapa hati dan pikirannya seperti tidak sinkron karena di satu sisi matanya masih terpaku ke selembaran poster lomba makanan, sedangkan kepalanya seperti sedang berusaha keras untuk melihat poster lomba berdagang.
Saat Gaia sedang sibuk dengan urusannya, Yoki dan Kenichi sedang lewat di tempat itu juga dengan membawa sebungkus makanan ringan di tangan mereka. Mereka berdua menatap Gaia yang antusias untuk mengikuti lomba.
“Wah ... wah ... wah ... sepertinya Gaia ingin sekali mengikuti lomba memasak ini yah.”
__ADS_1
Yoki berucap sembari mendekat dan membaca sekilas isi dari poster tersebut.
“Aku tidak-tidak ... aku sebenarnya ... sangat ingin mengikuti lomba memasak ... ups.”
Gaia langsung menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya, ia tidak tahu kalau mulutnya bergerak tanpa seizinnya.
“Tapi ... di sini tertulis kalau salah satu syarat untuk mengikuti lomba adalah anggota yang mengikuti lomba ini harus berjumlah minimal tiga orang.”
Wajah Yoki dipalingkan menatap Gaia dan ia tersentak saat melihat kedua mata Gaia yang berkaca-kaca menatap Yoki.
“Iya ... aku tidak bisa mengikuti lomba itu. Padahal, aku sangat ingin untuk mengikutinya. Kalau ... kalau Yoki dan Kenichi berkenan, apa kalian bisa ikut menemaniku dalam lomba memasak.”
Gaia meminta itu dengan ekspresi malu dan gugup yang sengaja dibuatnya, kedua tangannya dilipat di dada dengan wajah yang memerah menunduk ke bawah.
“E-e ... gi-gimana, ehm bagaimana Kenichi?”
“Aku sih ikut aja, lagipula kalau aku ikut turnamen bela diri, aku juga pasti sudah bisa menang dengan mudah.”
“Hahaha ... begitu pun denganku. Kalau kamu tidak tahu, aku adalah player dengan peringkat satu di kota ini. Yah, semoga saja game yang aku mainkan ada di turnamen itu karena biasa game bergenre moba selalu diadakan.”
“Ja-jadi, apa kalian bisa?”
Pertanyaan dari seorang gadis yang wajahnya merah merona, tentu dapat menggoda siapa saja. Hal itu juga terjadi pada Yoki.
Jantung Yoki langsung berdegup kencang saat melihat wajah Gaia yang memerah karena malu. Mungkin semakin memerah wajah Gaia, semakin keluar pula kecantikannya.
“Y-ya-yahhh, tapi ... aku tidak tahu caranya memasak.”
“Aku juga sama hahaha ... karena biasanya aku men ... eee, membeli maksudnya.”
“Kalau itu ... aku bisa mengajari kalian kok, eh ....”
“Ke-kenapa aku bilang aku mau mengajari mereka. Kan aku gak bisa masak.”
Ucapan Gaia terhenti, berganti dengan sebuah gumaman di dalam hatinya. Sedangkan Yoki dan Kenichi heran karena tiba-tiba Gaia menjadi diam.
“Hmm ... ya udah, aku ikut aja.”
“Baiklah, kalau Yoki ikut aku juga pasti ikut denganmu.”
Wajah Gaia menjadi senang saat mendengar jawaban teman-temannya. Walaupun, jauh di lubuk hatinya, ia juga tidak tahu mengapa ia bisa sesenang itu.
*****
Malam hari di kamar Gaia ....
Tubuh Gaia bergemetar ketakutan, dia terus menerus membolak-balikkan badannya dari kiri ke kanan. Sedangkan saat ini pikirannya sedang menonton sebuah mimpi yang boleh dikatakan mengerikan.
Di mimpi itu, dia melihat kalau Yoki sedang berhadapan dengan sosok yang misterius. Sosok itu memakai jubah hitam dengan tato berbentuk seperti sebuah pentagram merah di lehernya.
Yoki melaju kencang untuk menghadapi sosok itu. Namun, sosok itu menatap Yoki dengan pupil mata yang tiba-tiba berubah. Bentuk pupil matanya persis sama dengan bentuk tato di lehernya dan ketika Yoki melihat mata itu, jiwanya langsung menghilang atau bisa dikatakan kalau Yoki sudah mati.
__ADS_1
“AHHHH!!!”
Gaia langsung terbangun dari tayangan yang ditampilkan oleh mimpi buruknya. Matanya terbelalak saat mengingat kejadian. Dia terus memikirkan tempat yang ada di dalam mimpinya.
“Tempat itu dimana? Ke-kenapa hanya ada Kenichi dan Yoki di situ? Dan ... dan pakaian sosok itu seperti aku kenal?”
Pertanyaan demi pertanyaan terus memutari otak Gaia malam itu. Tidurnya terganggu oleh sepotong cuplikan mimpi buruk yang berhasil membuat dirinya terjaga sepanjang malam.
Di sebuah warung tua, terdapat sejumlah orang yang memakai seragam sekolah berwarna hitam. Mereka semua berjumlah sekitar sepuluh orang dan terlihat dari bentuk seragamnya, kalau mereka semua adalah murid dari sekolah yang sama dengan Yoki dan Kenichi.
“Apa kita harus mengikuti lomba di festival itu?”
“Menurutku, lebih baik kita mengikuti lomba yang sama dengan yang dipilih oleh Yoki dan Kenichi.”
Orang yang menjawabnya memiliki rambut keriting yang lebat, serta memiliki warna kulit coklat gelap. Tangannya terlihat sedang berpikir untuk rencana yang akan mereka buat ke depannya.
“Hmmmm ... aku rasa lomba yang akan diikuti oleh mereka berdua adalah bela diri. Eh tidak, itu pasti pilihan Kenichi. Bagaimana, apa kamu setuju?”
Salah seorang lagi bertanya pada orang yang sama tadi. Sejenak dia berpikir dan menatap mata orang itu setelah mendapat jawabannya.
“Mo-moga-mogahan tidak. Apa kalian tidak tahu siapakah pemegang ahli bela diri terbaik di sekolah ini. Dia adalah Kenichi yang juga pernah mengalahkan semua pelatih klub-klub bela diri di sekolah.”
“Pa-pantas aja bos Tera ....”
Pria tersebut menghentikan ucapannya saat sebuah tangan menyetopnya. Pria yang menyetop itu tidak lain adalah si pria berambut keriting yang sedang menatap kesal dirinya.
“Pokoknya, kita harus mengikuti apapun lomba yang mereka ikuti dan memenangkan perlombaan itu agar dendam bos kita terbalaskan. Yah, walaupun kita gak tahu disetujui atau ngak sama bos.”
“Oh, yang masalah bos Terasaka harus absen saat festival nanti.”
Mereka semua mengangguk, menyetujui ucapan siswa tersebut.
*****
Waktu berlalu cepat, tak terasa sudah satu minggu sejak pengumuman tersebut di beritahukan. Kini semua murid tengah mendaftarkan dirinya untuk mengikuti berbagai perlombaan yang tersedia.
Seluruh murid sedang mengantri untuk menyerahkan formulir lomba ke guru yang bersangkutan. Begitu pun dengan Gaia, Yoki, dan Kenichi yang mengantri di barisan yang amat panjang. Gaia memegang fomulir lomba miliknya dan kedua temannya.
Sedangkan Yoki dan Kenichi menemani Gaia di belakang untuk memastikan kesalahan yang mungkin ada di formulir mereka masing-masing.
“Terima kasih yah Yoki, Kenichi.”
Yoki dan Kenichi mengangguk sambil tersenyum ke arah Gaia. Saat Gaia berbalik lagi untuk menyerahkan formulir pendaftaran, tiba-tiba ia berbalik kembali menatap Yoki dan Kenichi dengan wajah yang memerah. Hal ini tentu membuat Yoki dan Kenichi merasa heran pada sikap Gaia.
“Ehmm ... maaf ... a-aku juga mendaftarkan kalian untuk mengikuti lomba berdagang. Maaf, tapi entah kenapa aku juga ingin menunjukkan hasil masakanku ke banyak orang.”
“Ahhh ... gak papa sih, yang penting masih berhubungan.”
“Beneran ini, lalu Kenichi bagaimana?”
“Hehe tentu saja, aku adalah anak seorang penguasaha. Jangan remehkan kekuatanku.”
__ADS_1
Untuk meyakinkan Gaia, Kenichi menambahkan ucapannya dengan sebuah senyuman dan ibu jari yang teracung ke arah Gaia. Gaia yang sudah mendapatkan izin dari kedua temannya pun kembali berbalik badan dengan ekspresi bahagia.
Tiga puluh menit kemudian Gaia beserta teman-temannya sudah berhasil menyerahkan formulir lomba mereka. Setelah urusan mereka telah selesai, mereka pun segera kembali ke kelas karena waktu istarahat yang disediakan sekolah sudah hampir mendekati tenggatnya.