
Bukan hanya Gaia saja yang telah melewati situasi yang buruk. Saat ini, di sebuah taman tua yang terbengkalai, ada seseorang yang kondisi badannya penuh dengan luka. Terlentang, dengan kondisi badan yang sudah babak belur.
Dia adalah Kenichi, sedari tadi dia sudah memenuhi undangan dengan datang ke sini. Tapi, sambutan yang diberikan adalah berbagai pukulan serta penyerangan lainnya.
Memang dia tangguh, tapi dia juga punya batasan. Musuh yang dia lawan bukan cuma satu, tapi segerombolan orang dengan kemampuan bela diri yang terlatih. Ciri khas yang dapat terlihat adalah jas hitam mereka, lengkap dengan topi bowler berwarna serasi.
Di sini, di tempat ini, Kenichi seorang diri akan bertempur di medan pertempuran melawan belasan orang yang dikomandani oleh orang yang Kenichi kenal. Tidak lain adalah Terasaka. Saat ini dia sedang tersenyum, mungkin penderitaan Kenichi adalah hiburan tersendiri baginya. Maklum, sekali pun dia tidak pernah menang melawan Kenichi.
“Bagaimana pemberianku … Kenichi?!!”
Pertanyaan dengan nada tinggi, ditambah dengan senyuman yang menggelegar. Untuk menjawab itu, terlebih dulu Kenichi membuang ludahnya yang telah bercampur darah. Setelah dia dalam posisi siap berdiri, barulah dia akan menjawab pertanyaan Terasaka.
“Ehm … sangat enak, tapi sedikit asin.”
“Bwahaha … kau benar-benar tangguh yah, bahkan di penderitaanmu yang seperti ini kau masih menganggap kalau semua serangan tadi tidak berarti.”
“Tentu saja, sampai aku menang aku tidak akan menyerah.”
Kenichi memutar-mutar lengannya. Terasa pegal karena hantaman tangan-tangan kotor yang menyentuhnya tadi.
“Baiklah, sekarang … giliran aku yang maju.”
Kenichi langsung berlari. Dia hendak menerobos dinding manusia di depan. Target Kenichi adalah pemimpin mereka. Tapi itu kelihatan naif di pikiran lawannya.
Yah, dia tahu kalau langkah ini terlalu beresiko. Apalagi semenjak tadi, dia selalu saja kalah dengan kekompakan orang-orang ini. Tubuhnya juga sudah babak belur, otomatis kemampuan dan staminanya telah menurun drastis.
Coba lihat musuh-musuh Kenichi, mereka terlihat sehat bugar. Itu karena stamina yang mereka keluarkan jauh lebih sedikit dibanding Kenichi.
Kenapa? Kerja sama dibuat agar dapat meringankan dan mempercepat sesuatu. Jadi, satu tugas yang dikerjakan oleh beberapa orang jauh lebih cepat selesai dan lebih ringan daripada satu tugas yang dikerjakan sendiri.
Jelas, setiap Kenichi memutuskan sesuatu, mereka semua satu langkah lebih maju dibandingkan Kenichi. Di sini Kenichi berpikir keras, agar kejadian yang sudah-sudah dapat ditanggulangi.
“Jika aku dapat mengalahkan Terasaka, mungkin mereka semua akan kacau. Haaah … iya sih, emang gak pasti. Tapi mau dicoba atau tidak pun hasilnya akan tetap sama, toh ujung-ujungnya kalau gagal badanku yang jadi bayaran.”
Kenichi ternyata menyimpan sesuatu untuk mereka. Sesuatu itu tidak secara iseng masuk ke dalam pikiran Kenichi, itu dia dapat dari cerita tentang mekanisme peperangan. Yah, inspirasi gampangnya. Jika seorang raja jatuh ke tangan musuh, maka para prajurit tidak mempunyai alasan lagi untuk berperang.
Tentu saja ini sangat berbeda jauh, tapi layak dicoba. Mengingat, jika Kenichi memilih untuk mengalahkan bawahan Terasaka mungkin waktunya terlalu lama dan apakah stamina Kenichi cukup untuk itu?
Ingat, mereka semua tahu bela diri. Satu orang dari mereka saja sudah dapat menjatuhkan Kenichi tempo hari. Jadi, cara yang paling realistis baginya adalah mengalahkan pemimpin mereka.
“Kau masuk ke kandang singa Kenichi hahaha ….”
“Lihat saja dengan mata kepalamu sendiri!”
Badan Kenichi agak dicondongkan ke depan, dia semakin mendekati mereka semua. Hingga sudah sangat dekat, dia melaksanakan rencananya. Dengan cepat tangannya mengambil pasir di bawah dan langsung melemparnya ke depan.
“Dengan begini, aku bisa maju lebih jauh. Hahaha … bagaimana, Tera ….”
Tapi Terasaka tidak gentar, yang ada hanyalah senyuman. Dia seperti menertawai rencana Kenichi dan saat Kenichi melihatnya, dia sadar. Kini batinnya bertanya, firasatnya buruk dengan senyuman itu.
“Apa aku masuk ke dalam jebakan?”
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah tangan menempel dan menggenggam satu kaki Kenichi dengan sangat erat. Kenichi berbalik, ternyata yang memegangnya adalah salah seorang dari mereka. Pria itu berkaca mata hitam, pantas saja matanya tidak terkena debu yang berhamburan.
“Kau pikir, strategi yang sama akan bisa mengalahkanku dengan mudah hah! Sebagian besar memang tidak kusuruh memakai kacamata hitam, agar keputusasaanmu semakin besar.”
Sekarang Terasaka telah merasa menang. Satu langkah yang lebih maju telah membantunya menang.
“Dapat kau bocah!”
Setelah memegang kaki Kenichi, pria itu tidak menyia-nyiakan waktu dengan langsung menariknya. Apakah Kenichi akan menyerah sampai di situ saja? Tidak, dia tidak akan semudah itu memberikan wajah untuk dipukul orang.
“Lalu kenapa kalau aku masih bocah?”
Bersama dengan pertanyaannya, Kenichi memainkan satu kaki yang masih bebas. Dia menendang ke atas, berharap agar orang itu menghindar dan melepaskan kakinya yang tertangkap.
Berhasil, harapan terwujud. Sekarang kedua kakinya telah bebas, tapi bukan berarti dia lepas dari masalah. Keadaan malah makin berbahaya, karena dia telah dikelilingi bawahan Terasaka.
“Jadi, Ke-ni-chi … apa yang mau kau lakukan?”
“Oh kalau itu, aku akan memukulmu … Terasaka.”
“Hee, yakin bisa nih. Bukan berarti kalau kamu lolos dari satu orang, kamu bisa lolos dari yang lainnya.”
Terasaka berdiri, karena dia merasa menang. Dia sangat senang melihat penderitaan yang sebentar lagi akan dialami Kenichi. Dia sangat ingin melihat, melihat teriakan dan pekikan Kenichi saat ini.
Tapi tunggu, dia menahan nafsu. Sebelum itu, alangkah lebih baik jika dia memperlihatkan kematian yang sudah ada di sekeliling Kenichi.
Sedari tadi Kenichi masih tetap tenang, bahkan cenderung meremehkannya. Jadi sekaranglah waktunya untuk melemahkan mental Kenichi.
Kenichi menurut dan secara sekilas melihat wajah orang-orang di sekelilingnya. Ketika ditatap, mereka memberikan senyuman pada Kenichi. Jijik, itulah tanggapan Kenichi. Dia menganggap mereka semua sama seperti para penyuka sesama jenis.
“Mereka semua adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu bela diri tertentu.”
“Ah yah, kau benar. Memang dulu kayaknya bela diri mereka sangat jago dan tangguh. Tapi …,” Kenichi melirik Terasaka, “Sekarang, mereka hanya terlihat seperti pria paruh baya yang berteman dengan dosa demi mencari nafkah.”
Sepertinya, sindiran itu merasuk ke hati. Mereka semua langsung menggertakan kaki karena kesal.
“Ha-ha … ha-ha … nekat juga kau yah. Ya sudah tidak apa-apa, ketenanganmu adalah bukti kekalahanmu.”
“Silahkan tuan-tuan, lakukan sesuka kalian.”
Mereka semua tersenyum terlebih dulu, tentu untuk korban yang akan mereka siksa. Ejekan tadi tentu tidak mereka terima, tapi sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuat perhitungan.
“Kenapa Terasaka bisa mendapatkan kepercayaan segampang ini. Apa dia punya koneksi? Ahh sepertinya bukan, dia berasal dari keluarga yang baik-baik saja dan selama ini dia tidak pernah melakukan tindakan sampai sejauh ini.”
Kenichi bergumam, sekarang dia melihat lagi wajah-wajah yang masih menertawainya. Sekilas dia bisa melihat rancangan bengis yang akan diterima.
“Aku tahu siapa mereka, mereka adalah anak buah dari Bonzo … kan.”
“Baiklah bocah, waktunya memberimu penghajaran.”
Waktu untuk bergumam sudah selesai, sekarang Kenichi harus siap menghadapi masalah terbesar. Apakah dia akan lolos dari orang-orang ini atau tidak?
__ADS_1
“Waktunya, menyiksamu.”
Semuanya maju secara bergilir. Yang pertama datang dari arah kiri, Kenichi harus sudah siap menerima kemungkinan terburuk.
“Dia akan menggunakan tangan kanan untuk memukul.”
Kenichi menggunakan mata untuk melihat gerakan musuh, sedangkan sisanya ... harus bisa melakukan reflek yang baik di segala kondisi.
Tangan kanan musuh sudah dikirim untuk Kenichi, tapi dia juga sudah siap menerimanya dengan baik. Saat jarak tangan musuh dan wajah Kenichi sudah sangat dekat, barulah dia menahan pukulan itu.
“Sekarang kau akan jadi perisaiku.”
Awalnya Kenichi memang mau melempar pria itu sebagai pembuka jalan, tapi satu hal yang Kenichi tidak sadari adalah gerakan cadangan yang dimiliki musuhnya. Itulah akibat yang diterima Kenichi saat dia bernafsu mengalahkan mereka dengan cepat.
Hanya sepersekian detik setelah tangannya ditahan Kenichi, kakinya langsung mengambil giliran menendang. Targetnya adalah perut, yang terarah dari bawah ke atas.
Mata Kenichi sih menangkap gerakan itu, dia juga mengantisipasi dengan tangan kanan yang menahan. Tapi sayang, tujuan awalnya harus gagal.
“Payah! Tendangan dan pukulannya kuat juga, mungkin kalau aku lepas bakal berbahaya.”
“Kena kau!”
Ternyata Kenichi terjebak. Tujuan gerakan tadi bukan untuk menyerang, tapi untuk memancing Kenichi agar memakai kedua tangannya. Sekarang Kenichi malah terlibat pertaruhan yang berbahaya. Walaupun, mau pilih apapun pasti tetap salah.
“Akhhh ….”
Jeritan yang dihasilkan Kenichi berasal dari pukulan yang datang ke punggungnya. Setiap orang punya andil tersendiri untuk setiap jeritan itu. Setelah puluhan kali menerima semua pukulan, akhirnya Kenichi mencapai batas.
Saking lemahnya, dia sudah tidak sanggup menopang beban tubuh. Badannya mulai condong ke depan. Pertanda dia akan jatuh tersungkur.
“Oy … oy … oy … rasakan dulu kakiku!”
Bahkan, mereka tidak memberikan kesempatan beristirahat sedikit pun pada Kenichi. Lihat saja kaki pria tadi. Kakinya menaruh dendam karena telah ditahan, sekarang dia sudah bisa membalaskan dendamnya. Antara wajah Kenichi dan kaki itu akan bertemu.
“Payah!”
Saat bertemu, kaki itulah yang menjadi pemenangnya. Dorongan dan kekuatan yang diberikan sangatlah besar. Sampai-sampai, Kenichi melawan arah jatuhnya tadi.
Badan Kenichi juga ikut terpental ke belakang. Bisa dibayangkan, bagaimana kekuatan yang dihasilkan tendangan tadi. Bekasnya saja terlihat jelas dari wajah Kenichi yang babak belur, sedangkan lukanya keluar mengiringi sudut jatuh Kenichi.
Karena tolakan tanah, badan Kenichi bisa terhenti. Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan, yang dia keluarkan hanya batuk yang mengeluarkan darah. Di situ dia terbaring, sembari mencoba mengurangi penderitaannya.
“Bagaimana? Enak?”
Orang yang menendang mendekati tubuh Kenichi. Senyumannya mendeklarasikan kemenangan.
“Bagaimana yah … lumayan. Tapi, agak hambar.”
Jawaban itu mendapat respon yang negatif dari mereka semua. Mereka marah, bagaimana tidak, ucapan itu seperti merendahkan mereka. Apalagi dengan yang menendang, harga dirinya seperti dihina Kenichi.
Memang jawaban yang tidak terduga sih. Bahkan setelah semua ini, Kenichi masih bisa berkata seperti itu. Apa dia sadar akan kondisinya? Ahh, tidak. Mungkin yang tepat, apa dia mencoba menantang mereka yang menjadi mautnya?
__ADS_1