
Satu jam telah berlalu sejak mereka memulai perlombaan ini. Kini sisa porsi dari pihak Gaia hanya tinggal tersisa lima, berbeda dengan kelompok Terasaka yang sudah terjual habis.
Penilaian untuk perlombaan ini sebenarnya ditentukan oleh seberapa banyak porsi yang sudah terjual habis. Kelompok Gaia dan Terasaka saat ini sedang bersaing ketat untuk menentukan jumlah porsi yang terbanyak.
Karena porsi kelompok Gaia dan Terasaka berjumlah sama, maka hasil akhir akan ditentukan oleh penilaian konsumen dan sudah pasti, kelompok Gaia lah yang akan menang.
Tapi itu dengan syarat, dagangan kelompok Gaia harus habis sebelum tenggat waktu yang diberikan.
“Yosh, sebentar lagi dagangan kita bakal habis!”
Yoki semakin semangat dalam melakukan pekerjaannya, begitu pun dengan Kenichi dan Gaia yang tidak berhenti untuk menarik perhatian pelanggan yang datang.
Dalam waktu sekitar 8 menit, dagangan kelompok Gaia sudah hampir ludes. Kini tersisa satu bungkus lagi. Tapi, satu hal yang aneh adalah mulut salah satu anggota dari kelompok Terasaka sedang tersenyum lebar entah kenapa.
“Katsudon satu!”
Seorang pelanggan berbaju putih dan berkaca mata, berjalan mendekati lapak mereka.
Bisa jadi, pelanggan ini akan menjadi pelanggan yang terakhir. Porsi yang tersisa tinggal satu dan hasil perlombaan akan ditentukan oleh kepuasan pelanggan, ini bisa dilihat dari sisa waktu yang hampir mencapai tenggat.
Saat Yoki hendak menyerahkan sebungkus katsudon pada pelanggan tersebut. Entah kenapa, tiba-tiba tangan Yoki tidak bisa terlepas dari bungkus katsudon yang terbuat dari steroform.
Pelanggan itu heran, tatapan mulai menjadi tatapan yang tidak mengenakkan untuk Yoki. Hal itu tentu membuat Yoki semakin panik, ia terus berusaha untuk melepaskan katsudonnya dan tanpa sengaja bungkus lepas dan mengenai pakaian pelanggan tersebut.
“Pak ... pak ... ma-maaf ini ....”
“Sudahlah! Aku tidak membayar atas kelancanganmu padaku, ini adalah baju kesukaanku dan kamu telah membuatku menjadi sangat kesal!”
Setelah melepas bentakannya, pelanggan itu pergi menjauh dan membuat Yoki menjadi sedih karena kejadian yang tidak bisa ia duga. Sedangkan, Kenichi dan Gaia menghentikan kesibukannya dan berjalan mendekati Yoki.
“Hoho ... sepertinya ada yang habis tertimpa kesialan, bagaimana keadaannya ... manusia laba-laba ....”
Bukan hanya sekedar ejekan belaka, salah seorang dari mereka bertiga mengangkat dan memperlihatkan sebotol lem cair. Botol itu diacung-acungkan, seperti hendak menunjukkan maksud tertentu.
Kenichi sudah tidak bisa menahan amarahnya. Pribadinya yang selalu menanggapi setiap keadaan dengan tenang, kini berubah 180 derajat karena teman-temannya tersakiti. Saat ia ingin maju dengan membawa sebuah katana, Yoki menghentikan Kenichi dengan memegangi pundaknya.
“Kenapa? Kenapa kamu tidak melanjutkan tindakanmu hah!”
“Su-sudahlah Kencihi, aku tidak mau kamu semakin jatuh ke dalam kegelapan hanya karena masalah ini ....”
Kenichi yang ditahan Yoki segera menguatkan genggaman tangannya. Matanya merah dengan aura membunuh yang keluar dari dirinya.
Itu tidak lagi menjadi hal yang tabu atau mengerikan bagi Kenichi, karena dirinya sudah pernah beberapa kali membunuh orang-orang yang mencari masalah dengannya.
Disaat perhatian mereka masih terarah kepada kelompok Terasaka yang masih tertawa lepas. Tanpa sadar, Gaia sudah pergi meninggalkan tempat itu sembari mengucurkan air mata. Yoki tersadar saat ia tidak lagi merasakan hawa keberadaan Gaia.
“Ke-Kenichi ... lebih baik kita mencari Gaia dulu, aku benar-benar kuatir padanya.”
“Iya ... kau benar.”
Mereka berdua segera bergegas mencari Gaia. Meninggalkan barang-barang mereka yang masih belum dibereskan dan kelompok Terasaka yang masih menikmati kemenangan mereka yang curang.
Di hutan ....
__ADS_1
“Kenapa!? Kenapa!? Kalian semua ... kalian semua mencurangiku ....”
Ucapannya terhenti karena sekelebat peristiwa melintas di kepalanya. Di dalamnya terdapat seorang putri yang berlari ke hutan dengan bekas air mata yang berterbangan keluar dari matanya.
Putri itu terus menerus meracau, hingga tanpa sadar dia berlari semakin masuk ke dalam hutan yang tidak terkena sinar rembulan.
Hingga dia menghentikan langkahnya saat sudah mencapai ujung dari hutan itu. Di depannya berdiri kokoh sebuah tebing dan tepat di bawah tebing dan di hadapan putri kecil itu terdapat sebuah gua yang lebih gelap dari hutan ini.
Dia masuk karena penasaran dan mungkin dia juga tidak punya tempat tujuan lain selain menelusuri gua tersebut. Tidak lupa, dia juga membuat obor dengan sihir api yang keluar dari tangannya.
Setelah menelusuri gua itu lebih dalam, dia menemukan sebuah kuil tua yang keliatan sangat terbengkalai bahkan bisa dibilang sudah hancur. Putri itu masuk dan saat dia sudah berada di dalam, dia menemukan sebuah peti mati yang di dalamnya tergeletak mayat yang hanya tersisa tulang-belulang saja.
“Ini mayat siapa?”
“Elisiaaa ... Elisiaaaaa ... Elisiaaaa ....”
Putri yang dipanggil dengan namanya sendiri langsung merinding ketakutan saat mendengarnya. Yah, itu sudah pasti karena tempat itu sangat asing, apalagi ditambah dengan suara-suara aneh yang semakin menambah suasana.
“Apa yang kamu inginkan?”
Elisia bertanya dengan kedua tangan yang ditaruh untuk menutup mulut. Matanya masih ditegangkan dengan kening yang berkerut karena ketakutan.
“Tidak ... tidak ada. Bagaimana kakek bisa meminta pada cucunya.”
“La-lalu ... kenapa kamu memanggilku dan ... dan kenapa kamu mengaku sebagai kakekku?”
“Aku ingin mengabul satu keinginanmu dan masalah statusku ... kamu akan mengetahuinya seiring waktu. Sekarang, aku ingin menyelamatkanmu dari zaman yang terkutuk ini ....”
“Ta-tapi apa maksud? ....”
“A-ada apa ini? apa yang kamu lakukan?”
“Zaman ini sudah kotor dan di masa depan, kekasihku sedang butuh seorang pembimbing untuk meneranginya. Pergilah cucuku dan laksanakanlah tugasmu!”
*****
Gaia memaksa untuk segera menghentikan khayalan itu. Kali ini ia tidak lagi menganggap itu sebagai kreatifitas hasil buatan otaknya, tapi itu adalah potongan puzzle dari sesuatu yang sekarang dia sudah ingat.
Bersamaan dengan langkahnya yang terhenti, dia pun melihat gua tua yang ada di depannya. Sebuah gua yang tidak terasa asing lagi di otaknya, tepatnya barusan. Melihat ke atas, dia sedikit bingung dengan angka yang tertera pada papan kayu yang menempel di dinding.
“Siapa aku?”
“Gaia ... Gaia ... dimana kamu?”
Dengan rasa kuatir yang meningkat, Yoki dan Kenichi terus meneriaki nama Gaia dengan langkah yang kocar-kacir mengelilingi hutan, membuat Gaia tidak meneruskan ucapannya.
“Ke-Kenichi ... Yoki ....”
“Hmmm ... dimana dia?”
Sebuah jawaban dengan cepat membalas pertanyaan. Kini, jawaban dalam bentuk suara itu berubah menjadi sebuah petunjuk, karena berkali-kali menyahuti namanya dan Kenichi dengan kencang. Suara itu tidak asing karena berasal dari Gaia.
Yoki dan Kenichi segera pergi ke tempat asal dari suara tersebut. Batang-batang dan helai daun yang berguguran tidak menghalangi Yoki dan Kenichi untuk menemukan temannya, hingga mereka berhenti berlari saat mereka sudah menemukan sesuatu yang menjadi tujuan mereka.
__ADS_1
Tepat di hadapan mereka, berdiri seorang gadis remaja yang juga menatap mereka berdua dengan haru.
“Ga-Gaia ... apa kamu baik-baik saja? Jika kamu mau ....”
“Tidak ... aku tidak apa-apa, aku tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Tapi setidaknya, aku memiliki kalian.”
Ucapannya diiringi dengan haru dan tangis, namun dengan maksud yang berbeda. Apalagi dengan perkataan yang berusan. Itu tentu telah membuat Yoki dan Kenichi semakin kebingungan dengan sikap dan ucapan Gaia. Gaia berjalan serta melewati Yoki dan Kenichi, hendak menuntun mereka berdua pulang.
Sementara itu, di sekitar hutan di Kota Beppu .…
Hari sudah malam dan tentu, suasana juga sudah sangat sepi. Apalagi jika berbicara mengenai hutan yang kebanyakan diisi oleh berbagai spesies hewan dan tumbuhan.
“Haaah, tuanku dimana engkau? Aku sudah mencarimu selama 14 tahun di dunia ini.”
Sebuah sosok hitam sedang terlihat berjalan di antara pepohonan yang ada di hutan itu. Wujudnya bagaikan sebuah asap hitam pekat yang terlihat melayang di udara.
“Gara-gara orang tua itu, aku jadi gagal mendapatkanmu. CIKH, jika saja waktu itu aku tidak terlambat. Jika saja waktu itu aku berhasil datang 15 menit lebih awal, pasti aku akan mendapatkanmu.”
Sosok itu terus melayang hingga sampai ke tepi jurang. Dari situ dia bisa melihat pemandangan perkotaan yang dominan, dihiasi oleh lampu-lampu perkotaan.
“Tapi tidak kusangka, kalau zaman ini juga sangat indah ….”
Sosok itu tidak meneruskan perkataan, dia menggantinya dengan sebuah endusan nafas. Sebuah aroma yang dia kenal, tiba-tiba masuk dan terhirup olehnya. Memang hidungnya tidak terlihat, namun tetap saja dia bisa mencium aroma tersebut.
“Ini … hahaha, tuanku, tuanku. Baumu akhirnya berhasil aku lacak. Setelah sekian lama aku mengitari Jepang, dari utara sampai ke selatan. Ternyata kau ada di sini, di Kota Beppu hahaha ….”
Sekarang sosok itu terlihat senang, dia terus menerus tertawa sembari masuk lagi ke dalam hutan. Walaupun sebenarnya aneh, karena sumber suara itu entah darimana berasal. Mulut saja tidak punya, yang dipunyainya hanyalah satu pasang mata berwarna merah.
“Sekarang, aku harus menjemputnya. Tapi kostum apa yang tepat untuk menyambutnya yah? Dulu aku pernah menggunakan singa sebagai kostumku, lalu sekarang apa?”
Sosok itu melayang, mengelilingi hutan. Alasannya, dia ingin mencari kostum. Matanya melirik kesana-kemari, namun tidak ada satu pun binatang yang terlihat. Hingga akhirnya, dia mendengar sebuah langkah. Dari balik semak-semak yang ada di sebelah kanannya.
“Sekarang apa yang akan aku temukan. Apakah menarik?”
Sosok itu menghampiri sumber suara, dia melihat hewan berjenis rusa sedang berjalan di tengah hutan. Bukan hanya sendiri, dia sedang bersama kawanannya. Namun, kawanan yang lainnya sedang tertidur lelap.
“Hahaha, tanduknya sangat indah. Ini kostum yang jauh lebih baik dari singa itu.”
Di saat rusa itu sedang memakan rerumputan di depannya, tiba-tiba dia mengalami keadaan yang mengenaskan. Sosok itu merasuk melalui hidungnya, tentu itu bisa dilakukan karena wujudnya yang berupa asap.
Rusa itu terhenti beberapa saat, lalu segera berganti menjadi sebuah erangan kesakitan. Bahkan keempat kakinya tidak kuat menopang berat badannya, akhirnya dia terjatuh ke tanah dengan rasa sakit yang luar biasa.
Berlangsung beberapa menit, hingga rusa itu diam tak berkutik. Dia membatu, hingga aura hitam tiba-tiba keluar dari dirinya. Aura itu sama dengan aura milik sosok yang merasukinya.
Ketika aura itu sudah menyelimuti seluruh tubuh, barulah rusa itu tersadar dan bangun dari posisinya. Sekarang dia benar-benar berbeda. Matanya lah yang paling mengerikan, asap hitam terus keluar bersamaan dengan intonasi pernafasannya.
Keadaan itu pasti akan menarik perhatian, kawan-kawannya langsung terbangun semua. Mereka semua berdiri, tapi terlihat jelas tatapan ketakutan dari mata mereka. Saking takutnya, mereka semua mundur secara perlahan.
“Hufff .…”
Rusa yang tadi dirasuki, sadar pada tindakan kawanannya. Sebagai balasan, dia langsung mengeluarkan asap hitam yang sangat pekat dan banyak dari tubuhnya.
Cakupannya adalah kawanannya. Sehingga semua rusa yang ada di situ terselimuti oleh asap hitam yang sangat pekat.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, asap hitam itu menghilang dan digantikan dengan mayat-mayat kawanannya yang telah mati dengan cara yang mengenaskan.