RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~BERBINCANG HANGAT DENGAN DITEMANI SECANGKIR TEH~


__ADS_3

“Nih.”


Sodoran teh dari Haori membuat Yoki menghentikan penyelidikan. Mata kembali ke atas permukaan meja, dia mengamati teh itu. Cukup normal, untuk warnanya saja. Tapi kalau isinya mungkin agak mencurigakan.


Sekilas dia memperhatikan teh itu. Tidak ada yang aneh sih, cuma ampas daun teh yang mengendap di permukaan cangkir. Haori yang melihat perilaku waspada Yoki saja sampai tersenyum, ekspresi Yoki terlalu lucu bagi Haori.


“Tenang saja, tidak ada racun kok.”


Bahkan ditambah dengan jaminan dari Haori. Memang tidak menjanjikan apa-apa, tapi nampaknya rasa haus Yoki mengalahkan kewaspadaannya.


“Ba-baiklah.”


Teh yang disodorkan, Yoki minum dengan canggung. Rasanya tidak ada yang aneh, ada sedikit rasa manis, tapi didominasi oleh cita rasa dan aroma daun teh. Dia pun menyimpulkan, kalau teh itu aman untuk diminum.


“Kamu pikir aku akan pakai cara yang rendahan seperti itu. Tidak mungkin … tidak mungkin.”


“Iyakah, kupikir malah selama ini kau selalu memakai cara rendahan untuk mempermainkan hubungan pertemanan kami bertiga.”


Haori masih mempertahankan senyuman. Tangan kiri Haori beralih fungsi untuk menopang dagu. Dia masih menatap Yoki yang sedang menikmati teh buatannya. Sekalian saja, senyuman itu menjadi rasa senang karena kepuasaan Yoki.


“Itu sih beda lagi. Aku tidak ada niatan apa-apa kok, cuma mau mencoba kehidupan tuanku yang sekarang. Lagipula, sebentar lagi waktu bagi tuanku akan tiba. Jadi itulah mengapa aku melakukan ini sekarang.”


Kata ‘tuan’ berhubungan dengan masalah Gaia. Yoki hampir saja teralihkan oleh rasa teh itu, sekarang dia ingin meminta kejelasan Haori. Apalagi, tadi dia sudah mendapat daftar pertanyaan baru dari Haori.


“Oh yah, kalau gak salah kamu sempat menghubungkan kata 'tuan' dengan Gaia bukan, Apa sebenarnya maksud dari semua itu?”


“Tuh kan, dengan minum teh nadamu makin membaik,” Haori mengambil posisi duduk yang enak, perasaannya juga membaik karena teh, “Baiklah, akan aku jelaskan.”


“Gaia bukan berasal dari sini dan waktu yang aku bilang sebentar lagi adalah waktu bagi Gaia untuk kembali ke asalnya.”


Satu kalimat yang bisa membuat Yoki tersentak, tapi juga sekaligus menjawab kedua pertanyaannya.


Walaupun memang kedua pertanyaan itu terjawab, Yoki tetap menunjukkan kekagetan yang luar biasa. Bahkan sampai hampir membuatnya memuntahkan teh yang masih diolah di mulut.


Yah, reaksi itu dianggap Haori sebagai candaan belaka. Dia tertawa kecil, sedangkan Yoki menatap Haori dengan tajam. Entah itu benar atau tidak, kelanjutannya akan menentukan.


“Yah, sudah pasti kamu terkejut. Makanya, jangan bangga dulu kalau kamu berteman dengannya. Kamu cuma beberapa bulan kenal dengannya, sedangkan aku sudah puluhan tahun mengenalnya.”


“Tunggu-tunggu. Kayaknya ada yang salah, umur Gaia kan baru 15 tahun. Kenapa dia bilang sudah puluhan tahun kenal dengan Gaia. Apa dia itu waras?”


Pertanyaan Yoki salah. Omongan Haori bukanlah sekedar omongan liar saja. Dia sih sadar kalau Yoki akan menggaris bawahi kata-katanya. Walaupun Haori tidak tahu dengan apa yang ada di pikiran Yoki (dugaan Haori, pasti Yoki berpikir negatif), tapi Haori tetap mengambil keputusan yang bijak untuk tetap tenang. Dibantu pula oleh teh hangat.


“Ada pertanyaan?”


Haori menawarkan bantuan.


“Kenapa kamu bilang kalau kamu sudah mengenalnya selama puluhan tahun?”


“Sudah kuduga. Yah, jika secara tubuh fisiknya sekarang sih benar dugaanmu. Tapi soal sisa puluhan tahun tadi … itu adalah salah satu dosa terbesarnya.”


Tiba-tiba langsung ke dosa. Nampaknya obrolan mereka semakin gelap, Yoki yang sadar mendengarnya saja langsung merinding.


“Do-sa?”

__ADS_1


“Ahh … kalau itu jangan ditanya, sudah masuk urusan pribadi. Kau kan juga tidak suka kalau kehidupan pribadimu ditanya.”


Mau bagaimana lagi, apa yang dikatakan Haori tidaklah salah. Terpaksa Yoki harus menahan diri, walaupun hati dan pikirannya tidak tenang sebelum pertanyaannya dijawab. Dia tahu, alasan Haori tidak bisa dia sangkal. Apalagi, itu juga yang dia pegang teguh selama ini.


Padahal dia tidak tahu, kalau itulah yang dimanfaatkan Haori. Ada sesuatu di pikiran Haori, sebuah rencana yang licik pastinya.


“Bilangin gak yah … bilangan gak yah … bilangin gak yah … bi-lang-in gak yah.”


Haori sedang menunggu waktu yang pas, sampai Yoki tidak tahan untuk menahan mulut. Rencana yang benar-benar menarik, Haori saja sampai susah untuk mengunci mulutnya rapat-rapat.


“Tapi … apa kau boleh beritahu sedikit?”


Tawa Haori lepas, kesenangannya sudah mencapai puncak. Yoki yang menatapnya heran, sedangkan Haori tahu kalau usaha tadi tidak sia-sia. Yah, dia cuma ingin menguji Yoki. Sebagai hadiah, dia melampiaskan tawa sekencang-kencangnya.


“Ada apa denganmu?”


“Hahahaha … kau … bahkan manusia sepertimu tidak bisa memegang ucapan sendiri. Bagaimana kamu bisa memegang pertemanan kalian hahaha ….”


Satu kali tawa lagi muncul, Yoki berencana untuk mendaratkan pukulan ke wajah Haori. Wajah yang dikerutkan itu melukiskan kemarahan Yoki karena perilaku Haori. Dia telah dibodohi, siapa pula orang yang tidak kesal saat diperlakukan seperti itu.


“Kau, sialan!”


Sekarang wajah Haori berganti menjadi senyuman yang menggoda. Ditambah, dengan tangan kiri yang menopang dagu. Wah, dia sangat menikmati kemarahan Yoki. Wajahnya seperti ingin menertawakan tontonan ini.


“Dasar, sialan … kecantikanmu ternyata berbalut kebusukan juga yah.”


Yoki tidak meneruskan amarah. Tadi itu amarahnya hanya meluap sebentar. Dia tahu kalau dia telah kalah dari segi mental, jadi diperbaiki dengan duduk sambil menenangkan diri dengan teh hangat.


“Semua manusia juga akan begitu kok,” mata Haori menandai Yoki dengan tajam, Yoki sadar itu, “Termasuk … kamu.”


Teh yang Yoki curigai sedari tadi, disuruputnya dengan lahap. Apalagi tanpa sopan-santun yang menunjukkan kalau Yoki tidak takut padanya. Alhasil, mulut Haori terbuka sedikit saat menyaksikan itu.


“Kau … berani juga yah.”


“Heee … sesama pendosa dan orang busuk, tidak apa-apa kan kalau bertindak seperti ini. Kamu juga tidak perlu sopan santun untuk melakukan kejahatanmu kan.”


“Ya, kau benar.”


Akhirnya Yoki bisa menikmati tehnya dengan bangga. Satu tegukan, dia kembali meletakkan cangkir ke tempat asal. Lalu menatap Haori yang juga sedang menatapnya. Sekarang Yoki yang bisa tersenyum.


Sedangkan Haori, mungkin tersenyum juga harus punya waktu istirahat. Jadi untuk sementara, dia membiarkan Yoki yang menaruh senyuman padanya.


“Haori, tekomu kosong tuh. Gak di isi lagi kah?”


“Oh, iya juga.”


Haori melakukan sesuatu yang mengejutkan lagi, dia berhasil memunculkan seekor luwak di tangannya. Mata Yoki menyimpulkan, kalau itu adalah sebuah keajaiban. Bukan sulap maupun sihir. Alasannya cukup sederhana, ini berdasarkan pemahaman Yoki.


Sulap, adalah sebuah trik untuk mengelabui penonton. Sedangkan sihir, itu tidak bisa diterima akal sehat Yoki. Walaupun dia sering baca manga atau nonton anime yang mempunyai unsur sihir di dalamnya, tetap saja, cara berpikir Yoki lebih ke realistis.


“Waktunya mengisi ulang persediaan.”


Apa yang dilihat Yoki selanjutnya adalah hal yang membuatnya kaget dan jijik. Haori menggunakan luwak itu untuk mengisi kembali teko teh yang telah kosong.

__ADS_1


Cairan yang keluar dari salah satu bagian tubuh luwak, menandakan kalau itu adalah air mani miliknya. Otomatis, Yoki langsung memuntahkan teh yang tadi sudah dia telan. Dengan didramatisir oleh tubuhnya yang jatuh ke lantai.


“Huekkk … payah, kenapa kau menggunakan luwak untuk dijadiin teh?”


“Yah, aku pernah lihat kalau kotorannya bisa dijadiin kopi. Jadi aku berinovasi untuk membuat air maninya menjadi teh. Yah, dengan sedikit racikan tentunya.”


Yoki berusaha meraih permukaan meja untuk kembali duduk, meninggalkan bekas muntahan yang berceceran di lantai. Tangan kiri memegangi perut. Dia takut kalau teh yang dia minum akan berdampak buruk bagi perutnya.


Namun kenyataannya, pendapat itu sepenuhnya salah. Orang perut Yoki tidak apa-apa kok, dia saja yang mendramatisir keadaan. Walaupun, teh yang berasal dari luwak adalah sebuah inovasi yang buruk.


“Bagaimana kamu bisa memunculkan luwak itu?”


Yoki bertanya sambil menjauhkan cangkir teh dari hadapannya. Dia sudah kapok meminum teh dari sumber yang tidak jelas.


“Ahh, tidak ada yang istimewa kok. Semua orang di zaman dulu juga bisa melakukannya.”


“Semua orang … di zaman dulu?”


“Ahh sudah-sudah, kalau dijelaskan akan sangat panjang. Bisa-bisa makan beratus ribu kata untuk diingat. Lagipula …,” Haori hanya membuka mata kiri untuk menatap Yoki, yah sebuah tatapan yang menggoda lagi, “Kamu kan tadi nanya tentang Gaia.”


“Astaga, ahh iya-iya. Jadi, apa jawabanmu?”


Haori terlalu banyak mengambil ancang-ancang di setiap pertanyaan Yoki. Sekarang dia menyatukan kedua tangan dan digunakan untuk menopang dagu. Mata dan senyumannya diberikan pada Yoki, karena dia akan sangat menikmati ucapannya sendiri.


“Apa kamu selama ini menyadari sesuatu yang aneh dari fisik Gaia?”


Yoki berpikir sejenak. Gaia menjadi model yang Yoki sorot dalam pikirannya. Dari bawah ke atas, Yoki melirik bayangan tubuh Gaia dengan cermat.


“Sebuah … bando berbentuk tanduk.”


“Hee … bando berbentuk tanduk. Apa yang membuatmu berpikir, kalau itu adalah sebuah hal yang aneh?”


“Ya … karena selera Gaia yang aneh saja gitu.”


Haori sedikit menghela nafas. Dia tidak menyangka kalau penjelasan ini akan panjang.


“Bando itu bukanlah bando biasa, karena tanduk itu adalah nyata.”


Untuk Kali ini, Yoki langsung tertawa terbahak-bahak. Haori mengatakan hal yang terlalu fantasi. Tapi ketika Yoki berpikir dengan seksama, dia kembali normal, karena di kelas ini, segala sesuatu yang diperbincangkan telah mengandung kemungkinan tersendiri.


“Jadi, apa yang mau kamu katakan?”


“Dia bukanlah berasal dari ras kalian. Dia berasal dari ras yang telah punah 2000 tahun yang lalu. Ras yang telah menjadi musuh besar seluruh bumi. Ras yang ….”


“Tunggu-tunggu, langsung ke intinya saja. Semua informasi itu tidak akan muat di otak kecilku.”


Dengan kedua tangan, Yoki berhasil menghentikan kesenangan Haori. Padahal Haori sudah mendapat kenikmatan dalam penjelasannya. Tapi, terpaksa dia harus menurunkan kembali kedua tangan yang tadi dia naikkan.


“Ya, intinya dia berasal dari ras iblis.”


Satu kalimat itu saja sudah cukup, sudah cukup membuat Yoki tersentak untuk yang kesekian kali.


Yoki malah jadi semakin kebingungan dalam menanggapinya. Segala hal yang selama ini dia anggap hanya khayalan, berubah menjadi nyata hanya dari ucapan Haori.

__ADS_1


Iblis, para ras, semua itukan hanya ada dalam komik atau film. Apakah dia harus percaya? Apakah dia harus merubah pola pikirnya yang selama ini selalu logis? Yah, dia sedang dalam dilema untuk mencerna semua itu.


__ADS_2