RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~WAKTUNYA BALAS DENDAM~


__ADS_3

Di sebuah warung tua, Terasaka sedang mengadakan pertemuan dengan semua temannya. Dia memang sengaja untuk bolos sekolah beberapa hari.


Alasannya adalah balas dendam. Dia memanggil mereka semua pun karena alasan itu, jadi bisa disimpulkan kalau dia mendedikasikan segalanya demi membuat perhitungan dengan orang yang telah melanggar janji.


“Apa ada informasi dari sekolah?”


Ada satu orang yang mengambil inisiatif, dia langsung mengacungkan tangan demi memberitahu informasi tersebut.


“Bos, Kenichi saat ini sedang cidera bos. Aku pernah mengintip perbincangan antara Gaia, Yoki, dan Kenichi.”


Terasaka memandangnya dengan serius, satu tangannya memangku dagu dengan tatapan yang ditajamkan.


“Nah, saat aku lihat ada sebuah luka sayatan yang berbentuk diagonal. Kata dia sih karena tertabrak sepeda.”


Informasi yang sedikit janggal menurut Terasaka.


“Hah! Tertabrak sepeda bisa menimbulkan luka yang seperti itu?”


Dia bertanya lagi, hendak memastikan pendengarannya.


“Iya gitu sih menurut keterangannya.”


“Lalu tanggapan guru?”


“Guru itu menerima alasan tersebut.”


Terasaka berusaha mencerna informasi itu. Dia membuang alasan kenapa Kenichi bisa terluka dan memilih untuk fokus pada satu keterangan. Yaitu, luka yang ada di tubuh Kenichi.


“Begitu ya, hahaha … bagus, bagus kamu memberikan informasi yang bagus.”


Sekarang Terasaka mengganti tatapan, menatap semua teman-temannya. Dia sudah membuat keputusan dan siap untuk mengungkapkannya.


“Sekarang kalian semua ambil barang-barang yang pernah kalian simpan di sini. Karena besok, kita akan membuat perhitungan dengan Kenichi.”


Semua menurut, mereka mengiyakan rencana keji yang akan dibuat pemimpinnya. Sedangkan untuk target, dia hanya bisa menunggu sampai rencana itu terlaksana.


Keesokan harinya, di sekolah ….


Pada saat jam istirahat, Kenichi menghampiri Yoki dan Gaia yang sedang duduk di taman menikmati santap siang. Sambil membawa sebuah keripik di tangan, kini Kenichi sudah siap mengobrol santai dengan kedua temannya itu. Lagipula, orang-orang di sekitar juga tidak ada yang peduli.


“Kenichi, kamu udah sehat?”


Gaia bertanya dengan kedua tangan yang menggenggam roti. Tinggal setengah roti lagi sampai satu roti sudah ludes di perutnya.


“Ya udah mendingan sih, tapi rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang.”

__ADS_1


Kenichi memeriksa luka, ternyata masih membekas di badan. Ia menaikkan lagi kepalanya dan berpaling menatap Yoki yang duduk di sebelah Gaia.


“Uhmm ... Yoki, aku nanti boleh berkunjung ke rumahmu sepulang sekolah gak?”


Pertanyaan Kenichi membuat Yoki berhenti mengunyah makanan. Sekarang mereka berdua saling bertatapan dan Gaia tidak merasa terganggu dengan hal itu, malah ia sedang menonton percakapan teman-temannya sambil meneruskan makannya.


“Bukannya rumah kita beda arah, nanti kalau kamu pulang kemalaman gimana?”


“Kan aku di rumah gak ada siapa-siapa, jadi gak ada yang kuatir kalau aku pulang kemalaman.”


Yoki memutar balik pemikirannya, dia baru sadar.


“Oh iya, yaudah aku izinin deh.”


“Kalian mau punya waktu berdua nih, aku gak ikut campur deh, nanti aku bakal pulang sendiri.”


Tidak kuat hanya menjadi penonton bisu saja, Gaia akhirnya ikut andil dalam pembicaraan kedua temannya dengan sebuah sindiran.


“Makasih gaia.”


Kenichi malah tidak menganggap itu sebagai sebuah sindiran.


“Ehh, emang kami mau pacaran.”


“Mungkin rencana cadangan hihi ....”


Mereka bertiga tertawa terpingkal-pingkal. Sekaligus, menjadi hiburan tersendiri di kala istirahat. Setelah pulang sekolah, Gaia berpamitan pulang meninggalkan Yoki dan Kenichi yang pulang bersama-sama.


Gaia memakai bus, sedangkan Yoki dan Kenichi hanya berjalan kaki. Padahal arah pulang mereka sama, mungkin keduanya ingin menikmati suasana sore lebih lama. Karena jika hanya memakai bus, pasti akan cepat sampai dan suasana sore di perjalanan pun hanya berlangsung singkat.


“Haaah angin sore memang tidak ada tandingannya yah?”


Yoki mengungkapkan perasaannya, sembari mengulik topik-topik yang akan menarik bila dibicarakan dengan Kenichi. Mungkin, rasanya menikmati pemandangan bersama teman namun tidak saling mengobrol, bagaikan makan nasi tanpa garam. Hanya menghasilkan suasana yang hambar.


“Yosh.”


Bukan hanya menjawab, Kenichi dengan berani langsung mengiringinya dengan sebuah rangkulan di bahu Yoki.


“Hmmm ... mulai homo nih.”


“Hihihi ....”


Masih setengah perjalanan, Dari balik kelokan muncul Terasaka dan teman-temannya untuk menghadang mereka berdua. Mungkin ada kebocoran informasi saat mereka bertiga mengobrol di waktu istirahat atau bisa juga Terasaka dan teman-temannya mengikuti Yoki dan Kenichi sampai ke sini.


Namun tidak dapat dipungkiri, rencana Terasaka berhasil. Sekarang, mereka berdua tidak bisa melanjutkan perjalanan karena jalan yang tertutup.

__ADS_1


“Apa kalian tahu maksud kami?”


Kenichi maju ke depan Yoki. Dia sangat tahu maksud Terasaka. Amarahnya, tindakannya dan yah, sebenarnya Terasaka tidak sepenuhnya bersalah. Oleh karena itu, Kenichi tidak memasang sikap waspada padanya.


“Maaf Terasaka tapi ....”


“Sstt ...,”memutar-mutar pipa besi di tangan, dan kembali menatap Kenichi, “Biar benda ini yang akan bicara.”


Sambil mengatakan itu Terasaka menyuruh teman-temannya mengangkat benda-benda keras seperti kayu dan pipa besi. Terasaka tidak dalam keadaan siap untuk bernegosiasi, mentalnya sedang terganggu. Saat menyadari akan hal itu, Kenichi terpaksa mengambil jalan kekerasan.


”Gawat! Kali ini mereka bawa senjata, bagaimana ini?”


Yoki menjadi panik saat melihatnya, apalagi luka Kenichi yang belum pulih dari kejadian kemarin. Yoki pikir, ini waktu baginya dan Kenichi untuk lari.


Namun sayangnya, dengan tubuh yang masih terluka, Kenichi menegapkan badannya menghadap ke arah Terasaka beserta teman-temannya. Sambil mengarahkan satu jarinya ke arah Terasaka, tanda untuknya supaya maju terlebih dahulu.


“Apa yang kau lakukan Kenichi?”


Pertanyaan itu membuat Kenichi harus meladeni Yoki. Dia berbalik dan siap untuk menjawab.


“Ini adalah kesalahanku, makanya aku harus menanggung perbuatanku.”


“Kesalahan? Kesalahan yang mana?”


Kenichi tidak ingin membicarakannya, dia memilih untuk diam dan kembali menatap ke depan. Memang nekat keputusan Kenichi, seperti tubuhnya sedang dalam keadaan baik. Walaupun, terlihat jelas dari tampang Kenichi yang masih merasakan rasa sakit dari luka di tubuhnya. Berbalut seragam hitam sekolah yang menutupi luka-lukanya.


“CIKH, dasar manusia sampah! Kau, kau, akan kubalas apa yang sudah kau lakukan padanya.”


Amarah menguasai Terasaka. Kini di pikirannya hanya ada satu kata “menyiksa”. Yah, begitu kesimpulan yang diambil berdasarkan emosinya.


“Apa kamu tidak mau mendengar penjelasanku terlebih dulu?”


“Tidak, aku tidak ingin terprovokasi dengan ucapanmu. Itu semua sudah jelas bukan, dari ...,”Terasaka menggenggam pipa besinya dengan erat, diringi dengan kepala yang menunduk ke bawah,“Kematiannya.”


“Kau ... buta yah.”


“CIKH, jangan berlagak seperti orang suci kau Kenichi!”


Ucapan itu membuat kemarahan Terasaka semakin menjadi. Kenichi menilai, kalau sekarang keadaannya sudah tidak bisa dibendung lagi. Harus ada pemenangnya, entah Kenichi yang mengalah atau Terasaka yang kalah.


Pilihan telah diberikan dan Kenichi memilih untuk menjadi pemenang. Jika dia kalah, mungkin yang ada hanyalah pelampiasan yang bisa memicu adanya korban.


Menggenggam tangannya dengan kuat, Kenichi menatap tajam lawan di depannya. Niatnya untuk meminta maaf telah berubah. Mata mereka berdua saling balas tatapan, sedangkan Yoki masih kebingungan dengan arah pembicaraan ini.


Bisa dibilang perasaan Yoki sedang campur aduk, ketakutan dan keheranan telah bercampur tanpa tahu perasaan mana yang lebih dominan.

__ADS_1


__ADS_2