
Di waktu yang bersamaan, kini Yoki sedang berada di tempat kerja. Dia lupa kalau sekarang adalah jadwalnya menjaga kedai kopi.
Walaupun kondisi kedai sedang sepi, tapi tetap saja, tanggung jawab adalah tanggung jawab. Untung saja dia sadar, jadi dia bisa memperbaiki kesalahan ini.
“Kenapa masalah ini semakin rumit. Haaah … aku jadi merasa sangat bersalah pada Terasaka.”
Beban pikiran datang ketika dia sedang mengelap cangkir kopi. Walaupun tangannya otomatis bekerja, tapi tentu saja itu bukanlah kebiasaan yang baik bagi seorang pekerja.
“Yoki, kenapa kamu melamun?”
Pemilik kedai kopi itu sadar, dia berinisiatif untuk mengambil langkah pencegahan. Kalau-kalau, kejadian yang tidak diinginkan terjadi.
“Ahh, tidak ada apa-apa pak. Maaf, saya … melamun.”
“Haaah, kalau kamu memang tidak bisa istirahat saja. Biar bapak yang menggantikanmu.”
Yoki tidak ingin menerima bantuan, dia ingin melakukan tugas sebagai mana mestinya. Walaupun tawaran dan sikap atasannya baik, tapi ini adalah tanggung jawab dalam pekerjaannya.
“Tidak, tidak apa-apa kok pak. Saya bisa melakukannya sendiri.”
Atasannya mengerti, dia tersenyum dan pergi meninggalkan Yoki. Sedangkan Yoki, dia ingin membuang dulu beban itu supaya pekerjaan ini tidak berantakan.
“Selamat datang di kedai kopi kami.”
Seorang gadis remaja dengan rambut pigtail berwarna pink, masuk dengan menimbulkan suara khas yang terdengar saat seseorang memasuki kedai kopi tersebut. Ya, itu adalah bunyi bel pertanda pelanggan yang masuk.
Gadis itu memilih tempat duduk dekat pintu masuk dan sebagai bagian dari pekerjaannya, Yoki menghampiri gadis itu dengan menawarkan menu yang disajikan di kedainya.
“Selamat datang, silahkan nona memilih menu yang tertera di sini.”
Daftar menunya diserahkan dan diterima oleh pelanggan. Sekilas dia melirikkan mata, mengamati setiap jenis kopi yang ditawarkan.
“Aku mau ini.”
Sekarang Yoki sudah tahu pesanan yang diminta gadis itu. Dia mengambil kembali daftar menu dan bersiap untuk membuat kopi yang telah dipesan.
“Terima kasih sudah memesan.”
“Hei tunggu dulu, apa aku boleh berbicara denganmu sebentar … saja?”
Permintaan itu sontak membuat langkah Yoki terhenti, padahal dia ingin kembali ke postnya. Tapi sebagai pelayan yang baik, tidak ada salahnya untuk meladeni pelanggan.
“I-iya, ada apa?”
“Uhmm, apa kau boleh duduk saja?”
Yoki agak ragu menjawab, karena yang bertugas menjaga hari ini hanyalah dirinya. Tawaran dari atasan saja ditolak demi melanjutkan pekerjaan, begitu pun seharusnya dengan pelanggan asing yang memintanya.
“Tidak apa-apa Yoki, biar aku saja yang menjaga.”
Datang tak diundang, tentu saja membuat Yoki kaget pada tepukan atasannya. Dia segera berbalik badan dan menatap pria tua yang berucap tadi.
“Ta-tapi ….”
“Sudahlah, kamu harus ingat motto kita,” jempolnya diacungkan dan diberikan kepada Yoki, “Kepuasan pelanggan adalah nomor satu.”
Yoki merasa, ada sebuah kejanggalan di sini dan untuk memastikan, dia perlu bertanya kepada pihak yang bersangkutan.
“Bukannya motto kita itu ...,” Yoki akan mulai menjawab dengan peragaan yang sudah dia siapkan, “Tentu, ini berasal dari biji kopi dan cita rasa pilihan.”
Hanya sebuah garukan kepala sebagai respon dari atasannya. Dia sadar sekaligus bangga pada kualitas dari bawahannya.
__ADS_1
Menurutnya sih, Yoki sangat menyenangi motto kedai kopi miliknya. Hal ini berbanding terbalik dengan Yoki yang sangat malas untuk melakukan hal itu secara berulang.
“Ya, ya sudah. Tapi ini adalah hal penting yang harus dilakukan pelayan loh. Karena, dengan ini bisa membuat pelanggan menilai baik kedai kopi ini.”
Yoki sekarang mengerti, itu adalah salah satu dari sekian banyak yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang pelayan yang baik.
“Baik pak.”
“Ya sudah, biar bapak saja yang menjaga dan membuatkan kopi yang dipesan pelanggan ini.”
Yoki menggangguk tanda setuju, kalau itu untuk meningkatkan citra kedai kopinya sih kenapa tidak.
“Jadi, siapa namamu?”
Gadis itu memulai percakapan, sekarang Yoki sudah duduk untuk meladeninya. Dia sedang bersiap untuk menjawab pertanyaan yang dilayangkan.
“Namaku Yoki.”
“Apa kamu mempunyai teman?”
Yoki masih mengira-ngira arah pembicaraan. Tapi pertanyaan tentang teman, dia merasa heran dan terkejut dengan pertanyaan itu.
“I-iya.”
Gugup adalah ekspresi yang normal ketika dihadapkan dengan situasi ini. Apalagi, lawan bicaranya asing dan tidak ia kenal.
“Menurutmu seperti apa mereka?”
“Me-mereka, apa maksudmu?”
“Heee, aku kira kamu punya banyak teman.”
Jawaban itu bukan hanya untuk menjawab, karena di dalamnya terdapat sebuah perlawanan. Bisa dibilang, gadis itu sedang mengalihkan arti dari kata-katanya tadi.
“Oh, aku punya dua orang teman.”
“Lalu seperti apa mereka menurutmu?”
“Eee … mereka seperti apa yah, uhmm.”
Yoki menggaruk pipi kirinya, dia sebenarnya agak enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan tentang teman, hal ini menurut Yoki adalah sesuatu yang privasi.
Temannya sendiri saja tidak dikasih tahu, apalagi gadis yang menjadi lawan bicaranya.
Tapi, mau bagaimana lagi, dia harus memuaskan pelanggan sesuai intruksi atasan.
“Mereka berdua sebenarnya sangat baik padaku, kami sering bercanda dan bekerja sama satu dengan yang lain. Kadang-kadang kami juga sering berantem, tapi kami bisa menyelesaikannya dengan damai. Yah, karena kami jarang berinteraksi dengan murid lain di kelas, jadi kami bertiga lebih sering menghabiskan waktu bersama.”
Gaya bicara Yoki menjadi lebih tenang saat bercerita tentang teman-temannya. Tangan kiri Yoki menopang dagu, dia sekarang seperti sedang mengobrol dengan seorang teman.
Meskipun agar resah, tapi Yoki tetap menghayati setiap kata di dalam jawabannya. Dia benar-benar menjawab sembari membayangi setiap hal yang dia lewati bersama Gaia dan Kenichi.
“Yah, karena itu kami lebih sering menyendiri dan menjauhi teman-teman yang lain.”
“Begitu, lalu apa arti teman menurutmu?”
Pertanyaan dengan topik yang pertama. Sejujurnya, Yoki agak resah dengan topik ini.
Sedangkan gadis itu hanya menikmati saja, sembari memangku dagunya dengan satu tangan.
Hingga tanpa sadar, mata mereka berdua saling tatap menatap. Yoki sadar akan hal itu, jadi dia membuang tatapan ke jendela yang ada di sebelah kanannya.
__ADS_1
“Nona, ini pesanan Anda.”
Pesanan sudah jadi, sekarang dia hanya tinggal menikmatinya saja. Walaupun kopi itu masih panas, tapi gadis itu sudah tidak sabar untuk mencicipi kopi hasil racikan kedai kopi ini.
“Menurutku … teman adalah orang yang mengerti perasaan satu sama lain. Di kala sedih mereka saling mengerti, di kala senang mereka tertawa bersama sama. Bagiku, teman adalah sosok yang selalu ada di sampingku. Apalagi, sejak kedua orang tuaku … ahh tidak-tidak.”
“Uhmm?”
“Ya intinya, bagiku teman adalah hartaku. Harta ... yang berharga.”
Hampir saja Yoki keceplosan. Tadi dia sudah hampir mendekati isi hatinya yang paling dalam. Dia sekarang tidak mau melanjutkannya lagi, terlalu menghayati juga tidak bagus.
“Tidak ada apa-apa kok.”
Akting yang buruk, dia menolak melanjutkan cerita dengan sebuah garukan di kepala. Gadis itu sebenarnya tahu, tapi dia membiarkannya.
“Hoo, begitu kah.”
Dia menjeda pembicaraan, dengan meminum kopinya.
“Apa kamu pernah menemukan hal aneh pada temanmu? Identitas atau fakta?”
Yoki sedang berpikir, sedangkan gadis itu menunggu jawaban sembari melanjutkan minumnya.
“Masalah? Uhmm, entahlah. Banyak kejadian aneh yang terjadi pada kami. Bahkan, ada beberapa hal yang terjadi di luar nalar.”
“Begitu, seperti apa?”
Kegugupan Yoki sudah mencapai puncak, dia tidak tahan lagi. Pembicaraan ini harus berhenti sampai di sini. Yah, semakin lama semakin dalam hal yang gadis itu tanyakan.
“Eee … kurasa, itu terlalu privasi.”
“Iya gak apa-apa kok, aku cuma penasaran saja. Yah, sekalian mempelajari kehidupan seseorang. Kau tahu, aku suka dengan hal itu.”
Yoki berpikir kalau ini adalah alasan dibalik pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan. Dia mendengarnya dengan seksama, walaupun rasa tidak enak tadi masih ada.
“Ya sudah, terima kasih atas percakapan kita.”
Tanpa sadar, cangkir kopi gadis itu sudah kosong dan tidak berisi lagi. Dia memajukan cangkirnya sembari berdiri. Begitu pun dengan Yoki yang mengikuti tindakan pelanggannya.
“Baiklah, terima kasih atas obrolannya dan ternyata kopi ini enak juga.”
Saat-saat seperti inilah yang membuat Yoki menjadi malas. Dia harus mengeluarkan lagi ucapan dan kalimat itu.
“Tentu, ini berasal dari biji kopi dan cita rasa pilihan.”
“Itu motto kami.”
Setiap kali mengucapkannya, atasannya selalu saja muncul. Mungkin motto itu menjadi sanjungan pada kopi hasil racikannya.
“Kalau gitu, dah … dan juga, mohon kerja samanya … yah.”
Yoki menggaris bawahi kata-kata terakhir di balik senyum yang diberikan pada si gadis. Dia tetap ingin menjalankan etika sebagai seorang pelayan, walau kecurigaannya besar pada sang pelanggan.
“Kerja bagus Yoki, dengan ini kedai kopi kita akan terkenal ramah dan baik.”
Suara yang bersumber dari belakang dan berasal dari seorang pria renta yang menjadi atasannya.
“Yah, kedai kopi ini akan terkenal memiliki pemimpin yang aneh.”
“Hahaha, bisa aja.”
__ADS_1
Dia mengelus-ngelus kepala Yoki. Kebiasaan itu pula yang membuat Yoki nyaman bekerja di tempat ini, walaupun harus mengucapkan motto setiap kali pelanggan memuji kopi hasil racikannya.
Paling hanya itu momen yang tidak mengenakkan. Dia selalu merasa kalau derajatnya turun di hadapan orang-orang.