RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~INI MASALAHKU 1~


__ADS_3

Yoki dan Gaia sudah pulang, tapi bapak yang menanyai mereka masih berada di lorong tempat pelariannya.


Dia benar-benar menyingkir, setelah merasa kalau percakapan dengan mereka berdua sudah sampai pada tahap berbahaya.


“Haaah … murid-murid itu terlalu pingin tahu. Apalagi cewe itu.”


Dia mengatakannya, sembari bersender di dinding tua yang kusam.


“Tapi, tentang anak yang aku tanyai tadi …,” sembari menaruh satu tangannya untuk menopang dagu, “Aku belum terlalu yakin, tapi kurasa dia orangnya.”


Setelahnya, dia memungut ponsel yang terletak di saku celana.


“Bos, mengenai tugas yang Anda berikan. Nama anak itu adalah Kenichi.”


Orang yang dia telepon menunjukkan nada tersentak, mungkin apa yang dia suruh telah dijalankan dengan baik oleh anak buahnya.


“Apa itu adalah .…”


“Mengenai itu, aku belum terlalu yakin.”


Ternyata dugaannya salah, kesenangan yang ia rasakan tadi telah sirna. Diobati dengan rokok yang saat ini sedang dia hisap.


“Haaah … bodoh!”


Kata-kata ketus bernada bentakan dilontarkan, membuat bapak itu sedikit tersentak. Mungkin itu pantas menurutnya, karena anak buahnya tidak becus menjalankan tugas.


“Tenang bos, aku akan mengawasinya selama tiga hari dan akan melihat apakah dia adalah anak itu.”


“Kalau gitu cepat lakukan!” dia menghentikan ucapannya, dari telepon itu terdengar kalau dia sedang menghembuskan asap rokok, “jangan sampai aku melaporkanmu ke bos besar.”


Kata-kata “bos besar” telah menjadi teror tersendiri baginya. Matanya bergidik ketakutan dan kata-kata itu bahkan bisa menggetarkan tangan si penelpon.


“Ba-baik.”


Dia langsung menutup teleponnya. Sekarang dia menatapi ponselnya. Sepertinya, bos besar itu adalah orang yang bisa membuat anak buahnya menurut, hanya dengan mendengar namanya saja.


“Kali ini aku harus berhasil.”


Setelahnya, dia terus mengawasi pergerakan Kenichi. Selama tiga hari, dia terus membuka mata dan menguncikan fokus pada target.


Dari jauh tentunya, agar keberadaannya tidak diketahui.


Di sekolah, pagi hari .…


Hari ini adalah hari ke delapan, sejak wali kelas terdahulu mereka meninggal. Sekolah tidak mau memperpanjang masalah ini, itu terlalu miris. Apalagi sekolah bukanlah sebuah rumah, tapi sebuah lembaga pendidikan yang harus menjalankan tugasnya.


Sedangkan semua masalah itu ditumpahkan kepada pihak yang berwajib. Pihak berwajib saja tidak bisa mengungkapkan kasus ini, apalagi dengan pihak sekolah yang tidak ahli dalam bidang tersebut.


Untuk hari yang ke delapan setelah kejadian itu, bisa terlihat kalau suasana sekolah kembali normal. Karena segala kesedihan dan rasa kehilangan, hanya menjadi urusan pribadi saja.


Yang dimaksud normal bukan semua yah. Kalau bicara tentang kerusakan sekolah sih, itu termasuk pengecualian. Bekas dan kenangan dari monster itu masih terukir jelas di depan pintu masuk sekolah.


Setiap penghuni yang lewat, pasti akan terngiang kejadian pada hari itu. Ada banyak perasaan yang timbul saat melewatinya. Mungkin, itu semua akan berakhir ketika sudah diperbaiki.


Yah walaupun tidak mengenakan, mereka semua tetap berlalu lalang di situ. Begitu pun dengan Yoki dan Gaia yang berjalan seperti biasa menuju ruang kelas mereka.

__ADS_1


Saat mereka sudah sampai di dalam kelas, bel sekolah langsung berbunyi menandakan kalau kegiatan belajar mengajar di sekolah itu akan segera dimulai.


Kesigapan murid-murid di kelas itu patut diacungi jempol, mereka semua sudah siap bahkan sebelum guru mana pun nampak. Hanya berdasarkan bel sekolah yang berbunyi. Yah bisa dibilang, performa mereka meningkat setelah kejadian tersebut.


Sebagai bentuk penghormatan mungkin.


“Apa sekolah sudah menentukan wali kelas yang baru. Kayaknya belum deh, tapi suasana ini ….”


Beberapa hari ini, kembali ke sekolah, telah membuat ketiganya merasakan kembali kenangan pahit tersebut. Apalagi Gaia, kepalanya serasa tertusuk berkali-kali. Dia mencoba kuat demi teman-temannya.


Bukan dia sengaja sebenarnya, maupun sebuah reaksi yang berlebihan. Tapi, itu semua murni merupakan reaksi tidak sadar yang dikeluarkan tubuhnya. Dia saja tidak tahu kenapa itu semua bisa terjadi.


“Selamat pagi bu.”


Semuanya berdiri, menyambut guru yang masuk ke dalam kelas mereka. Dugaan Yoki benar, itu hanyalah seorang guru pelajaran


Saat bu guru masuk ke dalam kelas, matanya tiba-tiba terfokus pada satu siswa dengan luka yang dibalut di badannya. Siswa itu tidak lain adalah Kenichi.


Begitu pun dengan tatapan balasan yang diberikan Kenichi. Yah, sepertinya dia sudah tahu ke arah mana tatapan guru itu dan apa maksud dari tatapan tersebut.


Dia tahu kalau luka itu tidak dapat disembunyikan dengan baik di balik kain seragam. Pasti ada saja yang terlihat. Entah itu warna darah yang samar-samar muncul, atau bisa juga karena perban yang secara tidak sengaja terlihat.


“Kenichi, kenapa kamu bisa terluka begitu?”


Benar perkiraan Kenichi, memang terasa janggal datang ke sekolah dengan badan yang diperban.


“Ini kemarin saya tertabrak sepeda bu.”


Walaupun ibu guru itu berperilaku baik menurutnya, Kenichi tetap ingin merahasiakan kejadian itu. Apalagi selain dia dan bu guru, murid-murid lain juga sedang menatapnya layaknya penonton acara.


“Ya bu.”


Pulang sekolah, Kenichi pergi membeli obat terlebih dulu. Ia berpamitan pada Yoki dan Gaia karena mereka selalu pulang bersama. Mau bagaimana lagi, rumah mereka berdua searah. Sedangkan Kenichi berlawanan arah.


*****


Setelah penjual itu menyebutkan harganya, Kenichi mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar obat yang ia beli. Pulang dengan kantung kresek di tangan kanannya, Kenichi ingin segera memakai obat itu.


Kenichi berjalan, tapi ada yang sedang mengawasinya saat ini. Di antara ratusan mata, hanya sepasang mata itu yang sedari tadi terus mengikuti gerak-gerik Kenichi. Mulai dari rumah, bahkan hingga sampai ke tempat ini.


“Aku harus memastikan kemana dia pergi, takutnya dia berbelok arah dan tim yang akan datang malah kehilangan jejaknya.”


Dia adalah pria yang sama seperti pria yang bertanya pada Yoki dan Gaia, tempo hari. Bahkan busananya saja sama, seperti dia selama ini tidak mandi demi mengikuti targetnya.


“Dia berbelok, aku harus cepat.”


Dia menerobos kerumunan orang, melawan arah dan tentu agak membuat kesal orang-orang yang berjalan sesuai alur.


“Haaah, oh iya aku belum makan siang.”


Sedangkan Kenichi tidak memperhatikannya, dia masih mementingkan urusan perut. Lagipula, dia sama sekali tidak tahu kalau ada tamu tak diundang yang terus mengawasinya. Walaupun, beberapa hari ini dia sudah merasakan kecurigaan ini.


“Ehmmm, ada restoran.”


Kenichi berbelok arah dan masuk ke dalam restoran tersebut.

__ADS_1


“Pak, pesan satu hamburger.”


Pesanan langsung diberikan dengan cepat. Bahkan sudah dibungkus rapi, lengkap dengan saos yang sudah sepaket dengan makanan instan tersebut.


“Makasih.”


Kenichi tidak ingin menghabiskan santapannya di rumah, dia memilih untuk makan di restoran itu.


“Haaah, kenapa selalu saja kebahagian kami mendapatkan halangan dari berbagai hal.”


Sambil menyantap hamburger itu. Sepertinya, dia hendak mencurahkan isi hatinya dengan santapan tersebut.


“Tapi tumben Gaia menjadi nekat. Dia sepertinya merasa bersalah karena terus berdiri di belakang. Aku tahu perasaan itu.”


“Ini minumannya kak.”


Pelayan itu menyerahkan minuman Kenichi dengan kedua tangannya. Benar-benar sopan, bahkan pelayan muda itu memberikan senyuman tulus sebagai tambahan.


“Terima kasih.”


Tiba-tiba Kenichi teringat sesuatu tentang Gaia. Perilaku aneh yang selama ini selalu dialami Gaia.


“Haaah, kalau saja aku ada kesempatan. Aku pasti akan bertanya sesuatu kepadanya. Dari ekspresinya beberapa hari ini, apalagi saat kami menonton berita televisi itu ....”


Kenichi menajamkan tatapan, tapi bukan kepada dunia nyata. Melainkan kepada pikiran.


Mungkin itu yang membuatnya masih diam mematung dan menghalangi pelanggan yang antri di belakang.


“Aku rasa dia tahu sesuatu.”


“Kak maaf, Anda menghalangi antrian.”


Pelayan itu bukannya tidak sabaran, tapi ada orang-orang yang ingin membeli produk makanan dan minuman di restoran ini. Yah, usaha harus tetap berjalan demi kepuasan konsumen.


“Oh yah maaf.”


Sekarang Kenichi sudah membeli menumannya. Dia segera berbalik lagi, santapannya telah habis dan itu artinya, ini adalah waktunya untuk pulang.


Lamunan tadi sengaja ditinggalkan, dia rasa masih ada waktu untuk mendalaminya.


“Baik, target sudah bergerak.”


Ternyata orang itu mengawasi Kenichi dari dalam kafe. Dia benar-benar berdedikasi pada pekerjaan dan mungkin juga, itu karena pengaruh teror nama bos besar.


Saat pintu sudah dibuka setengah oleh Kenichi, dia terhenti. Kepalanya agak ditolehkan ke samping kanan. Dia mendengar getaran meja di samping kanannya. Dugaan Kenichi, itu suara orang yang berdiri dan keluar dari meja tersebut.


“Meja nomer 13, bukankah makanannya masih sangat banyak? Kenapa tiba-tiba dia berdiri saat aku hendak keluar dari kafe ini?”


Dari pertanyaannya, bisa dibilang kalau dia benar-benar mengawasi keadaan di tempat tersebut. Atau bisa jadi, dia melewati meja itu dan merasakan hal yang berbeda saat dia melewatinya.


“Permisi nak.”


Posisi Kenichi yang seperti itu memang dapat menghalangi jalan. Kenichi sadar akan hal itu dan mempersilahkan orang itu keluar terlebih dulu. Tapi dia tidak menatap orang tersebut dan masih terpaku ke samping.


“Entah kenapa firasatku tidak enak.”

__ADS_1


Sekarang Kenichi memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dia tidak mau berlama-lama di situ, apalagi banyak hal penting yang harus dia kerjakan. Misalnya, untuk mengobati luka-lukanya.


__ADS_2