
Keesokan harinya, di sekolah ....
Bel istirahat berbunyi, masuk ke dalam kelas Yoki tanpa izin. Tentu ini sangat menggangu bagi guru, namun tidak bagi muridnya.
Ekspresi mereka berubah riang, mungkin bel itu seperti seorang penyelamat.
Seakan terbebas dari kekangan ilmu, mereka semua langsung membubarkan diri menuju waktu kebebasan yang disebut istirahat.
Ada yang ke kantin, toilet, selasar kelas untuk memakan bekalnya. Ada pula yang ingin keluar sekolah untuk mabal, sudah pasti untuk berbuat licik. Tapi tenang, dari lima puluh kali percobaan, tidak ada satu pun yang berhasil lepas dari pengawasan pak satpam berkumis tebal.
Sementara itu, Yoki dan Gaia yang menikmati waktu kebebasan mereka dengan pergi ke kantin sekolah.
Mereka berdua keluar dari kelasnya menelusuri lorong sekolah menuju ke arah kantin untuk membeli beberapa jajanan yang dijajahkan di sana.
Mereka berjalan bersebelahan, melewati kerumunan orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Hiruk-pikuk ini membuat mereka tak menyadari keberadaan Kenichi sudah berada tepat di belakangnya.
Mereka berdua baru tersadar saat Kenichi menepuk pundak mereka sembari menyapa, "Halo Yoki, halo Gaia, kalian sedang apa?”
”Kami sedang ingin ke kantin untuk membeli beberapa jajanan di sana."
Dijawab Yoki dengan disertai tunjukkan tangan, pasti membuat Kenichi mengerti. Itu juga sekaligus menunjukkan letak kantin yang sudah ada di dekat mereka.
”Hmmm ... Boleh aku ikut?”
"Silahkan aja."
Sekarang mereka sudah berada di kantin yang tidak pernah sepi pembeli, seperti di pasar saja.
Walaupun sebagian murid membawa bekal, namun sebagian yang lain rata-rata memiliki orang tua yang sibuk. Yah, mungkin masakan anaknya mereka hiraukan untuk pekerjaannya.
"Ahhh ... aroma kantin yang mempesona dengan sejuta murid yang hilir mudik di sini,"
Yoki memuji kantin yang seharusnya sudah sering dia lihat. Mungkin, itu menjadi istimewa setelah menghadapi mata pelajaran dengan guru yang garang.
Yoki menyerahkan selembar dua lembar uang dari sakunya kepada si pedagang dan pergi membawa makanan untuk menyantapnya.
Tempat yang dipilih adalah taman, tempat yang sangat cocok memang. Hijau daun dan kesejukannya turut menghibur makannya, bahkan keributan murid yang lalu lalang pun hanya berpengaruh sedikit pada mereka.
“Kenichi, apa aku boleh minta satu hal?”
Yoki bertanya, sambil mengunyah makanannya. Terdengar nadanya semakin bersahabat, lebih tenang dari kemarin. Dia berusaha membuang fakta itu “pembunuhan” dan mencoba untuk mengerti keadaan Kenichi.
“Minta saja, tidak perlu sungkan. Jika kamu mau, aku bisa akan memukuli setiap orang yang membuatmu menderita.”
“Itu … yang kuminta.”
“Baiklah, kalau gitu .…”
“Maksudku, aku ingin kamu berhenti membuat masalah dan berhenti melakukan sesuatu yang dapat membahayakanmu.”
__ADS_1
Permintaan yang disampaikan dengan nada tinggi tentu bisa membuat setiap orang tersentak, begitu pun dengan Kenichi. Dia sedikit tersentak, bahkan tidak jadi memasukan makanan ke dalam mulutnya. Tapi hanya sementara, dia segera merubah itu menjadi sebuah senyuman.
“Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Aku akan menerimanya.”
“Ee, tidak apa-apa kah?”
Kenichi mengangguk, sembari melanjutkan makannya. Jawaban itu telah membuat Yoki senang, namun tanpa mereka bertiga sadari seseorang telah berjalan mendekat dari arah belakang. Seorang siswa pendek dengan wajah yang sangar, berjalan mendekati mereka.
“Kenichi, apa kamu punya waktu sebentar?”
“Ada apa?”
Kenichi begitu kesal, karena ada orang yang menganggu acara makannya bersama Yoki dan Gaia. Sudah terlihat dari nada bicara Kenichi yang berubah dingin.
“Kita bicarakan di ruang OSIS.”
Kenichi menghela nafas kesal, ingin rasanya ia meninju wajah siswa itu. Tapi tentu karena janji itu, dia tidak jadi melakukannya. Janji mereka juga masih baru dan tidak mungkin mau terputus secepat itu.
Membuang bungkus jajanan ke dalam tempat sampah, ia mengikuti langkah siswa itu. Bukan ditaruh, tapi dilempar dengan tempat sampah sebagai ringnya.
Ruang OSIS sebenarnya tidak begitu besar, bisa dibilang ukurannya sebesar satu kelas. Memang jika dibandingkan dengan satu kelas yang menampung puluhan murid, ruang OSIS terasa lebih lega karena jumlah penghuni yang berjumlah dua puluh orang.
“Mari.”
Kenichi menghentikan langkahnya, dari sini firasatnya sudah tidak enak. Kenichi menatap ruangan itu bolak-balik, seperti hendak memastikan sesuatu. Hanya terhenti ketika siswa itu membuka pintu dan mempersilahkannya untuk masuk.
Jalan Kenichi lambat saat melewati pintu itu. Dan yah, benar saja di dalamnya sudah menunggu tujuh orang. Empat orang siswa dan Tiga orang siswi. Semua duduk berjejer ke samping, tempat duduknya adalah tempat duduk untuk murid biasa dengan meja kayu yang disatu-satukan.
Tangan seorang siswa yang duduk di tengah, menunjuk ke arah sebuah kursi yang terletak sekitar 2 meter dari mejanya. Saat Kenichi melihat meja itu, ia teringat akan satu hal yaitu pengadilan. Yah, menurut gumamannya.
Kenichi duduk di kursi itu, sebenarnya tidak ada bedanya dengan kursi milik ketujuh murid tersebut. Hanya penempatannya saja yang berbeda.
Sedangkan untuk siswa yang mengantar Kenichi, berdiri di dekat pintu. Mungkin untuk berjaga atau bisa juga untuk mengawasi.
“Kenapa kalian sampai repot-repot membawaku ke sini, untuk diadili kah?”
“Jangan dingin begitu Kenichi, kami hanya ingin menawarkan sesuatu.”
“Apa itu? apakah menarik?”
Bertanya sambil memajukan badannya, kedua sikunya ditekuk juga ditaruh di paha. Mencoba tertarik pada apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan ini, yah kesalnya sedikit berkurang.
“Kami ingin menawarkanmu sebagai anggota OSIS yang baru.”
Siswa yang duduk di tengah memajukan badannya juga, tapi kedua tangannya ditekuk dan ditaruh di meja yang ada di depannya. Saling bertatapan, dengan senyum yang menghiasi mulut mereka berdua.
“OSIS yah,” Kenichi kembali memundurkan badan dan menyandarkannya pada kursi, “Apa karena aku jago dalam bela diri?”
“Tentu saja, kau memenuhi persyaratan untuk menjadi anggota OSIS sekolah ini.”
“Hmm, bukannya hanya fisik saja yang kau lihat.”
__ADS_1
Ucapan itu berhasil membuat siswa itu tertawa pelan, namun tersembunyi dibalik telapak tangannya. Seperti sebuah lelucon saja baginya.
“Karena 70 persen anggota OSIS adalah … anggota dari klub bela diri yang ada di sekolah ini kan.”
Tatapan mata mereka semua antusias, seperti memberikan makna tersirat untuk mengapresiasi kecermatan Kenichi.
“Jadi, bagaimana?”
“Aku menolaknya.”
Jawaban Kenichi membuat ekspektasi mereka berubah, senyum kembali diturunkan. Hanya mulut datar saja yang tersisa.
“Kenapa? Bukannya salah satu alasan kamu datang ke sekolah ini, karena kamu mendengar bahwa murid bela diri di sini sangat disegani.”
Ketika mendengar pertanyaan itu, Kenichi berdiri menyingkir dari kursi yang kini telah kosong. Lalu berbalik hendak keluar ruangan. Bisa ditebak, ekspresi para anggota OSIS naik pitam dan menjadi marah.
“Kau tidak bisa seenaknya pergi begitu saja, jika kau mau aku bisa bertindak dan membuat teman-temanmu menderita.”
Tidak terima, Kenichi berbalik lagi dan langsung berlari. Sangat cepat, hingga membuat beberapa anggota OSIS yang duduk mundur. Digebraknya meja, Kenichi langsung menatap marah orang yang tadi mengatakan itu. Saking marahnya, sampai mukanya merah padam.
“Jika kau sentuh mereka, kau mati!”
Nadanya begitu serius, membuat para anggota OSIS tersentak. Tapi ekspresi itu hanya berlangsung sebentar, siswa yang duduk di tengah memajukan lagi kepalanya ingin melawan ancamn itu.
“Nada bicaramu terdengar sangat serius, seperti kamu pernah membunuh seseorang saja.”
Perlawanan ini tidak sia-sia, Kenichi benar-benar tersentak. Peristiwa itu seperti terjadi, tapi memang benar-benar dipelajari. Contohnya, kejadian saat dia kehilangan kedua orang tuanya.
“Jadi, bagaimana kita akan menyelesaikan masalah ini?”
“Hmmm, bagaimana kalau kita bertarung?”
Mengangkat kepala dan membuat eskpresi pertanda tidak setuju dengan tawaran itu, Kenichi memang masih mengingat janjinya.
“Aku sudah berjanji untuk tidak bertarung lagi.”
“Hoho, pantes. Kenichi yang dikenal jahil dan misterius, ternyata memiliki hati yang lembut juga.”
Sindiran itu begitu ketus, membuat Kenichi mengecutkan wajahnya.
“Bagaimana kalau kita melakukan voting? Ini adalah pilihan terakhir.”
“CIKH, dasar!”
“Bagaimana, pilih yang kesatu atau yang kedua?”
Pertama Kenichi berbalik dulu, berjalan hendak keluar ruangan. Saat dia sudah membuka pintunya, kepalanya berbalik dan menatap ke samping kiri.
“Baiklah, aku pilih pilihan kedua.”
Pintu ruangan itu ditutup keras, tanpa berbalik lagi ke belakang setelah ia menjawab pertanyaan yang diberikan padanya. Walaupun tindakan itu terlihat mengesalkan, para anggota OSIS yang masih tinggal di dalam ruangan telah memberi kesan senyum pada jawaban Kenichi.
__ADS_1